Antagonis Or Protagonis

Antagonis Or Protagonis
7. Pembunuh?


__ADS_3

Rain terbangun di UKS, ia menatap sekelilingnya yang kosong. Ingatannya kembali mengingat dimana Reyhan yang tak memberinya kesempatan untuk bernafas."Reyhan sialan! Kalo lo mau bunuh gw langsung aja, jangan pake bekap orang sampe kehabisan nafas kek gini sialan!!" Umpatnya tak menyadari seseorang yang mendengarnya dari balik tirai.


"Gw gak akan bunuh lo dengan semudah itu dan gw pastiin orang yang gw benci mati dengan mengenaskan" suara dingin disertai nada ancaman terdengar di telinga rain.


Deg


Rain tahu siapa pemilik suara itu. Ia perlahan turun dari ranjang uks tanpa menimbulkan suara dan berjalan ke pintu. Tangannya dengan sangat pelan membuka pintu lalu menutupnya kembali setelah ia keluar.


"Lo gak bisa kabur dari malaikat maut lo Rain" ujar Reyhan menatap tas rain di genggamannya."hidup dan mati lo ada di genggaman gw"


"Gak ada yang boleh nyiksa lo kecuali gw" ucapnya tersenyum smirk. Ia menatap pintu menunggu seseorang.


Sementara itu rain dengan terpaksa kembali masuk ke dalam uks untuk mengambil tasnya. Matanya menatap pintu uks sesaat dan mulai membukanya dengan perlahan. Sedangkan Reyhan tersenyum miring menyadari kehadiran rain.


"Mencari sesuatu hm?" Rain menegang."gw gak boleh takut" batinnya. Dengan berani ia berbalik dan melangkah ke tempat Reyhan. Tangannya terulur ke depan."balikin tas gw"


"Oh udah berani?" Reyhan turun dari ranjang dan mendekati rain. Rain mundur dari posisinya."berhenti!" Tegasnya namun Reyhan malah semakin mempersempit jaraknya.


"Gw bilang berhenti bodoh!" Maki rain, punggungnya telah membentur dinding.


"Akhh" Reyhan menjambak rambut rain kuat. Rain secara spontan mendongak ke atas karena jambakan itu."ulang" ucap Reyhan.


"Gw bilang bodoh! Kenapa hah?!" Rain menatap reyhan menantang. Reyhan semakin memperkuat jambakannya. Ia melempar asal tas rain lalu mengambil sesuatu di saku celananya.


Mata rain membola."l-lo mau ng-ngapain hah?!" Bentaknya dengan gugup.


"Mulut lo sepertinya perlu di bedah" reyhan mendekatkan pisau lipatnya ke dagu rain.


Badan rain bergetar ketakutan."PSIKOPAT GILA!!" teriaknya mencoba mengontrol rasa takutnya.


Alis Reyhan terangkat dan tersenyum smirk." Lo tahu kalau gw psikopat tapi kenapa lo masih cinta ke gw hm?" Ia membelai pipi rain dengan pisau lipatnya.


"Gw. Udah. Gak. Cinta. Sama. Lo" balas rain dengan penuh penekanan. Keringat telah membasahi wajahnya. Pergerakan Reyhan berhenti."gw nyesel pernah cinta sama lo dan sekarang gw gak mau berhubungan dengan segala sesuatu tentang lo. GW GAK MAU!!!" jelas rain.


Jambakan reyhan terlepas dan beralih memegang dagu rain."lo pikir gw percaya?" Ucap Reyhan menatap rain dengan tersenyum remeh."kalaupun benar, gw gak akan pernah ngelepasin lo dari tangan gw. Setelah segala hal yang lo lakuin di masa lalu dan sekarang lo mau lepas tanggung jawab?. Pembunuh!"


Deg

__ADS_1


"Perbaiki apa yang perlu diperbaiki dan tinggalkan apa yang perlu di tinggalkan" perkataan rain yang asli kembali mengalun di pendengarannya. Rain menatap kosong mencoba menggali ingatan masa lalu rain yang asli. Ia tak rela di sebut sebagai pembunuh. Tak ada yang ia dapat. Rain semakin frustasi dan berteriak tepat di hadapan reyhan."GW BUKAN PEMBUNUH!!!"


Rain mendorong Reyhan mundur dan berlari keluar dari sana."Bodo amat dengan tas."


Ia terus berlari di koridor sekolah tanpa memperdulikan orang yang di tabraknya.


Brakk


"Astagfirullah!"


"Monyet latah"


"Buaya kampret"


Latah teman sekelasnya saat pintu ia buka dengan paksa. Sekarang tengah jamkos. Rain berlari ke bangkunya, menenggelamkan kepalanya pada kedua lengannya yang bertumpu pada meja.


Leon menatap rain heran. Ketiga sahabatnya mendekat dan bertanya padanya.


"Lo kenapa rain?" Tanya aliya


"Ck gak papanya cewek itu pasti ada apa-apanya" celetuk eka.


"Lo ada masalah?" Aliya tak menghiraukan ucapan eka.


"Gak"


"Ulah Reyhan" timpal jessie. Rain tak menjawab, jessie mengerti.


"Dia ngapain lo?" Rain masih tetap bungkam. Aliya menatap punggung rain." Tas lo kemana?"


"Uks"


"Gw ambilin" ucap leon."gw ikut" timpal Jessie. Ia yakin ada sesuatu yang tidak beres di uks.


Keduanya pergi meninggalkan mereka bertiga.


Rain mendongak menatap aliya dan eka bergantian."gw beneran pembunuh?" Tanya rain. Aliya dan eka terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba rain.

__ADS_1


"Gak! Lo bukan pembunuh rain" balas eka


"Siapa yang bilang gitu? Reyhan?" Tanya aliya. Rain terdiam beberapa saat."Gw pengen tahu masa lalu gw" ucapan rain membuat keduanya terserang panik.


"Jes kita harus gimana?" Batin keduanya.


"E..ah itu... Masa lalu lo baik-baik aja gada yang aneh sebelum kejadian itu terjadi" ucap eka dilanjutkan dalam hati, ia menatap aliya meminta bantuan.


Disisi lain. Leon dan Jessie telah berada di dalam uks. Jessie menatap reyhan yang tengah berbaring di ranjang uks. Amarahnya seakan meluap. Ia meraih kerah baju Reyhan."apa yang lo lakuin ke rain hah?!"


"Gw cuma bilang.." jeda Reyhan."dia pembunuh" bisiknya tepat di telinga jessie. Tangan jessie terkepal kuat bersiap menghantam wajah Reyhan namun dengan cekatan reyhan menangkapnya dan mencengkeramnya kuat.


Jessie menatap dingin ke arah reyhan." Dia bukan pembunuh"


Sementara leon menatap keduanya bingung."pembunuh? Siapa?" Batinnya. Ia segera bergerak menarik jessie saat reyhan semakin memperkuat cengkraman tangannya.


"Udah jes, tasnya udah gw ambil. Mending kita balik ke kelas" ucapnya.


"Brengsek" umpat jessie ke Reyhan. Reyhan tak ambil pusing dan kembali merebahkan tubuhnya."dia memang pembunuh" gumamnya kembali mengingat masa lalunya.


"Reyhan! Rain! Aku ada sesuatu buat kalian" teriak anak berumur 14 tahun.


"Apa?!" Balas keduanya teriak."kalian semua ayok kesini!" Balas anak itu lagi.


Rain, Reyhan dan ketiga sahabat rain yan tak lain jessie, aliya dan eka. Menghampiri anak itu.


"Ada apa rain" tanya rain bingung. Anak yang ternyata juga bernama rain segera menunjuk awan yang sangat indah."awannya sangat indah kan" ucapnya tersenyum.


Reyhan masih ingat dengan jelas senyum itu, senyum wanita yang paling ia sayangi setelah senyum ibunya namun senyum itu menghilang bersamaan dengan ibunya. Tak pernah sekalipun ia melupakan kejadian itu.


"Rain gw pasti'in lo bakal hancur di tangan gw" ucapnya menatap langit langit uks.


Dendam nya begitu dalam hingga kebencian mendarah daging, jangan untuk memaafkan melihat dia bahagia saja Reyhan tidak sudi.


Dia, dia adalah awal dari kesialan yang Reyhan terima. sejak hari itu jangankan semenit, setiap detik yang reyhan pikirkan hanya cara untuk membuat rain sengsara.


Caranya dengan menjauhi bahkan menjadikan adik nya sebagai kekasih. hahaha rain telah mengubah seorang anak menjadi kejam di usia remaja. Intinya semua ini adalah ulah rain sendiri

__ADS_1


__ADS_2