Antagonis Or Protagonis

Antagonis Or Protagonis
25. Dia kembali


__ADS_3

Tiga tahun telah berlalu sejak kematian rain. Perubahan besar terjadi di setiap hidup orang yang ditinggalkannya. Termasuk kehidupan kedua ibu dan anak yang terbilang mewah.


Kini Reyhan telah menjadi CEO di perusahaannya. Meskipun telah menjadi CEO, Reyhan masih melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. Begitu pula dengan para sahabatnya dan para sahabat rain.


Tony dan leon memilih melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Mereka memilih meninggalkan tempat dimana kenangan rain berada. Bukannya mereka ingin melupakan rain tapi hati mereka tak sanggup mengingat tiap detik waktu yang mereka lewati bersama rain. Rain masih ada didalam hati mereka semua.


Dewa dan jessie memutuskan menjalin hubungan satu tahun lalu.


Aliya dan eka masih memilih menjomblo. Alasannya sangat simpel. Semua pria 'jelek'. Mendengar alasan tak senonoh dari keduanya membuat jiwa para sahabat Reyhan tersentil. Jika wajah mereka saja dikatakan jelek lantas bagaimana dengan wajah orang di bawahnya.


Mereka semua memutuskan untuk berteman setelah kepergian rain. Mereka sering berkumpul di cafe milik kakak Reyhan. Masih ingan dengan Randi? Ya dia adalah pemilik cafe tempat rain bekerja dulu.


"Bagaimana kalau hari ini kita ngumpul? Lumayan buat ngurangin stres karena tugas" ujar eka sambil memakan makanan yang dipesannya tadi.


Jessie hanya berdehem menanggapi."Hm"


Aliya menatap sekeliling kantin mencari sosok Reyhan dkk."mereka belum dateng ya?"


Eka ikut melihat ke sekeliling."ho'oh tumben banget mereka telat. Pacar lo kemana jes?"


"Entah" keduanya menghela nafas. Sejak kepergian rain, sifat dingin jessie makin menjadi-jadi.


"Gw chat si kudaniel ajalah. Ngasih info, udah mau bel ini." Eka mengambil ponselnya lalu mencari nama kudaniel. Mengetik pesan dan mengirim nya.


Kudaniel


Online


Nanti ngumpul di tempat biasa ✓✓


Ok


Read.


Eka mematikan ponselnya kemudian menyimpannya."si kuda bilang ok".


Jessie dan aliya mengangguk kemudian melanjutkan makannya.


Kriing kringg


Suara bel bergema di seluruh penjuru kampus. Eka buru-buru menghabiskan makanannya lalau meneguk habis jus jeruk yang dipesannya.


"gw duluan!, hari ini jadwalnya si dosen killer! Bay sampai ketemu di tempat biasa." Eka berlari menuju kelasnya.


"Kalo gitu gw juga duluan jes"


Jessie mengangguk. Kini tersisa dirinya, tangannya beralih memegang kalung dengan liontin berbentuk awan. Itu kalung milik rain. Jessie sudah memakainya selama 3 tahun belakangan ini.


"Andai lo ada di sini ra" setelah mengucapkan itu jessie beranjak menuju kelasnya.


Mereka bertiga memilih jurusan yang berbeda. Jessie memilih jurusan psikologi, aliya jurusan kedokteran dan eka yang memilih jurusan kesenian.


***


Mereka semua kini telah berkumpul di tempat biasa mereka bertemu. Tersisa dua orang yang belum datang.

__ADS_1


Bima mendengus."kebiasaan banget makai jam karet, bilangnya jam segini datangnya jam segitu."


"Jessie telat, orang tuanya pulang hari ini." Ucap dewa. Mereka mengangguk paham.


"Reyhan gimana?" Tanya zein.


"Lagi ada urusan di kantor. Biasalah CEO muda kek dia tuh sibuk" timpal Daniel, menunjukkan room chatnya dengan Reyhan.


"Sebaiknya kita pesan makanan terlebih dahulu" ujar aliya.


Eka berseru semangat."nah ini yang gw tunggu!, dari tadi kek!! Udah laper nih" daniel mendelik.


"Dasar maniak makan"


"Diem lu kuda!"


Daniel mendengus tak terima. Selalu saja seperti ini. Hei namanya itu Daniel bukan kuda!, Masa ganteng ganteng gini di panggil kuda!.


Teman-temannya hanya menertawakan mereka berdua.


***


Jessie berlari sambil menatap jam di pergelangan tangannya tanpa memperhatikan jalan di depannya. Hingga kejadian tak terduga terjadi. Dirinya menabrak seseorang.


Bruk


"Really? Disaat seperti ini?" Batinnya tak percaya, dirinya dikejar oleh waktu. Bisa-bisa Eka menyembur nya dengan ocehan tak berguna karena telat datang.


Jessie jongkok membantu perempuan dihadapannya mengumpulkan buku "Maaf, gw gak liat" ucapnya.


Sebentar! Jessie mengenali suara ini. Tapi tidak mungkin! Ini pasti cuma khayalan nya. Jessie menggeleng menghilangkan pemikiran anehnya.


Perempuan itu khawatir saat melihat Jessie menggeleng kecil."mm lo gak papa kan?" Ujarnya khawatir.


Sekali lagi jessie mendengar suara itu."sadarlah Jessie! Rain sudah tiada!!". Ia segera berdiri dan memberikan buku ditangannya pada perempuan di hadapannya.


Bak adegan slow motion, jessie melihat tepat ke arah mata perempuan di hadapannya.


Deg


Siapapun tolong sadarkan jessie sekarang. Jika perlu tampar saja wajah cantiknya itu. Bagaimana mungkin dia bisa melihat rain berdiri tepat dihadapannya.


"Rain?" Ucapnya ragu-ragu.


Gadis dihadapannya mengernyit heran. Darimana dia mengetahui namanya."lo kenal gw?"


Jessie terbelalak. Jadi benar gadis dihadapannya rain, tapi ia tidak boleh percaya begitu saja. Bisa jadi ini hanya halusinasi nya.


"Rain Gilbert?"


Sekali lagi gadis itu mengernyit bingung. Siapa rain Gilbert? Namanya memang rain tapi bukan rain Gilbert. Namanya hanya 'rain'.


"Maaf nama gw cuma Rain"


Jessie diam tak membalas. Ia hanya diam memandang gadis dihadapannya dari kaki hingga kepala. Benar-benar persis dengan rain dulu. Bedanya gadis dihadapannya berambut panjang sedangkan rainnya berambut Pendek.

__ADS_1


Merasa tak mendapat balasan, gadis yang mengaku rain memutuskan untuk pamit."kalau tidak ada lagi, gw pergi dulu dan sekali lagi maaf atas tabrakan nya."  Rain berlalu melewati jessie.


Jessie menoleh kebelakang melihat kepergian gadis itu. Tangannya mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar gadis itu dari belakang.



(Anggap aja lagi bawa buku)


Setelah itu jessie berlari dari sana menuju cafe tempat para anak anjing berkumpul.


Rain kini tengah berada di seberang ******. Ia kembali menoleh ke arah tempat kejadian tadi. Tapi gadis yang tidak diketahui namanya telah menghilang. Rain menemukan kalung dengan liontin berbentuk awan di sela sela bukunya. Rasanya ia pernah melihat kalung itu, tapi dimana?


Akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikan kalung itu pada gadis tadi."perginya ke arah sini kan?" Ucapnya menatap lurus ke depan. Langkah kakinya menuntunnya menuju cafe.


Di dalam cafe


Semua tertawa saat daniel melontarkan candaan. Namun tawa mereka harus berhenti kala jessie masuk dan menggebrak meja mereka.


Brak


"Monyet latah"


"****** lo bau kuda"


"Makanan gw!!" Eka berteriak saat makanan yang harusnya masuk kedalam mulutnya kini terjatuh begitu saja.


Semua perhatian kini tertuju padanya.


Dewa menatap kekasihnya heran. Tangannya menarik lengan jessie agar duduk disampingnya kemudian memberikan jus pesanannya yang tersisa setengah, pacarnya itu terlihat habis berlari.


Jessie menyedot habis jus milik dewa tanpa rasa jijik dengan bekas pacarnya itu. Tangannya meletakkan gelas itu sedikit keras.


Tak.


Dewa mengelus punggung jessie Untuk menenangkannya."kenapa?" Ucapnya setelah dirasa jessie sedikit tenang. Semua mata kini tertuju padanya.


"Kalian gak akan percaya sama apa yang gw lihat hari ini"


Eka menganga tak percaya. Telinganya tidak bermasalah kan? Jessie mengucapkan lebih dari dua kata."Jes lo"


"Jangan bicara"


"Gw liat rain!!!" Serunya. Jessie yakin mereka semua tidak akan percaya."dan ini buktinya" ia menunjukkan foto rain yang diambil tadi.


Semua terdiam, dilihat dari belakang gadis itu memang mirip dengan 'rain' mereka. Tapi kembali pada kenyataan bahwa 'rain' mereka telah tiada.


Aliya menghela nafas berat. Pasti sahabatnya itu berhalusinasi bertemu dengan rain."jes itu buk-" perkataannya berhenti kala mendengar suara yang sangat ia kenali.


"Permisi"


...Tbc....


...Itu beneran rain apa bukan ya?...


...Sampai jumpa di part selanjutnya. Jangan lupa tekan JEMPOL!!!!...

__ADS_1


__ADS_2