Antara Aku Kenangan Dan Waktu

Antara Aku Kenangan Dan Waktu
Terpaksa Mau


__ADS_3

Pagi yang cerah, burung -burung ramai riang bercuitan, hawa dingin masih menusuk kulit, pasien sudah ramai di ruang priksa berukuran 4 x 6 m tempat bu bidan. Karena di daerah pegunungan pasien bu bidan ini banyak.


Aruni dan Shila telah siap di ruang periksa menjadi asisten bu bidan Nuri namanya.


Perempuan tinggi seumuran 40 tahun, rambutnya pendek hitam, cekatan memeriksa pasien.


Ibu hamil tampaknya sangat nyaman diperiksa oleh ibu Nuri ini. Satu persatu pasien telah selesai diperiksa. Ibu bidan ini selain praktek di rumah juga bekerja di Puskesmas.


"Aruni, hari ini ada imunisasi di puskesmas nanti kamu ikut ibu ya kesana," kata bu Nuri pada Aruni.


"Baik bu", jawab Aruni


Setelah selesai membereskan ruang periksa,


"Aruni..ayo berangkat..sudah siang", teriak bu Nuri dari ruang tamu, memanggil Aruni yang masih duduk di ruang tamu.


Pagi ini perasaan Aruni tiba-tiba tidak enak, seperti firasat akan ada sesuatu,


"Shila.., kalo hari ini ada orang nyari aku, bilang aku udah pulang ke Yogya ya..sama Mas ku gitu aja bilangnya", pesan Aruni pada Shila


"Oke, ntar aku bilangin, dah kamu berangkat sana"


Aruni pergi mengendarai motor sendiri mengikuti arah bu Nuri pergi. Sepanjang jalan pohon jagung yang buahnya mulai menguning memenuhi sawah yang Aruni lewati.


Bu Nuri tampak menyalakan lampu riting tanda belok ke arah kanan. Di depan terlihat sebuah Puskesmas, yang bangunannya baru, Ramai ibu dan balita sedang mengantri.


Pelayanan imunisasi tak begitu lama, Aruni telah selesai, hendak pulang ke rumah bu Nuri, Aruni mengendarai motor pelan seolah was-was akan kedatangan Andra.


Aruni tersentak kaget, ketika sampai di depan rumah bu Nuri, Andra telah duduk di depan rumah. Aruni hendak melanjutkan jalannya mencoba tidak berhenti, tapi Andra tahu dan segera memanggilnya,

__ADS_1


"Aruni.." teriak Andra


Seketika Aruni menekan rem motornya dan berhenti, kemudian mengarakan motor ke halaman rumah. Aruni perlahan menemui Andra,


"Udah pinter bohong ya kamu, temenmu bilang kamu pulang ke yogya", kata Andra pada Aruni.


Aruni diam tak menjawab perkataan Andra.


"Aku tanya sekali lagi, kamu mau ga jadi istriku,"


Aruni tak menjawab.


Tiba-tiba air mata keluar perlahan menetes di pipi, seolah bingung dan sedih harus menjawab apa, apa harus dikatakannya dia mencintai orang lain yang tak tahu juga bagaimana perasaannya. Aruni tak bisa melihat orang lain kecewa, dia sungguh bingung dengan situasi itu.


Andra yang melihat Aruni menangis, mulai merasa bersalah,


"Aruni tolong jawab, aku akan pergi setelah kau jawab, aku minta maaf"


"Baik aku akan pergi, aku ga akan ganggu kamu lagi."


Andra kemudian pergi,


Beberapa saat kemudian telfon Ruang tamu berbunyi, kriiing..kriiiing,...


"Aruni ada telfon buat kamu". Teriak Shila


Aruni beranjak ke ruang tamu dan menerima telfon,


"Aruni aku kesitu lagi perasaanku tak tenang,". Ada suara Andra terdengar dan menutup panggilan

__ADS_1


Lima menit setelah telfon berbunyi Andra telah tampak diruang tamu kembali,


Andra langsung menemui Aruni,


"Aruni aku mohon, menikahlah denganku",


Andra menyimpuhkan kedua kakinya di depan Aruni, dan meneteskan air mata,


"Maafkan aku, aku ga akan berdiri sebelum kamu bilang mau jadi istriku"


Bingung melihat situasi seperti ini,


"Ada seorang laki-laki menjual harga dirinya di depanku aku harus bagaimana", bisik Aruni dalam hati.


"Aku ga akan pulang sebelum kamu bilang iya", sambung Andra


Aruni berada dalam situasi terpojok, semua orang dirumah bu Nuri melihat peristiwa itu, dan akhirnya Aruni pun berkata:


"Baiklah aku mau jadi istrimu"


Mendengar ucapan Aruni, Andra segera berdiri, wajahnya mulai tampak ceria,


"Tapi aku punya syarat", sambung Aruni


"Apa"


"Ga boleh ada yang lain dan ga boleh maksa-maksa."


"Baik, aku pulang ke Cirebon sore ini, mau bilang ke Ibu", jawab Andra.

__ADS_1


Andra akhirnya pulang dengan hati senang.


Berbeda dengan Andra, Aruni justru bertambah sedih.


__ADS_2