
Aruni akhirnya membulatkan niat untuk mau menikah dengan Andra. Walau dalam hati kecilnya masih berharap ada celah untuk pergi.
Sempat terpikirkan untuk pergi jauh, tapi merasa kasian melihat ibu dan ayahnya yang sudah membiayai kuliah harus melihat kuliahnya kandas di semester akhir. Andai Ijazah sudah di tangan Aruni pasti sudah pergi, menyusul Rasyid mungkin..
Di setiap saat dan setiap waktu Aruni hanya bisa berdoa andai Andra memang jodohnya, semoga hatinya dikuatkan, tapi jika bukan, pernikahan tidak akan terlaksana.
Sore itu cukup sepi, angin masuk perlahan ke kamar Aruni melewati celah lubang angin, wajahnya cukup muram, Aruni masih saja meneteskan air mata. Suara ponsel Aruni berbunyi keras, ada Andra menelfon,
"Aruni, besok aku ke rumah ya, aku mau bilang ke ibu dan ayahmu"
Aruni mengiyakan dan menutup telfon
Pagi yang cerah, sinar matahari menyilaukan mata, jalanan sudah ramai lalu lalang pengendara. Aruni dan Andra pulang ke rumah.
Tak lama mereka berdua sudah sampai rumah, berada di kamar tamu bersama ayah dan ibu,
"Bapak..Ibu saya ingin menikahi Aruni, " Andra mengutarakan niatnya untuk menikah dengan Aruni.
Kedua orangtua Aruni memberi restu. Sebelum kembali pulang ke yogya Aruni menyempatkan mencari neneknya di belakang,
"Mbah..." Aruni mencari simbah
"Sini nduk simbah disini, sini duduk.." Nenek dan Aruni duduk.
"Sudahlah nduk yang namanya perempuan itu memang cuma bisa nrimo, jalani dengan kuat ya." Kata simbah menguatkan hati Aruni
__ADS_1
Mendengar perkataan simbah air matanya menetes, namun tak ingin terus bersedih Aruni membulatkan tekad, "mungkin emang Tuhan sudah menentukan masibku lebih baik dengan orang ini"
Andra yang telah selesai meminta restu kepada ayah dan ibu, memberanikan diri meminta izin membawa Aruni pulang ke Cirebon."
Aruni dan Andra berangkat ke Cirebon dengan bus kota. Terdengar suara nyanyian dalam bus,
"Andai engkau datang kembali...
Jawaban apa yang kan kuberi...
Bait syair lagu itu terdengar melantun indah di telinga,
Andra hanya tersenyum memandangi Aruni.
Keduanya sampai di Cirebon larut malam, tampak rumah sederhana. Onggokan dagangan memenuhi hampir seluruh ruangan, tersisa tiga ruangan saja untuk tidur.
Pagi buta ibu dan adik- adik Andra telah bangun, terdengar ibu Andra sudah nerteriak mengatur dagangan. Aruni merasa tak nyaman. Andra segera mengenalkan Aruni pada ibu dan adiknya,
Andra tak mengenalkan Aruni kepada saudara yang lain. Yang dikenal Aruni saat itu hanya ibu dan adik-adiknya.
Setelah saling kenal, Andra tak ingin berlama- lama di Cirebon. Dia mengajak Aruni pulang ke Yogya siang hari harinya.
Perkenalan kepada keluarga Andra yang begitu singkat, memberi kesan seolah keluarganya hanya sendirian dan tertutup. Bahkan dari cerita, Andra dan keluarga biasa menyuruh orang dalam hal birokrasi kependudukan. Terkesan bukan keluarga yang mandiri.
Dalam perjalanan pulang ke Yogya, ada pesan masuk dalam ponsel Andra, namun Andra seperti tak menghiraukan,
__ADS_1
"Siapa?", Aruni bertanya.
"Bukan siapa-siapa".
Perjalanan jauh terasa lebih cepat, Bus telah sampai pukul 19.00. Aruni pulang ke rumah kontrakannya dan Andra pulang ke kos.
Beberapa hari Andra mulai tak tampak menemui Aruni, tiba-tiba mengirim pesan :
"Aruni aku boleh minta istri kedua"
Aruni kaget membaca pesan itu, dan membalas
"Lha kenapa istri kedua lebih baik kamu bersama orang lain kalau memang itu maumu. Aku ga usah".
Andra membalas lagi pesan Aruni,
" Jadi sebelum sama kamu aku pernah ngejar perempuan sejak aku SMP, aku kejar selama 11 tahun tapi orangnya gamau. Sekarang katanya sakit dan ingin denganku"
Aruni pun menjawab:
"Andra kalau kamu memang mau sama perempuan itu aku gapapa. Kamu sama Dia aja. Aku ga usah".
Andra membalas :
"Tapi aku maunya sama kamu juga."
__ADS_1
Aruni tak membalas lagi.