
Ataar merendamkan dirinya di bathub sudah tiga puluh menit lamanya.
Ketukan pintu membuat Ataar membuka matanya dan beranjak dari bathub, dia memakai handuk sebatas lutut lalu membuka pintu.
"Kak Fisha," ucap Ataar.
"Kenapa mandi malam?" tanya Fisha.
"Gak, gerah," jawab Ataar.
Fisha menyalahkan AC. Ataar memilih pakaiannya lalu kembali ke dalam kamar mandi untuk memakainya.
Kakaknya datang ke kamar Ataar untuk membawakannya makan malam, karena lelaki itu tak turun untuk makan malam.
Ataar kembali keluar dari kamar mandi.
"Ayo makan," pinta Fisha.
"Gue gak lapar," jawab Ataar duduk di sofa memegang ponselnya.
Fisha ikut duduk di samping adiknya. Ataar melirik sekilas lalu kembali fokus ke ponselnya.
Ataar merebahkan dirinya di paha Fisha. Fisha pun mengelus dengan lembut surai basah itu.
"Jangan mandi malam lagi, gak baik," peringat Fisha, Ataar hanya berdehem dan fokus ke layar ponselnya.
"Papa memukulmu?" tanya Fisha.
Ataar menggeleng. "Gak kak."
"Kamu berbohong!"
"Gak kak, gue benaran!" celetuk Ataar.
"Kamu gak membiarkan kakak jujur ke umi, kamu terus ingin di siksa seperti ini?" tanya Fisha.
"Aku gak mau mereka bertengkar, kak, biarkan mereka bahagia," jawab Ataar.
"Terus kamu yang menderita? Apa ada keadilan seperti itu? Kamu terlalu memikirkan seseorang dari pada diri kamu sendiri?"
"Karena hidup gue udah hancur dari dulu, kak. Jadi gue gak mau bikin hidup kedua orang tua gue hancur juga, gue gak mau mereka bertengkar hanya karena gue. Gue bisa melawan ini semua, gue orang kuat. Kalau gue gak kuat mana mungkin Allah berikan ujian seberat ini? Dari kecil aku merasakan pedihnya kehidupan, penyiksaan yang papah berikan. Jangan gara-gara ini, kedua orang kita bertengkar dan malah ada perpisahan."
"Kehidupan gue memang gak utuh kak, tapi Ataar lebih hancur mendengar mereka bertengkar sampai ada kata perpisahan."
Ataar beranjak bangun dari tidurnya lalu memeluk kakaknya, menangis sejadi-jadinya di sana.
Bukan Fisha yang merasakan berada di posisi Ataar, tapi dia juga merasakan sesak dan sakitnya. Sebagai sodara mana ada yang tak punya ikatan batin?
"Jangan pernah membenci kakak ya, kalau kakak mau kakak juga ingin papa ikut membenci kakak agar kita seimbang. Kakak udah sering nasehatin Papa, mengancamnya, tapi Papa masih melakukan hal yang sama. Setiap kakak melarangnya, dia semakin menjadi-jadi memukulmu."
"Ataar tak pernah berpikir akan membenci kakak, ini bukan salah kakak, tapi memang Ataar anak pembawa sial."
Fisha melepaskan pelukannnya, dia menempelkan tangannya di bibir Ataar.
__ADS_1
"Jangan katakan satu kalimat itu, Ataar. Kamu bukan anak pembawa sial." Fisha melap air mata Ataar yang tak henti-hentinya jatuh.
"Ataar cengek?" tanya Ataar.
Fisha menggeleng. "Ataar juga manusia bisa nangis!"
Ataar mengangguk. Dia memeluk kakaknya kembali.
"Kakak udah bilang, kalau Papa ada di rumah kamu jangan pulang. Biar kakak yang nyari alasan ke mereka," ucap Fisha.
"Ini rumah tempat teduh Ataar, dimana Ataar harus pulang kalau bukan di sini?" tanya Ataar.
"Kakak mohon, biarkan kakak memberi tahu umi, ya?"
Ataar menggeleng keras, dia menahan lengan kakaknya.
"Ataar mohon jangan kak, demi Ataar jangan," cegah Ataar.
Fisha membalikan wajahnya, dia menyuruh adiknya berdiri.
"Ok, demi kamu kakak gak bakal lakuin, tapi kakak mau kamu jangan menyerah! Demi kakak dan umi." Fisha memegang kedua pipi adiknya, Ataar mengangguk.
"Ataar gak janji."
"Apapun keadaannya jangan mengambil jalan yang tak benar. Ingat masih ada umi dan aku yang membutuhkanmu."
"Ok." Ataar mengangguk-angguk.
"Ok kamu istirahat, kakak harus balik ke kamar ada tugas kakak yang belum selesai."
"Obatin luka, Ataar boleh?" tanya Ataar sehingga Fisha menoleh.
"Katanya gak di pukul, papa?"
"Gue bohong, kak."
Fisha menghela napas dan menyuruh adiknya duduk, dia membuka laci, mengeluarkan kotak p3k.
Ataar meringis di saat Fisha menekan lukanya menggunakan kapas.
Fisha panik di saat hidung Ataar mengeluarkan darah segar.
"Ataar hidung kamu."
Ataar memegang hidungnya, dia buru-buru mengambil tisu dan menarohnya di hidungnya.
"Kakak."
"Iya?"
"Kakak kembali lah ke kamar, tugas kakak kan masih banyak? Udah di obatin kan lukanya?"
"Tapi hidung kamu?"
__ADS_1
"Gak papa kak, ini hal biasa tadi di sekolah gue di hukum kena panas matahari."
Fisha menghela napas dan keluar dari kamar Ataar. "Makanannya jangan lupa di makan," teriak Fisha.
Ataar berdehem keras lalu mengunci pintu kamarnya, dia berlari mendekat ke arah laci dan mengeluarkan sebuah alat yang tak lain adalah nebulizer
Ataar mengatur napasnya melalui alat itu. Asmanya kembali kambuh.
Keringat membasahi jidat Ataar. Tangan Ataar begitu bergetar memegang alat nebulizer.
Dia meraih ponselnya karena bergetar, ternyata pesan dari Ara.
Ataar melepaskan alat itu, dan memandang chat yang di kirimkan Ara. Walaupun hanya spam random, tapi spam itu membuat Ataar merasa berharga di dunia ini.
Dia memblokir kontak Ara, menurutnya pesan itu membuatnya risih.
Ara yang sedang asik mengetik pesan jadi berhenti kala melihat pp Ataar langsung kosong.
"Ataar memblokirku?" tanya Ara mengirim pesan dan benar saja pesannya centang satu.
Ara menghela napas, dia membuka ig dan akun Ataar di privasi dan hanya orang yang dia konfirmasikan yang dapat mengiriminya pesan.
Dia membuka tele. Namun, Ataar tak mempunyai telegram.
Akhirnya dia pun menyerah dan menyimpan ponselnya, dia akan mengiriminya pesan lewan nomor baru.
"Apa itu cinta dalam diam? Aku akan mencintaimu secara brutal dan unggal-unggalan. Aku bakal tetap mencintaimu sampai aku capek, kalau aku capek aku bakal istirahat sebentar lalu kembali mengejarmu."
"Kalau esok kamu belum menerimaku, masih ada hari esoknya lagi dan seterusnya."
Ara menekuk wajahnya. Wajahnya jadi menghilang di saat dia memeluk bonekanya.
"Aku kurang apasih di mata Ataar?" tanya Ara. "Aku cantik, aku baik."
"Kata orang aku gak ada kurangnya, tapi kenapa Ataar tak menyukaiku?
Ara menghela napas kasar, tanpa mengspam Ataar dia menjadi bosan, tapi Ataar malah memblokirnya.
Pintu terbuka, Ara menoleh ternyata mommynya yang membawa segelas susu.
"Wajah anak mommy kenapa, kok di tekuk gitu?" tanya mommy Gracel.
"Ataar blokir Ara," jawab Ara.
"Kok bisa?"
"Iya bisalah mommy, Ataar belum suka juga sama Ara."
Mommy Gracel tersenyum dan memegang pipi anaknya dengan gemass. Sehingga Ara mengerucut bibirnya.
"Jangan sedih, Ataar tuh cowok dia pasti risih sama spam kamu. Coba deh dengan cara yang lain supaya Ataar gak risih dengan apa yang kamu buat."
Sebuah ide berputar di kepala Ara, dia tersenyum dan meraih ponselnya.
__ADS_1
(Ara)