Antara Aku Kenangan Dan Waktu

Antara Aku Kenangan Dan Waktu
Pergi dari Rumah


__ADS_3

Rumah tangga Aruni sepertinya sedang diterpa badai besar, urusan dengan Devi tidaklah berakhir begitu saja.


Situasi agak mereda namun selama suaminya masih satu kantor dengan Devi, Aruni tak pernah tenang, apalagi suaminya ternyata tak pernah berhenti meminta untuk memiliki istri yang lain.


Di suatu sore Andra memanggil Aruni untuk bicara,


"Aruni kenapa kau tak mengijinkan aku punya istri yang lain padahal aku ingin anak yang banyak agar meneruskan keturunanku."


"Jangan minta sama aku Mas, mintanya sama Allah aja", Aruni menjawab dengan mata berkaca-kaca.


Kehamilan Aruni yang ketiga sudah cukup besar, kehamilannya kali ini dilalui dengan cukup banyak kesedihan.


"Jadi anak yang kuat ya dek," Aruni berbisik ke perutnya.


Seperti biasa Aruni bersiap diri di waktu pagi, tiba-tiba perutnya terasa nyeri hebat.


Aruni kemudian duduk sejenak. Dilihatnya di kamar mandi ternyata lendir darah sudah banyak keluar dari jalan lahir.


Aruni segera memanggil mobil dan bergegas pergi ke rumah sakit, takut kalau bayinya lahir di rumah. Sore harinya Andra menyusul ke rumah sakit.


Sudah hampir 8 jam namun bayi Aruni belum lahir juga, akhirnya dokter menutuskan untuk melakukan induksi persalinan. Induksi membuat nyeri persalinan berlipat ganda lebih sakit dari biasanya.


Setelah mengalami kesakitan yang hebat,tepat pukul 22.00 wib lahirlah anak Aruni yang ketiga, seorang perempuan.


Anak yang ketiga ini diberinama Humaira.

__ADS_1


Aruni yang tadinya hanya merawat dua anak kini bertambah satu lagi, tentu saja Aruni bertambah sibuk. Disaat Aruni sibuk Andra seperti biasa tidak membantu, anak-anak jadi cenderung dekat dengan ibunya.


Suatu malam Aruni memergoki Andra berbincang dengan Devi via pesan ponsel. Aruni yang mulai tak tahan dengan suasana seperti ini kemudian menegur Andra,


"Mas kalo kamu ga berhenti berhubungan dengan perempuan itu nanti aku laporkan ke atasanmu",


Andra marah mendengar kata-kata Aruni.


"Kamu berani nglaporin aku?"


"Emangnya kenapa?, aku berani"


"Kamu berani njelek-njelakin suamimu sendiri?"


"Iya, aku berani"


"Ayo sekarang, aku ga takut"


Mendengar kata-kata Aruni kemarahan Andra memuncak,


"Dasar istri tak tahu diri!", Andra menyeret tubuh Aruni ke kamar dan terdengar suara keras PLAK...PLAK, Andra menampar pipi Aruni dengan keras.


Merasakan tamparan Andra yang keras,


"Kamu udah puas belum Mas, ini..PLAK...PLAK..Aruni menampar pipinya sendiri.

__ADS_1


"Beraninya sama perempuan," Aruni mencoba keluar dari kamar tapi Andra menarik kaos Aruni hingga sobek.


Anak-anak yang melihat kejadian itu terlihat syok. Aruni tak kuasa menahan air matanya. Air matanya berlinangan tak henti-henti.


Menahan kesedihan yang cukup dalam, Aruni terjatuh dan pingsan, tubuhnya terbujur lemah dengan kaos yang sobek.


Anak-anak yang melihat peristiwa itu berlari mendekati ibunya dan ikut menangis,


"Ibu...ibu..."rengek Raihana dan Hafis.


"Sudah..sudah..berhenti... Raihana," Raihana menegur dan menangisi perilaku kedua orangtuanya.


Aruni mulai sadar, namun ia tak bicara satu patah kata pun, mulutnya membisu.


Pagi harinya, Aruni harus tetap berangkat bekerja, matanya masih terlihat merah bengkak dengan luka kebiruan pada pipinya. Aruni hanya berangkat sebentar kemudian pamit pulang.


Sampai dirumah, dikemasinya beberapa baju, surat-surat penting dimasukkan ke dalam tas. Aruni memanggil anak-anaknya dan menggendong Humaira.


"Ayo kita pergi", kata Aruni pada anak-anaknya. Aruni mengunci pintu rumah, menaruh kunci di atas pintu depan dan menyiapkan montor kecilnya.


Hafis dan Raihana bonceng dibelakang, tas ditaruhnya di motor bagian depan, sambil menggendong Anaknya yang ketiga Aruni menyetir motornya meninggalkan rumah.


Sebelum pergi Aruni menulis pesan untuk suaminya,


"Aku pergi dari rumah, ga usah dicari, kunci aku taruh tempat biasanya".

__ADS_1


Aruni memutuskan meninggalkan rumah karena menurutnya sang suami sudah keterlaluan.


__ADS_2