
"assalamualaikum umi! Abi!"ucapku memasuki mansion dan melihat umi dan Abi di ruang tamu.
"waalaikumsalam, gimana jalan-jalannya anak umi! kak felix gak jahil kan ke kamu?"ucap Fatimah memeluk anaknya yang duduk di samping nya.
"iya seru banget umi! kak felix beliin aku buku banyakk... banget"ucapku kegirangan dan menunjukkan nya pada umi Fatimah.
"loh! bukannya buku kamu sudah banyak di kamar kok beli buku lagi? dan di ruangan nya Abi juga banyak buku sudah seperti perpustakaan loh? kalian ini punya hobi kok sama?"ucap umi Fatimah yang mencubit pipiku dengan gemas. aku hanya menanggapi nya dengan cengengesan.
"Warda beli buku sejarah umi di ruangan nya Abi kan cuma ada buku umum dan bisnis"ucap felix yang baru saja masuk karena tadi masih menerima telepon di luar.
"itu ilmu yang harus kita pelajari felix lagian Abi tidak terlalu suka sejarah! isinya kebanyakan cerita Abi bosan kalau baca buku kayak gitu"ucap Alex menanggapi
"sudah-sudah gak usah ribut! Warda kita ke kamar yuk waktunya minum obat habis itu tidur okey"Fatimah melihat jam sudah menunjukkan pukul 21:00. karena anaknya yang belum sembuh betul jadi dia harus siap siaga sebagai seorang ibu untuk tetap menjaga kesehatan anaknya.
para wanita sudah tidur beda hal nya dengan Alex dan felix mereka tengah berbincang di ruang tamu mengenai masalah kantor.
"felix apa kau sudah tau siapa dalang di balik pengkhianatan mereka"ucap Alex. perusahaan yang di kelola oleh felix saat ini tengah terjadi kekacauan ada beberapa direksi yang berkhianat dan Alex maupun felix masih mencari siapa sebenarnya dalang di balik pengkhianatan mereka.
"belum bi! para tikus itu sangat pintar menyembunyikan bukti tapi Abi tidak usah khawatir felix pasti akan menemukan nya!"yakin felix
"bagus itu baru anak Abi! ya sudah sebaiknya kita lanjutkan besok. hari sudah semakin malam jangan sampai kau sakit karena besok ada rapat penting"ucap Alex mengingatkannya.
"iya. selamat malam Abi"ucap felix berdiri dan berjalan menuju pintu kamar nya
"malam...
...****************...
"selamat pagi semuanya?"ucapku menuruni anak tangga menuju meja makan.
"pagi sayang"ucap Fatimah dari arah dapur membawa makanan
"Warda sudah bangun! nanti habis makan jangan lupa untuk minum obat nya ya"ucap Alex
"iya Abi! oh ya kak felix hari ini sibuk gak"ucapku menggeser posisi untuk menghadap ke arah kak felix duduk.
"Kenapa?"
"kita panen buah apel yuk kak! apel di kebun sudah waktunya panen loh?"ucapku sambil mengunyah makanan
"hari ini kak felix tidak bisa temenin kamu! kak felix ada meeting"ucapnya santai
"yah padahal aku kan ingin sama kak felix secara kak felix kan tinggi jadi gampang buat ambil apel nya eh...UPS hehe... keceplosan"ucapku menutup mulut di kira bicara lewat hati eh malah keluar suaranya lagi.
"hayoo... ketahuan kan kak felix cuma dijadikan sebagai alat untuk mengambil apel"ucapnya tersenyum devil
"hehe...maaf ya kak felix"ucapku memohon dengan kedua tangan disatukan di depan dada.
"hemp....kak felix gak mau ngajakin Warda jalan lagi"felix berpura-pura marah dan merajuk
"yah jangan dong nanti Warda main sama siapa lagi"ucapku tertunduk
"felix jangan jahilin adik kamu terus"ujar Fatimah
"hehe... iya umi! kak felix gak marah kok! ya sudah kalau begitu kakak mau ke kantor dulu! ayo bi!" ucapnya menciumi sang ibu dan adiknya
"dah hati-hati kak"ucapku melambaikan tangan
setelah mereka pergi aku dan umi masuk ke dalam dan melihat bekal sang suami lantas Fatimah mengambil bekal nya dan hendak menyusul sang suami ke kantor.
"umi mau ke mana?"ucapku
"ini bekal Abi ketinggalan tapi umi bingung! sebentar lagi teman umi mau datang Tante Clara kamu tau kan istrinya tuan Samuel?"ujar Fatimah
__ADS_1
"oh ya Warda tau. kalau gitu biar Warda aja ke kantornya Abi sekalian jalan-jalan mumpung liburan sekolah"ucapku menawarkan diri
"bener nih! ya sudah nih kamu berangkat dengan briel ya langsung pulang jangan kemana-mana okey?"nasehatnya
"siap bos! kalau begitu Warda pergi dulu! assalamualaikum umi cantik"ucapku mencium tangan umi Fatimah
waalaikumsalam...
sesampainya di kantor aku langsung pergi ke ruangan Abi dengan pengawalan sang bodyguard pilihan Abi yaitu Breil yang sudah ku anggap teman dekatku.
setelah selesai tiba-tiba aku merasakan hendak membuang air kecil.
"Breil aku mau ke toilet bisa anterin aku kesana?aku tidak tahu jalannya?"ucapku menahannya.
"lewat sini nona"ucapnya menuju pintu lift
sesampainya di toilet aku langsung membuang hajat ku sementara briel yang menunggu di depan toilet tiba-tiba di datangi beberapa orang yang dikenal nya
"Breil di suruh tuan untuk menghadap! beliau membutuhkan kemampuan hecker mu"ucap salah satu pengawal Alex
"tapi nona Warda masih di dalam?"ucapnya ragu-ragu
"beliau baru masuk kan! perempuan biasanya lama kalau sudah di dalam toilet! ayo keburu kita nanti yang dimarahi"ucapnya menarik tangan Breil.sesampainya di ruangan Alex Breil menunduk hormat
"tuan memanggil saya?" ucapnya
"Breil bisakah kamu memperbaiki keamanan kantor! dan oh ya sepertinya kamu tadi kesini dengan Warda dimana anakku?"ucap Alex melihat kebelakang yang tidak melihat ku.
"nona tadi ke toilet tuan?"ucap Breil
"yasudah kalau begitu jadi apakah kamu bisa?"ujarnya lagi
"bisa tuan"ucapnya menghormat dan mulai duduk di depan komputer yang layarnya penuh dengan angka.
"aduh...Breil ini kemana sih bukannya nungguin aku di toilet malah ditinggal! gimana ini mana aku lupa tadi ruangan nya Abi lantai berapa! Hem... bukannya kalok perusahaan itu ruangan pemilik kantor ada di lantai paling atas ya? ke lantai paling atas deh"ucapku
Warda belum tahu apabila perusahaan Abi nya ini tidak Sama dengan yang lain lantai atas itu adalah tempat ruang kontrol dan sekarang di dalamnya ada beberapa orang yang sedang menerima telepon dari seseorang dan mereka juga melihat layar monitor di depan seperti sedang mengintai sesuatu.
"eh kok beda ya lorong nya apa salah lantai kah aku?"ucapku hendak memencet tombol tapi terhenti karena sepertinya ada suara di ruangan paling ujung lorong
"seperti ada orang yang marah-marah coba aku lihat deh! ada apa di ruangan itu ya?" Warda melangkah mengendap-endap tanpa suara sampai ke ujung lorong karena pintu yang sedikit terbuka. itu memudahkannya untuk mengintip
"kalian bagaimana sih membuat laporan palsu saja sampai salah! apabila Alex mengetahui ini maka kalian harus menghancurkan semua bukti-bukti yang mengarah ke saya! jangan sampai kalian membocorkannya ke Alex apabila sampai itu terjadi maka keluarga kalian yang akan jadi taruhannya"ucap orang yang berada di layar besar itu. ternyata mereka adalah si pengkhianatan yang Abi cari-cari selama ini.
"baik tuan"ucap mereka
"dan jangan lupa kalian harus menghancurkan chip yang tertanam di dalam komputer ini karena chip ini berisi percakapan kita saat ini"ujar orang itu lagi
dan aku langsung melihat dimana tempat chip itu berada. setelah mereka selesai dan pergi dengan mengendap-endap sama sepertiku tadi lantas aku langsung masuk ke ruang kontrol yang sebelumnya pintunya terkunci oleh sandi untung pas mereka keluar aku sempat melihat mereka memencet kata sandi pintu itu.
"oh jadi chip ini toh yang bisa menjadikan bukti kuat siapa dalang di balik pengkhianatan orang perusahaan ini! kalau begitu aku ambil hehe...
"aku akan suruh briel untuk membuka sandi chip ini?"ucapku melangkah pergi.
sedangkan di bawah briel sudah panik setengah mati karena tidak menemukan ku di toilet perempuan dia bahkan nekat masuk toilet untuk mencariku. aku yang sedikit berlari dan selalu menoleh ke belakang tiba-tiba...
brukk....
"sshht...awu sakit"ucapku memegangi bokong ku. ternyata aku terjatuh karena tertabrak tubuh besar dan berotot pas mendongak ternyata itu Abi.
"eh Warda kamu dari mana aja sayang Abi nyariin kamu dari tadi loh kata briel kamu tidak ada di toilet?"ucap Alex memelukku .
"anu itu Warda tadi menerima pesan dari teman Warda katanya dia masuk penjara jadi aabi boleh gak Warda izin melihatnya dan menebusnya?"ucapku gugup.
__ADS_1
"kenapa harus kamu orang tuanya kemana sehingga anaknya masuk penjara mereka tidak mau menebusnya"ucap Alex
"dia broken home orang tuanya tidak perduli kalau dia kenapa-kenapa di luar sejatinya aku atau Rendra yang selalu menjadi tanggung jawab anggota kami?"ucapku tertunduk berharap di izinkan pergi sebab kalau terlalu lama di sini dan mereka mengetahui chip nya hilang maka tamatlah sudah.
"oke Abi izin kan tapi bukan kamu yang menebus mereka di penjara biarkan briel yang bertanggung jawab"ucap Alex melirik briel.
"siap tuan saya akan menjaga nona dengan baik dan kejadian ini tidak akan terulang kembali"ucapnya tertunduk.
"waah...bener nih bi! Aaa... terimakasih! kalau begitu Warda pergi dulu assalamualaikum"ucapku mencium dan memeluk Abi berkali-kali.
waalaikumsalam....
sesampai di penjara Breil benar-benar menjadi penanggung jawab mereka dan setelah selesai kami pergi ke cafe untuk mengobrol.
"Tristan kenapa kamu sampai masuk penjara?"ucapku
"anu itu! Eee....kami ikut balapan bos"ucap Tristan dengan gugup
"kok bisa sampai tertangkap dan bukannya aku sudah menyuruh kalian untuk berhenti balapan kenapa masih main?"ucapku melihat ketiganya ya mereka adalah Rendra, Tristan dan Riko
"gini war! bukannya kami melanggar, semenjak kamu di adopsi orang kaya kamu jadi jarang main lagi ke basecamp ya gak dan kita juga gabut kalau gak ngapa-ngapain terus ada yang ngajakin kita duel balapan ya sudah kita ikutin?"ucap Rendra menjelaskan dan di angguki oleh lainnya.
"ya maaf! kalian kan tahu sendiri keluarga ku meninggal dan aku juga sempat sakit selama satu bulan"ucapku
"Warda apa kamu tidak merindukan mereka secara keluarga baru mu yang sekarang sepertinya menyayangimu tidak seperti mereka"ucap Riko
"Woi kalok ngomong Itu di saring dulu Napa! asal bicara saja"ucap Tristan memukul bahu Riko dengan keras
"awu...sshht sakit Cok"ucap Riko lalu mereka melihatku.
"jika seseorang bertanya, apakah aku merindukannya?aku akan menjawab ya tentu. aku merindukannya tapi aku tidak bisa memaksakan perasaan ini, yang bisa aku lakukan hanyalah duduk dan menunggu lalu biarkan alam semesta memutuskan apa yang akan terjadi"
*Bu, dulu kukira rumah pulang yang kuidamkan itu adalah bangunan yang mewah, fasilitas yang kompleks, dan isi kulkas yang banyak. Namun pada akhirnya, bukan itu tempat pulang yang ternyaman, bukan itu tempat betah yang sesungguhnya, akan tetapi, bisa melihat ibu, meski rumah ini begitu sederhana, ibu tetap setia menjadi penopang segala lelah dalam kisah di hari-hari tersulitku, di hari-hari tersedihku, yang tak pernah lekang oleh waktu, yang tak pernah berubah perhatiannya meski usiaku terus bertambah. Teruntuk ibu: terima kasih untuk segala ketulusan yang mungkin tidak bisa terbalas.*
"Lo itu hebat masih bertahan sampai saat ini. Ngga peduli seberapa lelah kehidupan lo, lo tetap kuat. Jangan merasa sendiri, tetap bertahan.
Gua bangga sama lo.
Note: bukan semesta yang jahat, tapi lo yang ditakdirkan untuk kuat.Bukan orang lain." ucap Rendra memberi semangat begitu pun dengan yang lain.
"iya tapi hanya aku. Hanya aku yang tahu seberapa besar usahaku untuk berlari ke tempat yang aku tuju. Hanya aku yang tahu persis bagaimana perasaanku dalam tiap langkahku. Dan hanya aku yang tahu bagaimana kerasnya aku pada diriku sendiri. Ketika orang lain mengkritik hidupku, aku jauh lebih mengkritik diriku. Semua yang tak berjalan dengan baik adalah seutuhnya salahku. Ketidakmampuanku. Kebodohanku. Ya, pemikiran ini telah meracuni diriku selama ini. Memberi penderitaan yang tak pernah ingin diakui adanya. Dan ketika di luar sana lebih jahat dari diriku Aku kehilangan udara dalam tarikan napasku Tanganku yang pandai berayun mencari pegangan. Tapi apa yang bisa diharapkan? Tak ada uluran tangan lain. Aku hanya menemukan diriku sendiri dan keyakinanku. Kembali." ucapku dan sebisa mungkin aku menahan diri untuk tidak menangis di depan mereka
"Aku dulu selalu melihatmu menulis sebuah karya dan isinya selalu saja tentang keluarga bahagia, apa tidak bosan warda?"
"Hmm tidak Rendra."
"Kenapa begitu?" ucapnya penasaran
"ada banyak anak yang kekurangan kasih sayang kedua orang tua mereka, aku hanya ingin mengabulkan permohonan mereka yang ingin merasakan bagaimana rasanya di sayang oleh orang tuanya meskipun lewat tulisan dan sewaktu-waktu kau bisa membaca tulisanku ini lalu sadar bahwa aku juga membutuhkan meskipun sekarang mimpiku itu sudah terwujud mendapatkan keluarga yang sayang padaku...
"Aku akan selalu menulis tentang kisah-kisah yang bisa membuat para pembaca menangis dan merasakan betapa berat hidup itu? agar kelak jika aku kehilangan mereka lagi aku bisa membaca kisah ku ini, aku masih bisa mengenang keluarga yang kucintai sedalam ini"ucapku
"maafkan kami war? kami tidak bermaksud untuk membuka luka lama mu"ucap Rendra
"tidak apa-apa itu hanya masa lalu! sekarang aku sudah punya Abi dan umi yang selalu ada buat aku dan juga kak felix yang selalu memprioritaskan ku dan bisa merasakan kasih seorang kakak karena jujur dulu aku tidak pernah merasakannya"ucapku tersenyum getir.
"sudah lah jangan bahas itu lagi karena ini adalah pertemuan pertama kita! kali ini aku yang akan traktir kalian boleh pesan apa saja"ucapku menyudahi obrolan ini. dan dari kejauhan briel mendekat kepada ku
"nona sudah waktunya pulang! nyonya menanyakan anda?"ucap briel padaku.
"iya tunggu sebentar aku akan berpamitan dulu pada mereka"ucapku dan briel pergi keluar untuk menunggu di mobil
"oke gais sepertinya aku harus pulang umi sudah nyariin kalian kalau mau ke rumah datang saja ini alamatnya, aku pergi dulu assalamualaikum" ucapku memberikan alamat mansion Abi Alex pada mereka
__ADS_1
aku pun pulang karena hari sudah siang dan aku pun lupa untuk menanyakan perihal kejadian di kantor pada briel tadi.