Angle Devil Rose

Angle Devil Rose
BAB 17 : Minta menantu


__ADS_3

...Happy Reading...


...📖...


...************...


Besok adalah hari dimana acara bakti sosial akan berlangsung selama 3 hari, bertempat di kampung yang terletak di atas gunung.


Gea sudah meminta izin kepada orang tuanya. Sang mami awalnya tidak mengizinkan anaknya pergi karena lokasinya yang kurang memadai apalagi ini pertama kali Gea datang ke tempat seperti itu.


Hal itu membuat mami Lisa khawatir karena takut Gea tidak bisa beradaptasi dengan baik di sana dan malah akan merepotkan orang atau membuat dirinya dalam bahaya.


"Sayang kamu yakin bakal ikut kesana??". Tanya mami Lisa memastikan saat melihat anaknya packing pakaian selama disana. Pertanyaan itu juga sudah berulang kali keluar dari mulut sang mami.


"Iya mi lagian ini juga acara kampus yang wajib Gea hadiri, mami jangan khawatir Gea berangkat bersama Jesi, Mila dan kakak senior gea, Gea gak berangkat sendiri".


"Tapi mami masih khawatir sama kamu sayang".


"Gea bakal sering kabarin mami, ya udah mami pergi dulu mau belanja buat kebutuhan disana nanti sama temen gea". Pamit Gea.


"Iya, tapi mami titip buah semangka". Ucap mami Lisa dengan senyum yang lebar.


"Siap ibunda ratu". Tangan Gea memberi hormat lalu dibalas dengan mencium kedua pipi anaknya yang gemes.


Setelah mendapat izin, Gea pergi untuk menemui Jesica dan Mila yang mengajaknya untuk berbelanja.


Tapi mereka akan bertemu langsung saat di mall nanti. Kenapa mall menjadi tempat mereka berbelanja?? Karena mereka ingin sekalian berbelanja barang yang lain.


15 menit mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, Gea sampai di mall langsung memalkirkan mobilnya di tempat palkir. Saat keluar dari mobil mata Gea tertuju pada mobil yang terpalkir tak jauh dari tempatnya yang Gea kenali. Tapi Gea lupa akan plat nomor nya benar atau nggak.


"Tapi masa iya, , mungkin saja cuma mirip. Gak mungkin hanya dia yang punya mobil seperti itu". Batinnya.


Gea langsung masuk tanpa memikirkan tentang mobil itu lalu pergi menuju caffe tempat kedua sahabatnya menunggu.


Atasan kerah sabrina dengan bawahan celana jins, sepatu sneaker putih tinggi dan kacamata berwarna gray membuat Gea menjadi pusat perhatian disetiap langkah memasuki mall di kawasan Jakarta pusat. Gak jarang juga beberapa pengunjung mengambil photo/video Gea tanpa izin.


Gea yang sudah terbiasa hanya acuh tanpa memperdulikan setiap pengunjung yang ada disana. Yang penting tidak merugikan dirinya dan orang disekitar Gea, dia tidak masalah.


Drrrttt, , drrrttt, , drrrttt


Ponsel Gea berdering dengan nama Kamila di layar ponsel.


"Hm". Sapa Gea sambil berjalan.


"Lo dimana?? Lama banget sih, gue udah nunggu sampai karatan gak juga keliatan batang hidungnya". Omel Mila di sebrang telpon.


"Siapa suruh Lo bilang saat udah sampai di lokasi".


"Ya gue kan gak tahu kalau Jesi ada disini, sekalian aja gue langsung telpon lo". Ucap Mila sambil cemberut.


Ya, saat Mila mengajak Gea berbelanja mereka berdua sudah berada di mall terlebih dahulu. Awalnya Mila sedang berbelanja dengan nyokapnya tapi saat di salah satu toko ia melihat Jesica yang sedang mengambil barang. Jadi sekalian Mila memanggil Gea untuk datang kesana.


"Gue udah sampai". Ucap Gea lalu dengan cepat mematikan panggilan itu secara sepihak.


Gea memang sudah melihat keberadaan Jesica dan Mila yang duduk di caffe dekat kaca. Jadi Gea bisa melihatnya dari luar.


Jesica yang melihatnya juga langsung berjalan diikuti Mila. Sampai mereka bertemu di depan caffe lalu langsung pergi mencari barang yang mereka butuhkan agar cepat selesai dan pulang ke rumah.


Saat mereka di dalam toko sepatu gak senagaja Gea melihat orang yang selalu ia hindari sedang memilih milih sepatu juga. Gea menghindar karena malas berdebat yang gak pernah ada ujungnya.


Lalu Gea pergi ke area berlawanan agar tidak bertemu orang itu. Tapi saat Gea mencoba sepatu yang cocok untuk dirinya, tiba tiba, , ,


Dor


"Ayam kodok loncat". Latah Gea karena kaget. Bahkan sepatu yang Gea pegang terlempar ke atas begitu saja.


"Its yudaaaaa, , ". Teriak Gea keras.


Untung saja toko itu lumayan sepi yang hanya ada para sahabatnya dan pegawai disana saja.


Ya orang yang mengagetkan Gea itu Yuda. Orang yang sedari tadi Gea hindari dan selalu membuat dirinya darah tinggi.


Kata teman teman nya yang lain ternyata ini sifat Yuda yang baru mereka lihat hanya bersama Gea saja tidak saat bersama yang lain.

__ADS_1


Sifat Yuda sebelumnya selaku memancarkan aura yang menakutkan, irit bicara dan tanpa ekspresi. Tapi sekarang. .


Yuda ceria, banyak bicara, selalu tersenyum dan tertawa tapi hanya saat bersama Gea. Namun saat Gea tidak ada Yuda akan kembali ke mode semula/awal.


Yuda yang aksinya berhasil hanya tertawa ngakak melihat wajah Gea yang kesal. Sedangkan semua orang yang melihat itu hanya diam mematung tak percaya Yuda seperti itu.


"Sorry aku hanya bercanda kirain kamu gak akan kaget seperti itu". Ucap Yuda di sela tawanya.


Gea hanya diam menatap Yuda saat mendengar kata aku - kamu yang dia ucapkan.


"Sejak kapan saya - kamu diganti dengan aku - kamu". Batin Gea dengan alis diangkat heran.


"Are you okay??". Yuda terdiam saat melihat Gea yang hanya diam menatap dirinya. Lalu yang membuat Gea lebih kaget saat Yuda memegang pipinya dengan lembut.


Badannya terasa kaku dan bibirnya tidak keluar satu katapun.


Sampai gak lama Gea tersadar lalu dengan cepat mundur menjauh dari hadapan Yuda yang kian mendekat.


Yuda yang mendapat respon seperti itu juga kaget. Tangannya masih di udara dengan tatapannya terus menatap Gea.


"Ah saya tidak papa". Ucap Gea sedikit kaku.


"....". Yuda terus menatap ke arah gea tanpa berkedip.


"Maaf kak saya permisi dulu, ada barang yang harus saya beli". Gea dengan cepat meninggalkan mereka semua keluar dari toko.


Jesica dan Mila yang melihat Gea pergi langsung mengejar nya dengan cepat.


Tapi langkah mereka terhenti karena tertinggal jauh dan tidak tahu Gea pergi kemana. Apalagi pengunjung di mall itu cukup ramai.


Di sisi Gea


Gea saat ini sedang ada di toilet yang ntah ada di lantai berapa. Dia duduk di kloset sambil memegang dada.


"Ini perasaan apa?? Kenapa jantung gue seperti ini". Batinnya heran.


Sesekali Gea menengadahkan kepalanya menetralkan pernafasannya yang kian menggebu.


"Ah sial,, perasaan apa ini". Gumam Gea pelan agar tidak terdengar orang yang ada diluar.


Drrrttt, , drrrttt, , drrrttt


Ponsel Gea terus berdering tanpa henti. Dia tahu siapa yang terus memanggilnya jadi gea tidak berniat untuk mengangkat panggilan itu.


...Queen of queen (3)...


^^^Gea^^^


^^^Gue pulang duluan , kepala gue pusing gue mau| istirahat biar besok gak papa^^^


Jesica


|Lo yakin gak papa??


|Jangan buat gue khawatir Lo dimana sekarang


Kamila


|Lo dimana??


|Gue gak tenang kalau gak lihat Lo dulu.


^^^Gea ^^^


^^^Gue baik baik aja|^^^


^^^Kalian jangan khawatir besok juga kita ketemu|^^^


Notifikasi Ponsel Gea dimatikan agar saat chat masuk tidak terdengar.


Setelah sedikit tenang Gea langsung pergi untuk pulang ke rumah duluan tanpa membeli apa apa.


Di kediaman Grizele

__ADS_1


Gea masuk ke dalam rumah dengan keadaan yang murung. Untung dia tidak berpapasan dengan maminya yang kepastian akan di integrasi.


Masuk ke dalam kamar Gea langsung merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. Bahkan ia mengacuhkan pakaiannya yang belum ia masukkan ke dalam tas untuk besok. Pikirannya sangat kacau dan sedikit pusing dengan apa yang dia rasakan saat ini.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya pukul 07.00.


Gea sudah bangun lebih awal dan sudah siap sedari tadi dengan memakai kemeja bagian tangan transparan dan celana jins berwarna biru.


Dengan membawa ransel di punggung dan tas selempang sedang Gea turun kebawah untuk sarapan. Gak lupa juga ditangan nya juga membawa almamater Orland university yang akan ia pakai nanti.


"Pagi sayang,, berangkat hari ini??". Tanya mami Lisa.


"Iya mi,, bi tolong masukin ke dalam mobil". Ucap Gea memberikan semua barang yang dibawa kepada maid yang ada disana.


Gea mengambil nasi goreng untuk sarapan pagi ini tak lupa juga dengan ayam goreng agar tenaganya bertambah.


Gea makan dengan tenang bersama orang tuanya. Setelah selesai sarapan barulah mereka berbincang bincang sebelum berangkat ke tujuan masing masing.


" Papi dengar daerah itu bakal jarang ada sinyal sayang". Ucap papi Phoenix secara tiba tiba.


"Yang benar Pi". Sambung mami Lisa tambah panik.


"Papi jangan gitu ih, Gea bakalan cari cara agar bisa hubungi mami. Mami jangan khawatir". Ucap Gea menenangkan sang mami sedangkan sang papi diam dengan tersenyum tanpa dosa.


"Tapi sayang -".


"Mi mami percaya sama Gea kan??".


"...". Mami Lisa hanya mengangguk.


"Jadi mami jangan khawatir, Gea bakal kasih kabar sama mami??".


"Kasih kabar?? Kapan kamu kasih menantunya??". Canda sang mami dengan menghilangkan rasa khawatirnya kepada anak satu satunya.


"Papi, , ,". Rengek Gea kepada papinya saat mendengar ucapan maminya yang seperti itu.


"Hahaha udah sana berangkat nanti kamu telat". Ucap sang papi dengan tawa ngakak.


Beberapa bulan ini Gea selalu diminta untuk memperkenalkan kekasihnya tapi apalah daya Gea yang tidak berhubungan lagi dengan cowok manapun setelah kejadian penghianatan itu.


Gea mengerucutkan bibirnya melihat orang tuanya secara bergantian." Ya udah Gea berangkat dulu". Pamit Gea mencium tangan papi dan maminya secara bergantian dilanjut dengan memberikan kecupan di kedua pipi.


Lalu Gea pergi ke kampus dengan diantar supir menggunakan mobil Alphard.


Sesampainya di palkiran kampus Gea tidak langsung turun, dia menunggu waktu masuk ke dalam bus dalam waktu yang mepet setelah semua orang datang. Dia gak mau bertemu dan ngobrol dengan Yuda setelah kejadian kemarin.


Sedari pagi memang banyak notifikasi yang masuk dari dua manusia yang selalu ada disamping Gea. Mereka selalu ada disaat Gea dalam keadaan apapun.


Siapa lagi kalau bukan Jesica dan Kamila.


Dari dalam mobil bisa dilihat mereka berdua sibuk dengan ponselnya yang ada disamping bus bersama para senior yang sedang mengecek anggotanya masing masing.


Gak lama kemudian Gea melihat banyak mahasiswa yang sudah masuk ke dalam bus yang sudah disediakan, barulah Gea turun dari mobil.


"Non biar saya bawakan". Ucap sang supir meminta barang yang sedang Gea bawa.


"Gak usah pak, bapak pulang aja".


"Tapi-".


"Bapak pulang aja, Gea gak papa lagian barangnya juga enteng". Potong Gea saat tahu supirnya itu kekeh untuk membawakan barang miliknya masuk ke dalam bus.


"Baik nona muda kalau begitu saya permisi". Gea hanya mengangguk sebagai jawaban lalu pergi berjalan ke arah bus.

__ADS_1


To be continued, , , ,


__ADS_2