
Saat ini Bian sedang mengamuk, pasalnya sudah 2 hari ini Anna libur menjenguk Bian, bukan tanpa sebab akhir-akhir ini Anna terlampau sibuk dengan urusan cafe, belum lagi Anna tengah mempersiapkan ujian masuk kuliah kedokteran. Bian terus mengamuk tidak ingin makan dan melempar semua brang yang ada di kamarnya, dia ingin Anna datang sekarang juga, para dokter segera menenangkan Bian. Tetapi Bian bukanya tenang malah semakin berutal.
Anna lalu datang setelah mendengar kabar Bian mengamuk. Anna masuk kedalam ruangan Bian, Anna melihat ruangan Bian seperti kapal pecah, banyak barang berserakan dimana-mana, Bian yang melihat Anna langsung berhambur ke pelukan Anna. Bian memeluk Anna dengan erat.
"Aku pikir kamu ninggalin aku lagi" ucap Bian parau. Anna mencoba menenangkan Bian, Anna sebanarnya muak dengan tingkah Bian. Bian masih menganggap bahwa Anna masih status tunangannya, pdhal Anna sudah membatalkanya. Kakek Anna sudah menyepakati perjanjian bahwa Anna bukan lagi tunangan Bian
Anna memenuhi keinginan kakek Bian untuk datang menemui Bian disini, agar dia bisa memutuskan pertunangan ini dengan baik-baik dan mengembalikan semua fasilitas keluarganya.
Anna belum memberitahu kepada Bian tentang status mereka, Anna mencoba mencari waktu yang pas. Dan mungkin ini saatnya. Bian sudah dibilang mulai membaik. Anna mencoba untuk menjelaskan kepada Bian mengenai hubungannya. Bian memeluk erat Anna dan hendak mencium bibirnya namun Anna memalingkan wajahnya. Anna menolak untuk dicium Bian, Bian melihat gestur Anna , Bian merasa Anna disini didekatnya tapi Anna terasa jauh, sulit untuk Bian menggapainya. Semakin hari sikap yang diberikan oleh Anna semakin dingin.
"Ada apa sayang, apa kamu masih marah, hmm?" Tanya Bian
"Kamu masih marah atas kejadian kemarin, aku minta maaf aku janji aku gak akan ngulang kesalahan itu lagi" Bian berusaha membujuk Anna
"Aku sudah memaafkan mu" ucap Anna. Namun Bian merasa ada yang mengganjal , jika Anna sudah memaafkan kenapa sikap yang dia berikan begitu dingin terhadapnya.
"Bian, aku memaafkan mu tapi pertunangan kita. Aku sudah membatalkan pertunangan kita" Bian bagai disambar petir siang bolong. Bian menatap tidak percaya perkataan Anna
"Aku sudah membicarakan ini dengan kakek, dan beliau menyetujuinya untuk membatalkan pertunangan ini" lanjut Anna, Bian langsung menatap kakeknya, bagaimana bisa dia melakukan ini semua..pdhal dia tau Bian tidak akan pernah setuju dengan keputusanmya itu
"Apa yang kakek lakukan, Bian sangat mencintai Anna. Bian tidak mau" Bian menatap kakeknya berang
Kakek Bian tau Bian akan memprotes keputusannya itu, tapi mau bagaimana lagi negoisasi yang tempo hari Adams lakukan dengan Anna tidak berhasil, Anna sudah berubah, keputusannya sudah bulat dan tidak bisa di tentang. "Kamu harus setuju Bian, ini juga semua atas kesalahanmu" ucap Adams tenang.
__ADS_1
"Tapi aku tidak akan setuju, kakek tau itu!" Bian mulai tersulut emosi. Anna yang tadinya hanya diam saja mulai berdiri dan hendak pergi, setidaknya Anna sudah menyampaikan niatnya itu. Anna tidak ingin berlama-lama berada disini, tugas Anna untuk merawat Bian hingga sembuh sudah berakhir. Jadi Anna bisa fokus kembali untuk menata kehidupan barunya.
Anna hendak pergi meninggalkan ruangan Bian , namun lagi-lagi Bian mencegatnya.
"Anna , sudah ku katakan aku tidak mau memutuskan pertunangan kita. Apa kamu masih marah dengan kejadian kemarin. Aku sudah meminta maaf, aku khilaf Anna" Bian mencoba untuk membujuk Anna untuk kembali padanya.
Anna terkekeh mendengarnya, segampang itu Bian meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan.
"Bian kesalahan yang kamu buat, itu sangat fatal. Aku sangat membenci penghianatan dan kamu melakukan itu dua kalo Bian" ucap Anna
"Apa kamu pikir dengan kamu meminta maaf semuanya akan selesai?" Anna mulai serius. Anna ingin mengeluarkan unek-unek nya selama ini. Anna ingin Bian mengetti perasaanya bahwa apa yang Bian lakukan selama ini merupakan kesalahan besar.
"Aku masih bisa menerima saat kamu bermain kasar padaku, kamu masih bisa menerima saat kamu melarangku mengambil kuliah kedokteran. Padahal menjadi seorang dokter sudah menjadi cita-cita ku sejak dulu. Aku masih bisa terima Bian" ucap Anna mulai emosi. Pengorbanan Anna untuk Bian tidak sedikit. Anna banyak mengeluarkan usaha agar hubungannya dengan Bian baik-baik saja. Namun Bian dengan gampangnya meminta maaf atas kesalahan yang mungkin baginya adalah hal yang sepele.
" Kamu masih mengingat masa lalu, itu sudah berlalu Anna" Bian pun ikut tersulut emosi. Pasalnya itu sudah lama terjadi dan Anna mengungkitnya kembali.
"Ini bukan masalah masa lalu atau masa sekarang Bian. Bagiku perselingkuhan yang kamu lakukan sudah tidak bisa termaafkan lagi. Tetapi aku mencoba untuk memberikan kesempatan kedua, tapi apa yang kamu lakukan Bian. Kamu menyia-nyiakan kesempatan keduaku dengan berselingkuh lagi dengan wanita lain Bian" teriak Anna frustasi.
" Dan itu sudah jadi yang terakhir, aku tidak bisa lagi Bian " Anna lalu menghapus air matanya. Ibu dan kakek Bian hanya bisa mendengarkan perdebatan anaknya dan juga mantan tunangan anaknya itu.
"Maafkan aku, aku harus pergi" ucap Anna lalu pergi hendak membuka pintu.
Bian melihat Anna akan pergi langsung mengambil pisau buah yang ada di sampingnya, Bian mengarahkan pisau itu ke lehernya. Semua orang yang ada disitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Bian. Penyakit Bian kumat lagi
__ADS_1
"Satu langkah saja kamu keluar dari ruangan ini, maka detik itu juga aku akan mati Anna" ucap Bian serius
Anna yang melihatnya sudah sangat capek, dia sudah tidak peduli lagi. Bian semakin menekan ujung pisau itu menuju lehernya hingga meneteskan darah.
Ibu Anna menjerit histeris dan memohon kepada Anna untuk menghentikan Bian, namun Anna hanya diam saja tidak ada niatan untuk membantu.
"Anna dari pada kamu pergi meninggalkan aku , lebih baik aku mati" Bian semakin menusuk leherny dengan pisau
Kini Adams kakek Bian juga ikut berlutut dihadapan Anna
"Aku mohon tolong cucuku, kembalilah padanya"
"Aku mohon Anna, tolong anakku" ibu dan kakek Bian terus memohon kepada Anna.
Anna sudah muak, Bian tidak ingin melepaskannya. "Bian aku tidak bisa mentolerir perbuatanmu lagi Bian"
"Dulu kamu juga melakukan hal yang sama, kamu berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Namun kamu mengulanginya kembali Bian" ucap Anna
"Aku punya alasan Anna" Bian memohon kepada Anna
"Tidak ada alasan untuk sebuah penghianatan Bian"
"Kamu mau beralasan kamu melakukan itu semua atas dasar bosan denganku?" Ucap Anna emosi, baginya tidak ada alasan baginya untuk sebuah penghianatan
__ADS_1
Anna hendak pergi namun lagi-lagi Anna terkejut dengan pengakuan yang Bian berikan.