
Selama kurang lebih satu jam Anna menunggu kedatangan Dion , akhirnya laki-laki yang di tunggunya itu datang juga.
Dion menaiki lift menuju apartemen milik Anna, disana dia sudah melihat ada 2 orang pria yang babak belur dan seorang wanita sedang menatap ke atas seolah ada pertunjukan. Dion kemudian mengikuti arah pandang wanita itu untuk melihat ke atas. Dion melihat Bian sedang menggedor-gedor pintu sambil meneriakkan nama Anna.
Dion yakin Anna pasti mengunci dirinya di dalam ruangan itu. Dion kemudian pergi menaiki tangga menuju ruangan dimana terdapat Anna di dalamnya.
Dion melihat Bian dengan kondisi yang mengenaskan, Bian menangis dan terlihat frustasi. Ini pertama kali Dion melihat Bian dengan keadaan seperti ini .
"Kumohon dengarkan aku Anna" ucap Bian dengan lemah
Ternyata dugaan Dion benar, anna pasti ada di balik pintu yang ada di hadapannya, Dion pun kemudian memberikan pesan kepada Anna bahwa dirinya berada di depan kamarnya .
Bian tidak sadar dengan kedatangan Dion di sampingnya, Bian sungguh menyesal, Bian tidak tahu harus berbuat apa lagi agar anna keluar dari kamarnya.
Tiba-tiba pintu kamar Anna terbuka, disana sudah berdiri Anna dengan menggunakan stelan dress selutut, wajahnya yang sembab dan tatapannya yang sayu. Anna juga membawa satu buah koper di genggamannya.
"Anna, akhirnya kamu mau buka pintu" Bian lalu berdiri, baru saja Bian ingin mendekat ke Anna, tiba-tiba Dion datang ke hadapan Anna
"Kamu udah siap?" Tanya Dion yang langsung di angguki oleh Anna. Dion mengambil koper yang tadi di pegang oleh Anna, serta tangan kirinya yang menggenggam tangan Anna.
Dion dan Anna hendak pergi meninggalkan tempat ini, Namun tiba-tiba Bian mencekal tangan Anna dengan erat. Anna langsung berlari ke belakang punggung Dion.
"Kamu mau kemana?, Kenapa dia disini" tunjuk Bian kepada Dion . Terlihat ketidaksukaan Bian kepada Dion.
Berani-beraninya Dion menggenggam tangan wanitanya.
__ADS_1
"Udah berapa kali gue peringati , jangan pernah Lo sakiti Angel. Sekali aja Lo sakiti Angel, maka gue yang bakal maju" ucap Dion, Dion tidak tahu ada masalah apa antara Bian dan Anna. Dion hanya melihat bahwa mata Anna habis menangis, terlihat dari matanya yang sembab. Dia yakin Bian pasti membuat masalah lagi.
"Stop ikut campur urusan gue sama tunangan gue" tunjuk Bian kepada Dion. Bian sudah tersulut emosi, begitupun Dion . Bian menarik kerah Dion, Bian mengangkat tangan ingin memukul Dion tapi Anna menghalanginya, Anna mencekal tangan Bian dan menghempaskan lalu menampar Bian dengan sangat keras.
Plaakkk
"Mulai sekarang hubungan kita cukup sampai disini!! Aku ingin memutuskan pertunangan kita" ucap Anna yang kemudian mengembalikan cincin pertunangan mereka.
Untuk kedua kalinya, cincin itu diberikan kembali kepada Bian. Pertama, saat Bian ketahuan selingkuh dengan sabahat Sarah, dan yang kedua, pada saat sekrang bian ketahuan tidur dengan teman kampusnya.
Anna seperti de Javu, pasalnya Anna seperti wanita bodoh yang percaya akan janji-janji manis seorang pria. Mulai sekarang Anna tidak akan luluh kembali, sudah cukup baginya Bian menyakiti hatinya. Apalagi dengan perselingkuhan. Sudah sejak awal Anna katakan jika ia benci dengan yang namanya perselingkuhan.
"Kali ini gue gak akan membiarkan Lo mengusik Angel lagi" ucap Dion dengan serius, justru itu membuat Bian semakin emosi. Bian langsung maju dan meninju wajah Dion dengan beringas, di pukulnya Dion hingga jatuh tersungkur ke lantai.
Bian menindih badan Dion dan mencengkram kerah bajunya, pukulan demi pukulan Bian berikan pada Dion
Anna berteriak histeris , Anna berusaha untuk mencegah Bian untuk tidak memukul Dion, tetapi Bian menangkisnya dan mendorong Anna hingga terhempas jauh.
Anna mulai panik, Anna melihat Dion sudah akan kehilangan kesadarannya, jika terus begini Dion bisa mati.
"Jika kamu tidak berhenti, aku bersumpah selamanya kamu tidak akan bisa bertemu denganku lagi Bian" ucap Anna mengambil pecahan vas bunga yang berserak di lantai dan mengarahkan ke lehernya. Anna juga tidak tahu kenapa Anna melakukan ini,, namun nampaknya ancamannya berhasil. Bian berhenti memukul Dion.
"Apa yang kamu lakukan!" Bian bangun dari badan Dion yang sudah terkapar lemas di lantai. Bian mendekat tetapi Anna lagi-lagi mengancam Bian
"Jangan mendekat jika tidak aku akan mati Bian" Anna menekan sedikit pecahan vas ke lehernya, pecahan vas sedikit tajam hingga menggores sedikit kulit Anna dan mengeluarkan darah segar.
__ADS_1
Bian sungguh kelimpungan, apa yang dilakukan Anna saat ini sungguh tidak bisa di percayai Bian. Apa Anna rela mati untuk Dion, Anna rela melukai dirinya untuk menyelamatkan Dion. Amarah Bian semakin berkali-kali lipat, tapi sekarang bukan saatnya untuk Bian meluapkan amarahnya. Bian tidak mau Anna nekat untuk mengakhiri hidupnya.
"Menjauhhh, aku bilang menjauh biannnn!!" Anna menyuruh Bian untuk menjauh darinya dan Dion. Anna lalu menuntun Dion untuk segera bangun, Anna melihat keadaan Dion yang mengenaskan. Dion masih bisa untuk berdiri dan berjalan.
"Jangan pernah mengejar aku, atau aku tidak akan pernah ingin bertemu denganmu lagi" ucap Anna telak. Kemudian Anna menuntun Dion turun kebawah keluar apartemen.
Bian kesal dia marah, Anna berani mengancamnya . Anna lebih memilih Dion dari pada dirinya.
"Aaaahhhhhhhh"
Berengsek!!! Siallll!!!
Bian berteriak dengan kencang, lalu mulai memukul kembali dinding tembok.
Sesil yang awalnya hanya menonton, tiba-tiba juga merasa iba dengan keadaan Bian sekarang. Sesil lalu menyusul Bian berniat untuk menenangkan Bian. Sesil terkejut dengan keadaan Bian, pasalnya Bian terlihat tidak baik-baik saja, rambutnya yang acak-acakan, darah yang menetes di setiap jari-jari dan kepalan tangan Bian, kakinya yang penuh luka karena terdapat banyak pecahan kaca di bawah kaki telanjang Bian.
Niat awal sesil ingin menenangkan Bian namun Bian justru mendorong sesil ,lalu menjambak rambutnya. Bian menarik rambut sesil ke atas. Rasanya sakit, sesil kesakitan jambakan yang dilakukan oleh Bian teramat sakit.
"Ini semua karena Lo, kalo aja Lo gak mencoba untuk menggoda gue ini semua gak bakalan terjadi" ucap Bian berteriak ke arah telinga sesil
"Anna gak mungkin ninggalin gue, dan mutusin pertunangan"
"Lepaskan Bian, ini sakit"
"Untuk apa kamu mempertahankan dia, ada aku Bian. Aku bisa lebih dari dia, aku bisa memberikan lebih apa yang dia tidak bisa.. ahhh" Bian meremas kuat rambut sesil kemudian menghantamkan mukanya ke dinding.
__ADS_1
Terdengar suara keras dan jeritan sesil hingga lantai bawah, Dio dan juga Alex segera mengecek keadaan di atas. Dio dan Alex terkejut dengan apa yang Bian lakukan kepada sesil, Bian mencoba menghancurkan muka sesil dengan menghantamkan wajah sesil berkali-kali ke dinding. Dio dan Alex juga terkejut dengan keadaan Bian yang tidak bisa di katakan baik-baik saja. Dio dan Alex kemudian mencoba menghentikan aksi Bian itu.
Bian sungguh sangat mengerikan, ini pertama kalinya Dio, Alex dan sesil melihat sisi gelap Bian. Bian seperti psikopat yang tidak punya rasa kasihan. Mereka tau bahwa Bian adalah orang yang sangat sensitif, Bian tipikal orang yang cuek dan juga dingin. Alex, Dio dan sesil tau Bian adalah orang yang emosional , tetapi mereka Bian tidak pernah menunjukkannya kepada merek. Ini baru pertama kalinya mereka lihat Bian sangat emosional bahkan seperti seorang psikopat.