
...Pencet jempolnya mba cantik/mas ganteng (sialan kenapa author jadi jijik)...
...Happy reading...
Vera terbangun dari pingsannya. Penglihatannya yang masih buram ia paksakan menelusuri isi tenda yang memang di khususkan untuk siswa yang sakit.
Hingga matanya menangkap sosok yang tengah tertidur dengan kepala menumpu pada tangannya. Dia rain, rain tertidur saat menjaga vera.
Hei meskipun rain membenci vera tapi bukan berarti ia bisa meninggalkannya disaat sakit. Hati nurani rain menolak dengan keras.
Hati vera memanas saat mengingat kejadian tadi, dengan cepat ia turun dan menghampiri rain lalu melayangkan tangannya pada wajah rain.
Plak
Rain terjatuh dari kursi, bukan karena tamparan yang diterima melainkan keterkejutannya. Hei dirinya sedang tidur! Siapa yang berani menampar dirinya hah?!.
"Kau! Karena kau!" Jari telunjuk vera mununjuk tepat di wajah rain."lo kan yang buat reyhan kek gitu!. Lo yang nyuruh reyhan mutusin gw! Iya kan!!"
Tangan vera mengambil sebilah bambu yang tergeletak di rumput lalu tanpa ampun memukuli tubuh rain."karena kau, aku putus dengan reyhan! Dasar jal*ng! Kau harusnya mati dengan ibu sialan kau itu!!"
Rain tak bisa menghindar, tangannya ia jadikan sebagai tameng. Rasa amarah menguasai dirinya saat ibunya di hina.
"tidak usah menghina ibu gw bangst"
"Kenapa? Ibu lo itu pelac*r sama kek lo" vera terus memukul rain. Darah telah keluar dari lengan rain.
"BERENTI SETAN!!!"
Suara teriakan rain menggema.
***
Dewa menghampiri Reyhan yang sedang menyendiri."Rey lo kenapa?"
"Gapapa"
Dewa menghela nafasnya kasar."rey jangan gini, kita ini sahabat. Sudah seharusnya sahabat saling mempercayai. Sekarang cerita masalah lo sama gw!" Paksa dewa.
Reyhan mendongak menatap bulan yang bersinar terang ditemani bintang yang selalu ada di sekelilingnya."gw salah, selama ini gw salah"
__ADS_1
Dewa diam memberikan ruang untuk reyhan mencurahkan semua bebannya."gw gak tau ternyata orang yang selama ini gw benci gak salah. Gw terlalu menutup mata sampai kebenaran yang nyata pun bisa lewat."
"Awalnya gw menjauh dan dia juga ikut menjauh, gw mikirnya dia menjauh karena kesalahannya itu dan gw gak pernah mikir kalau dia ikut menjauh karena gw yang menjauh darinya."
"Gw emang benci sama dia tapi gw gak pernah rela dia disakiti oleh siapapun. Gw juga gak rela dia dekat dengan pria lain, dada gw sesek wa. Gw satu-satunya laki-laki yang dekat dengan dia! Bisa lo bayangin sakitnya gw saat dia tertawa dengan pria lain selain gw."
"Disaat hati gw pengen balik kek dulu lagi tapi ego dan rasa benci gw gak ngijinin gw. Gw selalu tanamin rasa benci meskipun ujungnya hati gw yang sakit"
"Hingga masuk SMA, dia perlahan kembali mendekat tapi dengan tatapan mata dan penampilan yang berubah drastis. Dia seakan bukan dirinya, sifatnya yang suka membuli orang lain terutama adiknya sendiri. Itu semua buat gw muak. Apalagi dengan lontaran kata cinta nya itu."
"Tapi sekali lagi gw tutup mata tak ingin tahu apa alasannya melakukan itu semua. Hingga akhirnya orang lain yang buat gw sadar. Gw nyesel wa gw nyesel, kenapa gak dari awal gw nyari tahu inti permasalahannya."
Dewa sekarang tahu, sahabatnya tengah membicarakan rain dan tengah menyesali perbuatannya itu. Iya sih perlakuan buruknya pada rain selama ini sangat tidak manusiawi, tapi disatu sisi rain juga salah. Tidak seharusnya ia melakukan hal-hal memalukan untuk menarik simpati Reyhan. Intinya mereka berdua yang salah!! Bukan dirinya!.
"Huh masalah lo emang berat rey, gw gak tahu kesalahan apa yang buat lo benci sama dia tapi untuk kasus ini lo emang salah. Harusnya lo selidiki dulu sebelum menuduh seseorang. Dan di satu sisi dia juga salah karena tidak seharusnya dia melakukan hal-hal memalukan untuk mendekati mu. Jadi disini kalian berdua yang salah."
Reyhan menatap dewa yang sedang menatap api unggun di depannya.
"Saran gw, lebih baik kalian saling memaafkan dan kembali memulai dari awal. Jika memang diantara kalian ada rasa cinta, sebaiknya ungkapkan dengan benar tapi kalau sebaliknya lebih baik kalian berdua menjalin hubungan sebatas teman atau kembali menjadi sahabat seperti dulu."
"Lakukan sebelum salah satu diantara kalian pergi. Gw bukannya nyumpahin salah satu dari kalian mati tapi umur tidak ada yang tahu. Terkadang hari ini kita masih melihatnya tapi besok dia sudah tiada. Lakukan selagi masih bisa"
Suara teriakan memotong perkataannya."BERENTI SETAN!!!"
Reyhan sontak berdiri."itu suara rain!"
"Jangan-jangan ada masalah" balas dewa.
Keduanya berlari memasuki tenda PMR. Sontak keduanya terkejut dengan vera yang terus memukul rain dengan sebilah bambu. Keduanya segera memisahkan vera dengan rain.
Reyhan memeluk rain guna menenangkannya. Sedangkan dewa tengah memberikan pelajaran kepada vera.
"Lo apa-apaan sih ha?!! Lo gak sadar apa yang lo lakuin bisa ngerenggut nyawa orang lain!. Gw gak habis pikir ya sama otak udang lo itu."
"Itu pantas buat jal*ng seperti dia, dia udah ngerebut reyhan. Sudah sepantasnya dia mati!"
Plak
"Lo emang gak tau diri ya!, setelah rain selamatin lo dari reyhan, sekarang lo pengen bunuh dia! Tak tahu terimakasih."
__ADS_1
"Seharusnya lo sadar, kalian berdua putus karen salah lo sendiri. Cewek bermuka dua kek lo emang pantes di putusin"
Setelah itu dewa menarik tangan vera keluar dari sana. Sebelum itu dia mengambil bambu yang dipegang vera.
"Tenang ada gw disini" Reyhan masih berusaha menenangkan rain yang entah kenapa langsung terisak setelah menerima pelukan dari reyhan.
"Hiks hiks"
Tangan reyhan mengelus rambut rain dengan lembut. Sesekali memberikan kecupan singkat di dahinya.
Rain semakin terisak akan perlakuan Reyhan. Tidak! Ini bukan perasaannya! Ini pasti perasaan dari rain yang asli. Rain yakin!
"Rey..." Lihat sekarang mulutnya bergerak sendiri, tubuh rain di luar kendali.
Reyhan semakin mengeratkan pelukannya."Gw disini jangan takut" setelah beberapa saat Reyhan merasa rain mulai tenang.
Reyhan mengangkat tubuh rain dan merebahkan nya di tempat yang awalnya ditempati vera berbaring.
"Bentar gw obatin tangan lo" reyhan mulai membersihkan luka rain dan mengobatinya. Sesekali reyhan tertawa karena rain tak pernah membuka matanya, seolah gugup menatap padanya.
Rain menutup matanya tak ingin melihat Reyhan. Karena jujur tubuhnya seakan tak terkendali. Jantungnya berdetak kencang. "Sialan lo rain!!! Tubuh lo murahan banget sialan!! Keluar gak lo!"
"Gw gak mau!" Balas suara itu. Ya! sekarang arwah rain Gilbert tengah memasuki raganya.
"Asu! Bukannya lo udah tenang disana?! Kenapa lo balik lagi?"
"Siapa bilang? Gw selama ini di samping lo tuh, lo aja yang gak nyadar"
"Setan lo rain!!"
"Btw gw arwah bukan setan"
"Bodo"
Rain meringis dalam hati. Bisa-bisanya selama ini rain asli berada di dekatnya tapi tak pernah membantu apalagi menceritakan masa lalunya.
"Setan sialan!"
...Tbc....
__ADS_1
Enaknya vera di apain?