
Delapan jam sebelum kejadian....
pukul 03:00wib.sumbersari, Kediaman Alex Wijaya
Delapan orang yang biasa disebut dengan pembunuh senyap, berhasil menembus pertahanan keamanan keluarga Alex melalui jalur utara di kediamannya.
Rimbunnya pepohonan di bagian sana memudahkan para penyusup yang sengaja dikirim untuk mencari sesuatu di kediaman Alex, berhasil masuk, menembus tembok raksasa yang menjulang.
Mereka tidak bodoh dengan membiarkan CCTV kediaman tetap menjadi mata elektronik bagi penghuninya. CCTV itu telah ter-setting, sehingga yang tampil di layar hanyalah video sebelum adanya kedatangan mereka. Hanya video kosong yang menampilkan suasana malam di area utara.
Dan kini, mereka bebas melakukan gerakan tanpa takut lagi terlihat atau terekam dari yang namanya mata elektronik. Melompat dan turun layaknya ninja dengan lihai di kegelapan sinar rembulan.
Pakaian serba hitam dengan wajah tertutup rapat. Hanya mata yang terlihat. Kedua tangannya pun menggunakan sarung tangan senada dengan pakaian hitam mereka. Melewati halaman rumah di bagian utara, mereka menyusup masuk ke dalam kediaman tanpa ada yang mengetahui sama sekali, seperti bayangan gelap yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia.
Seperti sudah paham betul denah rumah tersebut, mereka menelusup masuk dengan lancar dan langsung menuju tempat tujuan masing-masing yang telah diarahkan kepada mereka.
Membagi tiga kelompok, yang mana, kelompok pertama menuju kamar Alex, lalu ruang kerja tuan muda felix dan terakhir adalah kamar warda.
Memasuki lorong-lorong dengan lampu temaram di dalam kediaman, agar lebih memudahkan mereka bergerak bebas menuju tempat tujuan. Langkah kaki dan pergerakan sekecil apapun sama sekali tidak mereka keluarkan. Begitu sepi tanpa ada suara sedikitpun.
Penjaga yang sedang berpatroli sekalipun dapat mereka lewati dengan begitu mudahnya. Sampai akhirnya tiga kelompok yang telah terpisah, langsung masuk ke ruangan masing-masing.
"Jangan sampai ada yang terlewatkan. Cari di mana pun. Termasuk di toilet, kalau perlu. Temukan itu! Kalian mengerti?" intruksi salah satu yang sepertinya pemimpin dari mereka.
"Siap!" jawab semuanya bersamaan dengan suara hanya mereka yang mendengarnya.
Hingga lebih dari satu jam berlalu mereka berada di dalam sana. Membongkar seluruh isi ruangan, namun yang mereka dapatkan...
"Tidak ada apapun di sini," ucap salah satu dari mereka di dalam kamar Alex. Membongkar seluruh laci, meja, rak, dan lemari serta dipan yang ada di sana, ikut menjadi target pencarian.
Akan tetapi, hasilnya ... nihil.
"Sama, di sini kami juga tidak menemukan apapun. Ruangan ini bersih. Hanya ada dokumen-dokumen dan ... senjata."
Salah satu dari mereka sudah berhasil membobol brangkas yang ada di dalam lemari laci. la bahkan mengambil salah satu revolver dengan moncong berlapis emas tersebut.
"Ini akan aku ambil, sepertinya ini sangat mahal.Dan... yah tentu saja fungsinya akan bagus juga, bukan?" gumamnya sendiri.
"Di sini juga tidak ada. Apa mungkin ada di ruangan lain?" sahut yang lainnya dari alat komunikasi kecil yang ada di telinga mereka. Alat komunikasi yang saling terhubung satu dengan yang lainnya.
"Atau mungkin saja ada di ruangan yang di sebutkan Boss?" tanyanya menoleh pada temannya. "Apa perlu kita ke sana?"
__ADS_1
Semua terdiam memikirkan. Melihat jam di tangan mereka masinh-masing yang kini sudah menunjukkan tepat pukul empat dini hari. Salah satu di antara mereka bahkan mengintip di balik tirai.
"Fajar semakin terlihat jika kita melanjutkan pencarian ke ruangan lain," sanggahnya sambil terus berusaha menelusuri pencarian. Apapun yang terlihat bisa menyimpan sesuatu, mereka bongkar. Tak terkecuali ... lukisan keluarga di dinding.
"Tapi kalau kita kembali dengan tangan kosong, kita yang akan mati! Tuan akan membunuh kita!" desis lelaki pertama.
Tatapannya tajam menyalang, pandangan menyapu bersih seluruh ruang kerja felix. Napasnya terengah akibat pencarian yang tak mendapatkan hasil apapun. Otaknya di paksa untuk berpikir.
"Lalu bagaimana sekarang? Apa kita akan melanjutkan pencarian?"
"Kalau kita sampai ketahuan bagaimana? Para pelayan jam segini pasti sudah banyak yang mulai bekerja." Pria satu lagi memgangguk membenarkan. "Ya, sebentar lagi bisa saja mereka akan masuk ke dalam ruangan-ruangan ini untuk bersih-bersih. Itu akan beresiko. Setidaknya kita harus punya rencana cadangan. Atau keberadaan kita akan segera diketahui."
Lelaki pertama yang sepertinya adalah pemimpin mereka, tampak masih berpikir keras untuk beberapa menit. Kemudian ia memandang jam seakan sedang menghitung waktu serta keadaan.
"Kalau begitu yang lain pergilah. Aku dan Casper yang akan tetap di sini, mencari di ruangan itu. Kalian keluar dan tunggu kami di mobil. Pastikan alat komunikasi tetap tersambung."
Nama yang tidak di sebut saling menoleh dengan rekannya, kemudian mengangguk, menerima usulan pemimpin mereka, sekaligus mencari aman jika skenario terburuk mereka akan tertangkap.
"Baiklah, kalau begitu kami akan bersiap pergi," celetuk yang lainnya bersiap pergi. "Pastikan jangan sampai tertangkap Sergio?" tandasnya memperingati.
"Ya, aku dan Casper akan segera menyusul kalian, nanti jika barang itu sudah ada di tangan kami."
Mereka memanjat tembok yang menjulang tinggi dengan tali yang melingkar di pinggang, kemudian ditembakkan secara presisi ke atas dan langsung mengait di besi yang ada di ujung pagar tembok.
"Kita harus segera pergi. Lihatlah di belakang sana sudah ada dua orang penjaga yang hendak berjalan ke sini!" sahut salah satu segera naik ke atas.
"Sial! Ayo cepat! Kita harus segera pergi dari sini! Atau kita akan tertangkap!" Mereka mengangguk dan bersiap naik.Sementara dua yang tertinggal, keluar dari kamar Alex. menoleh kanan dan kiri. Berjalan menuju ke sisi kiri dengan berjalan mengendap. Ketika ada penjaga, mereka segera bersembunyi di balik guci besar setinggi dua meter. Menyelip di balik sana.
Melangkah melewati mereka berdua. Tubuh itu bahkan menjepit diri mereka di sela-sela lipatan guci.
Ketika sudah tak terlihat kembali, keduanya kembali berjalan dan segera melesak masuk menuju sebuah ruangan yang tidak lain adalah kamar sekaligus tempat tinggal...warda.
"Apa mungkin di simpan di ruangan ini Sergio?" tanya Casper mengamati.
Pria yang bernama Sergio menggeleng. la segera melangkah dan menyusuri meja yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Aku tidak tahu. Yang jelas kita harus segera pergi. Ruangan ini ... masih ada aroma obat-obatan. Aku tidak suka. Lagi pula sebentar lagi mentari akan keluar. Kita harus menemukan chip itu!”
Cesper hanya mengangguk dan berjalan ke arah lemari. Mencari sebuah alat yang di namakan chip.Dengan tangan yang berbalut sarung tangan, mereka melakukan semuanya dengan rapi. Bahkan segala sesuatu yang telah disentuh, telah dikembalikan seperti semula meski tidak semestinya mirip.
"Kotak apa ini?" tanya Sergio, pemimpin mereka, saat menemukan kotak kayu yang digembok.
__ADS_1
Akan tetapi, sebelum Sergio membuka kunci gembok tersebut dengan besi kecil yang sangat kecil masuk di dalam lubang jam tangan yang melingkar, tiba-tiba pintu kamar mandi... di buka.
"umi! apa umi sudah pulang kok subuh-subuh bukannya masih besok ya?"ucapku tanpa melihat karena masih fokus memasang kembali jam tangan karena terlepas waktu mandi. dan saat menoleh...
"siapa kalian? kenapa dikamar ku? apa yang kalian cari?" ucapku membentak mereka dengan keras.
mereka saling pandang dan sepertinya misi telah gagal dan mau tidak mau harus ada yang dibawa tanpa menoleh lagi mereka maju dan menyerang ku.
"mau apa kalian lepaskan aku? lepaskan kan? aakkhh...!"aku memberontak dan salah satu dari mereka memukulku hingga pingsan.
"bagaimana apakah kita akan membawa nya?"ucap Casper
"ya sepertinya begitu? kalian berdua kemari? bawa dia dan tunggu di mobil apabila kita tidak keluar beberapa menit setelah kalian maka pergilah tanpa kami? kalian mengerti?" ucap Sergio memberikan ku pada anak buahnya untuk di bawa. mereka mengangguk patuh dan segera membawaku.
setelah kepergian anak buahnya itu Sergio kembali ingin membuka sebuah kotak misterius yang membuatnya penasaran dan lagi-lagi terdengar suara pintu yang terbuka itu membuat keduanya panik dan segera bersembunyi.
Dua orang wanita masuk ke dalam kamar tersebut dengan membawa peralatan bersih-bersih. Salah satu di antaranya langsung menuju ke arah ranjang dan segera membersihkannya.
"Kalau mengingat ruangan ini, aku teringat dengan nona warda. Selama aku bekerja di sini, beliau sudah tinggal di kamar ini, bukan?" tanya salah satu wanita tersebut mengenang nona muda nya ketika mengalami koma di mansion ini.
"Ya, kamu benar. Sejak beliau dipindahkan, kamar inilah kamar beliau," jawab wanita yang satu lagi. "Kalau ingat saat itu, rasanya su-. Eh, ini ... kotak apa?" tanyanya mendekat.
Ucapannya terhenti ketika melihat ada sebuah kotak di atas meja yang sebelumnya di pegang oleh Sergio. Sedangkan Sergio dan Casper saat ini sedang bersembunyi di bawah meja dan di belakang lemari ditutup dengan tirai.
"Ini kotak apa? Kenapa ada di luar?" tanyanya lagi dan mengangkat kotak tersebut, ia mengamati kotak kayu yang entah isinya apa. Ketika diangkat, terasa begitu berat.
"Apa ada yang ma-" Pandangannya teralihkan ketika ia melihat ujung sepatu, semacam sepatu milik ninja terlihat dari balik lemari, terlebih pintu laci meja sedikit terbuka.
Seketika itu matanya membulat dengan mulut yang langsung melipat dalam. Tangan yang mengangkat kotak, segera ia turunkan perlahan, meletakkan kembali ke atas meja.
'Apa itu ... penyusup? Ya Tuhan? la langsung menoleh kepada temannya. "Ada penyusup!" serunya tanpa suara.
Akan tetapi, teman wanitanya tersebut tidak mengetahui apa yang di maksud, sampai tiba-tiba....
"Akh! Ernes!" teriaknya keras saat temannya tetiba sudah di sayat lehernya dengan sebilah pisau yang melayang dan menembus ke pintu kayu lemari.
Namun, sebelum Ernes terkulai dan terjatuh dengan ... tak bernyawa, wanita itu sempat menekan tombol darurat di bawah meja yang terhubung langsung dengan sistem keamanan.
"Sial! mati kamu brengsek!" desisnya mengeluarkan sesuatu dari balik kain yang terikat di kakinya.
kedua pelayan pun mati secara mengenaskan di kamar nona mereka.
__ADS_1