Ataar'S Wound

Ataar'S Wound
Part 8 ~Mencintai itu sakit~


__ADS_3

Brak!


Ataar meninju pipi salah satu murid sehingga terjungkal kebelakang.


Dia memegang kerah baju laki-laki itu. Dan kembali melayangkan tinjuan.


"Taar, udah," cegah Gibran di saat Ataar ingin kembali melayangkan tamparan.


Ataar membersihkan tangannya, lalu berlanggak keluar dari kantin. Kali ini dia pasti akan kembali masuk ruang bk, jadi dia menuju ruang bk.


"Lah, balik kelas aja."


"Malas,"ucap Ataar masuk ke dalam ruangan yang banyak murid yang tak ingin memasukinya.


"Pagi, pak," sapa Ataar dengan santai, duduk di kursi sambil melipat kaki kirinya di atas kaki kanan.


"Ataar, kamu yang sopan sedikit gak bisa?" tanya pak Yanto. "Bikin ulah apa lagi kamu? Sampai salah satu murid berlari ke sini untuk melaporkanmu."


"Apalagi pak, kalau gak buat onar?"


"Kam-"


"Gak usah banyak basa-basi, pak. Langsung ke intinya saja, bapak mau beri saya hukuman apa?" tanya Ataar.


"Kamu, Kalau bukan cucunya kiay Nando, udah lama bapak keluarkan dari sekolah," tegas Yanto.


"Udah tahu, kenapa masih di hukum? Mau saya laporin ke opa saya, kalau bapak ini sering menyiksa cucunya? Kemarin di suruh bersihkan halaman belakang sekolah yang luasnya hampir sama dengan sungai amazon, mana kerjanya gak bisa di bantu. Bapak kan tau, kalau saya ini mempunya penyakit asma, terus kalau tiba-tiba kambuh, dan-"


"Udah, kamu keluar," usir pak Yanto tak ingin mendengar kata-kata yang membuatnya jedang-jedung. Dia berada di posisi ini, karena kerja keras. Jangan sampai dia di pecat, gara-gara menghukum cucu pemilik sekolah.


Ataar tersenyum devil dan berdiri. "Bapak apa hukuman saya?"


"Kali ini gak ada, kamu keluar saja dari ruangan ini," jawan pak Yanto.


Ataar tersenyum dan berjalan keluar ruangan dengan tas yang di rangkul satu.


Ketiga temannya yang menunggu di luar ruangan langsung menghampirinya.


"Gimana, Taar. Lo di hukum apa?" tanya Gibran.


Ataar menyimpan satu tangannya di saku celana, lalu menggeleng. Dia menaikan jempolnya dan berjalan lebih dulu dari pada temannya yang merasa bingung.


"Gue traktir kalian," ucap Ataar. Sehingga ketiga temannya berlari menuju kantin.

__ADS_1


Ataar menahan kerah baju Gibran dan Gentara, sedangkan Niel, dia tendang bokongnya membuatnya tersungkal ke depan.


"Apasih, Tar?" tanya mereka.


"Makannya jangan di kantin, kita makannya di warung mbak Lala."


"Lah, itukan di luar sekolah?"


"Gak papa kita keluar," ajak Ataar ketiga temannya pun hanya menurut dan ikut.


Ataar menuju ke gerbang sekolah, di mana ada kedua satpam yang berjaga sisi kanan dan kiri.


"Woi Taar kita manjat aja," teriak Gibran mencegah Ataar. Satu sahabatnya itu, memang kadang-kiding, semuanya gak ada yang di takuti, selain papanya.


Ataar mehiraukan ucapan temannya, dia mendekati satpam yang berjaga di sana.


"Pak, saya di suruh pulang oleh pak Yanto, benaran pak. Saya ada urusan keluarga," ucap Ataar.


Kedua satpam itu menoleh, lalu saling melirik satu sama lain.


"Pak, apa bisa?" tanya Ataar.


"An-" Ucapan mereka terhenti di saat Ataar mengeluarkan duit merah empat lembar.


Ataar memberikan uang itu kepada kedua satpam tersebut, lalu memanggil temannya untuk mengambil motor masing-masing.


Ataar menurunkan kaca helm mahalnya dan menggas motornya. Niatnya akan ke markas untuk tidur, semalaman dia tak tidur, karena di beri begitu banyak pekerjaan oleh papanya setelah di pukul. Dia benar-benar mengantuk dan pegal di aera tubuhnya.


Baru ingin keluar dari gerbang, dia di teriaki membuatnya berhenti mendadak.


"Sialan," pekik Ataar melepaskan helmnya dan menoleh kebelakang.


Setelah melihat siapa yang memanggilnya, dia memutar bola mata malas, dan ingin kembali mema'kai helm, tapi Ara berlari ke arah dirinya.


"Kamu mau kemana, Taar? Jam pelajaran belum selesai, masa kamu mau bolos?"


"Bukan urusan lo!" tegas Ataar.


"Jangan pergi, kamu harus belajar!"


Ataar mendorong badan Ara kebelakang sehingga gadis itu terjatuh di tanah, sampai telapak tangannya memerah karena tergores batu kasar.


Melihat itu Ataar turun dari motornya dan mendekati gadis yang selalu membuatnya naik darah.

__ADS_1


Ara menghapus air matanya dan menatap Ataar dengan tatapan senduh, Ataar yang melihatnya jadi merasa bersalah.


"Gue minta maaf," ucapnya menyuruh gadis itu berdiri.


Ara menepis kasar tangan Ataar. "Jangan di pegang, sakit."


"Kalau gak di obatin nanti semakin parah!" tegas Ataar menarik dengan kasar masuk ke dalam sekolah, membawanya ke uks.


Ara meringis, karena tarikan Ataar terlalu kasar. Lelaki itu niat gak sih untuk mengobatinya.


Sesampainya di uks, Ataar menyuruh Ara duduk di brankar.


Ara menjerit, karena Ataar mengobatinya dengan agak kasar.


Ataar menyimpan kotak p3k di atas nakas lalu menatap gadis di depan yang penuh air mata.


"Gak usah nangis, ini salah lo sendiri."


Ara mengangguk. "Makasih," ucap Ara.


"Jangan lo anggap ini, kalau gue peduli lo. Gue gak peduli. Gue cuma gak mau di salahkan." Setelah mengatakan itu, Ataar pergi dari sana meninggalkan gadis itu sendiri.


Ara menghapus air matanya dengan kasar, dia jadi heran. Kenapa dia mencintai Ataar? Padahal Ataar tak mempedulikannya, dia hanya sering mengkasari dan membentaknya, tapi bukannya membencinya, Ara semakin menyukai Ataar. Mungkin benar, cinta itu buta bagaimana pun sikap, sifat dan bentuk Ataar, dia masih mencintainya, walaupun mencintainya itu sakit.


Ataar menatap sekilas ke dalam ruangan uks, dia menghela napas, lalu berlari keluar sekolah.


Ketiga temannya menunggu Ataar di depan gerbang sekolah.


"Kasihan sih, Ara," ucap Gentara. Mereka berdua mengangguk.


"Dia bukan seperti cewek yang lain yang sebenarnya menyukai Ataar karena tampan, tapi Ara beda. Dia menyukai Ataar dengan sungguh-sungguh, walaupun di sakiti berkali-kali, dia masih mengejarnya," jelas Gentara.


Ataar datang membuat mereka berdiri dari jongkok, dan menaiki motor masing-masing.


Sedangkan di sisi lain, ada Ara yang berjalan di koridor kelas, untuk menuju kelasnya. Tadi dia izin untuk mengambali buku di perpus, di saat balik, dia melihat Ataar yang sedang merayu satpam.


Di kelas, Ara duduk di samping Cindy. Cindy tak sengaja melihat telapak tangan Ara.


"Ini kenapa, Ara?" tanya Cindy.


Ara menjauhkan tangannya, lalu menggeleng. "Gak papa, gue tadi jatuh terus telapak tangan gue terkena batu kasar."


Cindy memicingkan matanya, membuat Ara buru-buru menghadap ke depan.

__ADS_1


"Lo udah nangis? Pipi dan kelopak mata lo memerah," ucap Cindy. "Ara jujur sama gue!" tegas Cindy menyuruhnya menghadap ke arahnya.


"Nanti gue ceritain, kita belajar dulu. Nanti di tegur guru."


__ADS_2