
Irva memutus kan untuk ke kantor, dan ketemu langsung dengan Hendra untuk tanya maksud kehadiran Hendra di mall Bogor.
" Hendra, kamu maksudnya apa, tiba tiba ada di mall di Bogor, dan seolah ketemu saya di restoran yang sama?" Tanya Irva sambil marah marah menatap sinis kearah Hendra
" Kamu kenapa marah sama saya? Saya kan bilang ke sana karena ada yang saya beli, kenapa kamu marah seperti ini, memangnya saya ganggu kamu?" Tanya Hendra berusaha santai, menghadapi Irva yang marah marah tidak jelas
" Saya tidak suka urusan pribadi saya diikut campur oleh kamu, jangan sok akrab deh Hendra kamu cuman rekan kerja saja, tidak ada hak untuk kepo dengan urusan pribadi saya" Tegas Irva yang tidak ingin ada yang kepo dengan urusan pribadinya.
" Terlalu percaya diri sekali kamu, saya mau belanja dimana pun itu hak saya, kamu tidak punya hak melarang saya ke Bogor atau kemana pun dan saya mau makan juga hak saya makan dimana saja, kamu tidak punya hak melarang saya sama sekali, kamu memang atasan saya di kantor, tapi di luar kantor kamu cuman rekan kerja saja" Tegas Hendra tidak akan biarkan Irva seenaknya terus
" Habisnya saya kesel tiba tiba ada di Bogor, tapi beneran kan kamu tidak ikutin saya kan? Saya tidak mau ada yang kepo dengan urusan saya" Lanjut Irva merasa bersalah sudah nuduh Hendra ikutin Irva
" Yah bener lah, ngapain juga saya ikutin kamu, memangnya kamu keluarga saya dan pacar saya yang harus saya mata matain? Kurang kerjaan sekali saya." Lanjut Hendra merasa lega, karena Irva sudah tidak emosi seperti tadi
__ADS_1
" Bagus kalo begitu, saya ke ruangan saya kalo begitu, huh tadinya saya mau libur tidak jadi karena ada kamu" Lanjut Irva kesel, Irva langsung keluar dari ruangannya Hendra
" Langkah selanjutnya, harus cari alasan yang masuk akal ketemu dengan Irva, supaya dia tidak curiga, apa Padang cctv didepan mobilnya Irva saja yah, supaya tahu Irva kemana, ah tidak jadi itu terlalu bahaya jika ketahuan semakin marah lagi." Lanjut Hendra pelan, cari alasan untuk sering ketemu dengan Irva di Bandung tanpa dicurigai oleh Irva
Hendra langsung melanjutkan kerjaannya dari pada memikirkan Irva terus, pekerjaannya tidak akan selesai selesai juga.
Dilain sisi, Irva melihat ayah nya lagi utak atik komputernya, merasa tidak nyaman walaupun perusahaan miliknya tapi bukan bearti punya hak untuk curigai Irva, padahal selama ini Irva selalu berusaha kerja dengan baik dan jujur, Irva selalu pakai uang yang sesuai haknya walaupun Irva yang kerja sepenuhnya.
" Ayah curiga jika Irva curang selama menjalankan perusahaan ini? sampai ayah cek sendiri ruangan Irva? kenapa tidak curiga dari awal, kenapa harus curiga disaat Irva akan keluar dari perusahaan ini? silahkan ayah cek saja di bagian audit apa ada kerugian perusahaan yang terjadi selama dua tahun Irva mimpin perusahaan ini atau ayah bisa tanya langsung ke asisten ayah itu jika ayah curiga Irva curang?" Tanya Irva merasa tersinggung dengan sikap ayah nya yang seenaknya buka komputer miliknya.
" Yah sudah ayah lanjut saja kerjanya dan Irva mau pulang saja, toh hitungan hari kan Irva keluarga dari sini" Lanjut Irva berusaha tidak sedih dan menujukan wajah keselnya
" Kenapa Irva tetep mau keluar dari sini? ayah kan sudah bilang membatalkan perjodohan kamu dan Aryo sekaligus membatalkan sita semua hak kamu kan, kenapa harus tetep pergi dari sini?" Tanya Ayah nya Irva semakin heran melihat anaknya yang keras kepala
__ADS_1
" Oke biar ayah puas yah, pagi pagi Aryo datang ke kantor, untuk membatalkan perjodohan dan menjadi temen biasa, setelah beberapa kali Aryo datang kesini untuk menawarkan proyek pembangunan perumahan dan sore saat Irva pulang dari kantor, ayah membahas untuk membatalkan perjodohan sekaligus membatalkan ancaman ayah untuk tidak jadi usir Irva dari rumah dan keluar dari perusahaan juga, bagaimana bisa Irva tidak curiga dengan keputusan ayah yang tiba tiba membatalkan perjodohan, dan diwaktu yang sama saat Aryo pun membatalkan perjodohan dan ajak Irva untuk jadi temen biasa. jeda waktunya dari pagi dan sore ada dua orang yang punya keputusan yang sama, bagaimana Irva tidak curiga sama sekali dan Irva bukan perempuan yang lemah akan turutin keinginan ayah, tenang saja beberapa hari ini irva akan keluar dari rumah dan sama sekali tidak akan ganggu ayah sama sekali" Tegas Irva yang akhirnya terus terang, kenapa Irva tetep dengan keputusannya, jika Aryo dan Ayah nya tidak melakukan kerjasama untuk menjebak Irva
" Jadi kamu sudah menduga seperti itu? maafkan ayah Irva, ayah egois memaksa kamu untuk tetep menikah dengan Aryo demi mewujudkan keinginan ayah nya Aryo, ayah mohon jangan keluar dari rumah Irva, karena bunda lama lama akan sedih kehilangan kamu dan tidak tahu kamu tinggal dimana, ayah mohon jangan keluar sayang dan soal hari ini, beneran ayah kangen sayang kalo tidak percaya lihat lah proposal yang lagi ayah buat dari perusahan yang minta bantuan kamu, dan gambar yang sudah ayah buat dari tadi" Lanjut Ayah nya Irva, yang tidak menyangka jika anaknya bisa berfikir sejauh itu.
" Entahlah ayah, Irva sama sekali tidak percaya dengan ucapan ayah sama sekali, jadi jangan harap jika Irva percaya langsung dengan ayah, Irva bener bener kecewa dengan ayah dan sepertinya Irva akan keluar dari rumah besok saja, supaya ayah puas dengan keinginanan ayah yang ingin kembali kerja, yang ingin usir Irva dari rumah dan Irva dengan senang hati menerima ancaman ayah" Tegas Irva yang sudah cukup sabar untuk menghadapi ayah nya, apapun alasannya Irva tidak suka ayah nya sembarangan buka komputernya
" Baik lah jika memang itu keinginan Irva, kita lihat saja apa yang bisa Irva lakukan tanpa bantuan orang tua sama sekali" Tegas Ayah nya Irva yang berusaha meremehkan Irva
" Ayah lupa, jika Irva punya gaji selama dua tahun memimpin perusahaan ini, selama ini Irva tidak terlalu boros menggunakan gaji Irva dan bonus yang Irva dapatkan setiap berhasil mendapatkan proyek besar, selalu saja ayah merendahkan orang lain, jadi ayah tidak usah sombong seperti itu, pastinya Irva akan berfikir bagaimana Irva bisa bertahan hidup sendiri tanpa bantuan orang tua sombong seperti ayah" Tegas Irva yang semakin kesel direndahkan oleh ayah nya
" Ayah akan blokir dan ambil mobil kamu, itu kan fasilitas kantor?" Tanya dan ancam ayah nya Irva, berharap anaknya takut
" Sorry, Irva beli dari gaji Irva dibayar secara kredit, selama setahun, Irva sengaja selalu incar proyek besar untuk Irva mendapatkan bonus untuk bisa beli mobil jadi ayah tidak punya hak untuk sita mobil, soal rekening Irva, isinya sudah Irva pindahkan ke rekening baru, dan soal bonus sekaligus gaji terakhir Irva akan Irva minta langsung ke ayah karena itu hak Irva, tapi besok Irva sudah keluarga dari rumah selamanya dan ketemu ayah cuman ambil hak Irva saja" Tegas Irva yang merasa bersyukur karena selama ini selalu mandiri dan disaat seperti ini, Irva tidak merasa kesusahan sama sekali
__ADS_1
" Hebat sekali kamu Irva, yah baik lah, hak kamu akan dikasih sekarang saja dan bonus yang sudah tercatat saja dikasih ke kamu sekarang bagaimana?" Tanya Ayah nya Irva, yang tidak menyangka jika anaknya bisa mandiri punya mobil dan merasa yakin jika Irva hidup sendiri sudah menyiap kan tempat tinggal baru, jika tidak ada persiapan Irva tidak akan seperti ini
" Ide yang bagus" Tegas Irva langsung telefon Hendra untuk membahas gaji dan bonusnya Irva terakhir kalinya, sebelum pergi dari rumah, Irva minta Hendra untuk keruangannya sekarang