
...Kita bagaikan siang dan malam yang hanya hidup berdampingan tanpa bisa bersama...
..._________________________...
Pagi hari menyapa, ini adalah hari pertama rain ke sekolah.
"Pagi" sapanya pada semua orang di meja makan.
"Pagi"balas mereka semua.
"Motor kamu ada di depan. Ini kuncinya dan untuk kamar kamu nanti ayah suruh tukang untuk merenovasi nya." Ucap ayahnya memberikan kunci motor pada rain.
"Hm"
Rain mengambil selembar roti tawar lalu mengolesnya dengan selai coklat setelah itu memakannya.
"Aku berangkat" ujarnya dingin. Tangannya menyalim tangan ayahnya kemudian berlalu dari sana tanpa membalas uluran tangan ibu vera.
Hal pertama yang rain lihat saat keluar adalah motor sports sesuai dengan keinginannya.
"Hello sobat. Kita akan jadi teman baik setelah ini. Dan kau akan membantuku untuk mendapatkan uang ok"
"Gw Rain Gilbert tak butuh uang dari kalian. Uang bisa datang kapan pun gw mau. Benarkan black?" Motornya sama sekali tak membalas ucapan rain.
"Ck baiklah mari kita berangkat" rain menghidupkan motornya dan berlalu meninggalkan kediamannya.
Di tengah jalan rain teringat dengan sebuah cerita yang pernah sisi ceritakan padanya. Pikirannya tertuju pada nama Rain Gilbert. Gadis itu menghentikan motornya di pinggir jalan.
"Gak mungkin kan? Nama Rain Gilbert bukan dia doang. Ya pasti bukan rain yang dicerita sisi. Itu hanya cerita semata,bukan dunia nyata." Gumamnya meyakinkan hatinya. Rain kembali membelah jalanan menuju sekolahnya.
Rain kembali menghentikan motornya."tunggu gw gak tau sekolahnya dimana. Ck kesialan apa lagi ini ya tuhan."
Gadis itu turun dari motor tanpa melepaskan helmnya. Ia duduk termangu di pinggir jalan. Dari kejauhan matanya melihat segerombol geng motor yang memakai seragam yang sama dengannya. Dengan nekat ia melompat ke tengah jalan menghalangi geng motor itu.
"STOP!" teriaknya.
Ckiitt....
Suara ban motor berdecit. Salah satu dari mereka langsung meneriakinya." Heh mau mati lo?!"
"Gak tapi hm..gw mau minta tolong boleh?" Balas rain menatap orang dihadapannya.
"Ada apa?" Tanya orang itu dingin.
"Gw...gw lupa arah sekolah hehe" balas rain.
Orang dihadapannya mengernyit, rain tidak dapat melihatnya sebab orang itu masih menggunakan helm sama sepertinya."Ikut" kata orang itu dingin.
Mata rain berbinar seketika, ia dengan cepat kembali ke motornya dan mengikuti geng motor itu yang mulai melaju.
Tiba di depan pagar sekolah, rain di buat tercengang oleh nama sekolahnya. ia teringat lagi dengan cerita sisi." Rain itu sekolah di SMA Galaxy. Lo tau gak rain di sma galaxy itu banyak cogannya apa lagi nih ya tokoh utamanya haduh gada yang bisa menandingi kegantengan seorang Reyhan Langit Aldiano"
"Mungkin namanya cuma kebetulan sama. Gw yakin ini masih dunia real" gumamnya.
"Hei cewek, sampai kapan lo mau disitu?" Tanya pria yang sama dengan orang yang berteriak di jalan tadi.
Rain segera memarkirkan motornya, ia membuka helmnya dan berbalik menatap kelima pria yang sedang menatapnya dengan tatapan yang berbeda beda.
"Em ada apa ya?" Rain meneliti penampilannya kalau-kalau ada yang aneh. Tapi tak ada yang aneh dengannya, lantas mengapa mereka melihatnya seperti itu.
"Wah gw kira siapa. Ternyata si nenek lampir toh" ujar cowok bernama Daniel.
"Nenek lampir? Gw?" Gumam rain heran. Ingatan yang di berikan rain Sangat lah sedikit itu pun samar samar.
__ADS_1
"Pasti dia sengaja melompat di tengah jalan buat cari perhatian lo Rey. Mana dia tadi pakai helm" timpal zein menatap tajam rain.
"Hm gw..gw "
"RAIN! akhirnya lo dateng juga, cus ke kantin gw udah laper" teriak cewek dari Arah sampingnya lalu memeluk rain.
Rain menatap heran pada ke tiga cewek di sampingnya. Ingatannya mencari tahu siapa mereka bertiga dan yang ia temukan hanyalah nama Eka, Jessie dan Aliya. Gadis yang memeluknya bernama Eka sedangkan kedua orang dibelakang bernama Jessie dan aliya.
"Muka lo kayak orang kebingungan ra. Lo gak papa kan?" Tanya aliya yang menyadari keanehan dari raut wajah rain.
"Ah gw gak papa" balas rain
"Sekarang kita ke kantin gw udah laperr bangett" rengek eka pada rain.
"Eh iya. Hm makasih ya udah bantu gw tadi. Gw duluan" ucap rain pada kelima cowok di hadapannya. Ia hanya pasrah ketika tangannya ditarik secara paksa dari sana.
keempat cowok itu melongo saat mendengar perkataan terimakasih dari rain tapi tidak dengan si tokoh utama."dia...dia rain kan? Mimpi apa gw semalem sampe rain ngucapin terimakasih. Langka banget oi"seru daniel lebay sedangkan yang lain memutar bola mata mereka malas mendengar daniel.
"Cabut"ucap reyhan dingin.
...***...
"Ck gw kan udah bilang jangan deket-deket mereka lagi rain. Mereka itu orang jahat, lo bisa kenapa-kenapa kalau deket reyhan mulu."ujar eka jengkel.
"Reyhan?" Tanya rain.
"Iya Reyhan Langit Aldiano. Lo gak lupa ingatan kan rain?" Jawab eka disusul pertanyaan.
Deg
Jantung rain berdetak kencang."gak gak mungkin, ini gak mungkin, ini pasti cuma kebetulan ya..ini hanya kebetulan." Rain tak akan percaya dengan yang namanya transmigrasi atau semacamnya karena menurutnya itu hanyalah sebuah kebohongan.
"Rain lo gak papa kan?" Tanya aliya lembut.
"Pasti ini perbuatan Reyhan kan?" Tanya Jessie dingin.
"Biar lo gak capek lagi, mending kita makan ok" timpal eka yang tak lepas dari makanan.
Kriing kring
"Ck bel sialan, belum juga gw ketemu pacar, lo udah main bunyi aja" gerutu eka.
"Hilih lo udah makan nasi goreng 2 piring di rumah gw terus lo masih mau makan lagi? Itu perut apa gentong?" Celetuk aliya dan dibalas tatapan tajam dari Eka.
Rain tersenyum melihat mereka berdua."ayok ke kelas" ujarnya.
Eka menggandeng tangan rain dan mengajaknya berlari dari sana. Mungkin kehidupan rain tidak akan seburuk yang ia pikir, dengan kehadiran mereka bertiga saja sudah cukup membuatnya tersenyum meskipun mereka orang baru baginya.
Sementara itu aliya dan jessie bertatapan sebentar." Lo ngerasa aneh kan sama sikap rain barusan?" Tanya aliya pada jessie.
"Hm, dia berubah" balas jessie menatap rain dari jauh.
"Dia lebih tenang sekarang. Tapi syukurlah gw seneng sama perubahan dia. Cepat kita susul mereka berdua" aliya berjalan cepat di ikuti Jessie.
Rain dan eka tiba di dalam kelas."eh kita sekelas sama mereka?" Tanya rain setelah melihat dua anggota dari orang yang menolongnya tadi.
Eka menghentikan langkahnya dan menatap rain. Tangannya terulur mengecek suhu badan alana."gak panas" gumamnya.
"Lo beneran gak lupa ingatan kan ra?" Mata eka memicing menatap rain yang gelagapan.
"It-itu kemarin kepala gw kepentok meja jadi gw agak lupa dikit sama ingatan gw hehe" balas rain bohong.
"APA?!!" Teriak eka spontan memegang kedua bahu rain.
"Ck apa sih lo ka, pagi-pagi udah teriak kek orang utan" celetuk jessie dari arah pintu.
__ADS_1
"Gimana gw gak teriak. Rain LUPA INGATAN!" Eka berteriak di akhir kalimatnya.
Seisi kelas langsung menatap rain tak percaya terutama kedua orang yang duduk tak jauh dari sana.
"Apa?!! Terus sekarang gimana? Lo udah ke dokter? Dokter bilang apa?lo lupa sama keluarga lo gak? Terus kalau kita bertiga? Semua orang?" Pertanyaan beruntun keluar dari mulut aliya.
Rain tersenyum canggung." Gw cuma lupa beberapa kejadian atau maybe semuanya" balas rain dengan gumaman di akhir katanya.
"Sekarang lo duduk dulu. Kita bicarakan setelah istirahat" timpal Jessie yang sejak tadi terdiam.
Eka kembali menarik tangan rain ke tempat duduknya. Rain berhenti kala melihat Reyhan yang duduk di samping kursinya."gw duduk disini?" Tanyanya pada Eka.
"Iya. Lo dulu maksa banget buat duduk deket Reyhan" jawab eka setelah duduk di kursi depan rain.
Rain menatap siswi yang duduk di samping eka." Em permisi, maaf boleh gak kita tukeran tempat duduk?" Pertanyaan rain kembali menyita perhatian seisi kelas.
Ketiga sahabatnya menatap tak percaya dengan rain."apa dia benar-benar akan melakukannya?" Gumam mereka bertiga. Bagaimana mereka semua merasa tak percaya jika selama ini rain mati-matian memohon pada guru untuk mendudukkannya di dekat Reyhan dan sekarang ia ingin pindah? Keajaiban apa ini?.
Reyhan menatap rain datar. Kemudian kembali menatap ke arah jendela ia tak peduli dengan semua ini.
"Ta-tapi"
"Gak papa nanti gw yang bilang ke guru" potong rain dengan senyumnya. Rain tak sadar para pria menatapnya dengan pandangan kagum.
"Wah cantik banget"
"Rain duduk di samping aku yok"
"Mana mau rain sama upil kuda kayak lo"
"Eh beneran? Gw mau kok" rain menimpali ucapan salah satu dari mereka. Sekali lagi seisi kelas tercengang mendengarnya terutama orang yang mengajak rain duduk disampingnya.
"Hah..?"
"Rain lo beneran?" Rain mengangguk dengan serius membalas pertanyaan aliya.
"Ck beruntung banget si Leon" celetuk salah satu cowok.
"Yaudah rain lo duduk disini. Mumpung kursi di sini kosong hehehe" rain dengan gampangnya berjalan ke samping meja tempatnya tadi lalu duduk di samping leon.
"Makasih ya..."
"Leon nama gw leon"
"Ah makasih ya leon"
"Hm sama-sama" leon tanpa sadar mengusap kepala rain, sedetik kemudian ia menarik tangannya cepat."sorry gw gak sengaja"
"Gak papa kok" balas rain tersenyum manis. Leon di buat meleleh dengan senyuman itu.
"Rain jadi pacar gw yok" ucap leon tiba-tiba.
"Heh buluk. Gw gak bakal ngerestuin lo sama sahabat gw" celetuk eka.
"Ganggu aja lo kutil anoa" balas leon sinis.
"Biar-"
"Selamat pagi semua" sapa bu guru memasuki kelas.
"Pagi bu"
"Hari ini kita belajar bla..bla..bla"
Entah kenapa dari tadi rain merasa merinding, matanya menatap sekeliling dan tanpa sengaja matanya berpapasan dengan mata elang milik Reyhan. Ia buru buru mengalihkan pandangannya ke depan."kalau benar ini dunia novel, jadi hal pertama yang harus gw lakuin adalah menjauh dari segala hal yang bersangkutan dengan para pemeran utama." Batinnya.
__ADS_1
...Tbc....
Jangan lupa votmen.