Angle Devil Rose

Angle Devil Rose
BAB 6 : Dia??


__ADS_3

...Happy Reading...


...❤️...


.


3 jam mata kuliah pagi akhirnya selesai. Mila yang sudah kelaparan langsung mengajak pergi ke kantin dengan tidak sabaran.


Saking senangnya Gea masuk kuliah, Mila datang lebih pagi sampai melewatkan sarapan pagi.


"Cepat lah jalannya gue lapar banget nih". Omel Mila menarik kedua temannya yang berjalan santai.


"Salah lo sendiri tadi gue kasih sarapan gak mau". Ucap Jesica kepada Mila.


"Lo kasih sisa mana cukup buat gue yang ada gue bakal muntah karena kelaparan". Elak Mila yang tak nyambung.


Gea yang mendengar itu langsung saling pandang dengan Jesica. Mana ada orang kelaparan bisa muntah, yang ada bisa pingsan. Pikir Gea.


Sampai di kantin, ternyata kantin itu penuh dengan mahasiswa dari berbagai jurusan yang makan disana. Mungkin karena kantin dari jurusan arsitektur dan teknik sedang di renovasi membuat mahasiswa disana memilih kantin jurusan manajemen bisnis sebagai tempat istirahat.


"Tuh kan kantinnya penuh. Kalian sih jalannya lama benget. Kalau udah gini kita duduk dimana, gue udah lapar benget". Rengek Mila tidak tahu tempat membuat beberapa orang menatap ke arah mereka.


"Ge lo cari tempat duduk biar gue pesan makanan buat kalian". Ucap Jesica langsung pergi telah mendapatkan anggukan kepala dari orangnya.


Gea yang tidak ingin menjadi pusat perhatian karena Mila akhirnya pergi duluan untuk mencari tempat duduk.


Tanpa Gea sadari ternyata ada beberapa orang yang terus menatapnya dengan tatapan berbeda. Sedari Gea masuk pandangan mereka tidak teralihkan dari Gea sampai Gea duduk di meja paling pojok kantin yang bisa dia dan sahabat nya duduki.


Ntah apa alasannya ternyata 2 tempat duduk di pojok tidak pernah ada mahasiswa lain yang berani duduk disana. Seperti sudah dicap kepemilikan.


Satu meja di samping tempat duduk Gea mungkin milik senior yang Gea pun tidak tahu dan tidak mau tahu.


Saat ini tempat itu ada isinya tapi Gea gak peduli sama sekali. Bahkan menatap ke arah sana pun gak ada niatan di benak Gea.


"Ck lama benget sih". Omel Mila lagi dan lagi.


"Nih makan aja buat ganjal perut".


Gea memberikan bekal yang mahasiswa tadi berikan. Dia sama sekali gak ada niatan untuk memakan makanan yang tidak jelas dari siapa.


"Kalau gitu kenapa gak tadi aja lo kasih ke gue. Kalau ujung ujungnya gue juga yang makan". Ucap Mila sambil membuka bekal makanan itu.


"......".


"Wih makanan enak nih siapa sih yang bikinin buat lo pakai ada bentuk smile nya juga lagi".


Gea langsung menarik bekal makanan itu. Lalu melihatnya. Pertama kali yang Gea lakukan hanyalah mengerutkan keningnya heran. Masakan dan tataan ini seperti buatan dia, pikirnya.


"Apa dia yang buat?? Tapi gak mungkin dia ada disini. Dia udah gak ada kabar bertahun tahun setelah kejadian itu". Batin Gea dengan matanya terus menatap ke arah makanan itu.


Dengan cepat Mila menarik kembali bekal makanan itu daripada Gea berubah pikiran. Dia langsung memakan tanpa memperdulikan Gea yang terus melamun.


"Dia??........ Gak mungkin".


Tanpa disadari Gea menggeleng-gelengkan kepalanya dengan reflek membuat Mila kebingungan.


"Lo kenapa ge??".


"......".


"Gea". Sentak Mila sambil memegang tangan Gea.

__ADS_1


"Hah,,!!! Apa??". Ucap Gea kaget.


"Lo kenapa ngelamun dari tadi??".


"Gue gak papa, Lo lanjut makan saja".


"Lo yakin??". Tanya Mila memastikan dan hanya dibalas dengan anggukan dari Gea.


Mungkin karena kantin penuh. Jadi antaranya sangat panjang membuat makanan mereka lama sampai.


"Asik makanan datang". Ucap Mila senang melihat Jesica datang membawa nampan diikuti pegawai kantin di belakang yang membantu. Padahal dia sudah menghabiskan makanan milik Gea dengan habis tanpa sisa.


Menghiraukan kesenangan Mila, mereka makan dengan tenang. Bakso dan es teh menjadi makanan pavorit mereka saat di kantin universitas.


Setalah istirahat hanya ada 1 jam mata kuliah. Mila yang malas malah menyarankan untuk bolos tapi karena Gea setelahnya ada meeting di menolak karena jika dia ikut Mila kepastian akan lupa waktu dan malah meninggalkan meeting itu.


Dengan wajah kesal Mila hanya bisa mengikuti kedua sahabatnya yang masuk ke kelas selanjutnya. Tidak ada yang mendengarkan dirinya dan mau tidak mau dirinyalah yang harus mengikuti mereka.


Bibir Mila sedari tadi terus saja berkomat kamit ntah ngomong apa. "Jangan ngedumel terus gue tarik tuh mulut tahu rasa lo". Ucap Gea membuat bibir Mila mengatup dan diam seketika.


.


.


.


Setalah mata kuliah selesai Gea akan langsung pergi ke restoran yang sekertaris nya share lok. Tapi sebelumnya dia harus ganti pakaian terlebih dahulu di toilet kampus untuk jaga jaga siapa tau dia akan kejebak macet nanti.


"Makan siang yuk di tempat biasa". Ajak Jesica yang sedari tadi diam.


"Gue ada meeting, kalian aja. Gue duluan ya bye".


Gea langsung pergi tanpa mendengar ucapan kedua sahabatnya dulu. Sedangkan mereka hanya diam melihat Gea yang lama lama hilang dari pandangan.


"Ck kalau gini kenapa gue gak bawa aja tadi pakaian gantinya". Dumel Gea yang berjalan menuju palkiran.


Namun tiba tiba, , ,


Bug.


"Aw kepala gue". Ucap Gea sambil mengelus kepalanya yang menabrak sesuatu.


Gea memang berjalan tidak lihat jalan karena dia sedang sibuk membalas chat dari nyokapnya yang sedari tadi tidak bisa diam karena Gea jarang memberi kabar.


"Maaf saya gak sengaja". Ucap Gea dengan menahan rasa sakit di kepala.


Orang yang ditabrak Gea membalikan badan. Mata mereka bertemu dan langsung terkunci.


Beberapa saat Gea terpesona dengan wajah itu tapi lama kelamaan dia ingat wajah itu juga yang menabraknya tempo hari.


"Lo lagi,, kalau jalan liat liat dong". Ucap orang itu ngegas.


Wajah Gea langsung merah menahan kesal. Ia tahu dia salah tapi untuk orang ini dia malas meladeni nya dan kata maaf tadi Gea tarik dengan cepat.


"Huft,, maaf kak saya tidak sengaja. Saya permisi dulu". Ucap Gea pelan karena menahan amarah. Bahkan sebelum berbicara Gea harus mengambil nafas dan menutup matanya sebentar agar amarahnya tidak meledak.


Tangan Gea dicekal orang itu untuk menghentikan langkahnya.


"Urusan kita belum selesai". Ucap orang itu.


Mau tidak mau Gea memundurkan lagi langkah kakinya berdiri di tempat semula. Tapi tidak ada suara apapun yang keluar dari mulut Gea.

__ADS_1


"Lo tahu kan kesalahan Lo apa??".


"Iya kak saya tahu saya salah. Tapi saya buru buru bisa lepaskan tangan saya". Ucap Gea lembut sebisa mungkin.


"Nanti saya lepaskan kalau kamu turuti apa keinginan saya hari ini juga".


Ketiga orang dibelakang nya tersedak kaget. Baru kali ini mereka melihat sahabatnya mau berurusan dengan wanita padahal sedari dulu dia hanya bisa mengacuhkan keberadaan wanita disekitarnya.


"Kakak senior yang baik hati, saya kan tadi bilang saya buru buru hari ini. Lain kali aja oke saya janji". Ucap Gea terus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman orang itu.


Karena Gea terus saja memberontak jadi pegangan itu lama lama kian mengerat dan Gea sedikit merasakan sakit.


"Anj*ng tangan gue sakit". Batin Gea terus menatap tangannya yang digenggam orang itu.


"Gue gak mau tahu, Lo harus turutin gue hari ini juga". Ucap orang itu tidak peduli dengan urusan Gea sama sekali.


"....". Gea hanya diam. Dia tidak tahu harus bernegosiasi seperti apa lagi, hari ini dia benar benar harus datang ke restoran itu untuk meeting. "Ya udah tapi setelah urusan saya selesai dan kalau gak percaya kakak bisa ikutin saya kalau mau".


"Emang kamu siapa perintah saya seperti itu, saya gak peduli dengan urusan kamu, saya hanya ingin kamu turuti kemauan saya".


"Tapi-".


Drrrttt,,, drrrttt,,,, drrrttt


Panggilan masuk di telpon Gea yang tertulis sekertaris nya dilayar ponsel.


"Hello nona, nona sudah ada dimana sekarang??".


"Saya dijalan. Beberapa menit lagi saya sampai".


"Baik nona, tapi kolega kita meminta untuk makan siang dulu sebelum meeting berlangsung jadi nona harus datang 30 menit lebih awal".


Gea melihat jam sudah sangat mepet apalagi dengan orang didepannya yang tidak mau melepaskan diri nya saat ini.


"Oke".


Pip.


Gea mengalihkan pandangannya kembali ke arah orang dihadapannya. Tangannya sama sekali tidak dilepaskan sampai terlihat kemerahan karena pegangan yang erat.


Sedangkan ketiga orang dibelakang nya hanya diam tanpa ingin ikut campur.


"Apa yang kakak inginkan??". Tanya Gea sudah jengah dengan keadaan itu.


"Kamu harus ikutin apa kemauan saya dan karena bertepatan dengan jam makan siang jadi kamu harus ikut saya". Ucap orang itu.


"Yuda lo yakin??". Tanya salah orang dibelakang.


Ya, orang yang Gea tabrak namanya Yuda, lebih tempatnya Yuda Sebastian Orlando. Anak tunggal dari keluarga Orlando dan pemilik dari Orland university tempat kuliah Gea.


Yuda sekarang sudah semester akhir/ semester 5 dan sebentar lagi akan menjalani skripsi.


Hanya sedikit informasi yang Gea tahu karena dia tidak peduli dengan urusan atau kepribadian orang lain.


"Sekarang kamu ikutin saya jangan ada niatan kabur sedikitpun". Ucap orang yang bernama Yuda. Orang yang ada dihadapan Gea yang memegang tangan Gea dengan erat.


"Iya gue gak akan kabur. Tangan gue lepasin dulu".


Tanpa memiliki kecurigaan, orang itu melepaskan tangan Gea dengan cepat.


Gea yang melihat tangannya dilepaskan bersiap siap untuk mengambil nafas, lalu dengan cepat mengambil langkah seribu berlari meninggalkan sekelompok orang itu.

__ADS_1


To be continued. . . .


__ADS_2