Antagonis Or Protagonis

Antagonis Or Protagonis
6. Pekerjaan baru


__ADS_3

Kebahagiaan awan terletak di langit tapi langit menyakitinya.


________________________________


Di tengah malam rain terus mengendarai motornya mencari apartemen yang cukup jauh dari rumahnya. Ia sedikit meringis kala lututnya Di terpa angin malam yang dingin.


Selang beberapa menit berkendara, rain akhirnya menemukan apartemen yang cukup bagus. Gadis itu masuk kemudian menyewa apartemen di lantai 9.


"Ukh ada kotak P3K gak?" Ucapnya setelah duduk di sofa apartemennya. Ia kembali berdiri dan mulai mencari kotak P3K di laci lemari. Untung saja ia menemukannya.


Perlahan ia membersihkan lukanya, memberikan obat merah dan membalutnya dengan perban.


Rain kembali menyandarkan kepalanya di sofa. Matanya menatap jam di dinding."sudah hampir jam 1, besok sekolah dan seragam gw ada di rumah. Ck kayaknya gw harus beli seragam baru" rain beranjak mengambil kunci motornya, keluar dari apartemennya menuju mall yang ia lihat di jalan tadi.


Mall 24 jam. Rain membaca nama mall itu."ada-ada saja namanya" ujarnya menggeleng kecil.


Rain memasuki mall berkeliling mencari apa saja yang ia butuhkan. Sudah setengah jam lebih ia berbelanja. Rain membeli baju seragam, beberapa pakaian, handphone,sepatu dan perlengkapan sekolah lainnya.


Selesai berbelanja gadis itu memutuskan untuk pulang.


Rain agak kesusahan menaiki motornya di tambah lagi kedua tangannya memegang tas belanjaannya.


Tiba di apartemen ia berlari menuju lift yang hampir tertutup dan boom, rain segera menunduk sebelum orang itu menyadari kehadirannya. Rain membelakangi orang itu."kenapa dia ada disini?" Batin rain bertanya.


Orang di belakang rain telah memutuskan telfonnya dan melirik rain yang membelakanginya. Pria itu tersenyum miring saat menyadari siapa orangnya, ia perlahan mendekat ke telinga rain dan membisikkan."ternyata lo gak berubah ya, masih suka ngikutin gw"


Suara dingin itu mengalun seram di telinga rain. Ia hanya memohon agar liftnya segera terbuka dan ia bisa terbebas dari tokoh utama pria.


Ting


Doa rain terkabul, pintu lift terbuka. Ia segera berlari ke arah apartemen miliknya, membuka pintu dengan tergesa-gesa seakan-akan ia telah melihat hantu.


Tak


Rain membanting pintu apartnya lalu bersandar disana."hos hosh kenapa reyhan ada disini? Apa dia juga tinggal di sini? Kalau benar gw harus pindah tapi... gw harus hemat, gw harus nyari pekerjaan secepatnya."ucapnya. Ia beranjak menaruh belanjaannya di dekat kasur lalu merebahkan tubuhnya.


"Besok aja gw beli makanannya, gw takut ketemu reyhan" matanya menutup dan mulai terlelap dalam tidur.


Di luar apartnya. Reyhan berdiri menatap pintu di hadapannya dingin, entah apa yang ia pikirkan tak ada yang tahu terutama author sendiri. Ia berjalan ke arah apartnya yang terletak di depan apart milik rain.


Pagi hari menyapa, rain telah siap dengan seragam sekolahnya. Dengan terburu-buru ia keluar dari apartemennya. Rain sengaja berangkat lebih pagi agar ia bisa menghindari berpapasan dengan reyhan.


Rain mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Ia tengah menikmati udara pagi sambil bersenandung ria.


🎶


Lantas mengapa ku masih menaruh hati?


Padahal ku tahu kau t'lah terikat janji

__ADS_1


Keliru ataukah bukan? Tak tahu


Lupakan mu tapi aku tak mau


Pantaskah aku menyimpan rasa cemburu?


Padahal bukan aku yang memiliki mu


Sanggup sampai kapankah? Ku tak tahu


Akankah akal sehat menyadarkan ku?


Oh~wo-


Tak sengaja matanya melihat ke araf depan cafe. Ia mempercepat laju motornya menuju cafe tersebut."di buka lowongan kerja" ujarnya membaca papan di pintu cafe.


Matanya berbinar, hari ini adalah hari keberuntungannya. Dengan semangat ia turun dari motornya dan masuk ke dalam cafe.


"Maaf apa lowongan kerjanya masih ada?" Tanya rain ragu pada salah satu pelayan disana.


Pelayan cafe yang terlihat lebih tua dua tahun dari rain meneliti penampilan rain dari bawah ke atas. Ia kemudian tersenyum." Masih ada, apa kau ingin melamar?" Rain mengangguk.


"Mari ikut saya" pelayan itu menuntun rain menuju ruangan bosnya.


Tok tok


"Masuk" ujar suara dari dalam.


Pintu terbuka, keduanya masuk dengan rain di belakang pelayan tadi."maaf pak saya mengantar seseorang yang akan melamar kerja" ucap pelayan itu.


Orang di hadapannya mendongak menatap ke arah rain."silahkan duduk"


Rain melirik ke arah pelayan dan dibalas anggukan kecil. Ia berjalan dan duduk berhadapan dengan orang di depannya.


"Kalau begitu saya pamit pak" bosnya hanya mengangguk kemudian pelayan itu berjalan keluar.


"Nama?" Tanya orang itu.


"Rain Gilbert" orang dihadapannya terkejut namun dengan cepat kembali menormalkan raut wajahnya.


"Kau bisa mulai kerja besok setelah pulang sekolah" ucap orang itu setelah terdiam beberapa saat.


Rain tersenyum senang, ia berfikir tidak akan di terima setelah melihat keterdiaman orang di hadapannya."terimakasih pak..."


"Randi"


"Ah terimakasih pak Randi, saya pikir tidak akan diterima. Sekali lagi terimakasih." Balas rain senang.


Randi membalas rain dengan senyumannya."kau boleh pergi sekarang nanti kau telat ke sekolah" Rain terkejut dan melihat jam tangannya. Sudah jam 07:30. Apa ia selama itu berkendara di jalan?

__ADS_1


Matanya membola dan langsung berlari dari sana tanpa pamit terlebih dahulu. Randi tertawa kecil melihat tingkahnya."Dia tak seperti yang di bicarakan" ucapnya lalu mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.


"Halo"


"Hm"


"Gw punya kabar baru dan yang pasti lo bakal terkejut" ucapnya tersenyum miring


"Hm" balas orang itu acuh.


"Ada orang yang melamar di cafe gw"


"Gak penti-"


"Rain Gilbert" orang diseberang sana terdiam beberapa saat.


"Dan kelihatannya dia gak seperti yang orang orang bicarakan, tingkahnya mirip bocil hehe" randi terkekeh pelan. Orang di seberang sana masih saja terdiam."gw nerima dia and gw rasa...gw mulai tertar-"


Tut


Sambungan telfon terputus."cih adek laknat" randi menatap handphonenya kesal.


Di luar sana setelah rain keluar ia langsung berlari tanpa melihat pelayan yang menemaninya tadi tapi sebelum ia berlalu ia sempat berteriak terimakasih pada pelayan itu."TERIMAKASIH KAK"


Rain mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju sekolahnya. Saat ia tiba gerbang sekolah telah tertutup rapat, sudah pasti ia tidak di perbolehkan masuk. Rain menatap sekeliling, ia mengendarai motornya ke arah kedai di dekat sana.


"pak saya nitip motor ya sekalian saya mau minjem kursinya" ucap rain setelah turun dari motornya.


"Sok atuh neng, kursinya mau di apain kalau bapak boleh tau?" Tanya pak Harto si pemilik kedai.


"Saya mau manjat pagar belakang sekolah pak, saya udah telat banget" jawab rain.


Pak Harto mengangguk."yaudah nanti bapak bantu"


"Makasih pak"


Rain mengambil satu kursi dan berjalan ke pagar belakang sekolahnya. Ia menaiki kursi itu dan berusaha naik ke atas pagar, setelah berhasil ia menatap ke arah pak Harto."Terimaka..akkhh" tanpa sengaja kakinya terpeleset.


"NAK RAIN!!" teriak pak harto khawatir, ia memang mengenal rain. Siapa yang tak mengenal gadis antagonis seperti dirinya.


Sementara rain, jantungnya seakan telah copot dari tempatnya. Matanya tertutup rapat menanti rasa sakit yang akan di terimanya."eh kok gak sakit" perlahan matanya terbuka, hal yang pertama ia lihat adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat tampan namun menakutkan.


Rain berontak dan berakhir terjatuh dari gendongan murid yang menangkapnya."Akhh- mmphh mphh" murid itu menariknya ke bawah pohon dan membekap mulutnya rapat.


"Diam" ucapnya dingin.


"Siapa disana?!!" Suara dari guru bk yang memang tengah berkeliling mencari murid yang terlambat. Ia berjalan ke arah suara teriakan yang sempat ia dengar.


Murid yang membekap rain, memeluk rain dengan tangan kirinya dan mulai bergerak perlahan mengelilingi pohon menghindari penglihatan guru bk.

__ADS_1


"Tak ada siapapun" guru bk itu melangkah pergi dari sana. Murid yang ternyata adalah Reyhan menunduk menatap rain yang tak lagi bergerak, satu alisnya terangkat lalu melepaskan pelukan serta bekapannya.


Rain oleng ke samping dan dengan sigap Reyhan menangkapnya."pingsan?" Tanyanya.


__ADS_2