Ataar'S Wound

Ataar'S Wound
Part 17 ~Adu mekanik~


__ADS_3

Ataar melihat Ara yang pergi meninggalkan lapangan, dia buru-buru melepaskan pelukan Celi. Ingin rasanya Ataar menjelaskan pada gadis itu kalau yang di pikirkan salah, tapi menurutnya itu lebih baik kalau Ara salah paham.


Lelaki itu berlari ke arah kelas, pasti di sana sudah ada bekal Ara. Ternyata benar, di sana sudah ada paperbang.


Ataar menoleh kiri-kanan, dan memasukan paperbang itu ke dalam tasnya.


"Ataar, tadi Ara nyimpan paperbang di sini, suruh sampein ke lo. Semoga lo bisa menerima makanan itu, setidaknya menghargai makanan."


Ataar hanya berdehem, menyuruh murid itu duduk ke tempatnya. Tak mau membuat Ataar murka, murid itu langsung duduk.


Tiba-tiba ketiga temannya masuk ke dalam kelas, menghampirinya.


"Widih, selain ketua geng motor. Bos kita juga ketua osis," sindir Niel.


Ataar hanya memutar bola mata malas, dan menyingkirkan tangan Gentara di bahunya.


"Lo benaran, bisa. Taar?" tanya Gibran.


Ataar menyimpan ponselnya lalu menatap Gibran dengan datar. Dia merasa kalau Gibran merendahkannya.


"Lo rendahin gue, seperti si sialan itu?" tanya Ataar sehingga Gibran langsung menggeleng keras, tanda tak bermaksud seperti itu. "Gue bakal buktiin, sampai si sialan itu, mampus."


"Semangat." Mereka bertiga menepuk pundak Ataar lalu duduk di bangku masing-masing untuk memulai pelejaran, karena guru sudah masuk ke dalam kelas.


Saat jam istirahat, para murid berlomba-lomba keluar kelas untuk menuju kantin.


"Tumben Ara gak buatin lo bekal?"


"Mungkin udah nyerah," jawab Ataar duduk di kursi yang berada di kantin.


Gentara memanggil salah satu murid.


"Lo ngerti? Awas aja sampai sini pesanan kami beda!" tegas Gentara.


Murid perempuan itu mengangguk, dan mulai berjalan ke arah penjual kantin untuk memesankan apa yang mereka inginkan.


Beberapa saat, murid itu kembali membawa satu nampan besar, menaroh di meja keempatnya. Walaupun dia gugup setengah mati, tapi dia berusaha menahannya. Tiba-tiba saja, minuman yang hendak dia simpan di depan Ataar tertumpah, sehingga mengenai seragam putih cowok itu.


Brak!


Ataar mengabrak meja, sehingga murid itu tertunduk, tangannya bergetar hebat melihat Ataar semarah itu.


"Sialan lo, kerja yang becus," teriak Ataar menyirami balik seragam murid itu dengan jus milik Niel.


Murid itu terisak, merasakan dinginnya kulitnya bahkan bajunya trasparan masuk.


Celi dan kedua temannya yang tak sengaja melihat itu, menghampiri mereka.


Celi buru-buru melepaskan cardingannya dan memakai'kannya kepada murid itu.

__ADS_1


"Maaf, kak," ucap murid itu pada Ataar. Celi menyuruh murid itu pergi dari sana.


"Woi bajingan, banci lo?" tanya Celi. "Lo kira hebat lo kaya gitu?" tanya Celi.


"Mana sikap ketua osis, yang seharusnya di contohin?" tanya salah satu teman Celi.


Ataar mencengkram tangannya, ketiga temannya berusaha meredahkan emosi lelaki itu. Ataar beranjak pergi dari sana.


Ketiga temannya pun, mengikuti Ataar.


Ataar membuka lokernya, mengeluarkan seragam candangannya. Dia masuk ke dalam toilet dan menggantinya


"Taar, lo akhir-akhir ini cepat emosi sih? Lo ada masalah?" tanya Gentara.


Ataar meraup wajahnya kasar. "It's ok."


"Kalau lo ada masalah, cerita."


Gibran memberikan sebotol air kepada Ataar, Ataar pun meneguknya sampai habis.


"Gue mau balapan malam ini," ucap Ataar menatap Niel. Niel pun mengangguk dan menginfokan di sosmed.


🐰🐰🐰🐰🐰🐰


Malamnya telah tiba, kini Ataar akan balapan liar. Dengan hadiah taruhan dia yang bayar. Kalau dia kalah, maka orang itu mendapatkan duit puluhan juta darinya. Namun, kalau dia yang menang. Orang itu siap untuk babak belur untuk dia pukul sepuasnya.


Bruman motor mereka menghidupkan kesujian aera balapan.


Ataar menurunkan helm full facenya. Dia menaikan dagunya ke arah lawan, dengan senyum devil.


Seorang gadis cantik dengan pakaian sedikit terbuka maju ke depan mereka. Dan menghitung mundur, saat hitungan kesatu, dia melepaskan peluru dari pistol membuat mereka melajukan motor masing-masing.


Lawan Ataar, mencoba memain-mainkan Ataar, seperti sedang meledek. Ataar pun mengikuti permainan lawannya.


"Najis," gumam Ataar melajukan motornya. Lawannya menyenggol bannya membuat Ataar hampir terjatuh.


Brum!


Ataark lajukan motornya dengan kencang, sampai ke garis Finis. Ketiga lawannya pun berdecak.


Ataar melepaskan helmnya, dan menatap lelaki yang melawannya. "Dengan gaya songong kalian begini, mampu jadi pemenang? Usahakan bukti dari pada kesombongan. Kalian kaya gini, lebih mirip banci," ledek Ataar.


"Sesuai perjanjian apa?" tanya Ataar, dia turun dari motor. Dan mendekati salah satu di antara mereka.


Bruk!


Salah satu di antara mereka menendang perut Ataar yang belum siap untuk melawan.


Bruk!

__ADS_1


Dengan refleks Ataar membalas pukulan lelaki itu.


Ataar meringis di saat kepalanya merasa pusing. Di keadaan itu, orang tersebut mencari kesempatan untuk memukulnya.


Ataar tak mampu melawan, karena di aera kepalanya sangat nyeri. Ketiga sahabatnya langsung saja menghentikan itu semua, dan menyuruh mereka cabut.


"Taar." Gentara menepuk pipi Ataar yang mulai menutup mata "Telfon Ciki suruh bawa mobil Babe ke sini dulu! Kita bawa dia ke markas."


Saat mobil datang, Ataar di bawa ke markas. Sesampainya di sana, Gentara menelfon Ara untuk datang ke sana.


Karena terlalu shock bukannya membawa Ataar ke rumah sakit, malah membawanya ke markas.


"Sadar gak sih? Kenapa kita malah bawa Ataar ke sini?" tanya Gibran.


"Lah, ya juga?"


Ataar sadar dan dadanya sesak. Gentara yang peka, langsung mengambil Alat Nebulizer di dalam saku jaket Ataar.


Dengan tangan bergetar Ataar menaroh alat itu di hidungnya. Dia menghirup oksigen menggunakan alat itu.


Ketiga temannya jadi kasihan dengan Ataar. Bahkan anggota lain yang baru melihat Ataar seperti ini merasa tersentuh.


Ataar yang mereka kenal tegas dan dingin. Namun, ternyata di balik itu semua ada sisi rampuhnya.


Babe datang membawakan air, Ataar pun tersenyum dan meminum air itu tanda menghormati.


"Makasih, Babe."


"Lukamu terlalu banyak, Gibran obatin Ataar!" perintah Babe pada Gibran.


Saat hendak mengobati Ataar, seseorang datang membuat mereka menoleh.


"Celi!" gumam Ataar.


Celi di telfon oleh Niel, bahwa Ataar sedang terluka. Celi pun buru-buru datang, padahal keadaannya tengah tidur. Bahkan gadis itu cuma memakai baju tidur gambar pororo.


"Ataar," panggil seseorang lagi sehihgga mereka kembali menoleh. Ternyata Ara, gadis itu di beri tahu Gentara kalau Ataar habis berkelahi.


"Biar gue aja," ucap Celi. Ara menahan Celi.


"Biar gue!" tegas Ara.


"Gue aja kenapa sih? Gue lebih tahu dari pada lo," ucap Celi.


"Gue aja, gue juga tahu. Gue mau ngobatin Ataar!"


"Gara-gara lo nih," ucap Niel.


"Lah kok gue? Seharusnya lo, gara-gara lo nelfon Celi. Mereka jadi bertengkar."

__ADS_1


__ADS_2