
Niat hati ingin ke rumah barunya tapi malah berubah haluan kembali ke rumah ayahnya. Rain emang plin plan orang nya.
Rumah bertingkat tiga di hadapannya tampak kosong dan sunyi kek di kuburan. Canda!. Rain melangkah masuk dan meneliti sekitar.
"Pada kemana tuh dua ******? Kok gada? Lah? Ngapain gw nyari mereka? Mau mereka gada kek mau enggak kek urusannya sama gw apaan markonah?!" Rain kayaknya udah gila deh.
Dengan tampang bodo amatnya rain melangkah ke kamarnya yang berada di lantai 3. Tak jauh dari kamarnya berada, suara orang berbicara terdengar kecil dari salah satu kamar kosong di lantai 3.
Rain mendekati sumber suara dengan langkah perlahan tanpa mengeluarkan suara (kek Boboiboy halilintar, kejap ada kejap tak ada). Seakan keberuntungan tengah berpihak kepadanya, pintu kamar itu sedikit terbuka memperlihat kedua monyet yang tadi dicarinya.
"Ma anak itu Sekarang makin kurang ajar, dia gak lagi ngebully aku ma."
Rain mengangkat alisnya bingung."tuh bocah udah gila kali ya? Pas dibully nangis kek kuntilanak tapi giliran gak dibully malah minta di bully." Gumamnya, setelah itu rain mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam kedua monyet yang tengah membicarakannya itu. Bisa jadi kan ia dapat sesuatu atau bukti. Entahlah rain hanya mengikuti nalurinya.
"Tenang sayang"
"Gimana aku bisa tenang mah, reyhan udah gak peduli lagi sama aku. Aku pacaran sama Reyhan cuma gara-gara ****** itu, aku gak mau jauh-jauh dari Reyhan ma. Mama gak liat rain juga mulai berani sama kita."
"Huh harusnya kita membunuh anak itu bersamaan dengan ibunya. Mama kira dengan kita membunuh ibunya maka kita bisa memegang kendali atas semua harta kekayaan Gilbert tapi anak itu malah menjadi penghalang kita sekarang."
Mata rain membola kaget."jadi mereka yang membunuh ibu rain! Dasar manusia biadab!! Jangan harap setelah ini kalian bisa tenang sialan! Gw pastikan kalian di tendang dari rumah ini, bukan cuma rumah tapi dari dunia ini juga. Dunia terlalu baik untuk orang jahat seperti kalian." Batin rain menahan amarah.
"Terus kita harus gimana ma, aku juga gak mau reyhan jadi gak peduli terus jauh dari aku."
"Ah gimana kalau kita membunuh anak itu persis saat kita membunuh ibunya."
"Gak mah, cara itu terlalu beresiko. Aku punya ide, bulan depan ada acara perkemahan untuk kelas 12 dan di saat itulah kita membunuh nya dengan cara membuatnya jatuh ke jurang, membuatnya tersesat di dalam hutan dan berakhir menjadi mangsa binatang buas disana."
Perempuan paruh baya itu tersenyum miring mendengar ide cemerlang anaknya itu."hahaha rencana bagus vera, setelah ****** itu tiada kita bisa menikmati semua kekayaan ini dengan leluasa"
Rain berdecih tak suka."cih ****** teriak ******" setelah itu rain berlalu saat kedua orang itu hendak keluar dari sana.
__ADS_1
Di kamar rain.
"Cih mau buat gw mati? Gak semudah itu ferguso."
Rain berbaring telentang menatap langit-langit kamarnya. Dirinya di buat pusing oleh seseorang yang terus mengikutinya satu hari ini. Sekuat apapun orang itu sembunyi namun rain masih bisa melihatnya. Orang itu memakai pakaian serba hitam, kacamata hitam,topi hitam dan masker hitam, untung kulitnya gak item.
Rain tak mempermasalahkannya selagi orang itu tidak berbuat macam-macam padanya. Rain dapat menyimpulkan kalau orang itu bisa jadi mata-mata ataupun bodyguard, terlihat dari perwakannya yang tinggi dengan otot yang menonjol. Tapi yang menjadi pertanyaan nya 'siapa yang mengirim orang itu'
Tangan rain meraba sekitar mengambil ponselnya dan membuka aplikasi note. Jari jemarinya mengetik dengan lancar.
Kebenaran sebenarnya.
Vera bukan anak kandung om dendra (bisa jadi anak orang lain)
Perselingkuhan mantan istri om rendra dengan ayah rain.
Vera dan ibunya hanya mengincar harta kekayaan keluarga Gilbert.
Reyhan dan vera sebenarnya hanya pura-pura pacaran demi menjauhi tokoh antagonis rain.(ini masih pendapat gw setelah mendengar ucapan vera tadi)
Rain kembali mematikan ponselnya. Berbicara tentang Reyhan, besok ia harus meminta maaf dan berdamai dengan Reyhan meskipun nantinya rain hanya dianggap berbohong tapi setidaknya ia sudah berusaha berdamai dengannya kan.
"Huh...besok deh gw mikirnya. Sekarang Gw mau tidur" setelah mengucapkan itu rain benar-benar tertidur tanpa menutup jendela kamarnya.
Dari luar, seseorang yang diperintahkan untuk melindungi rain terlihat menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Halo bos, nona sudah tertidur di kamarnya"
__ADS_1
"Hm, apa ada yang mencurigakan darinya?" Ucap suara di seberang sana.
"Nona hari ini hanya terlihat menemui seorang pria, mereka berdua terlihat akrab tuan. Mungkin Pria itu paman dari nona rain. Selebihnya keselamatan nona rain terjaga sampai beliau kembali ke rumahnya.oh iya tuan!"
"Ada apa?"
"Pria itu memberikan nona rain sebuah kartu blackard dan kunci rumah. Alamat rumanya berada di jln xxx"
"Baiklah, sekarang pergi dari sana!kalau tidak leher mu yang menjadi tebusan nya. Mengerti?!!"
Bodyguard itu menelan ludah kasar mendengar ancaman dari bosnya. Dengan cepat ia segera meninggalkan tempat mengintainya.
"Me-mengerti tuan"
Di seberang sana, sang tokoh utama kita atau biasa author sebut dengan nama Reyhan. Ia sedang menatap ponselnya setelah berbicara dengan orang suruhannya.
Tidak di pungkiri seberapa benci pun dirinya pada rain namun rasa khawatirnya tetap melebihi rasa bencinya. Bisa di bilang reyhan menyayangi rain tapi disamping itu pula Reyhan juga membencinya.
Jangan bilang reyhan plin plan karena selama ini Reyhan memang plin plan. Kedua perempuan yang bernama Rain adalah sahabat kecilnya dan reyhan sangat menyayangi keduanya. Tapi rasa sayang itu berubah disaat mata Reyhan melihat kecelakaan maut yang menewaskan ibunya dan Rain.
Reyhan menanamkan rasa bencinya pada rain karena orang pertama yang ia lihat di tempat kejadian adalah rain yang sedang berdiri mematung menatap kosong ke depan. Mulai saat itu ia menjauhi rain.
Rain yang menyadari perubahan sikap Reyhan padanya juga ikut menjauh hingga keduanya sama-sama merasa asing saat bertemu. Namun setelah memasuki SMA rain kembali mendekati Reyhan dikarenakan anak dari selingkuhan ayahnya juga mendekati Reyhan.
Jujur rain tidak sepenuhnya menjauh dari Reyhan, rain hanya mengikuti apa yang Reyhan lakukan yaitu 'menjauh'. Tanpa Reyhan ketahui rain selalu memperhatikan Reyhan dari kejauhan, kadang-kadang rain akan menyuruh seseorang untuk memberikan sesuatu kepada Reyhan dan alhasil barang pemberian nya diterima.
Begitu pula dengan Reyhan. Ia sering menghajar orang orang yang berani menganggu rain semasa SMP hingga saat ini.
Keduanya saling menyayangi tapi rasa sayang mereka terhalang oleh satu peristiwa tragis. Mereka sendiri yang menciptakan kerenggangan pada hubungan mereka, Reyhan yang tak mempercayai ucapan rain dan Rain yang sudah lelah dengan keadaan.
Intinya Kedua orang ini saling menyayangi, mereka hanya gengsi untuk memperlihatkan rasa sayang mereka.
__ADS_1