Antagonis Or Protagonis

Antagonis Or Protagonis
28. mahasiswi baru


__ADS_3

Pagi yang cerah disambut dengan senyuman manis dari gadis yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Selamat pagi dunia tipu-tipu"


Kakinya beranjak menuju kamar mandi, selang beberapa menit ia keluar dengan handuk yang melilit di badannya.


Membuka lemari mencari pakaian yang akan ia kenakan. Pilihannya jatuh pada Hoodie hitam oversize, celana training hitam.


Setelah siap ia lalu berjalan ke arah cermin. Di ambilnya sedikit rambut kemudian diikat ala kuncir dua. Poninya sedikit ia rapikan. Setelahnya ia lalu Memakai lip balm.


"Perfect" ucapnya menatap pantulan dirinya sendiri.


Tangannya membuka laci mencari kacamata dan masker lalu memakainya.


Tada



Style rain


Hidung rain mencium aroma yang sangat menggugah selera makan nya. "Wih bau nya harum nih. Masak apaan lo pada?"


Revan dan stefan berbalik menatap rain yang telah siap berangkat kuliah. Ya mereka menyuruh rain untuk melanjutkan pendidikannya.


"Punya mata kan lo?" Balas stefan judes.


Rain mendelik."dih masih pagi juga, judes amat sih lo"


"Biarin"


Revan menaruh mangkok berisi sup di meja makan."udah sekarang makan habis itu kita berangkat"


Keduanya mengangguk lantas mengambil tempat kemudian memulai sarapan. Setelah nya mereka bertiga berangkat menuju kampus yang akan menjadi tempat mereka menimba ilmu.


***


Reyhan memarkirkan mobilnya di ikuti para sahabatnya. Tak menunggu lama mereka semua keluar dari mobil masing-masing.


Suara teriakan menjadi sambutan untuk mereka berlima. Suasana ini sudah menjadi hal yang tabu bagi mereka berlima, dimana setiap paginya mereka akan disoraki saat tiba. Bukan hanya di parkiran tapi kantin dan koridor kampus juga sama halnya dengan saat ini.


"KUDANIEL!"


Suara teriakan itu menghentikan langkah kelimanya. Daniel mengerang keras, ia tahu siapa pemilik suara cempreng itu. Siapa lagi kalau bukan si perut karet.


Puk


Tepukan mengenai bahu daniel."gak usah nyentuh gw lo! Najis banget gw" ucapnya kesal.


"Dih sorry ya. Gw lebih gak rela tangan mulus gw nyentuh kulit lo yang kasar." Balas eka tak kalah kesal.

__ADS_1


Memilih mengabaikan mereka berdua. Dewa menghampiri kekasihnya yang terus menatap perdebatan eka dan daniel. Di ambilnya tangan kanan kekasihnya lalu ia kecup dengan penuh kasih.


"Morning"


Jessie tersenyum tipis."to"


Aliya menunduk menatap tangan kanannya, sedetik kemudian ia juga mencium tangannya sendiri."morning" ia terkekeh setelah meniru gaya bicara dewa. Duh nasib jomblo gini amat.


Bima dan zein saling menatap setelah melihat tingkah absurd aliya."Ngapain lo?" Tanya bima.


Aliya menggeleng kecil."lagi simulasi, kali-kali kalo gw dapet pacar bisa langsung di praktekin"


"Kelamaan jomblo jadi setres"celutuk zein.


Reyhan hanya menatap datar tanpa minat untuk menimpali percakapan mereka semua. Tatapannya beralih saat mendengar suara teriakan.


"REVANJING! LO JUGA STEFANJING! BABI, MONYET LO BERDUA!!!"


"Gak usah teriak! Malu diliatin orang goblok" stefan menyeret rain sembari terus membungkuk meminta maaf kepada semua orang atas tindakan kurang ajar rain.


"Bodo! Salah lo berdua" ucapnya cemberut. Meskipun tertutup oleh masker tapi stefan dan revan tau kalau saat ini rain sedang cemberut.


"Gak usah cemberut" revan menaikkan tudung Hoodie milik rain karena gemas.


Mereka bertiga berjalan melewati tempat dimana Reyhan dkk sedang berada.


Rain melirik sekitarnya, dan memang benar saat ini mereka menjadi pusat perhatian. Duh ini baru hari pertama tapi dirinya sudah membuat malu diri sendiri. Retinanya tak sengaja bertubrukan dengan mata tajam seseorang.


"Siapa dia?" Entah takdir atau apa, mereka berdua mengatakan hal yang sama di dalam pikiran masing-masing.


"Eh mereka mahasiswa baru ya?" Tanya Aliya.


"Mungkin"


Kring kringg


Suara bel menandakan waktu belajar telah masuk.


"Yaudah kita pisah disini. Nanti ngumpul di kantin ok" ucap daniel kemudian berlari menuju gedung sebelah.


Mereka kini berpencar menuju kelas masing-masing.


***


Rain mengambil jurusan bisnis manajemen. Stefan mengambil jurusan kedokteran dan revan mengambil jurusan kesenian.


Seolah takdir ingin menyatukan kedua orang yang berbeda gender itu. Kini mereka kembali di pertemukan di dalam kelas yang sama.


Rain berjalan di belakang dosen, saat ini mereka telah memasuki kelas. Masker dan kacamata masih senantiasa menutupi wajahnya.

__ADS_1


Seluruh perhatian kini berpusat kepadanya, kecuali satu orang yaitu Reyhan.


Reyhan masih asik memandangi langit yang berhiaskan awan putih. Ia sedang mengingat rain. Dia tak sadar bahwa orang yang sedang ia pikirkan kini berdiri tak jauh darinya.


"Selamat pagi semua"


"Pagi pak"


"Hari ini kita kedatangan mahasiswa baru. Silahkan perkenalkan diri"


Rain mengangguk tapi sebelum berbicara, sang dosen menyuruh nya untuk membuka masker dan kacamata nya.


Ah rain baru menyadari ternyata sedari tadi ia belum melepas kacamata dan maskernya. Rain ingin melepaskan maskernya namun Hoodie oversize yang ia kenakan ternyata menenggelamkan tangannya. Ia lantas menatap bingung ke arah tangannya yang menghilang.



Seisi kelas menahan tangannya untuk tak mencubit pipi rain. Bagaimana bisa seseorang begitu imut di usia sekian.


Rain terkekeh kecil setelah sedikit menurunkan lengan Hoodie nya. Tangannya dengan cekatan membuka kacamata dan maskernya.


Kehebohan terjadi di ruangan itu.


"Gw gak mimpi kan? Ceweknya mirip Barbie anjing!"


"Huaa cantiknya"


"Gw insecure"


"Saingan si Catherine ini"


"Duh jiwa miper gw tersentil"


Sang dosen memijit pangkal alisnya tak kuat dengan tingkah mahasiswa nya."DIAM"


"Silahkan lanjut memperkenalkan diri"


Rain kembali mengangguk."Halo, perkenalkan nama saya rain, saya pindahan dari paris. Semoga bisa berteman baik. Terimakasih"


Dunia Reyhan seakan kembali utuh saat mendengar nama rain. Mata tajamnya menatap ke arah depan dimana rain tengah berdiri sambil tersenyum hangat.


Wajah itu, wajah itu milik gadisnya. Suara, wajah,bentuk badan semuanya persis dengan milik gadisnya.


Apakah ia bermimpi? Tidak mungkin rainnya masih hidup kan? Ingin mempercayai tapi otaknya berkata itu bukan rainnya.


Senyum miring tercetak di wajah tampannya."your mine". Tak peduli itu rainnya atau bukan yang ia tahu sekarang gadis itu miliknya.


Di tempat lain, seseorang juga tengah tersenyum miring."no... Tidak semudah itu untuk mengklaim nya sebagai milik mu. Kau harus berjuang dari awal Reyhan. Karena aku tidak akan mentolerir jika rain akan terluka untuk kedua kalinya. So selamat berjuang kembali."


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2