
...Happy Reading...
...📖...
.
Acara makan bersama selesai lebih awal. Mereka tidak akan begadang sampai malam karena semua mahasiswa/i harus berkumpul di tempat jemputan bus menunggu jam 10. Itu sudah pemberitahuan dari awal mereka berangkat.
"Gea ayok". Ajak Yuda.
Ya seperti yang sudah Yuda ucapkan dia mengajak Gea ke suatu tempat setelah makan malam selesai. Beberapa orang juga sudah kembali ke rumah masing masing. Sama halnya dengan sahabat nya gea.
"Sebentar kak".
Gea pergi ke tempat dimana ada Bu Sri yang masih ada di lokasi. Sedari tadi ia mencari Alvin tapi gak ketemu juga. Saat makan berlangsung Gea memang berpisah dengan Alvin karena Gea harus berbincang dengan orang orang disana.
"Bu Sri, apa ibu melihat Alvin??". Tanya Gea kepada istri kepala desa.
"Oh Alvin. Tadi pamit sama ibu mau pulang duluan, dia mau pamit sama kamu tapi kamunya lagi berbicara sama warga jadi dia titip pesan sama ibu neng".
"Gitu ya Bu syukurlah kalau Alvin udah pulang. Kalau begitu Gea juga pamit Bu pak, permisi". Pamit Gea dengan sopan.
"Iya neng hati hati dijalan". Ucap Bu Sri membuat Gea mengangguk sebagai jawaban.
Gea hanya mengikuti kemana Yuda membawanya, dia tidak tahu tempat itu karena saat siang Gea dan yang lain memang jarang berkeliling takut tersesat dan masuk ke dalam hutan.
Gea hanya melihat sekeliling melihat pemandangan malam yang ia lewati. Mereka pergi hanya dengan penerangan lampu yang mereka berdua bawa untuk jaga jaga. Walaupun ada beberapa lampu yang dipasang di jalan itu juga.
Tidak tahu menempuh berapa jauh Gea berjalan tiba tiba ia melihat didepan dia ada 2 tenda yang sudah terpasang dan kursi menghadap ke arah jurang dengan pemandangan yang sangat indah. Apalagi ditambah dengan bintang yang bertaburan di langit.
"Wah bagus banget pemandangannya". Ucap Gea melihat pemandangan didepan, Senyumnya terukir indah.
Disamping Gea, Yuda pun sama dia senang saat melihat Gea tersenyum seperti itu. Berarti usahanya membawa Gea kesana tidak sia-sia tapi satu lagi yang belum yuda lakukan yang membuat kepercayaan diri nya hilang.
"Sorry ya aku gak siapkan makanan apapun soalnya kita juga habis makan".
"Gak apa kak, kakak tahu tempat ini dari siapa??".
"Saat cari beberapa keperluan desa aku tempat ini dan malamnya aku kembali lagi untuk mematikan, ternyata beginilah tempatnya kalau dimalam hari lebih indah." Ucap Yuda apa adanya.
Mereka sudah duduk di kursi yang Yuda siapkan dengan terus memandang ke depan. Ralat hanya Gea, sementara Yuda terus memandang Gea tanpa mau mengalihkan pandangan ke arah lain.
Sampai beberapa menit mereka terdiam menikmati keindahan malam itu.
__ADS_1
"Gea, aku ingin bicara sesuatu??".
"Bicara apa kak". Ucap Gea tanpa mengalihkan pandangan.
Yuda memegang tangan Gea secara perlahan. Lalu tersenyum sangat manis membuat Gea menatap pas ke arah bola mata coklat pemuda dihadapan dia.
"Em, maaf kalau aku bukan cowok yang romantis tapi aku suka dan sayang sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku".
Mendengar ucapan kakak senior nya membuat Gea membulatkan matanya kaget. Dia tidak menyangka tujuannya dibawa ke tempat seperti ini untuk mengungkapkan perasaan Yuda.
"Kenapa kak?? Kenapa kakak bilang sekarang,, kenapa kakak gak nanti aja saat perasaan aku yakin". Batin Gea dibalik tatapan itu.
Mereka hanya diam sampai Yuda memotong pandangan mereka. Ntah apa yang Yuda lihat dan ambil dalam tatapan Gea pada dirinya.
Perlahan tangan Yuda menggenggam tangan Gea dengan lebih erat. "Maaf kalau aku salah. Aku gak bisa mencegah perasaan ini. Lama kelamaan perasaan ini tumbuh dan aku gak mau kamu diambil oleh orang lain". Ucap Yuda sendu.
".....". Tapi Gea hanya diam saja. Saat ini dia tidak tahu harus gimana karena belum sepenuhnya ia percaya kepada seorang cowok setelah kejadian masa lalu yang masih membekas diingatan Gea.
Dari dulu sampai sekarang Gea tidak lagi dekat dengan cowok manapun sampai akhirnya sekarang dia baru dekat dengan Yuda. Cowok yang Gea anggap hanyalah cowok pembuat sial dirinya saat saling bertemu dan mereka selalu beradu mulut tidak ada yang mau mengalah.
Karena saat mereka bertemu pasti bertemu dalam maslah atau terjerat masalah apapun itu.
"Gea". Panggil yuda saat Gea yang sedari tadi hanya diam. "Gea". Panggil Yuda lagi dengan sedikit mendekat ke telinga membuat Gea tersentak kaget.
Yuda yang melihat Gea seperti itu mungkin sudah berpikir yang tidak tidak. Tapi gimana pun Gea gak tahu apa yang ia ambil sekarang. Ungkapan itu terlalu cepat bagi Gea.
"Kak". Ucap Gea dengan lembut tanpa menatap ke arah orang di sebelah nya. "Gea sebenarnya gak tau, Gea-".
"Tidak apa jangan dipaksa, aku paham, , aku gak maksa apapun. itu keputusan kamu aku hanya bisa menerima". Potong Yuda membuat Gea terdiam kelu. Mulutnya sangat susah untuk digerakkan.
Ucapan Gea memang terdengar begitu sulit untuk diungkapkan karena memang mulutnya sangat kelu untuk berbicara.
Sampai ucapan mulut Gea tiba tiba tertutup rapat. Keheningan mulai melanda mereka berdua hanya ada suara hewan kecil yang terdengar di telinga Gea.
Gak lama kemudian Yuda berbicara lagi memecah keheningan. "Aku ke tenda dulu sudah malam, jangan kelamaan diluar udara sangat dingin. Besok kita juga harus kembali lebih pagi". Ucap Yuda terdengar berbeda.
"Iya kak". Ucap Gea pelan.
Yuda bangkit menuju tenda dimana dia sudah menyiapkan 2 tenda yang hanya muat satu orang.
"Kak". Panggil gea membuat langkah kaki Yuda terhenti lalu menatap ke belakang. "Gea harap tidak ada perubahan apapun diantara kita". Ucap Gea penuh harap tapi Yuda hanya menjawab dengan deheman dan masuk ke dalam tenda.
Mata Gea menatap ke depan lagi lalu menutup mata menghembuskan nafas dengan kasar menenangkan hati dan perasaan nya saat ini.
__ADS_1
"Aku akan menerima apapun setelah ini. Mungkin ini yang terbaik". Batinnya.
.
.
.
.
.
Gea terbangun sangat pagi. Dia tidak bisa tidur malam itu dan ingin pulang ke rumah Bu tina tapi takut nyasar. Ingin membangunkan Yuda tapi tidak enak. Jadi Gea memutuskan semalaman berada di luar tenda dengan dibalut selimut mencari sinyal.
Tak jauh dari tenda ada batu besar. Di sanalah Gea menghabiskan malam terakhirnya di desa gemilang sampai pagi. Untung saja di tempat itu terdapat sinyal cukup kuat. Dia juga memberi kabar kepada maminya besok akan kembali ke kota dan menceritakan semuanya tentang apa yang dia alami selama seminggu kecuali tentang semalam.
Sreettt
Terdengar tenda terbuka tidak membuat Gea menatap ke arah suara karena dia tahu pasti itu Yuda. Posisi Gea memanglah membelakangi tenda.
Gea juga mendengar Yuda sedang membereskan tenda. Mau tidak mau Gea membantu. Diantara mereka hanya melakukan apa yang sedang dilakukan tanpa bicara apapun.
"Biar aku aja yang bawa". Pinta Yuda mengulurkan tangan. Gea pun memberikan tenda yang sudah dilipat lalu mereka berjalan menuju kampung. Tidak perlu pencahayaan lagi sebab matahari mulai naik ke permukaan.
Saat berjalan Gea memang memainkan ponsel sampai sinyal itu mulai menghilang. Jadi Gea tidak memperhatikan jalan didepannya yang ada bebatuan.
Bug
Tubuh Gea terbentur punggung Yuda yang berjalan didepan. Hal itu pun membuat Gea sedikit kaget. "Maaf kak gak sengaja".
"Em".
Ntah kenapa deheman itu menyakiti hati Gea saat ini. Dia melepaskan pegangan itu lalu berjalan seperti biasa.
Sampai di depan rumah Bu tina mereka langsung berpisah untuk packing barang masing masing.
Didalam kamar Gea melihat Mila yang masih tertidur dengan pulas padahal jam sudah menunjukan pukul 6 lewat. Masih ada 1 jam menuju kepulangan mereka ke kota tapi sebelumnya mereka akan berhenti di pemberhentian bus waktu berangkat dulu.
Gea membiarkan Mila tidur sedangkan dia membereskan semua barang miliknya ke dalam tas. Setelah beres barulah Gea berbaring menghadap ke atas. Ingatan masa lalu ntah kenapa melintas di pikirannya saat ini. Ia mengingat penghianatan Davin terhadap dirinya.
Gea susah untuk menghilangkan itu. Saat melakukan apapun kejadian itu pasti kembali. Bahkan hanya melihat Davin pun sama.
To be continued. . . .
__ADS_1