Antagonis Or Protagonis

Antagonis Or Protagonis
mengintai


__ADS_3

Assalamualaikum ya ahli kubur. Apa kabar? Yang jomblo gak usah jawab ya. Hehehe canda.


Happy reading


_______________________


Hari libur yang seharusnya digunakan rain untuk istirahat malah dipergunakan untuk mengintai seseorang yang berhubungan dengan vera. Tidak dipungkiri jiwa ke kepoannya membawanya pada setitik kebenaran yang dicari.


Pagi tadi saat eka berangkat ke sekolah, Rain sudah siap dengan pakaian serba hitam tak lupa pula kacamata dan masker ia kenakan untuk menyembunyikan wajahnya. Hari ini dan seterusnya rain sudah bertekad untuk mencari kebenaran dari masa lalu nya serta mengapa reyhan menyebutnya sebagai pembunuh saat itu.


"Mari kita lupakan para tokoh utama dan fokus pada pencarian kebenaran masa lalu rain. Karena entah kenapa gw ngerasa bakal pergi jauh."


"Gw harus buktiin ke Reyhan kalau gw bukan pembunuh. Dan gw bakal buat dia bertekuk lutut di hadapan gw. Tapi apa bisa? Si Reyhan psikopat gila itu mana mau berlutut dihadapan musuhnya sendiri. Gila kali lo!"


"Taksi!" Tangannya melambai ke arah taksi yang lewat.


Taksi berhenti tepat dihadapannya, rain masuk ke dalam."Manna house cafe pak"


"Siap mba."


"Busett, mba-mba gak tuh" batin rain.


Rain mengecek handphone-nya yang terus bergetar. 17 panggilan tak terjawab dari ayahnya,2 pesan dari nomor tidak dikenal dan 30 pesan dari grup Anak Sultan. Rain mengabaikan panggilan dari ayahnya dan memilih membuka chat dari nomor tidak dikenal itu.


+6285392...


|Woi


|Save bck


Sp?|


|Buset dingin amat lo


Bomat! Gk pntg auto block!|


|Eh...bentar dulu ngab, gw tony pacar lo yang ganteng seantero negeri.😘


Najisun|


|Dih bilangnya aja najis tapi waktu itu meluk gue.


Kepaksa|


|Gimana motor gw bagus gak?


Hm|


|Oh iya, si leon bilang lo satu sekolah sama dia. Bener cloud?.


Hm|


|Tunggu kejutan gw ya. Terus jangan lupa save no gw.


"Udah sampe mba" rain mengalihkan pandangannya dari handphone ke arah cafe di sampingnya. Rain turun dari taxi setelah membayar, kakinya melangkah masuk ke dalam cafe. Tidak banyak pengunjung yang datang seperti di tempat kerjanya, apa karena cafe ini teruntuk orang-orang berdompet tebal? entahlah itu hanya spekulasi dari yang rain lihat karena kebanyakan pengunjung cafe ini memakai jas layaknya pengusaha sukses.


Rain memilih meja di sudut agar lebih mudah mengintai. Pertama ia kembali melihat sosok yang vera temui di dalam ponselnya setelah itu ia kembali meneliti sekitarnya."gada tanda-tanda orang ini ada disini. Tapi mending gw nunggu bentar"


Satu jam...


Dua jam...


3 jam berlalu namun orang yang ditunggu masih belum menunjukkan batang hidungnya, jus yang dipesan rain sudah habis sejam yang lalu. Jam menunjukkan pukul 11.49 waktunya jam makan siang. Cafe mulai dipadati oleh karyawan kantor.


"Mungkin dia gak datang, mending gw pulang daripada ngabisin duit disini." Rain mulai beranjak setelah meneliti orang disekitarnya.


"Kalian lihat tidak, kemarin anak dari pak direktur nangis-nangis disini. Kasihan sih tapi salah dia dan ibunya yang gila harta. Gosipnya nih ya, mantan istri pak direktur itu menikah dengan suami dari adik pak direktur sendiri." Gosip salah satu pengunjung cafe. Rain kembali duduk saat mendengarnya.


"Beneran?!" Tanya teman si pengunjung.


"Beneran, mantan istri pak direktur jadi selingkuhan tuan Gilbert terus pas istri tuan Gilbert tahu bukannya pergi mereka berdua malah menikah."

__ADS_1


"Parah banget sih padahal istri tuan Gilbert lebih segalanya dibanding mantan istri pak direktur. Tapi kalian curiga gak sih sama kematian istri tuan Gilbert?"


"Ho'oh, aku curiga kalau mantan istri pak direktur..."


"Kenapa dengan mantan istri saya?" Ucap orang dibelakang mereka.


Seketika para penggosip tadi langsung bungkam saat tahu bahwa direktur mereka yang bertanya.


"Jawab!" Bentak Dendra selaku pak direktur.


"Tidak pak,kami salah bicara. Maafkan kami" ucap salah satu diantara mereka.


Rain memperhatikan sosok pria yang seumuran dengan ayahnya. Rain agak familiar dengan wajahnya, seketika ingatannya tertuju pada foto pria pada ponselnya,dengan cepat rain membuka ponselnya dan membandingkan mereka berdua.


"Persis"


Dendra memilih pergi ketimbang mengurus para penggosip seperti para wanita itu. Matanya tak sengaja bersitatap dengan Rain.


Rain buru-buru mengalihkan pandangannya."duh dia kenal gw gak ya? Moga aja enggak ya tuhan" gumamnya berpura-pura membaca menu makanan.


Langkah dendra semakin dekat dengan tempat rain."Rain?" Suara dendra terdengar memanggil namanya.


Rain tak menjawab panggilannya.


"Rain?" Tangan dendra memegang bahu rain. Rain sontak berbalik menatap dendra.


"Emm om siapa ya?"


Sekilas mata dendra membola kaget."kamu lupa om siapa?" Rain mengangguk.


Dendra menghela nafas berat kemudian duduk di samping rain."maklum kalau kamu lupa sama om. Kita terakhir ketemu pas upacara pemakaman ibu mu."


Rain menunduk saat usapan lembut mendarat di kepalanya."Ibu"


"Om siapanya ibu saya?"


"Om kakak dari ibu kamu sayang" ucap dendra dengan penuh kasih sayang.


Rain melamun dengan banyak pertanyaan di kepalanya."Jadi yang mereka katakan tadi bener? Berarti vera anak dari paman gw. Tapi kenapa sifatnya beda waktu ketemu vera? Apa ada masalah diantara mereka? Seharusnya kan ayah dan anak saling akur. Eh enggak deh, gw sama bokap rain aja gak akur tuh. Tapi kalau om gw benci sama vera berarti gw punya kesempatan buat gali informasi sekaligus buat anak orang panas"


"Gimana keadaan rumah?" Ucapan dendra memecahkan lamunan rain.


"Ini saatnya"


"Hiks om se-semenjak ayah nikah lagi, ayah jadi lebih sayang sama vera ketimbang rain. Ayah jadi hiks sering kasar sama rain. Om tau? Rain pernah di usir dari rumah hiks ditambah lagi ATM Rain dikasih ke vera." dendra terkejut mendengar pengakuan rain.


"Tenang sayang. Gak boleh nangis ok, ponakan paman gak boleh nangis dong" sebelah tangan dendra mengusap kepala rain dan sebelah lagi terkepal kuat.


"Kedua ****** itu!!"


Rain berhenti dari tangisnya. Matanya yang sembab menatap dendra."nama om siapa? Hehehe lupa" rain tersenyum disertai cengirannya


"Masa nama om sendiri lupa?" Canda dendra. Rain tersenyum malu-malu bangsat.


"Nama om dendra. Panggil papa aja kalau kamu mau."


"Ok pa!" Balas rain semangat. Dendra tertawa kecil melihat tingkah ponakan kesayangannya.


Dendra menatap meja di depannya."Udah makan?"


Rain menggeleng."belum"


"Yaudah kita makan dulu. Nanti kamu sakit" rain hanya tersenyum menanggapinya.


Rain membuka hp nya sementara dendra memesan makanan."pa foto dulu" rain mengambil fotonya dengan dendra yang lagi berbicara dengan pelayan.


Ckrek


"Upload ah, biar si vera mati kepanasan" gumam rain.


Setelah mengirim status. Rain kembali bertanya dengan serius pada dendra tapi sebelum itu ia mengaktifkan alat perekam nya.

__ADS_1


"Pah, apa benar yang dikatakan mereka" rain menunjuk para penggosip tadi.


"Tentang?"


"Tentang vera yang anak papa"


"Huh. Sebenarnya vera bukan anak kandung papa sayang. Papa menikah dengan ibu vera tanpa tahu kalau sebenarnya dia sedang hamil." Jawab dendra jujur. Dendra menikah dengan ibu vera karena cinta tapi rasa cintanya menghilang setelah tau bahwa ibu vera seorang kupu-kupu malam atau bahasa kasarnya ******- kung.


"Terus alasan kalian pisah?"


"Papa pisah karena tau tentang perselingkuhan ayah kamu dengan ibu vera. Om sebenarnya pengen ngasih tau ibu kamu tapi om takut ibu kamu gak percaya."


Rain mengangguk paham. Tiba-tiba handphone nya berdering.


"Bentar ya pa, rain angkat telepon dulu" setelah mendapat persetujuan dari dendra, rain berjalan menjauh.


"Halo?"


"..."


Tak ada jawaban.


"Halo?"


"...."


Lagi-lagi tak ada jawaban.


"Halo?!!"


"..."


"Gw itung sampe 3 gada suara langsung gw tutup!!"


"1"


"2"


"3"


"..."Masih tak ada jawaban


"Kampret, kalo gak mau ngomong ya gak usah nelfon sialan!!"


Tut


Rain mematikan telfonnya setelah memaki. Sedangkan di seberang sana seseorang tengah tersenyum tipis mendengar suara kesal rain.


"Anak anjing! Babi! Dajjal! Monyet!! Mati ajalah kau!!."umpat rain pada ponselnya.


Ponsel rain be like."apa salah ku?"


Rain kembali ke meja dengan raut wajah masam."pa rain pulang dulu. Lagi bete." Rain mengambil tasnya lalu beranjak tanpa menunggu jawaban dari dendra.


"Eh tunggu dulu." Dendra menghentikan langkah rain."ini buat kamu" dendra memberikan kartu blackard dan satu kunci rumah.


Alis rain terangkat bingung."buat saya om? Yaudah saya terima dengan ikhlas dan lapang dada." Senyum manis merekah di bibirnya."rejeki gak noleh di tolak guys"


"Om kira gak bakal diterima."


"Rejeki gak boleh di tolak pah. Mubassirrrrrr"


"Hahaha, oh iya rumahnya ada di jln xxxx"


"Ok sip, makasih pah."


Cup rain mencium pipi dendra kemudian berlari keluar menuju motornya.


"Asik hari ini gw beruntung banget. Udah dapet info terus ditambah lagi dapet blackard plus rumah. Rejeki anak sholeha ini mah. Gak perlu pulang ketemu nenek sihir deh kan udah punya rumah baru. Biarin aja mereka nyari gw." Oceh rain gembira.


Jempol jangan lupa!!!. Awas kalau gak, santet bertindak.

__ADS_1


__ADS_2