Ataar'S Wound

Ataar'S Wound
Part 16 ~Terpilih ketua osis~


__ADS_3

Ataar merebahkan badannya di sofa yang ada di markas. Pikirannya isinya semua tentang Ara. Dia gak tahu rasa apa yang dia rasakan saat ini, tapi dia benar-benar sedikit bersalah.


Jam segini biasanya gadis itu akan mengiriminya spam chat random. Namun, saat ini satupun gak ada, karena dia memblokir nomor Ara.


Tanpa di sangka, Ataar membuka blok itu, dan berdiam saat di room chat gadis itu.


Ataar menghela napas. Dia mengacak rambutnya furstasi.


"Sial," teriaknya. Temannya yang pada datang jadi bingung dengan tingkah Ataar.


"Kenapa lo?" tanya Gentara.


Ataar menoleh lalu menegakkan badannya, dia meraup wajahnyan lalu menggeleng.


"Kalau ada masalah, sini cerita," ucap Gibran.


Ataar menatap ketiga sahabatnya secara pergantian. "Bukannya setiap masalah gue ceritain ke kalian? Sans aja, gue baik-baik aja, gue cuma kecapean, tadikan gue di hukum keliling lapangan."


"Lo sih bikin pak Yanto, ngamuk."


"Besok pemilihan osis, gue penasaraan siapa ketua osisnya."


"Tapi gue dengar, nama lo masuk pendaftaran pemilihan osis, Taar."


Ataar yang sedang bermain game, langsung saja menoleh ke arah Niel.


"Bodoh, siapa yang daftarin nama gue?" tanya Ataar. Meteka bertiga menaikan bahunya. "Jangan bilang, di antara kalian bertiga?"


"Jangan nuduh, njing. Gue aja kaget tiba-tiba aja nama lo ada di daftar pilihan osis," ucap Niel.


"Lo tau dari mana?" tanya Gibran.


"Tadi gue di suruh ke ruangan guru bawa barang-barangnya, gak sengaja gue lihat keras jatuh. Gue ambilah, siapa tahu itu kertas penting, nah kan gue kepo sama isi kertasnya. Gue baca dong, ternyata daftar pemilihan osis, dan gue dapat nama lo."


"Siapa yang memegang dan catat daftar itu?" tanya Ataar.


Niel berpikiri sesaat, mencoba mengingat siapa murid yang masuk di ruangan guru selain dirinya.


"Kayanya anak ipa kelas 10A."


"Namanya siapa?" tanya Ataar lagi. Dan kali ini Niel menggeleng, dia tak mengenali murid itu.


"Tapi gue tahu orangnya yang mana. Cuma gak tahu namanya siapa."


"Besok temanin gue kelas 10A ipa, gue gak terima. Gue mau dia hapus nama gue dari daftar."


"Tapi lo yakin lo bakal kepilih?"

__ADS_1


Ataar diam sesaat, benar juga apa yang di katakan Gentara, emang dia bakal kepilih?


"Ya juga sih, tapi kemungkinan sedikit dia pasti kepilih. Pasti banyak yang akan cari muka dan memilih Ataar," ucap Gibran.


"Bodoh," teriak Ataar memakai jaketnya lalu berdiri.


"Mau kemana lo?" tanya Niel.


"Pulang."


Ataar berjalan keluar markas, dengan tas yang di selempang. Dia menaiki motornya, melajukannya pergi dari sana.


Ketiga sahabatnya, hanya mampu geleng-geleng kepala, melihat tingkah Ataar.


"Jangan sampai gue ke pilih," batin Ataar.


Keesokan harinya, para murid di suruh berkumpul di lapangan, dan di suruh untuk menulis di kertas pilihan calon ketua osis dan wakil osis. Ataar tak bisa mendapatkan murid yang mencatat namanya, lagian kalau dia dapat, dia juga gak bakal dapat mencoret namanya, karena kertas itu sudah sampai di tangan guru.


"Ataar." Panitia membuka satu kertas yang tertarah nama Ataar.


"Embun."


"Kaira."


"Kaira."


"Ataar."


"Ataar."


"Ataar."


"Ataar."


"Ataar.


Begitu terus selanjutnya, ketiga nama itu saling berlomba-lomba. Dan sisa satu kertas lagi yang akan menentukan vote terbanyak antara ketiga calon ketua dan wakil.


"Ataar."


Mereka semua berteriak, di saat nama yang terakhir di sebut adalah Ataar. Sedangkan sang empuh mengumpat dengan kesal.


"Siapa yang mau memberi vote satu untuk wakil?" tanya panitia.


Para murid pada memandang, menurutnya Kaira dan Celi sama-sama mempunyai bakat.


"Semoga lo," bisik Kaira, pada sahabatnya.

__ADS_1


"Gilak lo? Gue gak mau dekat sama demit itu, lihat mukanya aja iw, apalagi sampai kerja sama."


"Awas aja, benci jadi cinta," sindir Kaira. "Gara-gara lo nih berdua, gue harus daftar. Gue kan gak mau daftar organisasi, cukup jadi bendehara kelas."


Salah satu murid maju dan menyerahkan kertas pilihannya. Panitia pun membukanya, dan ternyata yang terpilih adalah Celi. Secara resmi wakil osis, ketua osis adalah Celi serta Ataar.


Keduanya terus mengumpat dalam hati. Mereka merasa kesal dengan apa yang terjadi, mereka sama-sama tak ingin menempati posisi itu.


Salah satu murid angkat bicara, sehingga mereka semua menoleh ke arah murid itu.


"Gak cocok, yakali bentukan Ataar menjadi ketua osis, gimana nanti sekolah ini? Pokoknya saya tidak setujuh."


Murid lain yang merasa terwakili, memperbaiki ucapan murid yang angkat bicara.


"Benar," teriak mereka separuh.


"Kalian bisa diam?" tanya guru menggunakan mic. "Kami di sini memberi kalian untuk memilih, pilihan kalian masing-masing, dan terbukti vote terbanyak di menangkan oleh Ataar anak kelas 12B ipa," jelas sang guru.


"Kenapa dari tadi kalian tak protes? Kali ini tidak ganggu-gugat lagi, Ataar di nyatakan menjadi ketua osis sekolah ini," ucap pak Yanto. "Untuk kamu Ataar, bapak percayakan kepadamu untuk menjadi contoh yang baik untuk teman-temanmu."


"Gimana mau jadi contoh yang baik, pak. Seharusnya dia yang melihat contoh, bukannya dia brandalan sekola!" teriak mereka.


Ataar mencengkram tangannya, tak terima apa yang mereka ucapkan.


"Baik, pak. Saya Ataar Angkasa Gautama, akan menjalankan tugas dengan baik," ucap Ataar. "Saya akan menjadikan contoh diri saya sebagai ketua osis yang baik serta bertanggung jawab."


Ketiga teman Ataar terganggang mendengar tuturan sahabat mereka.


Setelah mengucapkan itu, Ataar di beri sebuah lambang sebagai simbol ketua osis.


Ataar berjalan turun dari panggung dan menatap nyalang kepada Kevin yang memulai keributan ini terjadi.


Dengan keras Ataar menyenggol lengan Kevin, sehingga lelaki itu hampir tak bisa mengseimbangkan badannya.


Tak terima dengan perlakuan Ataar, Kevin menarik dari belakang seragam Ataar.


Keduanya yang di liputi emosi, membuat mereka semua panik.


"Gini? Ketua osis yang baik untuk di contohi?" tanya Kevin menunjuk Ataar, Ataar pun menepis tangan Kevin.


"Jaga mulut lo sialan." Ataar baru saja ingin melayangkan pukulan. Namun, dari belakang seseorang menahannya.


"Udah woi, jangan bertengkar. Lo juga, gak usah cepat ke pancing, baperan. Belagu lo, gak keren gaya lo. Gue laporin sama tante Aisha, baru mampus lo," ucap Celi yang memegang lengan Ataar dan membawanya pergi.


Kevin hanya tersenyum devil dan berucap pelan ke arah Ataar. "Fuc*k." Dia memberikan jari tengahnya ke arah Ataar, sehingga Ataar ingin kembali maju. Namun, cepat-cepat Celi menahan Ataar dengan memeluknya.


Ara yang berada di pojokan dan melihat itu hanya diam. Baru gini aja Ataar dan Celi sudah sedikit dekat, gimana nanti yang akan bersama untuk pekerjaan osis? Lantaskah dia cemburu, dengan itu semua?

__ADS_1


__ADS_2