Antara Aku Kenangan Dan Waktu

Antara Aku Kenangan Dan Waktu
Kepulangan yang Membawa Luka


__ADS_3

Pagi yang dingin menusuk tulang, Aruni sedang berbenah menyiapkan keperluan Hafis dan Raihana sebelum ditinggal bekerja.


Ponsel Aruni berbunyi keras, diangkatnya ponsel itu


"Aruni besok aku pulang, ga usah jemput nanti aku pulang bareng temen."


"Ya udah", Aruni menutup ponselnya.


Seperti biasa Aruni meninggalkan Hafis dirumah dan mengantar Raihana ke sekolah, selama mempunyai anak kedua Hafis diasuh oleh seorang tetangga di rumah Aruni. Sedang Raihana masuk sekolah TK.


Malam mulai datang, dan beranjak larut, anak-anak sudah mulai tertidur. Aruni pun sudah mulai mengantuk. Aruni menyandarkan punggungnya pada sebuah bantal di dinding kamar. Hampir menutup mata, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.


Aruni membuka pintu dan melihat Andra berdiri di depan pintu gerbang. Andra segera masuk dan lanjut memasukka beberapa koper ke dalam rumah,


"Anak-anak sudah tidur?"


"Iya ," kata Aruni


Andra mulai membuka koper-kopernya,


"Ini aku bawakan oleh-oleh untukmu dan anak-anak, aku juga bawa air zam-zam."


Andra membawakan Aruni sebuah abaya hitam, dan kain untuk Aruni.


Aruni bahagia suaminya sudah pulang dan sikapnya mulai berubah, lebih peduli pada anak-anak.


Baru sebulan Andra pulang, sikapnya sudah mulai berubah lagi.


Di suatu malam Aruni mendapati sebuah pesan di ponsel Andra, percakapan dengan seorang perempuan yang merencanakan sebuah pernikahan.


Wajah Aruni mulai berubah seketika membaca pesan itu. Langsung dicari tahu siapa perempuan itu. Aruni yang tak bisa menutupi kesedihannya bercerita pada seorang teman dekat,

__ADS_1


"Menurutmu aku harus bagaimana" kata Aruni kepada Ina temen sekantornya


"Kalo aku sendiri ga tau Runi, apa yang harus aku lakukan."kata Ina


Aruni hanya meneteskan air mata.


Baru saja Aruni membicarakan Andra, ada pesan masuk ke ponsel Aruni, pesan dari Andra ;


"Aruni aku boleh punya istri lagi ya"


Aruni langsung membalas:


"Ga"


Karena membaca pesan dari Andra, Aruni segera mencari tahu siapa perempuan itu, dan ternyata itu adalah teman sekantornya.


"Ya Allah lagi-lagi seperti ini, jika memang yang dikerjakannya bukan maksiat maka aku pun tak akan bisa menghalanginya," kata Aruni dalam hati.


"Halo bisa berbicara dengan mba Devi?"


"Iya, dengan saya sendiri"


"Maaf mba Devi ini Aruni istri pak Andra , apa benar mba Devi punya rencana menikah dengan suami saya."


"Maaf bu, iya benar, saya tidak tahu mulai kapan saya menyukai bapak, tapi bapak yang menawarkan untuk menjadi istrinya."


"Waktu itu saya sedang beryanya tentang poligami pada suami ibu, san pak Andra menawarkan saya untuk jadi istrinya."


"Itu karena sudah lama saya belum punya momongan, pernikahan ini juga masih menunggu dua tahun lagi sampai saya bercerai dengan suami".


"Apakah ibu setuju?"

__ADS_1


"Maaf mba saya tidak pernah setuju," jawab Aruni dengan tegas.


"Baik , kalo memang demikian."


Aruni langsung menutup telfon dan menangis sendirian. Aruni mencoba mencari waktu yang tepat untuk berbicara pada Andra.


Siang hari, sepulang Aruni dari bekerja, tiba-tiba ada telfon masuk dengan nomer tidak dikenal.


"Halo, maaf apa ini dengan istri dokter Andra"


"Iya benar, ini dengan siapa ya"


"Perkenalkan Saya Rudi istrinya Devi"


"Owh iya pak Rudi, ada yang bisa saya bantu"


"Apa ibu sudah tau soal istri saya Devi dan hubungannya dengan suami ibu?"


"Saya sendiri bingung pak."


"Apa saya bisa bertemu dengan ibu, ada yang harus saya bicarakan"


"Baik. Besok jam satu di kantin Rs kota"


"Baik Bu".


Aruni mencoba mencerna semua kejadian ini. Tapi tak ada yang bisa dia pahami saat ini.


Yang dia pahami saat ini hanyalah, suaminya yang tak pernah dia mengerti.


"Mungkin memang kekuranganku banyak, sampai-sampai engkau setega ini padaku, kenapa tak kau akhiri saja hubungan ini, aku masih sanggup membesarkan anak-anak. Hanya karena niatmu untuk menikah lagi sampai-sampai istri orang kau goda juga. Astagfirullah.." Kata Aruni dalam hati

__ADS_1


__ADS_2