
Di malam yang sunyi ditemani sinar bulan purnama, sebuah ketukan pintu mengusik penghuni rumah yang sedang menonton TV dengan santainya.
Tok tok
Vera mengabaikan suara itu, ayahnya mengatakan jangan membuka pintu jika bukan dirinya dan ibunya yang datang.
Tok tok
Suara itu kembali terdengar namun dengan suara yang semakin keras.
Brak! Brak!
Lagi. Suara itu bukan lagi ketukan pintu melainkan suara gebrakan. Orang di luar sana mencoba masuk. Vera mulai merasa ketakutan. Matanya terus memandangi pintu masuk yang terus di dobrak dari luar. Nafasnya naik turun.
Hihihihihi cepat~ buka pintunya hihihi
Vera ketakutan setengah mati. Jangan bilang itu hantu."Siapa?!!" Ucapnya memberanikan diri.
Tak ada balasan, suara pintu yang di gedor juga berhenti. Lampu rumah tiba-tiba mati. Hanya kegelapan yang vera lihat. Jantungnya berdegup kencang.
Tangannya meraba sekeliling mencari ponselnya. Tapi ada yang aneh, benda yang dipegangnya terasa sangat dingin dan basah. Kepalanya menoleh ke samping.
"Akhhh! Pergi! Pergi!
Mata merah dengan darah yang menjadi air mata langsung menyapa penglihatannya. Vera berlari menjauh kemudian terjatuh saat kakinya tak sengaja tersandung pada kaki meja.
Bruk
'Apakah sakit?' ucap suara di belakang vera. Vera bisa mendengar suara benda bergesekan di belakangnya.
Entah kenapa sinar bulan kini memberikan sedikit penerangan di dalam rumah gelap itu. Vera bersyukur bisa melihat sekelilingnya meskipun masih gelap.
Suara badan bergesekan itu kini berada tepat di sebelahnya. Vera memberanikan diri menoleh ke samping.
Aaaaa
Mulut perempuan itu terbuka lebar dihadapan vera lalu mengeluarkan tangan yang sudah mencekik leher vera dan menariknya masuk ke dalam mulut perempuan itu.
"AKHHH IBU....TOLONG"
__ADS_1
"AKHHH"
vera menutup matanya ketakutan sembari terus berteriak.
Tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya dari belakang.
"AKHHH TOLONG AKHHH"
Orang di belakang vera terkejut saat mendengar teriakannya."hei sayang ini ibu."
Vera menggeleng cepat."tidak kau bukan ibuku, pergi! Pergi! PERGI!!"
plak
Ibunya menampar vera guna menyadarkan anaknya itu."VERA SADAR KAMU!"
Vera dengan cepat membuka matanya, hal pertama yang ia lihat. Ruang keluarga yang kosong dengan cahaya lampu menerangi ruangan itu. Buru-buru ia berdiri dan melihat sekeliling, tidak ada hantu?!. Jadi apakah ia sedang berhalusinasi? Tidak! Itu bukan halusinasinya! Itu sangat nyata untuk disebut halusinasi.
Tangannya bergetar ketakutan, ingatan saat ia memegang tangan perempuan tadi berbekas di ingatannya.
Ibu vera menatap anaknya aneh, anaknya seperti sedang mencari sesuatu dengan raut wajah ketakutan dan badan yang bergetar. Sebenarnya apa yang terjadi. Ia habis kembali dari shopping tapi hal pertama yang ia lihat setelah pulang adalah anaknya yang bersimpuh di lantai dan berteriak minta tolong.
Vera menatap ibunya."m-ma... A a ada han hantu di rumah ini. Dia ha hampir membunuhku!"
Ibu vera tak mempercayai ucapan anaknya. Apakah anaknya ini sudah gila?. "cepat kembali ke kamar mu. Kau hanya berhalusinasi! Jangan berfikir yang aneh-aneh. Cepat masuk ke kamar!!" Bentaknya.
Hanya anggukan yang vera lakukan kemudian berlari memasuki kamar miliknya ralat kamar milik 'Rain' lalu menguncinya.
Ibunya menggeleng pelan lantas ikut menaiki tangga menuju kamarnya. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara bisikan menghentikan tangannya.
'apakah kau senang telah menghabiskan uang ayah ku?'
Dengan cepat ia menoleh ke samping tapi tak ada seorang pun di sana, hanya lorong kosong tanpa ada manusia disana. Mencoba mengabaikan suara itu, ia masuk kedalam kamar dan mulai meng-unboxing barang belanjaannya.
Ada yang aneh! Perasaan barang belanjaan nya hanya 19 tapi kenapa sekarang ada 20. Senyumnya terbit, pasti pegawai di mall tadi salah memberikan barang. Dengan senang hati ia mengambil dan membukanya.
Sebuah box putih berukuran sedang dengan pita di atasnya tak lupa sebuah note tertera disana.
Teruntuk ibu rustiningsi.
__ADS_1
Terimakasih atas kunjungannya, semoga anda menyukai hadiah khusus yang kami berikan.:)
Dari manager toko
Senyumnya kembali merekah setelah membaca isi note itu. Tangannya dengan cepat membuka box dengan 'hadiah khusus' untuknya.
Deg
Matanya terbelalak melihat isi box di tangannya. Tangannya bergetar tak percaya.
"AKH!!"
Tuan Gilbert yang baru sampai terkejut mendengar suara teriakan istri keduanya. Ia dengan cepat berlari ke kamarnya. Tak disangka ia berpapasan dengan vera yang juga terlihat khawatir dengan ibunya.
Mereka berdua memasuki kamar, vera langsung menutup mulut tak percaya dengan apa yang kini tergeletak di lantai kamar milik ayahnya.
Tuan Gilbert juga sama terkejutnya. Siapa yang berani mengirim hal semacam ini kerumahnya.
"Mas itu hiks"
Bangkai kucing dengan kepala terpisah dari badan nya dan kulit yang sudah terkelupas. Disana juga ada foto vera dan ibunya.
Tangan tuan Gilbert mengambil salah satu foto kedua ibu dan anak yang sedang tersenyum ke arah kamera. Matanya dengan jelas melihat tulisan 'mati' di foto itu. Dengan cepat ia membuangnya.
"Ada apa ini? Siapa yang kalian usik? Sampai-sampai mereka mengirim teror ke rumah ini!!" Gilbert marah bukan main. Ini pertama kalinya seseorang meneror salah satu keluarganya. Pasti salah satu diantara mereka berdua sudah mengusik seseorang.
Rusti menggeleng menyangkal tuduhan suaminya."tidak mas, kami tidak pernah mengusik seseorang"
"I iya yah. Malahan aku yang sering di usik di kampus" timpal vera.
Gilbert yang awalnya sudah pusing karena perusahaan nya di ambang kebangkrutan kini bertambah pusing dengan aksi teror di rumahnya. Dengan cepat ia menghubungi polisi guna mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini.
Sementara di tempat lain, perempuan dengan mata tajamnya menatap ke arah laptop yang memperlihatkan kejadian di kediaman Gilbert.
"Ini belum seberapa. Akan ku pastikan kalian berdua mengakui kesalahan kalian sendiri. Jika tidak..."
Perempuan itu tersenyum smirk."selamat menjadi orang gila. Ibu dan adikku sayang~"
Tbc.
__ADS_1