
setelah mendapatkan perintah dari tuan mereka. pesawat pribadi milik Markus lepas landas menuju ke Nanga Pinoh Airport, Kalimantan barat. para anak buah Markus berjejer rapi menunggu pesawat pribadi milik tuan mereka.
sedangkan di kediaman Alex. Fatimah tak henti-henti nya menangis dan itu membuat Alex bingung pasalnya dia masih belum mengetahui keberadaan putri nya saat ini.
"sudah sweety jangan nangis terus ya! sebentar lagi warda ketemu kok okey berhenti dulu ya nangis nya! jangan buat Abi tambah sedih okey?"ucap Alex menenangkan istrinya. sedangkan felix masih berkutat dengan laptop nya untuk mencari keberadaan adiknya dia melacak menggunakan CCTV jalanan namun hasilnya nihil CCTV jalanan sudah di setting dan jejak sang penculik juga tidak bisa ditemukan seakan-akan mereka hilang di telan bumi.
"bagaimana Jefri apa kau sudah menemukan sesuatu?"ucap felix tanpa menoleh ke bawahannya itu. mereka saat ini berada di ruang kontrol mansion Alex, terdapat layar besar di depan mereka dan belum lagi dengan komputer dan laptop mereka gunakan. ruang kontrol mansion Alex sangatlah lengkap dan bisa menjangkau data-data yang tersembunyi sekaligus. itu adalah kelebihan dari sang ketua mafia apapun bisa dia dapatkan dalam sekali berucap.
"belum tuan muda, seluruh CCTV kota Jember sepertinya sudah di setting bahkan saya juga mencari nya di bandara dan pelabuhan semuanya tidak ada tuan"ucapnya tertunduk.
"argh...sial! kita sudah seharian di sini masih juga belum ada petunjuk! brengsek...."umpatnya melempar laptop nya hingga hancur menjadi dua.
"aku akan keluar sebentar! Jefri temukan petunjuk sekecil apapun itu secepatnya"ucap felix melangkah pergi
"baik tuan muda! saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari petunjuk nona muda!"ucap Jefri menunduk hormat.
felix keluar dari ruang kontrol karena ingin mencari udara segar dan melihat kondisi sang ibu yang sempat menangis seharian karena putrinya diculik.
"Abi! bagaimana kondisi umi! umi baik-baik saja kan?"ucap felix saat berpapasan dengan Alex di tangga lantai dua.
__ADS_1
"keadaan umi sekarang sudah mendingan dia baru saja tidur! bagaimana apa ada bukti keberadaan adikmu?"ucap Alex penuh harap.
"tidak ada bi! jejak mereka seolah-olah di telan bumi kami tidak bisa menemukannya? satu-satunya harapan adalah jam tangan Warda?"ucapnya menggelengkan kepalanya.
"jam tangan emang Warda pakai jam tangan?"ucap Alex bingung sejak kapan anak perempuannya memakai jam tangan.
"iya! Warda pakai jam tangan lima hari yang lalu sebelum penculikan! pas kami jalan-jalan, dia ingin membeli jam tangan dan memintaku untuk memasangkan GPS di jam tangan nya"Warda sempat membeli jam tangan karena dia sempat melihat jam yang sangat menarik perhatiannya dan jam tangan itu juga menjadi tempat di mana ia menaruh chip, itu kenapa mereka tidak bisa menemukannya di kediaman Alex.
"terus kenapa kau tidak melacak jam tangan Warda? kenapa masih di sini?"ucap Alex memotong pembicaraannya.
"jam tangan Warda mati! itu kenapa aku tidak bisa melacaknya kalau dia menghidupkan nya sudah dari tadi kali felix beraksi! sudah lah felix mau mandi dulu! Abi tenang saja felix juga sudah mengerahkan seluruh anak buah felix dan Abi untuk mencari Warda! kita tunggu saja!"ucap felix melangkah pergi.
sedangkan di sebuah rumah yang lumayan luas di tengah-tengah hutan terdapat beberapa orang yang berjaga di sekeliling rumah itu. di sebuah ruangan kosong yang hanya terdapat sebuah kursi dan meja panjang dan terdapat beberapa alat untuk menyiksa musuh berjejer rapi di meja tersebut. dan untuk Sandra nya! mereka menggantung seorang gadis yang masih 18 tahun, mereka mengikat kedua tangannya ke atas dan tubuhnya mengantung dengan rantai yang terikat. sungguh kejam perbuatannya mereka tidak mengenal yang namanya belas kasih terhadap musuh entah itu perempuan atau laki-laki, semuanya sama mereka siksa dengan sangat kejam, menyiksa secara perlahan dan membunuhnya.
setelah 16 jam Warda pingsan, dia mulai sadar dan mengerjapkan sekeliling, tubuh terasa berat dan sakit bagian pergelangan tangan dan kaki, mengerjapkan matanya sesekali hingga akhirnya terkumpul semua kesadarannya dia membulat sempurna betapa terkejutnya dia mengetahui keadaannya dalam keadaan tergantung dan kepalanya terasa sakit akibat pukulan keras yang di dapat beberapa jam yang lalu. mereka memukul kepala bagian belakang Warda menggunakan pemukul baseball bisa kalian bayangkan betapa sakit kepalanya.
"akh... dimana ini! sial di bawa kemana aku sama mereka wilayah ini terasa asing sekali bagiku dan kenapa mereka kejam sekali membiarkan seorang wanita di gantung seperti ini akhh... tanganku sakit sekali"ucapku mencoba melepaskan ikatannya.
"wah wah wah... ternyata nona sudah bangun toh bagaimana rasanya sakit kah"ucap mereka yang tiba-tiba muncul di depan pintu ruangan ini.
__ADS_1
"siapa kalian brengsek? kenapa kalian menculik ku hah?"ucapku dengan nafas yang memburu
"wow...sadis juga anaknya Alex ini ya haha.... tenanglah gadis kecil kami tidak akan menyakiti mu bila kau mau bekerjasama dengan kita?"ucap nya memegang daguku.
"bekerjasama dengan kalian, para brengsek seperti kalian cuih.... sampai mati pun aku tidak Sudi bekerjasama dengan kalian!"ucapku meludahi wajah salah satu penjahat di depan ku.
"dasar cewek sialan...!"dia membentak ku dan menarik rambut ku.
"akh.... lepaskan tangan kotor mu dariku brengsek, dasar pria kejam akhh..."dia menarik rambut ku sangat kencang hingga terasa sekali.
"biar ku ajari kau apa itu kejam gadis kecil"dia menyeringai devil, dan temannya hanya menonton saja tanpa ikut bermain.
mengambil beberapa langkah mundur dan sedetik kemudian dia memukul perut ku dengan sangat keras hingga sangat amat terasa sakit, bukan cuma sekali dia menyerang ku beberapa kali.
"akh...khuk...khukh...
"jawab pertanyaan ku sekali lagi. dimana kau menyembunyikan chip itu gadis kecil!"ucapnya siap memukulku lagi. setiap pertanyaan yang tidak ku jawab maka detik itu juga mereka akan menyiksaku.
"sa-sampai mati....pun aku...ti-tidak...akan pernah... memberikan...chip itu pa-akhh...."belum selesai aku berucap mereka kembali memukulku.
__ADS_1
pertanyaan yang sama terus berulang-ulang dan dengan siksaan nya yang berbeda entah mereka memukul, menendang, bahkan tubuh gadis kecil itu sering kali di jadikan samsak atau bahan untuk latihan tinju mereka. hanya sekedar menanyakan sebuah pertanyaan yang sama dan kegabutan mereka sehingga menyiksa gadis kecil itu berulang kali hingga pagi hari menjelang mereka tidak membiarkannya tidur sampai pertanyaan itu terjawab.