
Dibantu Alan untuk menyiapkan semuanya, dan satu dokter ia siapkan sengaja untuk menemani kepulangan tuannya. Pun ia juga akan ikut mengantar sampai ke kediamannya.
Sementara Fatimah, sudah kembali menutup tubuhnya sesuai permintaan sang suami. Briel yang menyiapkan semuanya untuk kebutuhan nyonya besar dan nona baru nya. Mereka pulang dengan mobil pribadi mereka masing-masing.
Perjalanan menghabiskan waktu 1 jam lamanya, pasien diminta untuk istirahat selama perjalanan. Hingga sampailah mereka mendarat di mansion Alex.
Sedangkan Felix langsung kembali ke kantor untuk membereskan kekacauan yang ada di perusahaan Nya.
Terlihat para anak buah berdiri berjajar menyambut kedatangan mereka. Di saat pintu terbuka, ... Wajah-wajah mereka tersenyum sumringah melihat kepulangan tuanya dengan membawa nona baru yang akan menempati mansion ini dan tentunya mereka sudah di beri tahu oleh majikannya apabila nona sedang mengalami musibah yang mengharuskan mereka untuk ekstra hati-hati menjaga nona.
Tersenyum manis dengan setitik air matanya mengalir melihat wajah yang pucat pasi dan kelelahan terlihat dari sorot mata anak nya. Fatimah sungguh merasa kasihan apa bila terus menatapnya.
"Bagaimana perjalanannya? Capek ya? Apa ada yang sakit?" tanya Fatimah khawatir menghapus air mata. Tangannya sambil mengusap lembut kepala anaknya.
"saya baik-baik saja! saya akan sehat bila bertemu adik-adik saya! saya merindukan mereka" mendongak Membiarkan kepalanya di sentuh orang yang menganggap dirinya adalah orang tua angkatnya sambil tersenyum.
"Hanya agak nyeri jika terlalu banyak duduk," aku Warda memegangi perutnya.
deg....
"Hmm, sebentar lagi kita ke kamar ya?" Melepas pelukannya dan saling pandang dengan suami nya.
Pun sama dengan Alex, ia sangat terkejut dengan ucapan anak angkatnya tersebut bahwa ia lupa untuk membicarakan perihal kecelakaan keluarga nya.
Sementara Warda yang melihat tempat yang tidak dikenali nya hanya bisa terdiam dan terkejut dengan hadirnya semua orang yang ada disana. Sama sekali tak ada yang ia kenal. Mata kembali mengerjap bingung. la sungguh tak mengenal siapa-siapa...
"selamat datang kembali tuan! nyonya! dan nona WARDA...."ucap serentak para bodyguard dan pelayan yang berbaris sepanjang pintu masuk.
aku pun terkejut dengan banyaknya orang didalam rumah ini! tidak ada seorang pun yang di kenal. dia menatap bergantian orang yang mengaku sebagai orang tua angkatnya! dia sungguh bingung kenapa mereka membawa nya ke rumah bak istana negara begitu besar dan luas.
"ini bukan rumah ku! kenapa kalian membawa ku kesini? dimana keluarga ku?"ucap ku hendak berdiri dari kursi roda dengan menahan rasa sakit! tidak peduli seberapa sakit tubuh itu dia memaksakan tubuh nya untuk berdiri dengan tegak meski harus menahan segala rasa sakit.
"Warda kamu masih sakit jangan memaksakan untuk berdiri nak!"ucap Fatimah khawatir
"Warda tenang Abi bisa jelasin semuanya. kita bicarakan di kamar ya nak kamu harus istirahat"Alex mendekati ku dengan mengulurkan tangannya secara perlahan untuk meraih ku.
__ADS_1
"aku tidak mau! kalian berbohong! keluarga ku tidak ada disini! ini bukan rumah ku! aku ingin bertemu dengan ibuku!"aku berteriak. hingga tiba-tiba aku merasakan sakit di kepala yang sangat teramat. kedua tangan memegangi kepala. Akan tetapi, ada yang aneh ketika potongan-potongan ingatan buruk bermunculan seperti kilatan angin yang datang begitu cepat. Sedetik muncul, detik berikutnya menghilang.
Sampai beberapa kali Warda harus memegangi kepalanya yang terasa menyakitkan. Dan semua itu, tak lepas dari pandangan Alex yang mulai khawatir.
"Kenapa? Kepalamu sakit nak? Mau ke dokter ?" tanya Alex panik. "Kita ke rumah sakit ya?"
Mata warda yang terpejam, mengerjap dengan sedikit tekanan beberapa kali. Hingga bayangan itu terlihat jelas, ketika farel meledakkan bus yang di tumpangi seluruh keluarga di hadapannya.
Layaknya menonton layar 21, Warda melihat satu persatu potongan-potongan dari kejadian yang mengenaskan tersebut. Tak lain dan tak bukan yang menyebabkan kejadian tersebut ... adalah dirinya.
Suara jerit kesakitan, suara tembak yang di gesek dan letusan peluru yang melesak. Semuanya terlihat jelas hingga membuat kepala nya semakin sakit.
"Aakkhh! sshh!"kepala nya semakin sakit hingga dia terjatuh dan langsung di tangkap oleh Alex di dekap erat tubuh yang bergetar hebat anaknya! dia begitu kasian melihat anaknya kesakitan seperti itu.
Warda....
seisi mansion panik melihat nona muda berteriak kesakitan dan pingsan.
Kelelahan yang bertubi-tubi seolah terus menghujam diri. Kesakitan karena luka tembak yang seharusnya masih melalui tahap perawatan, justru di jahitan pertama sudah banyak yang terbuka, akibat pergerakan tubuhnya sejak tadi. Alhasil, darah merembes pada pakaiannya.
akan tetapi, tubuh belum siap. Sesaat ingin istirahat sejenak melepas rasa yang berkecamuk di dada dan tubuhnya hingga akhirnya tubuh lemah itu. .ambruk.
"astaghfirullah! Abi! Warda berdarah"tunjuk Fatimah pada pakaian yang sudah mulai terlihat darah yang merembes pada pakaiannya.
"Alan! panggil Wiliam ke sini cepat..
Alex melihat ku dan benar terdapat darah yang mulai terlihat di pakaiannya ku dia berdiri membawaku ke kamar dan membaringkannya di ranjang. sambil menunggu dokter datang Fatimah mulai membersihkan darah yang mulai mengering.
****
William dan dokter psikolog datang memeriksa warda.
"Selamat siang," sapa William dan dokter psikolog bersamaan masuk ke dalam kamar.
"tak usah basa-basi Will cepat periksa anakku dia pingsan tadi! kepala nya tiba-tiba sakit kami tidak tega melihat nya?"ucap Alex
__ADS_1
"oke-oke! permisi Tante"ucap dokter Wiliam meminta Fatimah sedikit bergeser.
setelah pemeriksaan dan jahitan ulang karena luka yang terbuka dokter Wiliam telah selesai kini giliran dokter psikolog yang memeriksa ku. Alex! Fatimah dan dokter Wiliam keluar terlebih dahulu karena ini adalah metode pengobatan yang membutuhkan ruang.
setelah setengah jam menunggu akhirnya dokter psikolog keluar. pintu kamar terbuka menampakkan dokter Sintia.
"bagaimana dok! Warda baik-baik saja kan! tidak ada yang serius kan dok!"ucap Fatimah dengan memberikan dokter banyak pertanyaan
dokter Sintia membuang nafas nya kasar dan menatap kedua orang tua pasien dan terakhir menatap dokter Wiliam. sedikit info nih ternyata dokter Wiliam dan dokter Sintia itu sepasang kekasih loh gais xixi....
"tuan Alex bukannya saya sudah bilang sama anda tadi pagi untuk tidak terlalu menekan pasien!"ujar dokter menekankan nasehat nya lagi
"maaf dok! itu salah saya yang lupa menjelaskan keadaannya"sesal Alex, bila dia terus terang mungkin kejadian tadi pagi tidak akan seperti ini. Alex menggenggam tangan istrinya untuk mencari ketenangan akan kesalahannya dan itu semua tak luput dari perhatian sang istri yang langsung mengerti.
"tidak apa-apa Abi! kita rawat Warda sama-sama supaya bisa sehat seperti dulu ya..."ucap nya penuh perhatian dengan nada yang begitu lembut untuk menenangkan suaminya.
"terimakasih sweety"ucap nya tersenyum.
"ekhm.... permisi om! Tante! kita harus pergi dulu saya tidak mau mengganggu aktivitas kalian"melihat pemandangan yang tak diinginkan nya dokter Wiliam segera berpamitan dan tidak ingin melihat keromantisan mereka.
"terimakasih Will dan maaf Tante merepotkan mu di hari liburan mu kesini"
"tak masalah kok Tan! santai saja cuma kalok saya kesini sebaiknya Tante jaga om Alex dan felix saja saya sudah tenang kok. siap merawat Warda sampe sembuh hehe..."ucapnya melirik Alex
"cih... bilang saja kau bosan melihat keromantisan ku sama istriku Will! mangkanya cepatlah kau menikah"sindir Alex dan langsung mendapat cubitan di dada bidang nya oleh Fatimah. Alex merintih kesakitan.
"aww....sshh... sakit sweety kalau mau main cubit-cubitan sebaiknya kita ke kamar langsung yuk!"goda Alex dan membuat pipi Fatimah menjadi merona juga malu akan tingkah laku suaminya yang nakal.
"ish Abi! jangan nakal deh! ada Wiliam sama dokter Sintia malu bi"Fatimah langsung tertunduk malu sambil memegangi pipinya yang tiba-tiba terasa panas.
"tidak apa-apa Tan! saya sudah biasa kok! kalok Tante mau nanti malam tidur aja sama Warda Tan biarin om Alex tidur sendiri xixi.."ucap nya tersenyum jail
"wah wah wah... jangan memprovokasi istriku Will! sana kau pulang saja bisa-bisa istriku kau hasut yang tidak-tidak lagi"Alex mengusir nyamuk yang sedang mengganggu kedamaian nya.
setelah kepergian Wiliam dan Sintia malam nya Fatimah benar-benar tidur di kamar Warda dan itu membuat Alex kesal jadi dia memutuskan tidak tidur sekalian mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk banyak berkas-berkas yang harus di urus. dia mengerjakan nya sampai pagi.
__ADS_1