
pagi hari yang begitu cerah di dalam ruangan VVIP, penghuni kamar satu persatu mulai bangun dan menjalankan kewajiban nya sebagai hamba Allah setelah selesai melaksanakan sholat berjamaah felix keluar untuk mencari makan sedangkan Alex ada meeting online bersama direksi perusahaan nya di kamar yang khusus rumah sakit ini persiapkan untuk ruangan VVIP dan Fatimah sendiri mendampingi ku duduk di samping ranjang sambil sesekali mengusap kepala ku dengan lembut.
"Aku harap prediksi dokter belum pasti benar warda. Aku masih berharap kamu baik-baik saja," tutur Fatimah.
Warda mengerjapkan matanya mendengarkan ucapan Fatimah. Kadang tersenyum kadang bersedih.
"Kamu pasti akan baik-baik saja. Banyak orang-orang yang menyayangimu, aku yakin kamu bisa melupakan kejadian buruk ini."ucap Fatimah melihat ku yang ternyata sudah bangun dan mendengarkan ucapan Fatimah meskipun tidak merespon apa yang dia bicarakan
"Kamu harus sembuh seperti sedia kala warda. Aku yakin kamu pasti bisa!"ucap Fatimah memegang tangan ku
"emang saya kenapa nyonya?" tanya Warda mulai merespon. Fatimah tersenyum dengan semangat mendekat pada Warda.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik sekarang?" warda menggeleng.
"Aku tidak apa-apa. Hanya disini sedikit sakit Nyonya." Menunjuk bekas luka operasi di perutnya.
"Nyonya?" Fatimah menelan salivanya susah."Ke-kenapa panggil Nyonya? Panggil aku umi Fatimah...! iya umi Fatimah saja." Mencoba mengganti nama panggilan dirinya. karena dia tidak ingin membuat Warda kembali teringat akan keluarga nya supaya keadaannya tidak kembali memburuk.
'Apa dugaan dokter Wiliam benar soal Warda?'
Disaat yang bersamaan suara gagang pintu tampak sedang dibuka terdengar. Ia melihat Alex dan juga Felix di pintu sedang berbicara.
ternyata Wajah tampan suami dan anaknya yang baru saja masuk, Alex yang selesai melakukan rapat dan felix yang baru saja membeli sarapan karena terdapat keresek makanan di tangan kanannya
"Hai Sweety? Bagaimana kondisi warda? Sudah lebih baik?" Suara serak Alex yang menjadi kesukaan Fatimah membuat sang istri tersenyum menoleh pada pemilik suara tetapi bingung dalam waktu bersamaan.
Alex pun ikut bingung melihat reaksi sang istri. dan dia menoleh pada anak angkatnya yang sudah Fatimah bicarakan kalau mereka sepakat untuk mengganti panggilan nya dengan sebutan umi dan Abi supaya Warda tidak terlalu memikirkan masa lalunya "warda? Kenapa? apa Warda baik-baik saja? apa ada yang sakit lagi? Apanya yang sakit? Katakan pada Abi. Biar Abi panggilkan dokter untuk memeriksamu."
__ADS_1
Warda menggeleng, "anda siapa Tuan? Apa nama saya warda?" tanya Warda polos. Tersenyum senang mendengar suara lelaki di depannya.Dengan cepat sorot mata Alex melirik pada Wiliam yang baru saja sampai untuk pemeriksaan rutin setiap pagi. Yang mana Wiliam itu tersenyum kikuk padanya karena di tatap sekian tajamnya.
"Ini Abi, warda," tandas Alex sekali lagi. "Ini Abi ayah warda." Memperjelas status mereka walau ia masih bingung.
Kembali Warda mengurai senyum di wajahnya. Setelah itu suasana hening. Warda tak menjawab pertanyaannya dan itu semakin membuat Alex dan felix diam dalam kebingungannya.
"Bisa kita bicara sebentar om Alex? ini mengenai perkembangan kondisi nya?" Wiliam memotong kecanggungan di dalam ruangan. Alex mengangguk. Dan keduanya keluar dari ruangan tersebut tadi sebelum Alex dan felix masuk ternyata Wiliam dan suster sudah lebih dulu masuk dia menjelaskan tentang kondisi ku pada umi Fatimah.
Wiliam menceritakan tentang semua pembicaraannya dengan dokter psikolog pada suami Fatimah, sampai Alex hanya bisa diam membeku.
***
Setelah tahu bagaimana kondisi anaknya, Alex meminta dokter untuk mempercepat proses penyembuhan nya karena dia tidak sanggup harus melihat anak yang baru saja ia adopsi mengalami kesakitan yang begitu menyakitkan nya.
Ini kali kedua Alex menangis pilu dengan keadaan yang sama-sama takut akan kehilangan anaknya.
Rasa sakit di tubuh sama sekali tak menjadi halangan untuk memilih pulang. Sebab akan ada obat mujarab yang lebih baik dari sekedar pengobatan dokter.
Terakhir sebelum mereka meninggalkan rumah sakit, pagi ini warda melakukan pemeriksaannya dengan dokter psikolog. Dengan tujuan untuk memeriksa keakuratan depresi apa yang warda alami saat ini.
"Bagaimana Dok dengan kondisi anak saya? Dugaan sementara anda kemarin salah 'kan Dok?"tanya tuan Alex penuh harap anaknya tidak dalam kondisi Distress akut.
"Maafkan saya Tuan, tapi nona... saya katakan beliau benar adanya sedang menderita Distress akut," jawab dokter pelan. "Rasa bersalah dan kehilangan itu sangat mengguncang jiwanya. Bersyukur beliau tidak sampai mengalami... maaf sebelumnya... gangguan jiwa."
"Karena banyak sekali hal seperti ini terjadi pada wanita yang kehilangan keluarganya. Terlebih informasi yang saya dengar, ehm... jika keluarga nya meninggal dan tidak tersisa satu pun " ucap dokter hati-hati
"Hal itu yang menjadi pemicu anak Tuan untuk memilih melupakan sejenak kejadian buruk ini. Ketakutan yang besar mendorong pikirannya untuk memilih bertahan dari ketakutan tersebut lewat kejadian bahagia di masa lalu," jelas dokter penuh dengan kehati-hatian
__ADS_1
Tubuh gempal yang masih sangat lemah tersebut hanya bisa menghela napas kasar sambil menahan perih matanya, sesekali menatap wanita yang ada di sisinya dan menatap anaknya yang sedang duduk di kursi roda.
Bukan hanya kepergian keluarga nya, akan tetapi, bersamaan dengan itu, dia juga mengalami depresi ya meskipun hanya sementara dan bisa di sembuhkan. ini kenyataan yang pasti sangat menyakitkan untuk Alex dan istrinya.
Tak masalah untuknya tidak memiliki proyek Singapura lagi, jika itu akan membuat warda seperti ini. Toh anaknya sudah lebih dari cukup. Mereka memiliki dua orang anak, meski yang satu bukan dari kandungan istrinya.
Namun, jika diputar mundur, kembali saat ia bertemu gadis mungilnya, betapa bahagia keluarga kecil mereka jika berkumpul bersama dengan melani. Pasti akan semakin ramai keluarganya.
Jika mengingat itu, hancur sudah hatinya bagai tubuh yang tak bertulang. Titik pusat kebahagiaannya di dunia ini adalah keluarga termasuk istrinya. Akan tetapi, kini gadis itu berada di pinggir jurang dan butuh uluran tangan yang kuat untuk merengkuhnya kembali.
"Apa ada terapi khusus atau apa saja yang bisa membuatnya sembuh lebih cepat Dok?" Sambil menghapus air matanya, lelaki itu bertanya, melihat pada dokter.
Sejak mengetahui kondisi sang anak, Alex hanyalah seorang anak kecil yang rapuh, ia mudah sekali menangis. Tuan Alex sang penguasa seperti di telan bumi dalam jiwanya.
"Terapi paling mujarab adalah berkumpul dengan keluarga Tuan. Berikan selalu kebahagiaan yang pernah nona lalui untuk mengembalikan serpihan ingatan-ingatan yang terpisah."
Dengan seksama Alex mendengar tiap kata penjelasan dari dokter. Walau pikirannya kacau, tetapi logika untuk kesembuhan sang anak masih bisa ia kendalikan. Semua hanya demi sang anak, Warda.
"Jangan terlalu di paksa atau pun menekannya untuk mengingat sesuatu. Karena dengan begitu, akan membuat nona merasakan sakit pada kepalanya. Dibiarkan mengalir saja."
"Saya akan memberikan obat yang harus nona minum kepada anda. Sampai disini, saya harap anak Tuan akan segera sembuh. Juga anda dan juga yang lain, semoga diberi kesehatan." Dokter tersenyum tulus akan kesembuhan keluarganya.
Menggela napas, Alex mengangguk lemah." Terima kasih Dok." Menoleh pada Fatimah dan warda. "Semoga anak saya cepat pulih." Mengamati gadis yang duduk bagai anak kecil disisinya sangat anteng sambil mendengarkan apa yang dokter dan Alex bicarakan. sesekali melirik ketika Fatimah memeluk tubuh anaknya itu
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan, untuk resepnya akan saya berikan pada suster nanti," ucap dokter dan berlalu pergi.
Kembali Alex. Jemarinya menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik. Dengan senyum teduh yang hadir di wajah ia berikan pada anak angkatnya.
__ADS_1
setelah selesai berbicara dengan dokter psikolog Alex dan keluarganya pulang.menuju mansion Alex.