Angle Devil Rose

Angle Devil Rose
BAB 25 : Berubah 180°


__ADS_3

...Happy Reading...


...📖...


.


Keesokan harinya Gea terbangun sudah dengan keadaan yang lumayan segar. Demamnya sudah mulai turun dan pusingnya sudah hilang.


Semalam juga Gea diintrogasi sang mommy tengah malam. Nyokapnya itu melihat cctv rumah disaat Gea masuk dibantu oleh para maid menuju ke kamar apalagi disana ada dokter pribadi keluarga Agatha.


Kemarin malam sehabis makan Gea juga meminta melepaskan infusnya sebelum ia kembali tertidur. Ia merasa badannya sudah mendingan dan juga sudah terisi makanan juga.


"Eghhh, , ". Lenguh meregangkan otot tubuhnya yang sedikit kaku.


Suhu tubuhnya masih sedikit panas tapi Gea menghiraukannya, ia memutuskan untuk segera mandi. Tubuhnya sangat gerah seharian kemarin tidak mandi karena terserang demam.


Setelah mandi dan berpakaian. Gea turun ke bawah untuk sarapan. Tentu saja sarapan sendiri karena orang tuanya masih di luar negri. Pas kebetulan hari ini mereka pulang.


Gea memutuskan untuk sarapan di dekat kolam renang dengan suasana yang berbeda. Ia hanya sarapan susu dan sandwich tak lupa juga buah buahan yang sudah dipotong kecil.


"Nona didepan ada non Jesica dan Mila datang berkunjung". Ucap salah satu maid yang datang menghampiri Gea.


"Suruh mereka kesini saja bi".


"Baik non".


Maid itu pergi dan gak lama terdengar suara langkah kaki mendekat. Gea tidak menengok ke arah suara, dia tau mereka siapa apalagi suara Mila yang menggelegar di sana.


"Gea, , , ". Teriak Mila melengking.


Pltak


"Berisik anj*ng".


"Its bisa gak sih lo gak pukul gue sakit tau". Pekik Mila kesakitan memegang kepalanya yang mendapat pukulan dari Jesica.


"Kalau mau ganggu Gea mending kalian pulang". Ucap Gea dengan tegas.


Jesica yang acuh dengan Mila duduk di kursi samping Gea yang sedang bersantai. Dia memegang kening Gea mengecek keadaannya dengan baik.


"Syukurlah demam lo udah turun. Gue kemarin ada kerjaan makanya gak bisa antar lo balik". Ucap Jesica.


"No problem, i'm okay".


"Hm".


Mereka bertiga hanya duduk disana tapi melakukan aktivitas masing masing. Tidak ada pembicaraan yang mereka mulai hanya fokus pada layar ponsel yang menampilkan game yang mereka sukai.


Tentu saja dimanapun mereka merasa bosan, mabar lah solusinya.


Gea hanya akan main game jika dia sedang bosan tapi berbeda dengan mereka, jika ada waktu mereka selalu mabar apalagi Jesica. Sudah kecanduan game.


Seharian ketiga gadis itu bermain di kediaman Agatha tanpa keluar. Mereka tidak ingin Gea yang baru sembuh akan sakit lagi. Mila sebenarnya ingin mengajak jalan ke mall tapi sebelum juga mengatakannya Jesica sudah mengeluarkan ultimatum yang mengerikan.


Itu semua Jesica lakukan agar Gea cepat sembuh.


"Bonyok lo kapan pulang ge??". Tanya Mila disela makan. Mereka saat ini sedang berada di ruang keluarga menonton film.


"Lagi dijalan mungkin sekarang".


"Mereka tahu lo sakit??". Tanya Jesica yang dibawa dengan anggukan kepala.


Mereka paham karena orang tua Gea memang selalu mengecek cctv untuk memastikan keberadaan anak satu satunya. Walaupun gea pandai beladiri dan menggunakan senjata, Meraka tetap mengirim bodyguard bayangan untuk menjaga Gea dimanapun berada.

__ADS_1


Karena Gea selalu menolak penjagaan secara dekat jadi Gea tahu orang tuanya melakukan itu semua. Maka dari itu Gea tidak mempermasalahkan sedikitpun.


.


.


.


.


Setelah seharian dihabiskan bersama para sahabatnya dan bahkan mereka menginap di rumah Gea. Hari ini mereka sudah siap untuk berangkat ke kampus.


Hanya ada satu mata kuliah yang akan mereka hadiri. Malas untuk berangkat tapi mereka harus datang ke kelas itu karena dosen ini terbilang killer diantara dosen lain. Gea dkk tidak mau mengambil resiko jika tidak bisa ikut ujian di pelajarannya nanti.


Tap, , tap, , tap.


Banyak suara langkah kaki menuruni anak tangga. Dibawah sudah ada mami Lisa yang sedang menyiapkan sarapan setelah semalam sampai di rumah.


Bonyok Gea sampai ke rumah tengah malam dimana ketiga gadis itu sudah tidur pulas dan tidak mengetahui kepulangan orang tuanya dari luar negri.


"Morning mi/tante". Sapa mereka bersamaan.


"Morning". Balas mami Lisa dengan senyum mengembang menatap tiga gadis yang duduk di meja makan.


"Papi mana mi??". Tanya Gea tangannya mengambil sandwich untuk sarapan.


"Udah berangkat ke kantor".


"Aw kenapa pagi banget ini masih jam 7 loh". Ucap Gea bingung.


"Iya, papi ada meeting jam 8 jadi dia terus berangkat lebih awal".


Gea menganggukkan kepalanya paham. Untuk beberapa minggu Gea tidak mendapatkan pekerjaan dari bokapnya karena ada acara kampus, Gea juga tidak tahu bahwa perusahaan A'Corp sedang sangat sibuk.


Dengan posisi Gea, Mila dan Jesica, mobil mereka melaju membelah jalanan yang sedikit ramai. Tak lama mobil memasuki area kampus dengan banyak mata yang menatap kagum mereka.


Gea dkk sudah dikenal banyak mahasiswa/i dari semua jurusan. Gea dikenal sebagai ratu kampus oleh mereka dengan mengadakan voting setiap tahun.


Voting itu secara otomatis akan berjalan saat mereka berada di tingkat kedua. Dan dilakukan melalui online tapi hanya mahasiswa/i Orland university saja yang boleh vote.


Tanpa memperdulikan semua orang yang Gea dkk lewati mereka bertiga masuk ke dalam kelas yang sebentar lagi akan segera dimulai.


Tapi saat mereka masuk terdengar beberapa orang berbicara bahwa saat ini dosen mereka tidak datang dan hanya memberikan tugas.


"Wait wait, , apa lo bilang tadi?? Tu dosen gak datang!!". Ucap Mila mendekati mahasiswi yang sedang duduk berkerumun.


"Iya, asisten dosen baru memberi tahu bahwa dosen Lee ada kepentingan makanya dia gak datang". Ucap salah satu orang menjelaskan.


"Ah sial.. kalau gak masuk kenapa gak bilang dari tadi sih. Gue gak cepek capek datang ke kampus kan gini caranya mah". Gerutu Mila kesal duduk di kursi di antara Gea dan Jesica.


"Jangan marah marah mulu nanti lo cepet tua". Seru Gea dengan tertawa mendengar Mila yang terus menggerutu.


"Kan-, , emmmm".


Jesica membekap mulut Mila yang akan mengomel lagi. Pagi ini kupingnya malas untuk mendengarkan Mila yang cerewet gak berhenti bicara.


Melihat kedua sahabatnya yang seperti itu membuat Gea tertawa ngakak sambil menggelengkan kepala.


Saat pandangan tak sengaja melihat Yuda dkk berjalan melawati kelasnya seketika tawa Gea terhenti. Pandangannya menatap ke arah Yuda yang berjalan lurus menatap ke depan. Tidak ada tanda untuk menoleh ke dalam kelas gea.


Hanya Rio yang terlihat melambaikan tangan sambil tersenyum. Gea yang melihat itu hanya membalas senyuman Rio dengan paksa.


Ntah kenapa hatinya merasa sakit. Ia merasa Yuda berubah sejak kejadian malam itu. Tapi Gea gak mau berpikir negatif, mungkin Yuda gak tahu kalau Gea ada di dalam kelas.

__ADS_1


"Guys kantin yuk". Ajak Gea yang di setujui oleh kedua sahabatnya.


Mereka berjalan keluar kelas dengan kelas yang mulai sepi. Mahasiswa yang lain mungkin pulang kembali karena kelas tidak jadi dimulai.


Sampai di kantin, Gea dkk seperti biasa menjadi pusat perhatian mereka. Terlihat kantin cukup ramai dan tidak hanya fakultas bisnis saja yang ada disana melainkan fakultas lain juga dengan alasan hanya ingin bertemu king and Queen Orland university.


"Akhirnya bisa ketemu kak Gea lagi setelah seminggu gak ke kampus".


"Iya gue kangen mereka bertiga".


"Kak Gea memang cantik".


"Sangat cantik gak ada yang bisa ngalahin".


"Queen sekarang sangat berbeda dengan yang lain. Gak ada yang bisa ngalahin pokonya. The best".


Bisik bisik beberapa orang yang ada disana terdengar di telinga Gea. Tapi Gea hanya acuh terus berjalan mendekat ke meja biasanya di pojok kantin.


"Mau pesan apa biar gue pesankan". Ucap Mila yang masih berdiri.


"Bakso sama jus jeruk". Ucap Gea memainkan ponsel.


"Gue juga sama". Sahut Jesica.


"Oke, tunggu sebentar".


Mila pergi memesan makanan sementara mereka berdua di meja sambil menunggu hanya fokus bermain ponsel.


Beberapa saat kemudian kantin dibuat heboh dengan keberadaan king berturut turut 5 tahun di kampus itu yang sandang oleh yuda Sebastian Orlando, anak pemilik universitas itu. Tidak ada yang bisa mengalahkan dia.


Gea tidak berniat untuk menengok ke arah mereka karena ia tahu siapa yang membuat para wanita terus berteriak histeris seperti itu.


"Hai hai,, akhirnya ketemu lagi. Kangen gak sama kakak Rio yang tampan ini". Kata Rio dengan percaya diri saat datang ke meja yang Gea dkk tempati.


"Makanan datang". Seru Mila membawa makanan untuk mereka diikuti ibu kantin di belakang.


Gea langsung mengambil mangkuk yang Mila berikan lalu langsung mengaduk bakso itu untuk dimakan.


Saat gea menatap ke arah depan, ia melihat Yuda dkk (- rio)duduk di meja yang berbeda. Biasanya Gea dkk dan Yuda dkk akan satu meja saat istirahat di kantin tapi sekarang tidak. Mereka duduk di meja yang tak jauh dari tempat Gea duduk saat ini.


Wajahnya mulai berubah. Mood yang awalnya sudah tidak ada sekarang tambah tambah bad mood. Hatinya sangat sakit saat Yuda tambah menjauhi dirinya setelah kejadian itu.


Walaupun selalu bikin kesal dan selalu adu mulut, Gea mending seperti itu daripada sekarang.


Saat ini Gea berusaha untuk bersikap biasa aja tanpa ekspresi menikmati makanan yang terasa hambar.


"Kenapa aku seperti ini, bukankah aku sudah mengambil keputusan. Jadi, aku harus ambil konsekuensi dari apa yang aku ambil sebelumnya". Batinnya.


Sampai gak lama Gea mendengar Yuda ingin pergi ke toilet. "Gue ada keperluan sebentar nanti gue balik lagi ke sini". Ucap Gea meminum jus jeruk yang belum tersentuh sebelumnya.


"Kemana??". Tanya Rio kepo. Hanya Rio yang duduk bersama Gea dkk di meja biasa mereka pakai.


"Hubungi seseorang. Disini rame mau keluar sebentar". Ucap Gea langsung meninggalkan mereka sebenarnya dia ingin menemui Yuda untuk menanyakan sesuatu.


Menunggu beberapa saat di dekat toilet. Terlihat Yuda keluar dan segera Gea mendekat.


"Kak Yuda, Gea ingin bicara sebentar, boleh??".


Yuda menatap ke arah Gea lalu mengalihkannya ke arah lain. Gea bisa merasakan bahwa Yuda sedang tidak ingin dekat dengannya.


Hatinya sangat sangat sakit berasa ditusuk tusuk panah.


To be continued, , , ,

__ADS_1


__ADS_2