
"pesan apa mas, mba?" Tanya rain dengan buku catatan di tangannya.
"Hm kami pesan 2 kopi latte, makanannya spaghetti 2"
"Ok saya ulang lagi, 2 kopi latte dan 2 spaghetti." Keduanya mengangguk."silahkan di tunggu pesanannya"
"Ya, terimakasih"
"Sama-sama" setelah mengucapkan itu, rain berjalan ke arah dapur dan menempelkan kertas pesanannya kemudian kembali lagi menjamu pengunjung cafe.
Kring
Lonceng cafe berbunyi saat pintu terbuka. Disana Reyhan dkk, vera dan mita memasuki cafe. Mereka berjalan kearah meja bagian tengah.
"Pesen apa?" Bima bertanya pada mereka semua setelah mereka duduk.
"Terserah" jawab mereka semua.
Bima mengangguk kemudian memandang sekitar mencari pelayan."pelayan!" Bima mengangkat tangannya menunjuk ke arah rain yang sedang membelakangi mereka.
"Terimakasih, silahkan tunggu pesanannya" rain berjalan meninggalkan meja pengunjung di hadapannya dan berjalan ke arah orang yang memanggil pelayan tadi. Ia belum menyadari kehadiran Reyhan dkk,vera dan mita.
Dengan senyum manisnya ia menyapa mereka semua."selamat siang, mau pesan ap-" rain menghentikan ucapannya, raut wajahnya berubah datar.
"Eh kak rain. Kak rain kok bisa disini?" Tanya vera lembut. Rain tak membalas pertanyaan itu dan memilih bekerja secara profesional."Pesen apa?"
Bukannya menjawab pertanyaan rain, mita malah memberikan ejekan padanya."Udah bokek ya lo? Sampe sampe kerja jadi pelayan di cafe, hahaha si nenek sihir berubah jadi pelayan cafe hahaha. Oh iya gw lupa" mita menepuk keningnya."uang lo kan vera yang pegang hahaha. Kenapa gak minta sama adik lo aja sih? Malu ya lo?"
Genggaman rain pada bolpoin di tangannya semakin menguat, ia berusaha tersenyum menahan kekesalannya."Pesan apa?"
"Makanan yang lo suka disini ada gak?" Dewa menatap rain. Rain membalas tatapan dewa, terlintas ide untuk menjahilinya."hm gw sukanya makan tahu mercon" rain tersenyum manis.
"Yaudah gw pesen itu"
"Gw juga!" Sahut daniel dan Zein tak mau kalah.
"Baik. Yang lain?" Matanya menatap reyhan,vera dan mita.
"Hm aku mie goreng seafood sama jus jeruk nipis" ucap vera. Rain dengan telaten menulisnya.
"Ok"
"Gw sama kek vera" balas mita acuh. Rain memutar bola matanya."ok, lo?" Tanya rain pada reyhan yang sedari tadi memandangnya."kopi panas"
"Baik silahkan di tunggu pesanannya" sebelum pergi rain membungkuk kan badannya sopan. Mita mengambil kesempatan untuk memotret rain dan membagikannya ke Instagram."mampus lo, gw sebarin foto lo jadi pelayan cafe" batinnya.
Rain menghempaskan tubuhnya pada sofa."ref bikinin tahu mercon ya tapi cabainya tambahin lebih banyak, kalau perlu cabainya 2 kilo terus pake cabai rawit biar makin pedes"
"Buat apa ra"
"Ngerjain orang"
"Jahil banget sih lo, kasian anak orang"
"Bodo"
"Ck yaudah sono keluar, tuh pesanan orang orang udah jadi."
"Iya iya bawel. Ck baru juga istirahat sebentar hufft" gerutu rain kemudian berlalu mengantarkan pesanan pelanggan.
__ADS_1
Di meja Reyhan.
"Calon istri gw rajin banget ya, udah jadi anak sultan tapi masih mau kerja jadi pelayan di sini. Gw rela deh tiap hari kesini buat liatin ayang beb" Daniel terus menatap rain dengan tangan memangku wajahnya.
Reyhan sedang berada di toilet, jadinya daniel bebas membicarakan rain.
"Ho'oh. Udah cantik,manis, bisa kerja lagi." Timpal zein.
Mita mendelik tak suka."halah percuma cantik kalo minus akhlak"
"Ck kamu gak boleh ngomong gitu ta. Dia kakak aku juga, walaupun dia memang jahat tapi aku sayang sama dia." Balas vera menegur mita dengan kata-kata lembutnya. Jika rain mendengar itu, ia pasti mengetahui makna terselubung dari kata-kata itu.
Mita melihat rain berjalan ke arah mereka dengan nampan berisi makanan langsung mengeras kan suaranya."Tuh liat vera!!, udah baik,lembut,cantik. Paket komplet deh buat jadi calon istri"
Rain meletakkan pesanan vera dan mita di hadapannya masing masing kemudian membalas sindiran mita."percuma cantik kalo bisanya cuma ngabisin duit orang" rain mengatakan itu bukan tanpa sebab. Beberapa hari yang lalu ia sempat melihat vera dan ibunya berbelanja di mall menggunakan kartu atm-nya. Rain juga sudah membuktikannya dengan mendatangi bank dan meminta daftar pengeluarannya.
Meskipun perkataan rain membuatnya terkejut tapi vera dapat menyembunyikannya dengan raut wajah teraniaya nya."a-aku g-ak gitu kak"
"Dih emang gw nyebut nama lo? Gak kan?" Balas rain.
"Ya tapi kata-kata lo seakan buat vera"
"Eh gw gak nanya lo ya"
"Anjing lo, vera itu sahabat gw bangsat!"
"Weh santuy dong. Jangan kasar sama calon istri gw" celetuk zein membela rain.
"Apa sih lo ko-"
"Hiks udah hiks ini salah aku hiks" tangisan vera memotong ucapan mita. Mereka semua panik, bisa gawat kalau reyhan tau.
Bruk
"Akhh p-panas hiks"
Dari kejauhan reyhan berlari kemudian menarik rain dengan kasar dan langsung menampar pipinya.
PLAK
Kejadiannya sangat cepat,rain belum sepenuhnya sadar akan kejadian ini. Orang orang terdiam melihat mereka.
"APA-APAAN SIH LO HAH?! LO PIKIR ITU GAK PANAS HAH! GW KIRA LO BENERAN UDAH BERUBAH TAPI SEKARANG LO NGEBULLY ADIK LO LAGI. PUNYA OTAK GAK SIH LO" teriak reyhan murka.
Sandra berlari ke sana dan menarik rain ke belakangnya."jaga mulut dan perilaku anda!" Ucapnya menatap tajam reyhan.
"Hiks rey s-sakit hiks hiks"
"Lo tuh kalo kerja yang bener!" Maki mita.
Rain melamun, tangannya terangkat memegang pipinya yang terasa panas."gw...gw di tampar? Sama orang asing? Hahaha good, orang asing aja udah berani nampar gw. Kayaknya belakangan ini gw terlalu lembut deh" ucapnya dengan pandangan kosong. Sandra khawatir."lo gak papa kan rain? Bilang sama kakak mana yang sakit?"
Rain membalas tatapan sandra."gak papa ka-"
"Ada apa ini?" Tanya seseorang dari arah samping.
"ah selamat siang pak. Ini..."
"Cuma masalah anak sma" potong rain cepat. Alis randi terangkat menatap pipi rain yang lebam dan sudut bibir yang berdarah. Ia mendekati rain kemudian menangkup wajahnya."ini pipi kamu kenapa? Siapa yang nampar kamu hm" rain tak menjawab dan Hanya menatap reyhan dingin.
__ADS_1
"Di gigit buaya" jawab rain ngasal setelah beberapa saat terdiam, beberapa pengunjung dibuat tertawa karenanya.
Sandra dengan cepat ingin membantah."Tapi ra-"
"Lupain, saya pamit ke belakang pak. Ayok kak" rain menarik tangan sandra setelah melemparkan tatapan tajam ke mita dan reyhan.
"Tumben gak nangis?" Batin Reyhan dkk.
Randi menghela nafas pelan, menatap mereka satu persatu kemudian berkata."Jangan buat masalah disini" setelah mengucapkan itu ia berlalu ke dalam ruangannya untuk mengecek cctv.
Para pengunjung juga kembali ke aktivitas mereka masing-masing.
"
Ver lo gak papa kan?" Tanya bima
"Agak panas terus perih aja sih"
"Kita pulang dulu buat ngobatin luka lo gimana?" Tanya mita.
Vera menatap makanannya."tapi makanannya..."
"Bungkus" balas Reyhan singkat.
Zein menatap sekeliling mencari pelayan lain." Pelayan! Bungkus makanan ini ya" ucapnya sedikit keras pada salah satu pelayan yang agak jauh dari tempat nya.
Pelayan itu mengangguk kemudian berjalan menuju meja mereka, mengambil makanan dan membawanya untuk di bungkus. Selang beberapa saat pelayan itu kembali membawa makanan mereka.
"Makasih" ucap dewa.
"Yodah pulang" lanjutnya.
Reyhan berjalan paling akhir, sebelum keluar langkahnya berhenti lalu menatap tangan kanannya yang telah menampar rain tadi, ia menyempatkan diri berbalik menatap ke arah ruangan yang di masuki oleh rain tadi. Setelah beberapa detik ia kembali melanjutkan perjalanannya.
Di dalam ruangan, rain telah jengah di beri pertanyaan yang sangat banyak. Bukannya menjawab ia malah melamun memikirkan kejadian tadi."lo mau gw jadi antagonis kayak biasanya kan? It's okay gw bakal jadi antagonis buat kehidupan lo dengan si vera. Berani beraninya dia nampar gw, orang tua gw aja gak pernah nampar gw, meskipun kesalahan gw setinggi langit. Gw benci lo Reyhan. Gw harap bisa lupa ingatan biar gw lupa sama lo dan semua orang disini."
"Kak sandra, reva gw pengen keluar dari pekerjaan ini. Gw mau nyoba buat buka usaha sendiri. Lagi pula uang di atm gw udah numpuk, hasil dari balapan sih. Gimana? Boleh gak?" Tanya rain cepat sebelum mereka berdua kembali melontarkan pertanyaan padanya.
"Gak boleh!" Serempak keduanya.
"Tapi gw udah mikirin ini dari beberapa hari yang lalu, tujuan gw kerja disini juga buat jaga-jaga siapa tau gw gak menang balapan duit gw langsung abis, tapi kan gw menang melulu jadi otomatis atm gw ke isi dong. Entar malem juga gw mau balapan lagi, hadiahnya setengah M. Kalo gw menang beuh atm gw otw jadi blackard. Gak sombong nih ya" cerocos rain.
Pletak
"Au..apasih kalian berdua? Sakit tau gak"
"Itu sombong maemunah!!" Jawab keduanya.
"Enggak"
"Iya"
"Eng-"
"Au ah males debat" ucap reva
"Sama" rain dan Sandra serempak.
Mereka bertiga saling memandang beberapa detik lalu tertawa bersama-sama."seenggaknya kalau gw lupa ingatan, gw gak mau lupain mereka dan tentunya para sahabat gw" batin rain.
__ADS_1