
Setelah mengantar Ara kembali, mereka berkumpul di markas untuk merayakan kemenangan.
"Taar, lo benaran gak mau minum alkohol?" tanya Gibran.
Ataar menggleng. Dia tetap tak ingin menyoba hanya sedikit yang bernama alkohol, dia tak ngiler sedikit apa yang di lakukan teman geng motornya.
Dia melamun di kursi, tadi dia begitu menyakiti hati Ara dengan kata-katanya menyakitkan. Namun, gadis itu tetap memberi spam kepadanya.
"Lo terlalu sempurna untuk gue yang kekurangan kasih sayang, Ra. Lo udah mendapatkan kasih sayang begitu banyak, kalau lo sama gue. Lo gak bakal bahagia," gumam Ataar. "Lagian gue tak sama sekali mempunyai rasa ke lo. Ini salah lo sendiri, menaroh hati kepada lelaki seperti gue."
"Kenapa bro, diam aja," ucap Gentara duduk di samping Ataar. "Lo masih mikirin soal yang tadi? Menurutku, ya. Lo salah, soalnya Ara cuma memperingati lo, dia khawatir dengan lo. Lo gak lihat bagaimana cemasnya dia tadi? Dan bisanya lo malah membentaknya, mana bawa-bawa gadis tak benar," ucap Gentara. "Bukan maksud ikut campur ya, tapi lo gak mau balas perasaanya?" tanya Gentara.
Ataar terdiam mendengar ucapan Gentara barusan.
"Gilak, gue gak mikirin dia. Dan gue gak mau maksa hati gue untuk gue kasih ke orang yang tak sama sekali gue cintai."
Gentara menghela napas, dan menepuk pundak sahabatnya seraya berkata. "Gue ikutin apa yang menurut lo benar, lo sahabat gue. Gue cuma memperingati sekali lagi, penyesalan datang belakangan. Ara menerima lo apa adanya, mungkin dia belum tahu dengan kondisi lo dengan papa lo, tapi gue yakin Ara akan menerima itu semua. Gue baru ketemu sama Ara, tapi gue bisa lihat effrotnya ke lo benar-benar tulus. Jangan sia-siain gadis seperti dia." Setelah mengucapkan itu, Gentara meninggalkan sahabatnya yang terdiam membisu.
Ataar terus kepikaran tentang yang di ucapkan Gentara barusan.
Mereka saling tos bersama dengan minuman masing-masing, hanya Ataar yang berbeda.
"Lo tau Kevin?" tanya Ciki pada Gibran.
Gibran menegung habis minumannya lalu menoleh ke arah Ciki.
"Tau, kenapa?" tanya Gibran.
"Yang buat bos celaka namanya Kevin. Dia tak ingin bos menang, tapi bos menang walaupun terluka sedikit," bisik Kevin.
__ADS_1
"Anjing si wewek gembel taunya main curang," ucap Gibran sehingga semuanya menoleh. Dia pun nyengir, dia mendekati ketiga sahabatnya.
"Kevin yang niat mencelakai lo, Taar," ucapnya sehingga Ataar menghela napas. "Gue jadi bingung dengan tuh anak. Dengan iri hatinya membuatnya seperti ini. Padahal dulu kita baik-baik saja, hanya iri hatinya ke lo dia keluar dari geng Trizgel dan gabung dengan geng sebelah, Rival kita." Gibran hanya geleng-geleng kepala.
"Udahlah, terserah dia saja. Kalau capek pasti akan nyerah, mau gimana pun kalau udah gelap mata mah, tetap akan seperti itu. Gue udah capek nasehstin dia, coba minta maaf atas kesalahan yang tak pernah gue perbuat," sahut Ataar.
"Gue berharap dia secepatnya sadar," ucap Gentara. "Niel, lo gak akan seperti dia kan?" tanya Gentara di luar dugaan.
"Gak jelas lo monyet, kita udah bertahun-tahun bersama, mana bisa gue baperan," ucap Niel. "Gue malah bangga kali kalau teman gue di puji, bahkan di idolakan."
"Gimana Gib, udah berhasil?" tanya Niel. Gibran menggeleng.
"Dia gak mau cok, katanya dia maunya sama Ataar." Gibran memeluk Niel dengan dramatis.
"Taar gue mah heran sama lo, bisa-bisanya banyak cewek yang kepicut dengan ketempanan lo, padahal mah cuma biasa-biasa aja tuh muka. Lagian lo dingin banget kaya kulkas. Btw tutorial dong."
Ataar hanya menaikan bahunya. "Gak ada tutorial, soalnya gue dari lahir udah tampan dan di incari," jawab Ataar dengan wajah datarnya.
"Sialan. Apa gue harus jadi cowok cool dulu?" tanya Gibran.
Gibran menghela napas, apa yang di katakan Gentara ada benarnya. Kita gak perlu merubah penampilan kita demi di incari olehnya, kalau jodoh, dia akan menerima kita apa adanya. Jadilah diri sendiri, jadi diri sendiri aja sulit, gimana jadi seperti orang yang dia inginkan?
Ataar berdiri dari sana dan mendekati Gibran. "Jangan benci gue ya, gue bakal bantu lo supaya lo bisa mendapatkan dirinya."
Gibran mengangguk, dia memeluk Ataar, tak mungkin dia membenci sahabatnya hanya satu cewek, lagian Ataar tak berniat untuk mengambil cewek yang dia suka, cuma itu cewek aja yang tergila-gila pada Ataar. Dia lelaki yang berpikiran dewasa, tak mengambil keputusan sat set yang malah membawanya ke jalan yang salah.
"Gue balik duluan, ya."
"Taar?"
"Tenang, bokap gue lagi keluar kota," ucap Ataar yang tau maksud sahabatnya.
__ADS_1
Mereka bertiga pun mengangguk.
"Hey, gue pergi duluan ya," teriak Ataar agar yang lain mendengarnya.
"Cepat banget bos, btw terima kasih traktirnya bos," balas mereka ikut berteriak.
Ataar hanya tersenyum lalu mengangguk, dia mendekati motornya lalu melajunya pergi.
Sesampainya di rumah, dia ke kamar kakaknya yang pasti belum tidur di jam segini.
"Astaga Ataar, bisa gak kalau masuk kamar kakak tuh mengetuk pintu atau beri salam dulu?" tanya Fisha, Ataar memang kebiasaan langsung duduk di samping kakaknya yang sibuk mengejarkan tugas kuliahnya.
"Kak," panggil Ataar.
Fisha pun hanya berdehem, tanpa menoleh ke arahnya.
"Kak Xaviel udah ada kabar?" tanya Ataar sehingga kakaknya menghentikan pekerjaannya.
"Bisa gak, gak usah bahas tentang itu?" tanya Fisha dengan wajah datarnya, dia kembali mengingat sahabatnya yang pergi meninggalkannya kuliah di luar negri.
Ataar menidurkan kepalanya di paha sang kakak, dan mencoba memejamkan matanya. Selain obat tidur yang membuatnya nyenyak, Fisha ataupun uminya pun bisa membuatnya tertidur. Seakan rasa yang di berikan papanya sembuh hanya di sentuh hangat oleh kedua ratunya.
Keesokan paginya, Ataar berangkat agak kesiangan sedikit tak seperti biasanya. Saat ini dia ikut sarapan pagi bersama dengan umi dan kakaknya. Dia bebas karena papanya sedang di luar kota.
"Umi gak usah buatin Ataar bekal, Ataar akan makan di kantin sekolah," ucap Ataar menyalimi keduanya, lalu beralih mengecup pipi mereka pergantian.
"Ataar pergi, Asslamualaikum," teriaknya di saat berada di luar rumah.
Di sekolah, dia langsung ke kantin karena ketiga temannya berada di sana.
"Tumben datang kesiangan," ucap Gentara melihat temannya duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Ketiduran," dustanya.
Seorang gadis datang ke arah mereka, yang tak lain adalah Ara yang membawakan bekal ke Ataar. Namun, bukannya di terima Ataar membuangnya ke tong sampah membuat hati Ara sesak.