Apakah Aku Salah

Apakah Aku Salah
#44


__ADS_3

Malam harinya di rumah Arin, Arin hanya mengurung diri di dalam kamar, sambil menangis di depan foto seorang pria yang tidak lain adalah tuan Christopher, pria yang selama ini di anggap Arin sebagai ayah kandung yang selalu memanjakannya, namun pria itu sudah meninggal ketika Karin masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar.


Rumah Satya yang bersebelahan dengan rumah Arin, dan kamar Satya yang menghadap langsung ke kamar Arin, membuat Satya dapat melihat Arin yang sedang duduk dengan sedih sambil memegang foto di tangannya.


Satya menelpon Arin, sebenarnya Arin malas mengangkat telpon yang dia tidak tau dari siapa, dia hanya ingin terus menangis di depan foto pria yang selama ini di anggap Arin sebagai ayah nya, tapi karena Satya terus menelpon Arin, membuat smartphone nya terus berdering, dengan kesal Arin mengangkat telpon itu.


"Apa!." Tanyanya dengan nada yang tidak bersahabat, Arin masih belum tau kalau yang menelpon nya itu adalah Satya


"Ini gua Satya, lo kenapa?, janga jawab kalo lo gak kenapa-kenapa!." Ucap Satya, yang berhasil membuat Arin terkejut, Arin melihat jendela kamarnya yang belum tertutup


Pantesan dia tau,, orang aku lupa tutup jendela kamar,, aku gak mungkin ceritain masalah yang sedang menimpa keluarga ku ini. Dalam hati Arin

__ADS_1


"Woy kenapa diem,, gua lagi telponan sama manusia apa tembok sih?!." Ucap Satya kesal, tapi mendengar ucapan Satya itu, Arin bisa sedikit tersenyum


Arin menatap ke luar jendela, nampak Satya yang sedang duduk di jendela kamarnya dan menatap ke arah kamar Arin sambil melambaikan tangannya, Arin menjulurkan lidah nya, mengejek Satya


"Gua lebih suka lo yang nyebelin kaya biasanya,, bukan Arin yang punya mata bengkak kaya mata orang kena tinju,, hahaha." Ucap Satya di iringi tawanya sendiri, sambil menjulurkan lidah nya membalas ejekan Arin


"Hmm." Jawab Arin singkat, karena dia masih belum bisa melupakan masalahnya kali ini, meski Satya sudah berusaha menghibur nya


"Bukan nyanyi tapi baca mantra, hahaha." Ucap Arin, namun meski dia sudah bisa tertawa, dia masih terus memikirkan masalah keluarganya, dan masih menampak sedikit ekspresi sedih


Satya yang menyadari dia gagal menghibur Arin, langsung meloncat ke kamar Arin yang berjarak sekitar 8 meter dari kamarnya, tapi yah bukannya mendarat di depan kamar Arin, Satya malah mendarat di tanah, utungnya tidak ada benda tajam atau batu yang bisa membuatnya terluka parah Arin yang khawatir langsung berlari dan ingin melihat keadaan Satya.

__ADS_1


"Kak mau kemana?." Tanya Ana


"Mau liat keadaan Satya,, dia baru aja jatuh dari kamarnya." Ucap Arin dengan panik


Ana dan Arin langsung berlari ke tanah kosong berukuran 8 meter yang menjadi pemisah antara rumah Satya dan rumah Arin, di lihat nya Satya sedang tergeletak sambil menampakan senyum yang menahan sakit, bukannya langsung menolong Satya, Arin malah mengomeli Satya.


"Kamu itu manusia bukan kangguru!,, untung aja gak ada luka yang parah!,, hpmu mana biar aku telponin dokter keluarga Wijaya!!." Omel Arin sambil mengulurkan tangannya meminta smartphone Satya


"Kak Satya masih kesakitan loh jangan di omelin." Ucap Ana yang sejenak melirik ke arah Arin dengan kesal, kemudian kembali berusaha menolong Satya yang masih tergeletak, Arin menarik nafas panjang, kemudian membantu Ana.


"Satya!,, lo kenapa??." Tanya seseorang yang tiba-tiba muncul, dan yang pasti suara itu bukan milik Arka.

__ADS_1


__ADS_2