
"dah kapok gw konser dadakan kek kemarin. Buset berdirinya lama banget oi" oceh alana
"Yang salah lo berdua yang kena hukum satu angkatan" celetuk aliya.
"Salah mereka lah, siapa suruh ngikutin kita berdua, ya gak ra" ucap eka
Rain mengangguki ucapan eka."ho'oh"
"Gw ada berita" ucap jessie tiba-tiba.
Mereka bertiga saling menatap satu sama lain lalu beralih menatap jessie."apaan?" Ucapnya serentak.
Jessie memperlihatkan handphonenya."bulan depan bakal ada kemah khusus kelas 12"
Deg
Jantung rain berdetak kencang, ingatan saat ia terjatuh di tebing kembali terputar di memorinya."Ke-kemah?"
Jessie mengangkat alisnya bingung melihat perubahan raut wajah rain."lo kenapa ra?"
"Jangan bilang lo gak mau ikut?"timpal eka.
"Enggak gw cuma..gak papa" ingin rasanya rain memberitahu kalau sebenarnya ia agak trauma berkemah.
"Beneran?" Aliya berusaha memastikan.
"Iya"
Eka beranjak dari tempatnya."mau kemana lo?" Tanya Aliya.
"Ambil minum, haus"
"Oh"
Setelah itu eka berlalu ke arah dapur. Aliya menatap jessie dan rain kemudian menghela nafas singkat."hufft...kemarin gw liat vera ketemuan sama om-om, kayaknya sih mereka gak akur tapi vera kek mohon-mohon gitu sambil nangis."
Alis rain terangkat heran."dimana?"
"Di cafe, nih fotonya kalau lu mau liat" aliya memperlihat foto yang di ambilnya kemarin, didalam foto itu terlihat pria seumuran ayah rain yang tengah menatap datar ke arah vera yang sedang menangis.
"Lu denger pembicaraan mereka?" Tanya jessie setelah menatap foto itu.
Aliya menggeleng."enggak"
"Tapi...kalian ngerasa gak sih kalau wajah mereka sedikit mirip" ucap rain yang masih memperhatikan foto tersebut.
"Hm,apa jangan-jangan... Ini ayah vera?" Ujar aliya.
"Jangan ngaco. Jelas-jelas vera anak bokap gw."balas rain.
"Tapi ada kemungkinan mereka berdua berbohong kan?" Timpal Jessie.
"Kalian tau sendiri kan gimana sifat si PPB (polos polos babi) itu."lanjutnya.
Rain dan Aliya merenung sejenak."hm ra, lu tau kapan ayah lu nikah sama ibu vera?" Ucap aliya menatap rain.
"Gw gak inget kapan"balas rain."ya iya lah gw gak inget, orang si rain sialan itu ngasih gw ingatan dikit banget. Niat gak sih tu orang ngasih gw ingatan?" Batinnya menggerutu.
"Gw harus cari tau ini semua" rain menatap kedua sahabatnya.
"Kita siap bantuin lu" balas aliya dan jessie serempak.
Eka keluar dari arah dapur tanpa membawa apapun,matanya menatap ke arah para sahabatnya yang tampak serius."Ada apanih, serius banget kayaknya. Gw gak diajak gosip gitu?"
Ketiganya menoleh menatap eka."mana minuman lu?" Jessie balik bertanya.
Wajah eka mendadak murung."itu dia, gw lupa beli cemilan plus minuman. Kulkas gw kosong melompong. Ada yang niat keluar beiin gak?gw kasi ongkos deh." Ucap eka tak tau malu.
Mereka bertiga mendelik."tuan rumah apaan yang nyuruh tamunya kek gitu?" Celetuk aliya kesal.
"Tuan rumah yang baik dong" balas eka membanggakan diri.
"Palamu baik"
"Pala gw cantik loh"
"Gak nanya tuh"
Selagi mereka berdua berdebat,rain dan jessie menatap mereka berdua datar.
"Biar gw yang beli. Mana sini duit lu?"ucap rain yang sudah jengah. Tangannya terulur di hadapan eka.
Eka menatap tangan rain lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatak."pake duit lu dulu ya ra, gw lagi bokek nih hehehe" balas eka dengan cengirannya.
Pletak.
Eka mendapat jitakan dari aliya dan jessie.
"Ouch, apa sih lu berdua? Sakit tau gak"protes eka.
"Syukurin!" Balas mereka berdua ngegas.
Rain tersenyum."boleh kok, mau pake duit gw seberapa banyak pun gw bolehin-"
"Nah git-"
"Tapi gw catet sebagai utang. Bay gw keluar" potong rain, selanjutnya ia berjalan keluar meninggalkan eka yang cemberut sedangkan aliya dan jessie tertawa.
"Hahaha mampus!"
***
Setelah memarkirkan motornya, rain memasuki mini market. Dengan langkah pelan,ia menyusuri tiap rak, mengambil makanan dan menyimpannya di keranjang belanja. Disudut sana, rain melihat makanan favoritnya di dunianya dulu. Tapi sayangnya makanan itu hanya tersisa satu.
Dengan cepat ia melangkah, tangannya terulur mengambil makanan tersebut. Disaat bersamaan tangan lain juga ikut mengambil makanan itu.
Mata keduanya saling bertatapan selama beberapa detik dan diakhiri oleh rain."gw duluan yang pegang,jadi ini punya gw"
__ADS_1
"Gak" balas cowok itu sambil menarik makanan itu dengan kuat.
Rain meguatkan pegangannya."apasih! Lu bisa cari makanan lain kan?"
Cowok itu mengangkat sebelah alisnya."kalo gw gak mau gimana?" Ucapnya tersenyum miring.
"Reyhan Langit Aldiano, apa lo jatuh miskin sampe makanan murah ini pun mau lo jadiin rebutan sama cewek miskin kek gw?"celetuk rain asal."amit-amit deh kalo gw jadi miskin beneran" batinnya.
"Serah gw dong mau makan apa"
"Tap-"
"Ada apa mas mba?" Potong salah satu pegawai disana.
"Dia ngambil makanan saya mba?" Jawab rain menunjuk reyhan.
"Lo belum bayarkan? Jadi ini belum jadi milik lo"
"Masnya benar mba, selagi belum dibayar itu masih milik mini market ini."
Reyhan tersenyum miring,menaik turunkan alisnya menggoda rain."nih mba saya bayar dulu" rain dengan cepat memberikan uang 50 ribu kepada pegawai itu.
"100 ribu" reyhan juga ikut memberikan uang kepada pegawai itu.
"150 ribu" rain tak mau kalah.
Pegawai itu mulai bingung dengan kejadian saat ini."makanan seharga 16 ribu dijadikan ratusan ribu? Apa mereka sedang bertanding kekayaan?"
"300 ribu"
Rain terdiam kaku."sial uang gw cuma 250 ribu" gumamnya. Perlahan tangannya turun dan melepaskan makanan itu, setelahnya ia berjalan ke arah kasir dengan wajah tertunduk.
Reyhan memberikan uang 300 ribu kepada pegawai itu kemudian menyusul rain yang sudah menyelesaikan transaksi pembayarannya.
"Cepet mba" ucap reyhan dingin pada kasir.
"Totalnya 139 ribu"balas mba penjaga kasir.
Reyhan memberikan potongan uang 200 ribu kemudian mengambil belanjaannya. Saat keluar rain sudah menghilang dari sana.
"Sial"umpatnya. Reyhan menatap jalan raya di sekitarnya guna mencari rain. Dan gotcha, ia melihat motor rain. Dengan cepat ia menaiki motornya dan mulai mengikuti rain dari jauh.
Kembali ke sisi rain. Saat ini rain menunggu lampu hijau, namun matanya tak sengaja melihat aksi kekerasan pada perempuan. Dengan cepat ia menepikan motornya, ia berlari ke arah penjahat yang hampir melecehkan perempuan disana.
Reyhan ikut menepikan motornya, dan mengikuti rain yang berlari masuk ke lorong gang."ngapain dia kesana?"
"WOII!" teriakan rain mengalihkan perhatian penjahat itu.
Mendengar suara seseorang. Perempuan yang menjadi korban merasa sangat senang. Dengan terbata-bata ia meminta tolong." Si-siapapun t-tolong hiks"
"Lepasin dia brengsek!!" Geram rain semakin bergerak maju.
"Jangan ikut campur atau kau juga jadi pemuas nafsu gw." Ucap cowok dihadapannya. Bibirnya sudah hampir menyentuh bibir wanita yang menjadi korban. Dengan cepat rain melompat dan menendang wajah si cowok.
Bruk
"K-kak rain?" Ucap si cewek.
"Siapa?"balas rain yang masih siaga dengan pergerakan cowok dihadapannya.
"A-aku lulu kak" rain menoleh menatap lulu, namun kesempatan ini dijadikan peluang bagi cowok itu untuk melukai rain.
Bugh
Satu pukulan mendarat di pipi rain. Rain mendorong lulu menjauh dari sana."PERGI!!" Rain balas memberikan pukulan.
Bugh
"Tapi kak"
Rain menghindar dari pukulan cowok tersebut. Ia berlari menjauh dari tempat lulu sekarang."Gw bilang pergi!!" Perintah rain, Tapi lulu masih berdiam diri di tempatnya.
"Sini lo cowok brengsek!"rain berbalik dan berlari menerjang cowok brengsek itu. Ia melompat ke atas tubuh si cowok lalu memberinya beberapa pukulan.
Bugh
Bugh
Bugh
Merasa dirinya tersudut,cowok itu meraba sekelilingnya dengan tangan kanan lalu mengambil batu dan memukul kepala rain "Cewek sialan!"
"Akhh"Rain terjatuh dengan kepala berdarah."jadi cewek harusnya diam dirumah" cowok itu berdiri membersihkan bajunya yang kotor dan mengusap darah yang keluar dari hidungnya akibat pukulan rain.
Cowok itu jongkok memegang dagu rain"Kalo dilihat-lihat lo lebih cantik daripada gadis tadi, gimana kalo lo gantiin dia jadi pemuas gw malam ini."
Dengan tangan yang memegang kepalanya,rain menatap sengit cowok dihadapannya."cuih bangsat!" Rain meludah tepat diwajah cowok itu.
"Hahaha" cowok itu mengusap wajahnya yang terkena ludah rain."jangan buat gw marah sayang" setelah mengucapkan itu wajah cowok itu semakin mendekat. Hidung mereka telah bersentuhan, rain menutup matanya sembari terus berdoa."ya tuhan tolong kirim siapapun itu untuk menolong ku, jangan sampai aku dilecehkan oleh pria bajingan ini."
Tinggal satu centi lagi bibir mereka bertemu, rain sadar tidak akan ada orang yang akan menolongnya. Makanya ia dengan cepat menendang alat kelamin pria itu dengan sangat keras.
"Akkhhhh masa depan gw" pria itu berguling kesakitan di tanah. Rain bangkit berlari dari sana kemudian menghampiri lulu yang masih mematung lalu memeluknya."lo gak papa?"
Pria itu menatap rain, dengan bersusah payah ia berdiri dan mengambil balok di dekatnya. Ia berjalan tertatih mendekati rain yang sedang lengah. Tangannya mengangkat balok tinggi tinggi bersiap memukul kepala rain.
Dari jauh reyhan masih mencari rain yang menghilang dari pandangannya. Samar-samar ia mendengar suara orang berkelahi. Reyhan kemudian mencari asal suara tersebut. Matanya membola saat melihat rain yang sedang memeluk lulu, ia dengan cepat berlari menahan balok yang akan mengenai kepala rain.
Dengan amarah yang membuncah karena gadisnya dilukai. Tunggu sejak kapan rain menjadi gadisnya? Entahlah hanya ia yang tahu. Reyhan memukul pria itu dengan membabi buta."bangsat!"
Sadar akan seseorang yang membantunya,rain berbalik menyaksikan pria itu dihajar habis-habisan hingga terkapar pingsan. Bahkan setelah pingsan pun, pria yang menolongnya masih terus memukul penjahat itu.
"Gawat bisa-bisa orang itu mati". Rain meneriaki Reyhan untuk berhenti."HEI BERHENTI KAU BISA MEMBUNUHNYA!" namun reyhan seakan menulikan telinganya.
Dengan langkah tertatih rain mendekati reyhan dan memegang pundaknya."hei berhenti,dia sudah pingsan"ucap rain lembut.
Rain belum menyadari kalau itu adalah Reyhan. Reyhan berhenti dan berbalik menatap rain. Seketika raut wajah rain berubah."ya tuhan,aku memang meminta untuk dikirimkan seseorang tapi kenapa yang engkau kirim bukan penyelamat tapi psikopat gila ini ya tuhan.
__ADS_1
Perlahan tangan rain turun."ngapain lo disini?!" Tanya rain sewot.
"Ngapain lo ngelawan dia hah?! Lo pikir diri lo hebat bisa ngalahin penjahat? Cuma gw yang boleh ngelukain lo ngerti!!"Reyhan meremas pundak rain kuat.
Rain meringis pelan."shh lepasin tangan lo"
"K-kak r-rey, i-ini salah aku k-kak. Karena nolong a-aku kak rain jadi l-luka."reyhan beralih menatap Lulu yang sedang menunduk takut.
"Lo juga jadi cewek gak guna bang-"
Plakk
"Gak usah ngehina dia ya lo" setelah mengucapkan itu rain menyentak tangan reyhan dari pundaknya kemudian menuntun lulu menuju motornya.
Reyhan mematung memegang pipinya. Baru kali ini rain berani menamparnya, biasanya rain hanya akan menangis ketika ia bentak tapi kali ini kenapa berbeda?
Sudah rain katakan bahwa dirinya akan menjadi antagonis dikehidupan Reyhan dan terutama kehidupan Vera. Sisi protagonisnya hanya ia perlihatkan pada orang orang yang menurutnya baik.
"Tamparan ini bakal gw inget rain Gilbert" ucapnya kemudian pergi dari sana.
"Kak kita kerumah sakit ya"ujar lulu
"Gak usah"tolak rain lalu menaiki motornya."cepetan naik,gw anter lo pulang"
Lulu hanya pasrah dan mengikuti perintah rain. Ini yang kedua kalinya rain berbuat baik padanya."maaf kak,dulu aku kira kak rain orang jahat" gumam lulu. Dulu ia berfikir rain adalah antagonis layaknya di sebuah novel yang sering ia baca. Namun tak disangka antagonis yang ia maksud ternyata protagonis di kehidupan nyatanya. Lalu apa alasan rain bertingkah layaknya antagonis? Itu yang dipikirkan lulu.
"Jadi sebenarnya kak rain antagonis atau protagonis?" Ujar lulu.
Rain merasa lulu mengucapkan sesuatu."HAH APA LO BILANG? GW GAK DENGER" teriak rain karena ia memakai helm.
Lulu tersentak kaget."enggak kak,gak ada" elaknya. Rain tak membalas. Setelah beberapa menit akhirnya mereka telah sampai.
"Makasih kak udah nolongin aku ditambah lagi kakak ngaterin aku pulang. Sekali lagi terimakasih kak" lulu berulang kali membungkuk.
"Hm,cepet masuk. Gw pulang" setelah mengucapkan itu rain menancapkan gasnya membelah jalan raya, kembali ke rumah eka.
"Gw pulang" ucap rain memasuki rumah.
"Nah yang di tunggu datan- WHAT RAIN LU KENAPA HAH? SIAPA YANG BUAT LU KEK GINI? BILANG KE GW SIAPA?" teriak eka saat menyadari kondisi rain.
Aliya dan jessie menoleh menatap rain yang sekarang duduk disamping eka."nolongin orang tadi"
"Bentar gw ambil kotak p3k dulu" aliya beranjak dari tempatnya.
"Siapa?" Tanya jessie
"Lulu"rain menjawab tanpa membuka matanya.
Eka kembali bertanya."kok bisa?"
"Hampir diperkosa tadi"
"Terus gimana?"
"Ya gak gimana-mana?"
"Gada yang nolongin lo gitu?"
"Ada"
"Siapa?"
"Kalian gak bakal percaya"
"Yaudah cepetan bilang siapa orangnya" sewot eka.
"Reyhan"
Keduanya diam setelah mendengar rain. Aliya datang membawa kotak P3K."sini ra gw obatin dulu"
Selagi aliya membersihkan dan mengobati luka rain, ia berucap."Gak penting siapa yang nolongin rain,yang penting sekarang rain gak papa"
"Tapi kok bisa? Itu yang jadi pertanyaan gw. Secara kita semua tau kalau Reyhan benci sama rain."timpal eka.
"Dia gak rela kalau ada orang lain yang nyakitin gw"balas rain.
"Gila"timpal jessie tak habis fikir.
"Nah udah, sekarang lo istirahat. Besok gak usah kesekolah dulu. Biar kita yang ngasi tau guru kalau lu lagi sakit."
"Hm" setelah itu rain menaiki tangga dan memasuki kamar eka lalu merebahkan badannya dan mulai terlelap.
***
BRAKK
suara pintu yang dibuka dengan keras. Membuat penghuni rumah mengeluarkan latah.
"Monyet jadi kera" latah daniel.
"Kolor miper Patrick" latah zein
"Ayam ayam" bima
"Rain cantik!" Dewa. Ruangan tiba-tiba hening mendengar kalimat latah dewa. Reyhan juga ikut menghentikan langkahnya. Reyhan hanya menatap tajam dewa lalu kembali melanjutkan langkahnya memasuki kamarnya.
BRAKK
reyhan sekali lagi membanting pintu kamarnya.
"Latahan lu estetik banget ya wa. Calon bini gw lu bawa-bawa" ujar Daniel sinis.
"Heh gak usah berantem dulu, tuh si reyhan kenapa? Kok tiba-tiba jadi singa"
"Ya mana kita tau, emang kita dukun"balas bima sewot
"Bodo lah"
__ADS_1