Angle Devil Rose

Angle Devil Rose
BAB 13 : Titik terendah Gea


__ADS_3

...Happy Reading...


...📖...


.


Gelas yang berisi jus yang ada di atas meja Gea tumpahkan ke wajah Davin membuat wanita itu kaget.


Tidak ada suara yang mereka keluarkan hanya saling tatap dengan mata Gea memancarkan kepedihan, kekecewaan dan rasa sakit.


Davin berjalan mendekat ke arah Gea tapi setalah melihat darah ditangan Gea menetes kelantai membuat nya langsung terdiam panik. Bahkan semua orang juga ikut panik, tanpa terkecuali.


"Sayang tangan kamu". Ucap Davin panik sedangkan Gea hanya menatap dirinya dengan tatapan kosong.


Jesica yang menyaksikan itu langsung berlari mendekati Gea sahabatnya. Awalnya mereka tidak ikut mendekat karena takut memukuli Davin dengan emosi yang memuncak.


"Gea,, apa yang kamu lakukan".


"Gea, , Gea , , GEA". teriakan Mila lama kelamaan makin kencang sambil terus menggoyangkan tubuh Gea, pegangan di gelas yang sudah hancur terlepas jatuh ke lantai. Semua pengunjung menatap ke arah mereka bahkan ada juga yang mengangkat handphone untuk mengambil video.


Air matanya mengalir lebih deras tanpa isak tangis yang keluar. Dengan cepat Jesica membawa Gea pergi dari sana meninggalkan Mila yang menatap Davin dengan tatapan tajam.


Tanpa aba aba. .


Plak


Mila menampar pipi Davin dengan sekuat tenaga lalu pergi menyusul Gea dan Jesica yang memungkinkan bakal pergi ke rumah sakit.


Di dalam perjalanan Mila menjaga Gea sedangkan Jesica mengemudi dengan kecepatan tinggi. Jika Mila yang mengemudi kemungkinan besar mereka semua lah yang akan masuk ke rumah sakit lebih parah.


Sampai di rumah sakit Gea langsung ditangani dengan cepat oleh dokter agar lukanya tidak infeksi.


Beberapa jam kemudian setelah semuanya selesai Gea diizinkan untuk pulang, Gea yang dari tadi diam membuat Jesica memapahnya keluar dari rumah sakit.


"Je kita ke apartemen gue aja. Gue gak mau nenek khawatir lihat gue yang kaya gini". Ucap Gea dengan terus menatap kearah depan. Tatapannya sangat kosong menyiratkan banyak kekecewaan.


Jesica mengiyakan dan melajukan mobilnya menuju apartemen yang dikasih tahu Gea.


Sesampainya di apartemen Gea langsung masuk dan mengurung dirinya disana. Jesica yang melihat itu ingin mengentikan Gea takutnya mengunci pintu kamar. Ternyata benar Gea langsung mengunci pintu itu tanpa mengizinkan Jesica dan Mila masuk.


"Gimana ini pintunya dikunci". Ucap jesica sangat khawatir sama Gea. Mila hanya diam tanpa menjawab tapi dilihat dari matanya banyak kekhawatiran.


.


.


.


3 jam kemudian, jam makan malam tiba. Gea yang ada dikamar hanya duduk diam tanpa melakukan apapun sampai chat masuk ke dalam ponselnya yang ada di atas nakas samping tempat tidur.


Ting


Ting


Ting


...+62828xxxxxxxx...


|


|535251


|Lo datang ke tempat itu kalau lo ingin tahu semuanya


|Gimana Davin dibelakang lo selama ini


Gea mengerutkan kening dengan pesan yang masuk dengan nomer baru. Kenapa ada nama Davin di chat itu. Pikirnya.

__ADS_1


Dengan sedikit ragu Gea bangkit untuk pergi ke apartemen itu tapi hatinya setengah setengah antara pergi atau tidak.


Apalagi alamat apartemen itu tempat yang sama dengan apartemen nya tapi hanya beda lantai. Jika Gea ada dilantai 15 sedangkan apartemen itu ada dilantai 4.


Apartemen yang bisanya disewakan sedangkan milik Gea apartemen pribadi miliknya sendiri.


Gea yang sudah ada di lantai 4 langsung mencari kamar itu. Tanpa diketahui, kedua sahabatnya mengikuti Gea dari belakang saat pertama kali Gea keluar dari kamar.


Sudah ada didepan kamar itu dengan cepat Gea memasukan pin yang tercantum di pesan yang dikirim ke ponsel Gea dari nomor tidak dikenal. Pertama yang didengar adalah suara laknat yang masuk ke telinga Gea.


Dia ragu akan masuk ke apartemen itu karena suaranya terdengar suara perempuan. Tapi setelah terdengar suara laki laki yang tak asing membuat Gea memberanikan untuk berjalan ke kamar itu.


Kian mendekat suara mulai terdengar apalagi pintunya sedikit terbuka membuat Gea mendengar nya dengan jelas suara laki laki yang ada didalam sana.


Lama kelamaan emosi Gea mulai meningkat dengan cepat.


Brak,


Dengan satu gebrakan pintu terbuka dengan lebar menampilkan dua orang yang sedang melakukan hal tercela tanpa busana di tempat tidur.


Melihat ada orang yang mengganggu mereka. Dengan cepat mereka menutup dirinya menggunakan selimut.


"Gea". Seru orang itu masih terdengar ditelinga Gea.


Tidak ada air mata yang keluar di mata Gea hanya rasa sakit yang kian menggebu. Tangannya terkepal dengan kuat sampai perban ditangannya menjadi merah akibat darah dari luka tadi siang.


Gak lama kemudian Jesica dan Mila datang langsung menyaksikan apa yang Gea lihat kala itu.


Gea yang sangat hancur langsung pergi meninggalkan mereka dengan disusul oleh Jesica. Gea pergi mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sampai akhirnya Gea mengalami kecelakaan karena membanting stir menghindari mobil didepannya sampai menabrak pembatas jalan.


Kecelakaan itu sampai membuat Gea koma selama sebulan karena kepalanya yang terbentur keras. Tapi untung saja hal itu tidak membuat Gea hilang ingatan atau lebih parah lagi dari itu.


FLASHBACK END


"Akhhhhh gue benci , , gue benci, GUE BENCIIIII, , , , ". Teriak Gea di dalam kamar yang kedap suara. Jika tidak mungkin akan terdengar keluar kamar.


Tangan Gea terkepal dengan erat. Saat ini dia benci dengan rasa sakit ini yang gak pernah hilang. Dari dulu kenapa rasa sakit ini selalu ada walaupun Gea sudah berusaha menghilangkan nya dengan berbagai cara.


Drrrttt, , drrrttt , , drrrttt


Panggilan masuk di ponsel Gea. Tapi karena emosinya nya yang masih belum turun tanpa melihat siapa yang memanggil, ponsel nya langsung Gea lempar mengenai tembok.


Prang


Ponsel gea hancur berserakan di lantai. Gea merebahkan tubuhnya menatap ke arah atap kamar dengan tatapan kosong. Lalu lama kelamaan matanya tertutup masuk ke alam mimpi dengan nafas memburu.


.


.


.


Malam hari di luar kediaman Agatha, Jesica dan Mila baru sampai di pekarangan rumah yang baru keluar dari mobil.


Mereka sudah ingin ketemu dengan gea tanpa menunggu besok pagi. Apalagi setelah melihat postingan terbaru Gea pasti sekarang Gea lagi ada di rumah.


Ting tong Ting tong


Cklek


Pintu dibuka oleh salah satu maid yang ada di kediaman Agatha.


"Bi Gea ada??". Tanya Mila.


"Ada nona. Syukurlah nona jesica dan nona Mila datang.. bibi dari tadi bingung harus apa". Ucap maid itu terlihat panik.


"Ada apa bi?? Kenapa bibi panik??".

__ADS_1


"Nona Muda dari sore belum keluar kamar apalagi sore tadi nona muda habis marah marah sama orang yang datang ke sini non". Kata maid.


"Siapa yang datang bi??".


"Bibi gak tahu non. Bibi baru lihat. Tapi nona muda sangat marah dengan pemuda itu".


"Pemuda?? Apa dia salah satu pemuda yang pernah datang kesini??". Tanya jesica mulai panik.


"Bukan non".


"Davin". Celetuk Mila.


Dengan cepat jesica langsung lari ke kamar Gea untuk melihat kondisinya saat ini diikuti oleh Mila dan maid itu.


"Sial, pintunya dikunci". Gumam Jesica. "Bi ada kunci cadangan". Ucap Jesica kepada maid itu.


"Ada tapi bibi gak tahu dimana nyonya menyimpannya sendiri". Ujar maid itu.


"Akhhh, , , ".


Tok, , ,tok , ,tok, ,


"Gea buka pintunya,, Gea ini gue Jesi sama Mila". Teriak Jesica dengan keras.


"Nona muda pasti mengaktifkan kedap suara nona". Ucap maid itu padahal tidak. Sebelumnya Gea sudah menonaktifkan kedap suara yang ada di kamar dia sebelum tidur.


Jesica terus mengetuk pintu dengan keras. Sampai akhirnya Gea yang ada didalam kamar mau tidak mau membuka pintu dengan menekan tombol di remote kecil yang diletakan di atas nakas.


Mendengar suara kunci dibuka membuat Jesica dan Mila masuk ke dalam kamar. Mereka melihat Gea yang sedang tertidur membelakangi mereka di tempat tidur.


Perlahan mereka berdua mendekati Gea dan duduk di ranjang samping Gea.


"Ge lo baik baik aja?". Tanya Jesica dengan pelan.


"....". Gea hanya menganggukkan kepala tanpa ingin membuka suara ataupun menatap ke arah mereka.


"Ge cerita sama kita jangan dipendam sendiri".


"Iya ge,, kita selalu ada buat lo kita gak bakal ninggalin lo". Sambung Mila.


Tapi tetap, Gea hanya bisa diam tanpa menjawab apapun.


Sampai, , ,


Perlahan Gea menatap ke arah dua sahabat nya yang menatapnya dengan penuh khawatir. Jesica mengelus kaki Gea untuk menenangkan.


^^^*kaki Gea lebih dekat dengan Jesica makanya dia mengelus kaki Gea bukan tangan atau kepalanya*^^^


"Je mil kenapa dia datang lagi?? Gue benci perasaan ini, gue benci rasa sakit ini. Tapi gue gak bisa nangis, , hati gue sakit, sakit banget". Ucap Gea pelan menyiratkan kesedihan. Matanya sudah merah tapi tidak terlihat ada tanda tanda ingin menangis. Tangannya tidak berhenti memukul mukul bagian dada sampai Jesica menghentikan karena itu bakal menyakiti Gea sendiri.


"Lo mau apa biar kita kabulin tapi jangan yang bikin nyakitin diri lo sendiri". Ucap Jesica lebih mendekat ke arah Gea.


"Gue gak tahu. Gue gak tahu mau apa". Ucap Gea frustasi.


Mila yang ada disana langsung memeluk Gea dengan erat. Jika Gea seperti ini Jesica dan Mila tidak tahu harus berbuat apa lagi. Pikiran mereka sangat buntu. Sedari dulu kalau Gea mengalami ini semua atau teringat akan masa lalu dia, mereka susah untuk menenangkan Gea.


Ketiga gadis itu hanya berpelukan dengan erat tanpa ada yang mau membuka mulut. Sampai akhirnya bukan Gea yang menangis malahan Jesica dan Mila yang menangis melihat Gea yang seperti itu.


"Kenapa kalian menangis??". Tanya Gea polos melihat kedua sahabatnya menangis.


"Lo gak bisa nangis tapi ada kita yang bisa nangis buat lo. Lo gak sendirian, Lo masih punya kita". Ucap mila dengan suara serak.


"Makasih ya, kalian selalu ada buat gue saat gue seperti ini". Ucap Gea tulus.


Mereka kembali berpelukan lalu saling menghibur satu sama lain untuk menghilangkan pemikiran Gea yang kalut.


.

__ADS_1


To be continued, , , , , ,


__ADS_2