
Aruni mencoba menikmati hari-harinya sebagai seorang istri, menyambut suami, masak, dan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga.
Kebutuhan hidup mulai terasa, membantu ibu membayar listrik, cicilan motor dan untuk sehari-hari, tidak akan cukup kalau mereka tidak bekerja.
Andra saat ini bekerja di sebuah klinik dengan gaji yang tidak seberapa, hanya cukup untuk membayar cicilan motor dan mengirim uang untuk adik-adiknya yang masih kuliah. Untuk membantu Andra Aruni mencoba mendaftar bekerja di sebuah klinik dan mencoba mengadu nasib mendaftar sebagai CPNS.
"Alhamdulillah, aku diterima" teriak Aruni kegirangan.
"Ada apa?" Andra bertanya
"Aku diterima CPNS di Kabupaten Kulon Progo" jawab Aruni, "Juni mulai masuk"
"Aku juga sedang mendaftar kontrak Pegawai tidak tetap di Kulon Progo, semoga diterima".
Dan Andra juga diterima bekerja sebagai dokter tidak tetap, mereka bekerja di tempat yang berdekatan,
"Apa lebih baik kita cari rumah kontrakan aja ya"
"Ya terserah kamu Runi"
Andra dan Aruni mendapatkan sebuah rumah kecil di pinggir sawah, lengkap dengan pemandangan padi yang menguning dan suara bebek tetangga di samping rumah.
Hampir satu tahun menikah, Aruni dan Andra belum dikaruniai anak, masalah rumah tangga biasa terjadi hanya gara-gara pekerjaan Aruni yang harus turun naik gunung ke posyandu.
__ADS_1
Andra sering marah kalau tahu Aruni harus berangkat posyandu di daerah pegunungan, mungkin karena terlalu sayang pada Aruni.
Tapi kemarahan Andra membuat Aruni merasa tidak dicintai, seperti dikekang dan tak diberi penyelesaian.
Mungkin karena itu juga menjadi stresor bagi Aruni, dan berakibat belum punya Anak,
"Besok kita priksa ya?, takut ada seauatu" pinta Aruni pada Andra.
Andra mengiyakan ajakan Aruni.
Keesokan Harinya Aruni dan Andra menyempatkan diri untuk periksa,
"Antrian nomer 5, masih lama sepertinya", Aruni duduk tenang menunggu dokter datang.
"Ibu Aruni.."
Aruni dan Andra masuk ke ruang priksa
"Jadi kami takut kalau infertil primer dokter"
"Owh mbaknya orang kesehatan ya kok tahu, mari sini saya priksa", dokter melakukan pemeriksaan USG pada Aruni
"Ini tidak apa-apa, semua baik"
__ADS_1
Aruni merasa penjelasan dokter tadi kurang dan pulang dengan hati yang tak puas.
Akhir bulan ini sepertinya Aruni terlambat menstruasi dan keluar bercak darah tak normal. Aruni mencoba melakukan test urin dan hasilnya ternyata positif. Ya Aruni positif hamil.
Aruni bahagia dengan kehamilannya, seolah akan diberi seorang teman. Andra pun demikian.
Merindukan pulang ke rumah ibu, Aruni mengajak Andra untuk pulang, Tapi tak disangka Andra marah karena ajakannya itu,
"Untuk apa kamu pulang, kerjaan rumah aja ga beres kok minta pulang".
Mendengar Andra marah, rasa rindu pada orangtuanya bertambah.
Orangtua Aruni yang juga merindukan kehadiran anaknya menyempatkan untuk datang ke rumah Aruni. Aruni berpesan pada ibunya ;
"Bu kalau nanti aku tak pulang , ibu yang kesini ya, aku bukannya gamau pulang tapi mas Andra sering marah kalau aku minta pulang."
"Iya, kamu ga usah khawatir," jawab ibu.
Ayah dan Ibu hanya sebentar saja menengok, keduanya pulang setelah sholat asar.
Waktu kelahiran anak pertama semakin dekat, Aruni malah mendapat kabar kalau dia harus menjalani diklat, Aruni bingung harus bilang apa pada Andra.
Dengan berbagai cara Aruni meyakinkan Andra kalau dia harus ikut. Andra dengan berat hati memberi ijin pada Aruni.
__ADS_1