Antagonis Or Protagonis

Antagonis Or Protagonis
19. Pembantaian & Masa lalu


__ADS_3

Happy reading


_____________________________


Di sebuah ruangan yang penuh dengan alat-alat tajam, bau busuk yang menyengat hidung, potongan tubuh manusia dan terakhir teriakan dari orang orang yang berada di sana.


Suara pintu berderit menandakan seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut. Cahaya bulan yang menjadi penerang memberikan sedikit kesan horor di setiap langkah yang diambil oleh orang itu.


"Berapa?" Suara dingin bak setan mengalun seram di ruangan yang tiba-tiba mendadak sepi.


"Tu-tujuh puluh lima orang tersangka tuan"


Orang itu mengangguk paham."keluar" saat perintah terucap, seluruh orang berbaju hitam dan berbadan kekar langsung keluar dari ruangan mematikan itu.


"Lets play the game all" ucapnya sambil tersenyum smirk. Kaki jenjangnya melangkah ke dalam sel dan menarik salah satu pria berumur 30 tahun keluar dari sana.


Pria itu di ikat pada kursi yang memiliki besi runcing di setiap sudutnya dan itu berhasil membuat tubuhnya tertusuk di berbagai tempat.


"Akhh tolong"


Pria sadis itu bertanya tanpa menggubris perkataan si pria yadi."Berapa lama kau bermain dengannya?"


"Apa yang kau maksud? B-bermain dengan siapa?"


"Berapa lama kau menikmati tubuhnya sialan!" Teriak pria itu murka.


"Siapa yang kau maksud hah?!"


"Rain Gilbert, apa kau lupa dengan salah satu ****** mu itu hah!" Reyhan memberikan goresan pada tangan pria di hadapannya.


"Shh aku tak kenal dengannya siala-ukhuk" Reyhan langsung menikam perutnya.


"Jangan berbohong atau kau akan tau akibatnya pak tua brengsek"


"Aku tidak tahu siapa rain Gilbert akhhhh" teriakannya menggema, membuat 74 pria di dalam sel ketakutan. Tangan kirinya terpotong dan pelakunya adalah Reyhan.


"A-aku berkata ju-jur akhhh" kini tangan kanannya yang terpotong.


"K-kau ukhuk k-au monster"


Crash


Kepalanya terpisah dari badannya."tidak berguna" reyhan mengambil kepala pria yang di bunuhnya kemudian mengambil kawat panjang dan menggantung kepala itu di langit-langit ruangan. Darah segar masih menetes dari kepala itu.


Tatapan tajam reyhan beralih pada sel di belakang kursi tempat si pria tadi."ku beri kalian keringanan. Tapi jawab dengan jujur" semua orang mengangguk ketakutan.


"Berapa lama kalian menikmati tubuh rain Gilbert?"


Salah satu di antara mereka mengangkat tangan."a-aku akan menjawab"


"Kemari dan jelas kan"

__ADS_1


"Jawab dengan jujur atau kau akan berakhir seperti dia" tunjuknya pada kepala yang tergantung dengan mata melotot.


"Ha-hari itu kami be-bertemu, gadis itu sedang mabuk d-dan aku mengambil ke-kesempatan lalu membawanya ke kamar mandi. Kami me-melakukannya di sana." Tangan reyhan mengepal kuat mendengar penjelasan pria di depannya.


Pria itu tersenyum mesum melupakan kematian telah di depan matanya."dia sangat sempit tapi itu menggairahkan dan suara ******* nya sangat memabukk-,ukhuk" pria itu batuk dengan darah yang keluar dari mulut nya.


"A-apa y ukhuk yang k kau lakukan" pandangannya menatap tangan reyhan yang menusuknya dengan belati tepat di bagian jantung.


Reyhan semakin menekan belatinya."ukhuk k-kau!"


Reyhan mencabut belatinya dan kembali menusuk jantung pria yang sudah terbaring di lantai. Tusukan demi tusukan mayat pria itu dapatkan namun reyhan seakan belum puas dan masih terus melakukan aksinya.


Wajahnya terciprat darah dan itu sangat menyenangkan baginya. "Hahaha hahaha hahaha berani sekali kau menyentuhnya" tawa kesetanan reyhan terdengar begitu menyeramkan.


Di luar sana bahkan para bawahan reyhan bergidik ngeri merasakan aura bosnya yang menguar sampai keluar.


Satu jam telah berlalu, ruangan itu kini telah di penuhi mayat yang tak berbentuk. Ada yang matanya berada di mulut, badan yang habis di cincang halus bahkan ada yang badannya terpisah tapi masih hidup, pria itu berusaha menyatukan tubuh bagian bawahnya dengan perutnya. Namun reyhan menyadari nya dan segera menebas kepala orang itu.


Dari 75 pria kini tersisa satu pria yang cukup terbilang muda. Usianya sekitar 23 tahun. Pria itu tersenyum miring melihat Reyhan. Tanpa di suruh pria itu maju dan berbicara semaunya.


"Kenalin gw Stefan dan lo tau gw orang pertama yang merasakan milik rain." Reyhan menatap nyalang kearah nya.


"Hahaha gak usah natap gw kek gitu dong. Lo bukan siapa-siapa nya rain, jadi gak usah sok!"


"Lo ngebunuh mereka semua cuma karena dia. Emang dia siapa lo? Pacar? Tunangan? Oh atau suami?" Stefan tersenyum mengejek. Tangannya merogoh saku celananya guna mengambil ponselnya.


Dengan santainya mengotak Atik ponselnya. Tangannya terangkat memperlihatkan gadis yang tengah berbaring tanpa busana dengan selimut menutupi tubuhnya. " Cewek ini kan yang Lo maksud"


Gadis di foto itu memang rain. Mereka bertemu di sebuah hotel, rain saat itu dalam keadaan mabuk. Eitss jangan berfikiran negatif dulu. Di sana ada jessie,aliya dan eka, so gak perlu khawatir.


Waktu itu tengah malam dan rain dalam keadaan mabuk, ketiga sahabatnya memilih menyewa hotel untuk mereka beristirahat setelah pulang dari club, di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Stefan. Stefan merasa kasihan pada ketiga sahabat rain yang kesusahan membawa rain. Dengan inisiatif nya sendiri stefan menawarkan bantuannya pada mereka bertiga.


Awalnya jessie menolak keras namun dengan bujukan aliya dan eka, jessie akhirnya menyetujui.


Sesaat setelah mereka memasuki kamar hotel, Stefan merebahkan rain dengan perlahan kemudian pamit undur diri.


Namun stefan ditahan oleh Aliya, aliya terlebih dahulu menyuruh nya menunggu di luar ditemani eka. Kemudian jessie dan aliya mulai membuka semua pakaian yang melekat di tubuh rain lalu menyelimuti.


Pakaian yang rain gunakan penuh dengan bekas makanan yang keluar dari mulut rain. Maka dari itu keduanya membuka baju rain setelah itu mencucinya.


Setelah dipersilahkan masuk, stefan meminta izin untuk memotret rain agar dijadikan bukti bahwa ia sedang menolong seseorang, ibunya mengirimkan pesan dan khawatir tentang nya, mereka bertiga mengangguk setuju. Tentunya dengan foto mereka bertiga.


Setelah nya eka menyiapkan teh untuk stefan. Begitu kronologi dari ceritanya. Rain itu masih suci, semua ucapan pria tadi hanya kebohongan belaka.


Kembali pada saat ini.


"Apa yang kau lakukan pada rain hah?!!" Bentak Reyhan.


"Hei apa urusan mu? Kau itu bukan siapa-siapa nya. Jadi berhenti sok peduli dengan nya. Pedulikan saja pacar kesayangan mu si vera itu." Jawab stefan dengan enteng.


Reyhan mengeraskan rahangnya."kau!"

__ADS_1


"Apa? Ingin membunuh ku seperti mereka? Silahkan! Tapi ingat satu hal, Rain tidak akan memaafkan mu dan satu lagi rahasia yang pastinya akan membuat mu merasa bersalah."stefan menjeda kalimatnya.


"Ingin ku tunjukkan?" Reyhan diam menatap tajam stefan, ia sendiri juga ingin tahu rahasia apa yang diketahui oleh stefan.


"Diam mu ku anggap jawaban"


Stefan kembali menyentuh ponselnya lalu menunjukkan sebuah vidio yang berhasil membuat Reyhan tersentak kaget.


"Bunda, rain"


Vidio itu memperlihatkan kejadian yang membuat bunda dan rain Chelsea agatha berakhir tragis.


Vidio itu berdurasi 9 menit, dimana di awal vidio di perlihatkan rain Gilbert sedang bermain seorang diri dengan boneka di tangannya. Namun dari arah lain anak perempuan mengambil boneka rain dan melemparnya ke tengah jalan.


"Vera! Itu boneka ku! Kenapa kau melempar nya!" Teriak rain Gilbert.


Plak


"Hei anak ******, beraninya kau berteriak di depan anakku."


"Kalau kau sangat menyayangi boneka mu itu kenapa tidak kau ambil saja disana hah?!" Ibu vera menarik tangan rain dan mendorongnya ke tengah jalan yang sedang ramai akan pengendara.


Tak jauh dari sana rain Chelsea Agatha, jessie,aliya dan eka melihat kejadian itu. Rain terlebih dahulu berlari ingin menyelamatkan rain Gilbert.


Satu dorongan kuat berhasil menyelamatkan nyawa rain Gilbert tapi gantinya rain Chelsea yang akan tertabrak mobil.


Seorang wanita berumur juga berlari ingin menyelamatkan rain Chelsea namun naas saat tangannya berhasil memeluk tubuh rain Chelsea disaat itu pula mobil menghantam tubuh keduanya.


Tak cukup satu hantaman, tubuh mereka kembali dihantam oleh motor dari belakang hingga si pengendara ikut terjatuh.


Rain Gilbert bergetar ketakutan, kejadiannya tepat didepan matanya sendiri. Mulutnya terasa keluh untuk mengucapkan satu kata.


"Cih kenapa bukan dia yang di tabrak. Susah-susah aku menyewa orang untuk membunuhnya." rain mendengar suara itu, ia tahu betul siapa pemilik suara itu. Suara itu adalah suara ibu tirinya. Ibu dari vera.


"BUNDAA RAINNN" teriaknya histeris.


Vidio berakhir dengan dibawanya kedua jasad bunda reyhan dan rain Chelsea agatha.


Reyhan tersungkur di tengah mayat yang telah di bantainya."dimana, DIMANA KAU MENDAPATKAN VIDIO ITU SIALAN!" teriaknya frustasi. Ternyata selama ini ia salah.


"Cukup mudah untuk orang yang memiliki otak pintar seperti ku, disana bukan hanya ada taman atau pohon. Disana ada parkiran mobil dan kau tau sendiri mobil mempunyai cctv-nya."


"Aku memang tidak mengenal rain lebih jauh lagi, tapi mendengar kisah rain yang begitu pahit dari ketiga temannya, tanpa pikir panjang aku mulai mencari bukti dan terutama pemilik mobil yang ada di parkiran itu tiga tahun lalu. And see buktinya ada di tangan ku"


"Sebelum membenci seseorang apalagi itu adalah sahabat kecil mu ada baiknya kau mencari bukti-bukti tanpa harus membuat hidup seseorang menderita seperti itu apalagi rain adalah perempuan."


"Oh dan satu lagi, rain belum pernah disentuh laki-laki. Jadi pembantaian yang kau lakukan hari ini hanya sia-sia karena rai masih suci!!"


Setelah penjelasan panjang kali lebar, dengan santainya stefan keluar dari ruangan menjijikkan itu.


"Penyesalan tidak akan membuat kesalahan terhapus begitu saja. Hati dan mental seseorang yang kau rusak tidak akan sanggup menerima maaf dari mu."

__ADS_1


"Semua yang lo mau udah gw lakuin van. Sekarang sisanya ada pada mereka berdua" Batin stefan tersenyum misterius.


__ADS_2