
Setelah kejadian di UKS, Rain benar-benar menghindar dari Reyhan mau itu di apartemen,kelas,kantin atau dimanapun. Ia akan menjauh jika tak sengaja melihat Reyhan dari kejauhan.
Dan belakangan ini rain terus dihantui oleh mimpi buruk. Suara teriakan yang bisa membuat jantungnya berdegup kencang. Hanya karena mimpi itu ia jadi sering begadang bahkan hampir tak pernah tidur hingga pagi.
"Hei kau melamun lagi?" Rain tersentak saat tangan seorang perempuan menepuk pundaknya."maaf kak"balas rain.
"Kak Sandra udah selesai?" Tanya rain menatap pelayan yang telah membantunya seminggu yang lalu. Ia menjadi dekat dengan sandra setelah seharian bekerja di cafe yang sama.
"Belum, hari ini pelanggan sangat padat. Kaki ku serasa copot gara-gara bolak balik hufft" balas Sandra.
"Kak sandra istirahat aja dulu. Sisanya biar aku yang urus" rain mengambil nampan dari tangan Sandra.
"Makasih"
"Ok. Aku keluar ya kak" pamit rain, ia keluar dan berjalan menuju meja para pelanggan untuk menanyakan pesanan mereka.
"Silahkan di tunggu pesanannya mba, mas" rain memberikan senyuman terbaiknya dalam melayani pelanggan dan hal inilah yang membuat para pelanggan nyaman datang ke cafe ini. Sambutan hangat selalu mereka terima saat datang ke sini.
Rain memasuki dapur dan memberikan daftar pesanan kepada Refa."kak ini"
"Taroh aja disana"balasnya.
Srek
Rain merobek kertas dan menempelkan pada papan yang memang khusus untuk daftar pesanan.
Skip malam hari.
Hanya tersisa beberapa pelanggan lagi dan setelah itu pekerjaannya akan selesai. Rain terus memperhatikan gerak gerik mencurigakan dari salah satu pengunjung cafe.
"Mencurigakan" gumamnya.
Di meja bagian sudut terlihat perempuan dan laki-laki yang jika dilihat mirip pasangan pada umumnya namun rain justru curiga dengan laki-laki yang terus menerus menarik sang perempuan agar mendekat padanya sedangkan si perempuan memasang wajah biasa saja namun tangannya seakan memberikan kode meminta bantuan.
Matanya menatap si perempuan dan tanpa sengaja si perempuan juga melihatnya. Si perempuan memberikan kode melalui matanya pada rain namun rain malah berlalu masuk ke dapur. Si perempuan terserang panik, salah satu harapannya telah pergi. Ia sekarang pasrah saat laki-laki itu terus menarik tangannya mendekat.
Tangan nakal si laki-laki sudah siap beraksi namun terhenti kala seseorang meletakkan pesanan dengan sedikit keras. Si perempuan mendongak menatap Rain yang tersenyum padanya.
"Eh? Lo... astaga gw kangen banget sama lo" Rain menarik si perempuan ke dalam pelukannya.
"Tolong, dia pengen nyulik gw. Nama gw luna" bisik luna pelan. Ternyata dugaan rain benar,ia melepaskan pelukannya." Lo kemana aja lun?"
"Gak kemana-mana kok, gw cuma lagi malas keluar rumah akhir-akhir ini"
Si laki-laki menatap kedua perempuan di hadapannya bingung, ia tak menyangka kalau mangsanya memiliki teman disini.
"Owh. Itu pacar lo?" Si laki-laki memberikan tatapan seolah mengatakan rain 'pengganggu'. Pandangannya beralih saat luna juga menatapnya, dia sedikit memberi ancaman pada tatapannya.
"Bukan! Dia cuma orang yang gak sengaja ketemu di jalan terus ngajak pergi bareng" secara tidak langsung luna mengatakan kalau laki-laki itu adalah seorang penculik.
Si laki-laki ingin membuka suara tapi rain terlebih dahulu menarik luna pergi dari sana."gw pinjem sahabat gw dulu ya! babay orang asing!!" Teriak rain sedikit keras. Ia menarik luna memasuki ruang istirahat.
"Hufft lo gak papa kan?" Helaan nafas lega keluar dari mulutnya. Luna mengangguk." Gak papa, makasih ya lo udah nolongin gw"
__ADS_1
"Iya sam-"
"Eh ada apa ini" sandra datang dari arah belakang di temani refa. Rain dan luna berbalik."dan siapa ini?" Tanya refa.
"Ini luna kak, dia korban penculikan." Balas rain.
"Ya ampun lo gak papa?" Refa bertanya dengan khawatir. Luna hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.
"Terus pelakunya dimana?" Tanya sandra menatap rain.
"Di luar kak. Aku udah lapor polisi mungkin sebentar lagi mereka datang" ujar rain. Saat masuk ke dapur tadi,ia hanya menghubungi polisi setelah itu ia keluar menolong luna.
"Syukurlah kalau gitu. Lebih baik kau duduk dulu" ucapnya pada luna. Mereka bertiga berjalan menuju sofa namun tidak dengan rain, ia menatap sekeliling mencari air untuk diberikan pada luna.
Rain melangkah mendekati pintu, mengintip melalui kaca kecil yang ada di sana, para pelanggan telah pergi tersisa si penculik yang terus menatap ke arah pintu."kenapa ra?" Tanya Refa.
"Gak papa, gw keluar bentar ya" tanpa menunggu jawaban rain membuka pintu dan berjalan dengan santai menuju dapur.
"Kak penculiknya masih ada di depan, dia bawa senjata tajam" ujar luna menatap sandra dan Refa. Keduanya melotot kaget."APA!"
Sementara di luar, si penculik mengikuti rain menuju dapur. Ia mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Rain tidak menyadari bencana di belakangnya, ia pikir dengan ber'akting santai dapat mengurangi kecurigaan si penculik namun ia salah.
Tangan rain menuangkan air ke dalam gelas lalu meminumnya, saat minum ia melihat pantulan seseorang yang sedang menodongkannya pisau dari cermin yang berada di rak lemari.
Prang
Gelas di tangannya terjatuh dan dengan spontan tangannya mengambil wajan penggorengan di dekat teko air dan langsung memukul kepala si penculik dengan keras. Rain berlari menuju pintu belakang keluar dari cafe.
Bugh
"Akhh cewek sialan" teriak si penculik. Ia berlari keluar mengejar rain. Bersamaan dengan keluarnya, pintu dapur terbuka dengan keras.
Brak
"RAINN!" Teriak sandra dan Refa.
"Dia gak ada"
"Hosh hosh penculiknya juga gak ada kak" timpal luna dari arah belakang.
"Gawat!! Cepat hubungi polisi!" Refa lupa kalau rain telah menghubungi polisi sebelumnya."rain sudah menelponnya tadi" ujar sandra.
"Akhh kenapa polisi lelet banget sih" geram refa.
Di tempat lain.
"Gw kayak kenal sama tuh cewek" tunjuk bima ke arah jalan dimana seorang perempuan tengah berlari dengan wajan di tangannya.sedangkan tak jauh di belakang seorang laki-laki juga mengejarnya.
Ke tiga sahabatnya menoleh mengikuti arah telunjuk Bima sedangkan reyhan hanya bodo amat. Dewa mengernyit."Bukannya itu rain?" Ucapnya.
Reyhan masih tak bergeming dari posisinya.
"Ngapain tuh nelam lari-larian di malam hari" ujar daniel.
__ADS_1
"Bodoh! Lo gak liat cowok yang ngejar dia bawa senjata" celetuk Zein.
Reyhan segera melihat ke arah jalan."sial" umpatnya berdiri dan berlalu dari tempatnya.
"Woi mau kemana lo?" Tanya daniel namun tak dijawab.
Berlari dan terus berlari, hanya itu yang rain bisa. Entah kenapa ilmu bela dirinya tak berguna disaat seperti ini, mungkin efek dari terkejut."hosh hosh ber berhenti hosh" rain berhenti dan menyuruh si penculik berhenti.
"Lo gak capek hos ngejar gw ter terus hah?!" Ucap rain sedikit berteriak.
Si penjahat masih terus berlari."lo pikir gw penjahat bodoh yang kalau lo suruh berhenti bakal berhenti!!" Teriak si penculik.
Rain terbelalak."PENJAHAT KAMPRETT! MATI AJA SONO! GAK GUNA BANGET JADI PENJAHAT" teriaknya kemudian lanjut berlari."cih kenapa ni penjahat gak kayak di novel-novel sih? Kan biasanya kalau adegan kayak gini pasti penjahatnya bakal berhenti kalau di suruh. Lah ini? berenti kagak, ngejar iya. Bangsat emang" gerutunya kesal sampai-sampai ia tak memperhatikan jalan di depannya. Kakinya tersandung batu besar, gadis itu terjatuh dan kepalanya membentur pinggir trotoar, perlahan ia mencium bau amis darah, pandangannya memburam."apa gw bakal mati lagi?" Batinnya.
Sebelum kesadarannya menghilang, ia merasakan tubuhnya digendong oleh seseorang, tangannya dingin namun memberikan kehangatan yang sangat rain rindukan."bodoh" suara itu adalah suara terakhir yang ia dengar.
Reyhan menatap orang di depannya. Pandangannya dingin dan mematikan. Si penjahat kabur dan berlari ketakutan.
Reyhan kembali menatap wajah rain yang telah bersimbah darah. Cengkeramannya pada lengan rain menguat."hanya gw yang boleh buat lo terluka" gumamnya kemudian berjalan menuju mobilnya. Beruntung hari ini dia membawa mobil.
"Si rain kenapa?" Tanya dewa. Reyhan tak menjawab, ia membuka pintu mobil dan memasukkan rain kesana,kembali menutup pintu dan segera memasuki mobil. Ia mengendarai mobilnya menuju apartemennya.
Di perjalanan kepala rain terus berbenturan dengan jendela mobil. Reyhan menghentikan mobilnya dan membawa rain ke pangkuannya. Ia tak peduli dengan bajunya yang terkena noda darah, dengan kecepatan tinggi reyhan membelah jalan dan akhirnya tiba.
Di alam bawah sadarnya. Rain kembali ke masa dimana sisi menceritakan novel yang dibacanya. Dengan perasaan rindu yang teramat dalam rain memeluk sisi namun tubuhnya tak bisa menyentuh sisi.
"Nih minuman lo" ucap seseorang dari arah pintu. Rain melihat orang itu. Itu adalah dirinya. "Jadi gw cuma sebatas arwah?" Tangannya terus mencoba menyentuh sisi dan dirinya yang asli.
"Makasih rain cantik" balas sisi.
"Najisun"
"Ra, beberapa hari yang lalu gw beli novel judulnya cinta dan benci. Sumpah ceritanya bikin emosi, apalagi pas si antagonis ngerencanain pembunuhan si protagonis. Duh emosi banget gw tapi untungnya si pemeran utama pria dateng tepat waktu, dan lo tau gak ternyata pemeran prianya itu punya sedikit jiwa psikopat." Sisi menjeda kalimatnya dan meminum jus di tangannya.
Arwah rain mendengarkan dengan jelas berbeda dengan rain yang asli, ia malah memasang headset di satu telinganya.
Sisi kembali melanjutkan ceritanya."si antagonis di ikat dibelakang mobil terus di seret di jalanan berbatu dengan kecepatan tinggi. Bisa bayangin gak sakitnya kek apa? Gak sampe di situ, si pemeran pria bahkan masukin botol minuman keras ke alat vital si antagonis gak cukup satu botol aja tapi dua botol dia masukin kesana ditambah lagi kakinya juga ikut ia masukin."
"Gw gak habis pikir sama para sahabat si pemeran pria, bisa-bisanya mereka cuma jadi penonton dari kekejian itu bahkan si protagonis juga ada di sana dan yang lebih parahnya si protagonis yang bantu buka bajunya. GILA! gw yang awalnya gak suka sama si antagonis malah beralih gak suka sama protagonis dan pemeran utama pria."
"Dan yang bikin gw nangis, ternyata si antagonis yang selalu orang maki tak berperikemanusiaan dan gak punya hati itu adalah cewek yang berhati baik. Tingkahnya berubah saat kematian sahabat yang namanya mirip dengannya bersamaan dengan kematian ibu orang yang ia cintai."
"Orang orang hanya melihat rain di tempat kejadian, sejak saat itulah rain dicap sebagai pembunuh oleh Reyhan. Tak ada yang tau pasti bagaimana kejadian yang sebenarnya. Hingga akhir hidupnya pun dia tak mendapatkan cinta dari orang yang ia cintai."
"Nama antagonisnya sama kayak nama lo tapi cuma beda marga doang. Rain Gilbert, terus pemeran utama pria Reyhan langit Aldiano, pemeran protagonis Alvera. Alvera itu anak dari hasil perselingkuhan ayah rain dengan salah satu ****** di club, umurnya cuma beda setahun sama rain. Ayahnya menikahi ibu vera secara diam-diam tapi setelah rahasia mereka terbongkar, ayahnya dengan berani membawa vera dan ibunya tinggal di rumah yang sama dengan istri pertamanya. Tak berselang lama ibunya meninggal, rain semakin dirundung kesedihan apalagi ayahnya mulai membedakannya dengan vera. Dan sejak itu sifatnya semakin menjadi"
"Huftt Rain itu sekolah di SMA Galaxy. Lo tau gak rain di sma galaxy itu banyak cogannya apa lagi nih ya tokoh utamanya haduh gada yang bisa menandingi kegantengan seorang Reyhan Langit Aldiano tapi percuma ganteng kalo sifatnya keji."
"Hal yang pengen rain lakuin cuma ngembali'in reyhan yang dulu. Reyhan yang sayang dan selalu ada di dekat rain. Tapi reyhan malah memberikan penghalang dan penghalangnya itu adalah Vera adik tirinya sendiri. Reyhan gak cinta sama vera, dia cuma jadiin vera sebagai tamengnya dari kejaran rain. Reyhan pikir dengan menjadikan vera sebagai tameng, rain akan menjauh darinya tapi ia salah besar rain malah terus membully vera agar menjauh dari Reyhan. Faktor ia membully vera bukan hanya karena vera merebut reyhan darinya tapi karena seluruh kasih sayang ayahnya juga telah di rebut. Sekarang yang rain punya hanya ke tiga sahabatnya"
Sisi melihat rain yang tertidur di meja belajarnya."anak siapa sih ni? Orang cerita panjang kali lebar dia malah tidur. Pengen gw buang ke laut biar dimakan hiu sekalian."
Setelah itu arwah rain merasa seperti ditarik paksa untuk kembali.
__ADS_1
Tbc.
Votmen