
...Happy Reading...
...❤️...
.
Misha berlari ke palkiran dan masuk ke dalam mobil. Melihat kebelakang Yuda serta ketiga sahabatnya berjalan mendatangi mobilnya dengan langkah cepat.
Tanpa pikir panjang. Gea menancap gas dengan kecepatan tinggi meninggalkan kampus. Nafasnya masih ngos-ngosan akibat berlari tadi.
"Sialan,, setalah ini gue bakal ada urusan dengan orang itu. Gue yakin dia gak bakal lepasin gue dengan mudah". Gumam Gea yang fokus pada jalanan.
Tanpa Gea sadari ada satu mobil yang mengikuti nya dari belakang. Untung saja jalanan tidak terlalu ramai yang membuat Gea sampai ke restoran tempat waktu.
"Apa mereka sudah sampai??". Tanya Gea kepada sekertaris nya yang menunggu di depan.
"Belum nona, mungkin sebentar lagi".
"Baiklah saya ganti pakaian dulu". Gea langsung pergi ke toilet di restoran itu untuk berganti pakaian.
Tidak membutuhkan waktu lama, Gea keluar dengan pakaian kerja dibaluti blazer berwarna putih. Tanpa lupa wajahnya dihiasi dengan make up natural. Tidak mungkin kan meeting dengan keadaan yang kucel and the kumel. Ya walaupun gak akan terlihat seperti itu diwajah Gea yang cantik . Tapi hanya jaga jaga saja.
Gea masuk ke dalam ruangan privat terlebih dahulu bersama sekertaris nya sampai orang yang ingin dekati Gea mengurungkan niatnya dan akan menunggu disana sampai Gea selesai.
2 jam kemudian. . .
Meeting berjalan dengan lancar. Gea tidak keluar untuk mengantarkan rekan bisnisnya yang hanya diantar sekertaris nya keluar dari ruangan itu.
Di dalam ruangan Gea membereskan beberapa dokumen, lalu berjalan keluar untuk segera pulang.
"Kamu bawa semua berkas ke kantor, saya ingin langsung pulang kerumah". Ucap Gea kepada sekertaris nya. Mereka berdua berbicara di depan ruangan.
"Baik nona".
Gea ingin pergi meninggalkan restoran itu tapi tiba tiba tangannya ditarik seseorang keluar dari restoran.
Saat melihat siapa yang menariknya, Gea langsung pasrah dan mengikuti langkah kaki orang itu sampai masuk ke dalam mobil.
...--------------...
Gea yang ditarik masuk ke dalam mobil hanya bisa diam. Dia akan mengikuti konsekuensi nya karena salah.
Dia juga melakukan itu karena ada alasan tertentu. Gea gak mungkin meninggalkan meeting itu secara tiba tiba. Bisa bisa dia kena omel tujuh hari tujuh malam dari bokapnya di telpon dan ditambah nanti saat pulang dinas.
Oh tentu saja Gea tidak mau hal itu terjadi.
Gea tidak tahu akan dibawa kemana oleh orang itu. Gea tahu dia senior di kampus tapi gea gak kenal siapa dia.
"Kak kita mau kemana??". Tanya Gea memberanikan bertanya.
"Kamu ikut saja jangan banyak omong". Ucap Yuda yang sedang mengemudi.
"Dih nyebelin banget,, gue gampar baru tahu rasa Lo". Batinnya.
Tidak ada suara yang keluar dari mulut Gea sama sekali. Gea hanya menatap ke arah jendela mobil melihat kemana dia dibawa pergi.
Tapi karena dia gak tahu daerah sana dia gak tahu sekarang berada dimana.
Sampai mobil berhenti di salah satu hotel yang menyebut mata Gea membulat. Kenapa dibawa kemana, pikir Gea menatap ke arah Yuda.
"Cepet turun". Pinta Yuda yang udah ada diluar membukakan pintu mobil untuk gea. "Jangan berani berani kabur lo ya". Lanjut Yuda.
"Iya".
Gea keluar dari mobil, lalu berjalan berdampingan dengan Yuda. Gea mending menuruti apa yang kakak seniornya ucapkan daripada kabur dengan berujung tak tahu arah.
"Duduk, saya mau telpon dulu".
Gea duduk lalu membuka buku menu. Saat ini sekarang mereka sedang ada di restoran yang ada di hotel itu. Bisa ditebak bahwa Yuda mengajak Gea datang untuk bertemu seseorang. Tapi Gea tidak tahu siapa.
__ADS_1
Gak lama Yuda kembali, melihat Gea yang sedang minum ice cappucino yang dia pesan.
"Siapa yang nyuruh kamu pesan??". Ucap Yuda.
"Dih apa masalah buat kakak. Toh saya yang bayar sendiri". Ucap Gea sinis.
Yuda dengan cepat menarik tangan Gea lagi meninggalkan restoran. Minuman yang Gea minum padahal baru setengahnya dan itu minuman kesukaannya sudah ditinggal begitu saja.
"Astaghfirullah,, sabarkan hati hamba Tuhan". Batinnya yang mulai jengah.
Di dalam mobil Gea melihat tangannya yang tambah merah. Sedari tadi yuda terus menariknya sesama kemari takut Gea kabur. Tapi dia gak merasa kalau tarikannya itu kencang dan membuat Gea kesakitan.
Sekarang Gea tidak tahu akan dibawa kemana lagi. Sampai mobil itu berhenti di salah satu perusahaan yang bertuliskan Orland Company.
"Nama kamu siapa??". Tanya Yuda menatap ke arah Gea.
Gea yang mendengar itu mengerutkan kening kebingungan. Saat ini mereka ada di dalam mobil yang berada di parkiran. Yuda tidak ada niatan untuk keluar malah mengintrogasi Gea.
"Kenapa kakak nanya??".
"Saya tanya kamu hanya jawab dengan jujur. Nama kamu siapa??". Tanya Yuda lagi.
"Gea Xaviera". Jawab Gea tanpa menyebutkan marga keluarga di akhir nama.
"Umur dan jurusan??".
"17 tahun, manajemen bisnis semester 2". Ucap Gea membuat Yuda mengerutkan kening.
"Saya loncat kelas saat sekolah menengah atas". Lanjut Gea yang tahu pikiran Yuda.
Hal itu membuat Yuda menganggukkan kepala karena dirinya juga memang loncat kelas seperti Gea.
"Oke sekarang kamu harus ikutin arusnya jangan sampai mereka curiga". Ucap Yuda keluar dari mobil.
"Mereka?? Ikuti arus nya?? Maksudnya apa ini". Gumam Gea heran tapi terus mengikuti Yuda masuk.
Mereka berdua jalan secara berdampingan yang menjadi pusat perhatian semua karyawan yang ada di sana. Gea yang sudah terbiasa hanya berjalan tegap tanpa memperdulikan semua orang.
"Yuda tadi ke restoran kenapa papi gak ada?? Terus mami mana??". Ucap Yuda saat pertama kali masuk ke dalam ruangan. Gea hanya berdiri di belakang tanpa ikut mendekat ke arah laki laki paruh baya yang duduk di kursi kerja.
"Siapa suruh kamu datang telat, mami ada meeting jadi dia langsung pergi". Ucap orang yang dipanggil papi lalu menatap ke arah Gea dengan heran. "Apa dia orangnya??".
Yuda menatap ke arah pandang sang ayah. Lalu berjalan mendekati Gea dan memegang pinggangnya secara posesif.
"Ya, dia pacar Yuda yang semalam Yuda katakan. Jadi jangan lagi papi menjodohkan Yuda dengan wanita itu".
Gea yang mendengar itu sedikit tersentak kaget. Tapi Gea menutupinya dengan semaksimal mungkin. Walaupun bokapnya yuda tidak melihat itu, Yuda yang memegang Gea pasti merasakannya. Terbukti Yuda langsung menatap ke arah Gea setelah mengucapkan kata pacar.
"Hm,, bagus juga pilihan kamu, tapi apa kamu sudah tahu semuanya??".
Yuda menuntun Gea duduk berhadapan dengan bokapnya seperti ingin diintrogasi.
"Ck berasa lagi interview kalau gini caranya". Batin Gea.
"Kami baru pacaran beberapa Minggu yang lalu jadi masih dalam tahap pendekatan. Toh Yuda nembaknya juga lewat telpon".
"Ck ternyata anak papi gak gentleman". Ledek sang papi.
"Papi juga gitu sama". Elak Yuda gak mau kalah.
"Itu karena mami kamu lagi di liburan di Swiss. Papi gak bisa susul karena pekerjaan yang mendadak. Silahkan mami kamu yang bikin papi cemburu". Ucap sang papi apa adanya.
"Ya -".
"Kamu diam biar papi tanya orangnya langsung". Potong sang papi membuat Yuda diam.
"Kenapa kamu mau menerima Yuda?? Apalagi lewat telpon segala". Ucap bokapnya yuda menatap ke arah Gea.
"Saya lagi ada di London om, saya baru datang beberapa hari yang lalu diindonesia". Jawab Gea yang membuat bokapnya yuda mengerutkan kening.
__ADS_1
"London??".
"Iya om,saya tinggal disana sama nenek saya dan memutuskan pulang kesini setelah nenek meninggal". Jelas Gea apa adanya.
"Oh kirain kamu pulang karena Yuda". Ucap bokapnya yuda sambil tersenyum meledek.
Tok, ,, tok , , tok.
Pembicaraan mereka terputus karena suara ketukan pintu. "Masuk".
"Maaf mengganggu tuan. Meeting 10 menit lagi akan segera dimulai. Semua orang sudah menunggu di ruang meeting". Ucap seseorang yang baru masuk.
"Nanti saya kesana".
"Pi gak bisa batalin aja meeting nya disini kan ada Yuda". Seru Yuda kepada bokapnya.
"Siapa suruh kamu gak datang tadi, udah papi mau meeting dulu".
"Maaf om, Yuda gak datang karena kesalahan saya. Saya ada urusan mendadak pada jam itu makanya kami telat datang". Sahut Gea yang merasa bersalah.
"Gak papa, kamu gak salah disini Yuda yang salah". Balas bokapnya yuda lembut yang membuat anaknya sendiri melongo.
Tinggallah Gea dan Yuda di dalam ruangan. Dengan segera Gea ingin mengomeli Yuda tapi mulutnya langsung dibekap.
Ceklek,
"Ingat jangan pacaran di ruangan papi, kamu pergi keruangan kamu sendiri". Ucap bokapnya yuda yang masuk lagi lalu langsung pergi setelah mengucapkan itu.
Gea langsung mendur karena posisi mereka sangat dekat.
"Jang-".
Mulut Gea kembali dibekap oleh Yuda sampai orang nya terus meronta.
"Jangan bicara apapun disini, ada cctv nanti semua rencana saya hancur". Bisik Yuda ditelinga Gea.
Gea langsung mendorong tubuh Yuda sampai tangannya itu terlepas tapi untuk badannya tidak geser sama sekali.
"Tau ah terserah". Gea meninggalkan ruangan itu dengan cepat. Bodo amat dia ingin tersesat atau apapun itu yang penting Gea jauh dari kakak seniornya yang rese itu.
.
.
.
.
Saat Gea ingin masuk ke taksi, tangannya lagi lagi ditarik oleh seseorang. Yang pasti itu Yuda, pikir Gea.
"Apaan lagi sih, gue mau pulang tahu gak, hobi banget tarik tangan orang hah. Gak lihat tuh tangan gue sakit". Teriak Gea di depan perusahaan itu tentu saja akan menjadi pusat perhatian orang.
Tangan Yuda berpindah menggenggam tangan Gea dengan erat. Lalu di bawa ke mobil.
"Sorry saya gak sengaja. Lagian kenapa kamu gak bilang kalau tangannya sakit kaya gitu". Ucap Yuda. Saat ini mereka sudah ada di dalam mobil.
"...". Gea hanya diam tidak berniat untuk membalas. Dia malas meladeni cowok rese seperti Yuda.
Tidak mendengar jawaban dari gadis disampingnya, Yuda langsung melajukan mobilnya untuk mengantar kan Gea pulang.
"Rumah kamu dimana??". Tanya Yuda disela mengemudi.
"Antar saya ke restoran tadi. Mobil saya masih disana". Ucap Gea acuh masih menatap ke luar jendela.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di restoran dimana tempat Gea meeting tadi. Mobil Gea masih terlihat disana. Tanpa basa basi Gea turun dari mobil meninggalkan Yuda tanpa mengucapkan terima kasih.
Masuk ke dalam mobil miliknya, Gea langsung menancap gas dengan kecepatan tinggi. Memperdulikan Yuda yang masih menatap Gea dari dalam mobil.
.
__ADS_1
.
To be continued, , , , , , , ,