
...Happy Reading...
...📖...
.
Beberapa anak juga memberikan bunga matahari ke setiap orang. Saat ini Gea sudah turun dari gendongan Yuda beberapa centi dari tempat warga berkumpul.
"Kakak sangat cantik, apa kakak pacaran dengan kakak itu!?". Tanya salah satu anak laki laki mendekati Gea dengan membawa bunga mawar berbeda dengan yang lain. Mungkin anak ini melihat saat Gea digendong oleh Yuda tadi.
Tentu saja Gea terkejut dengan pertanyaan yang anak kecil itu ucapakan. Ia tidak menyangka pertanyaan itu keluar dari anak yang berusia 6 tahun.
"Nama adik siapa??". Tanya Gea sambil menyamakan tingginya dengan akan itu.
"Alvin".
"Alvin kenapa kamu bertanya seperti itu?? Kamu masih kecil loh". Ucap Gea dengan lembut.
"Karena Alvin suka sama kakak dari pandangan pertama". Cengir anak yang bernama Alvin menatap ke arah Gea dengan polos sambil memberikan bunga mawar merah 5 tangkai.
Gea pun ikut tersenyum dengan kelakuan Alvin. Lalu mengambil bunga itu dari tangan mungil Alvin.
Tanpa Gea sadari, Alvin mengecup pipi Gea dengan cepat membuat Gea tersedak kaget.
Setelah melakukan itu, Alvin menatap ke arah Yuda dengan menjulurkan lidah nya meledek.
Tentu saja semua orang yang ada disana tertawa dengan adegan barusan. Jangan dilupakan saat ini Rio dari mereka semua yang tertawa ngakak melihat bocil berusia 6 tahun mengalahkan sahabatnya itu.
"Lo kalah satu langkah dari tu bocil". Bisik Rio di telinga Yuda.
"Alvin jangan ganggu kakak kakaknya". Seru salah satu warga disana. Bisa dilihat dia berdiri di sekumpulan anak anak kecil dan bisa dilihat dia guru yang mengajar disana.
"Baiklah untuk tempat tinggalnya akan dijelaskan oleh Bu Sri, dia istri saya". Ucap kepala desa kepada sang istri.
"Ini rumah yang akan para wanita tempati saat disini, setiap rumah akan ditempati oleh 2 orang kebetulan ada 4 orang yang akan dibagi 2 tempat,,,,".
"2 orang akan tidur di rumah Bu tina dan 2 lagi akan tidur di rumah Bu Santi.. untuk para cowok akan tidur di rumah kepala desa yang kebetulan kamar disana ada 2 yang kosong". Ucap Bu Sri, istri dari pak Toni selaku kepala desa di desa gemilang.
"Je gue tidur sama Gea ya, gue gak bisa tidur kalau sama orang baru". Ucap Mila yang didengar oleh semua orang.
"Oke biar gue tidur sama Lita". Ucap Jesica menyetujui ucapan Mila.
Sebelum pergi ke rumah tempah mereka masing masing. Gea memegang tangan Yuda untuk membisikan sesuatu. "Kak aku minta tolong cariin sendal ya, aku lupa gak bawa". Bisik Gea yang langsung diangguki oleh Yuda.
Semua orang pergi berpencar masuk ke rumah masing masing dengan arahan setiap pemilik rumah. Mereka semua diperintahkan untuk istirahat terlebih dahulu dan akan berkumpul saat jam makan siang nanti di pendopo desa.
Di kamar yang ditempati Gea
"Ge minta selimut gih, disini kepastian akan dingin kalau malam hari". Pinta mila saat mereka berdua membereskan barang barangnya yang ada di dalam tas.
"Nanti juga dikasih, masa iya nggak".
Gea melihat lihat kembali pakaian yang sekarang ia bawa. Dia melihat bahwa pakaiannya kurang pantas untuk di pakai di suasana seperti itu. Karena berbahan tipis. Bahkan Gea hanya membawa satu hoodie. 2 atasan lain berbahan transparan yang pasti gak cocok dipakai di malam hari.
Tok, , tok, , tok.
"Permisi neng, ini ibu".
"Iya Bu, masuk aja pintunya gak dikunci". Jawab Gea dengan sopan.
"Ibu hanya ingin memberikan selimut buat nanti malam, takutnya neng kedinginan". Ucap Bu tina memberikan selimut kepada mereka.
"Makasih bu". Ucap Gea.
"Oh ya ibu boleh tanya sesuatu??".
"Boleh Bu".
"Dengan senang hati Mila akan jawab". Sambung Mila dengan antusias.
__ADS_1
"Maaf kalau ibu lancang, apa neng Gea pacarnya mas Yuda??".
Pertanyaan itu lagi yang keluar membuat Gea terkejut sementara Mila tersenyum nakal menatap ke arah Gea.
"Haha it-".
"Nggak Bu, saya sama Yuda hanya berteman tanpa ada hubungan apapun". Potong Gea agar Mila tidak berbicara yang tidak tidak. Toh memang benar Gea bukanlah kekasih Yuda, mereka hanya senior dan junior saja.
"Kalian cocok loh neng masa iya bukan kekasih". Kata ibu itu lagi dengan tidak percaya.
"Bukan Bu lagian Yuda udah punya kekasih di kota". Ucap Gea asal. Mila yang ingin menimpali ditatap tajam oleh Gea dan tangannya ia cubit tanpa sepengetahuan ibu tina.
"Ya udah neng Gea dan neng Mila istirahat aja, maaf kalau ibu mengganggu waktu kalian. Ibu permisi dulu".
"Iya Bu tidak apa". Ucap Gea sambil tersenyum.
Setelah kepergian ibu Tina, Gea bisa bernafas lega. Kenapa di satu hari ini sudah ada 3 orang yang berbicara seperti itu padanya.
"Awww, , sakit bego, nyubit sih nyubit tapi gak gitu juga kali". Keluh Mila menyingkirkan tangan Gea setelah ibu Tina pergi.
"Sorry, Lo juga sih jangan buat masalah yang bakal menggegerkan satu desa".
Mila hanya menggerutu tanpa ada suara. Dia sangat sebal karena tangannya kesakitan akibat cubitan yang Gea berikan.
Gea membaringkan tubuhnya atas kasur yang tipis. Lalu ia menutup matanya untuk masuk ke alam mimpi menghiraukan keberadaan Mila yang masih menggerutu tanpa berhenti.
.
.
.
.
Disisi lain, tepatnya di rumah kediaman pak Toni selaku kepala desa. Yuda, Rio dan Zico satu kamar sedangkan elang berada di kamar sebelah dengan mahasiswa lain.
"Bro, Lo suka sama Gea??". Tanya Zico dengan serius. Rio yang sedang tiduran pun bangun untuk menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Yuda.
"Gue curiga sama kelakuan Lo yang berubah dari saat masuk ke bus sampai tiba di desa ini".
"Gue juga lihat saat Gea minta tolong sama zico tadi, gimana reaksi Lo sama dia". Sahut Rio dengan semangat.
"Gue??". Tunjuk Zico pada dirinya sendiri. Lalu Rio dengan cepat mengangguk.
"Nggak biasa aja". Elak Yuda membuang muka.
"Dah lah gak usah ngelak kaya gitu. Gue tahu Lo suka sama dia kan". Cerca Rio.
"HM,, gue saranin Lo tembak aja Gea di sini saat malam terakhir. Ajak dia ke tempat yang bagus di desa ini. Gimana??".
"Kalau Lo gak suka biar gue yang bakal ngelakuin itu". Lanjut Zico membuatnya mendapat tatapan tajam dari Yuda.
"Ck awas lo kalau tikung gue". Ancam Yuda dengan tatapan membunuh.
"Nah nah nah kan cemburu". Goda Rio sedangkan Zico tertawa ngakak melihat reaksi Yuda seperti itu.
Seketika suasana menjadi hening. Mereka tidak berani berbicara lagi melihat Yuda yang sedang diam melamun memikirkan sesuatu.
Entah apa yang dia rasakan kepada Gea yah penting dia ingin selalu ada di samping Gea dan tidak ingin Gea dekat dengan cowok lain kecuali dirinya.
Yuda yang pusing memikirkan itu semua pergi meninggalkan kedua sahabatnya untuk mencari udara segar.
"Nak Yuda mau kemana?? Tidak istirahat??". Tanya bu Sri yang kebetulan berpapasan di depan rumah.
"Yuda mau cari udara segar Bu, ibu sendiri mau kemana??".
"Ambil bumbu didalam".
"Apa ada yang bisa Yuda bantu??". Tawar Yuda ingin membantu.
__ADS_1
"Gak usah lagian bukan barang yang berat, sebaiknya nak Yuda Istirahat aja. Kasihan pasti capek setelah perjalanan dari kota ke sini". Ucap Bu Sri sebelum pergi meninggalkan Yuda sendiri masuk ke dalam rumah.
Yuda pergi jalan jalan melihat desa gemilang sambil pikirannya berkelana jauh.
.
.
.
Siang hari jam 12.15 semua orang berkumpul di pendopo untuk makan siang bersama.
Semua orang berbincang dengan gembira agas lebih akrab satu sama lain.
Alvin si bocah berumur 6 tahun sedari tadi menempel ke Gea. Hal itu membuat semua warga disana heran karena ini kali pertama mereka melihat Alvin yang seperti itu.
Biasanya anak itu selalu pendiam setalah ditinggal pergi sang paman yang menjaganya meninggal dunia.
Tentu saja mereka membiarkannya karena agar Alvin merasakan kebahagiaan nya kembali.
Awalnya Gea merasa risih dengan Alvin tapi lama kelamaan dia mulai terbiasa dan bisa menerima Alvin menjadi adiknya sendiri. Ya untuk menjadikannya anak gak mungkin toh Gea masih berumur 19thn.
Setelah selesai makan, para cewek membantu untuk membereskan piring kotor bersama ibu ibu kampung dibawa ke sungai agar langsung dicuci.
Di setiap rumah tidak ada kamar mandinya karena akses yang susah. Jadi warga disana melakukan aktivitas apapun di sungai.
Untuk mandi mereka membangun kamar mandi umum di dekat sungai untuk mereka mandi.
Gea sudah tahu cerita tentang Alvin, dari mulai Alvin datang ke desa itu sampai sampai keluarga satu satunya meninggal dunia. Jadi Gea sangat terharu dengan cerita Alvin dan sudah menganggapnya adiknya sendiri. Apalagi dia yang awalnya pendiam sekarang ceria hanya dekat dengan Gea. Padahal mereka baru saja bertemu.
"Alvin kamu mau kemana?!". Tanya Gea melihat Alvin yang mengikutinya dari samping.
"Alvin mau ikut kakak cantik".
"Kakak mau ke sungai. Mendingan Alvin main sama yang lain gih jangan ikut kakak". Ucap Gea dengan lembut.
"Gak mau, Alvin mau ikut kakak".
"Sayang-".
"Gak mau". Alvin berlari menuju sungai tempat mereka akan cuci barang yang kotor.
Gea hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Alvin yang selaku ingin dekat dengan dirinya.
"Dia Deket banget sama Lo ge". Ucap Jesica kepada Gea yang berjalan berdampingan.
"Gue juga gak tahu. Kata Bu tina. Ini kali pertama mereka melihat Alvin sebahagia ini setelah paman Aj meninggal". Kata Gea apa adanya melihat Alvin didepan sana.
Sesekali Alvin menatap ke belakang melihat Gea dengan melambaikan tangan sambil tersenyum. Gea hanya membalas senyuman itu tanpa melambaikan tangan karena kedua tangannya membawa barang.
Sesampainya di sungai mereka langsung mencuci semua barang kotor bersama yang lain. Sementara Gea sesekali melihat Alvin yang sedang bermain sendiri mencari ikan kecil di sungai.
"Warga sering mencuci di sungai Bu?? Kenapa tidak menyalurkan air ke setiap rumah untuk membuat kamar mandi sendiri". Tanya Mila disela aktivitas nya.
"Tempat yang kurang memadai membuat rencana itu terkendala. Dia warga memutuskan untuk tetap seperti ini yang akan menjadi sikap kekeluargaan setiap warga akan lebih tambah erat satu sama lain". Kata Bu tina menjawab.
Keempat gadis itu mengangguk mendengar jawaban dari Bu tina yang menjawab pertanyaan yang ada di otak mereka.
Sambil menunggu ibu ibu membereskan semua barang yang telah mereka cuci. Gea sedikit melihat lihat area sungai dengan menginjakan kakinya diantara batu satu ke batu lain. Kadang Gea juga berjalan di dalam air yang dingin menembus kulit.
"Ge hati hati nanti-".
Belum juga Mila selesai berbicara, Gea terjatuh karena salah pijak.
Bruk
.
.
__ADS_1
To be continued, , , ,