Antara Aku Kenangan Dan Waktu

Antara Aku Kenangan Dan Waktu
Kelahiran Anak Kedua


__ADS_3

Fani yang telah menjalani perawatan selama enam bulan hendak dipulangkan oleh rumah sakit.


Namun Ibunya tak mau menerima kehadirannya. Akhirnya Aruni pun bersedia menerima Fani tinggal dirumahnya dan menanggung semua biaya perawatannya selama di rumah sakit.


Selama tinggal di rumah, Fani terlihat cukup stabil. Tinggal selama tiga bulan, Fani merasa bosan, dan ingin tinggal di pondok. Itu karena tak pernah ada orang dirumah, Andra sendiri kini sudah pindah kerja, karena diterima PNS di kota. Jadi selalu pulang sore.


"Mba Aku ingin tinggal di pondok, kerjaanku di sini cuma tidur," kata Fani kepada Aruni


"Ya kalo sama mba ya kaya gini, kalo cuma makan aja mba masih bisa ngasi, tapi kalo yang lain mba ga bisa" kata Aruni.


"Iya mba, aku ga pengen ngrepoti mba Aruni"


Keesokan harinya, Fani diantar ke pondok dan tinggal di sana. Setiap bulan Aruni membuat jadwal untuk menengoknya.


Sementara itu kehamilan Aruni bertambah besar, waktu persalinan sudah cukup dekat.


Tepat pukul 21.00 WIB , Aruni menidurkan Raihana dan ikut terlelap bersama penat dan lelah. Entah kenapa sebelum tidur Aruni sempat menyiapkan peralatan untuk melahirkan.


Aruni terbangun tengah malam, perutnya terasa sakit dan mulas ingin ke belakang. Aruni berjalan perlahan ke kamar mandi, dilihatnya lendir darah sudah banyak keluar.


Aruni segera kembali ke kamar dan membangunkan Andra,


"Aku mau melahirkan",


Segera diambilnya ponsel dan menelfon seorang teman,


"Mer bisa kesini aku mau melahirkan" kata Aruni kepada teman di ponselnya.

__ADS_1


"Ya, tunggu mba, aku segera ke situ", jawab Mery temen kerja Aruni yang profesinya seorang bidan.


Andra bangun dan mencoba membuka mata. Tiba-tiba Aruni berteriak,


"Mas, aku udah ga kuat, cepat ambil peralatan yang ada di atas meja", direbahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mengejan,....


Lahirlah seorang bayi laki-laki, menangis kecang sekali..."oeekkk...oeekk..."


Raihana ikut terbangun, melihat adiknya lahir.


"Cepet bungkus dengan handuk!!," Aruni sedikit berteriak memerintah Andra.


"Trus gimana ini", Andra bingung


"Sekarang potong tali pusatnya"


Raihana dengan tenang menemani adiknya yang baru lahir.


Tak sempat lagi memanggil ambulans, bayi Aruni sudah lahir. Ketika semua selesai Mery datang,


"Ealah Mba Aruni kok ga dari tadi telfon aku. Bisa-bisanya sampe ga krasa mau melahirkan", kata Mery.


Aruni hanya tersenyum mendengar ucapan Mery.


"Ya udah mba, aku tinggal ya, udah bagus semua."


"Iya, makasih ya Mer"

__ADS_1


Anak yang kedua ini diberinama Hafis, besar harapan Aruni pada Hafis, agar setelah besar nanti jadi anak yang sholeh.


Pagi harinya, Aruni melihat darah keluar mengucur dari jalan lahir.


"Astagfirullah..perdarahan."


Aruni meminta Andra mengantarnya ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, Aruni segera diperiksa,


"Ibu ini memang ada sedikit placenta yang tertinggal dan harus segera diambil," kata dokter yang memeriksa.


"Baik dokter saya ikut aja harus bagaimana"


"Karena baru saja, ini akan saya coba untuk mengambilnya sekarang"


"Tahan sakitnya ya bu"


Dokter mencoba mengambil sisa plasenta dan Aruni diam menahan sakit.


"Sudah bu, sudah selesai, semoga tidak ada lagi yang tersisa, ibu bisa pulang, apabila besok masih ada perdarahan, maka harus ada tindakan lagi"


"Baik dokter", Aruni dan Andra pulang.


Aruni yang baru saja melahirkan masih tetap merawat Raihana, dan mengurus semua pekerjaan rumah. Andra tak begitu mempedulikan Aruni. Sepertinya sibuk dengan urusannya sendiri.


Bahkan disaat kondisi seperti ini Andra masih mengutarakan niatnya untuk memiliki istri yang lain. Tentu saja membuat Aruni jengkel.


Aruni tak banyak bicara hanya dipendamnya dalam hati. Dan berdoa semoga suaminya berubah. Lantunan doa tak pernah putus dipanjatkan.

__ADS_1


Dia percaya Allah tidak tidur, selalu ada dalam setiap langkahnya.


__ADS_2