
Hari, bulan serta tahun berlalu begitu cepat. Saat ini Ataar sudah dewasa. Sudah memasuki Sma kelas dua.
Hari-harinya di sekolah, di kelilingi orang-orang yang mengangumi ketampanannya, terutama para kaum hawa. Namun, dengan sikapnya yang sering bolos jam pelejaran, dan sering membuat onar membuat beberapa murid tak menyukainya.
Lagi dan lagi, lelaki itu masuk ke ruang bk, karena membuat ribut telah menyiram air teman sekelasnya.
"Gini, pak, kita gak salah. Dia yang berancana menjebak kita, sebelum di jebak apa gak bisa di balas lebih dulu?" tanya Gibran, tak terima temannya di sorot ke ruang bk.
"Kamu diam, bapak bukan ingin bicara sama kamu, tapi dengan anak nakal ini."
Ataar hanya diam, di raut wajahnya tak ada rasa takut. Ataupun menyesal telah membuat onar.
"Atas dasar apa, kamu menyiram teman sekelasmu dengan air bekas pel?"
"Kenapa bapak bertanya lagi? Bukannya tadi udah di jelasin dengan Gibran?"
"Udah, bapak jadi gila kalau ngomong sama kamu. Udah lima kali kamu membuat onar, bapak kasih kesempatan sekali lagi dan kamu masih mengulanginya. Bapak terpaksa memanggil orang tuamu," ucap pak Yanto. "Sebagai hukumanmu. Bapak menghukumu membersihkan halaman belakang sekolah sampai bersih, jangan lupa untuk melap kaca yang kotor! Selain itu, ketiga temanmu ini tak boleh membantu. Kalau kedapatan, bapak menambah hukumannya."
Ataar berdiri dari sana. Ingin beranjak pergi. Namun, Ataar di suruh berhenti.
"Mau kemana?" tanya pak Yanto.
"Ke neraka, emang bapak tadi nyuruh Ataar kemana?" tanya Niel menyela.
"Membersihkan halaman belakang sekolah."
"Tuh tahu, kenapa nanya lagi?"
Pak Yanto menggaruk belakang kepalanya. Di saat keempat murid nakalnya pergi dari ruangan.
"Lo benaran kuat, Tar?" tanya Gentara.
Ataar hanya berdehem. Dia mengambil sapu di tangan Niel, dan mulai menyapu halaman belakang sekolah, yang luas dan di penuhi daun-daun kering, yang jatuh dari pohon besar di depan mereka.
Gentara pergi dari sana untuk membeli minum untuk mereka berempat.
"Benar-benar tuh si Yanti," gerutu Gibran. "Taunya ngasih hukuman. Sekali-kali kasih duit, kek."
"Ngelunjak, tapi ini salah kita juga sih. Kalau gak buat onar mungkin kita gak bakal di hukum terus-menerus, tapi bukan kita namanya kalau gak buat onar."
"Kalian ngapain di sini? Sana masuk kelas," sahut Ataar.
"Gak ah, sekarang jam pelajarannya Ibu siti."
"Gib," panggil Niel. Gibran pun hanya berdehem keras membalas panggilan Niel.
__ADS_1
"Tau gak, salah satu adek kelas kita, cantik banget cuy. Imut."
"Owh masa?"
Niel mengangguk. "Dia kayanya suka sama Ataar."
"Bukannya kaum hawa yang berada di sekolah ini ngepans berat dengan Ataar? Gak heran lagi."
"Benar sih, Taar lo gak ada niatan bagi-bagi tuh cewek ke kita-kita?"
Ataar menoleh sekilas lalu menegangkan badannya. "Ambil, gue gak butuh," jawab Ataar. Lagian dia tak sama sekali tertarik oleh para kaum hawa yang berada di sekolahnya, kerak orang mengatakan kalau dia tak normal.
Sering kali ada seorang murid cantik yang confess terang-terangan, tapi bukannya di terima. Ataar malah membuatnya malu.
"Sebenarnya lo normal gak sih, Tar?" tanya Niel.
"Ngaco," jawab Ataar singkat membersihkan keringatnya.
Gentara datang dan memberikan sebotol air mineral ke kepada Ataar dan kedua temannya yang lain.
"Thx," ucap mereka bersama dan meminum air mineral itu. Ataar menghabiskan sebotol air itu, bahkan dia melirik botol Gibran. Gibran pun memberikan air minumnya.
"Maaf Tar, kita gak bisa bantu, lo," ucap Gentara.
Gentara menoleh kiri-kanan, sepertinya aman. Dia menyuruh kedua temannya berdiri dan melap kaca. Dia jadi khawatir dengan Ataar yang wajahnya mulai memucat. Mereka sudah tahu, kalau Ataar sering di pukul papanya, mereka selalu melihat luka Ataar, dan akhirnya menyuruh lelaki itu jujur saja.
Sekitar sejam lamanya, mereka akhirnya selesai. Semuanya sudah bersih dan kinclong.
Pak Yanto pun tersenyum dan membiarkan mereka kembali ke kelas.
Bukannya kembali ke kelas, keempat lelaki nakal itu malah memilih bolos jam pelajaran.
Mereka memilih untuk ke markas tirzgel nama geng motor yang mereka bangun satu tahun yang lalu.
Sesuai apa yang mereka rencanakan. Ataar yang menjadi ketuanya dan Gentara wakilnya. Geng motor itu memang baru terbangun, tapi jangan salah, geng motor mereka sudah di juluki geng motor unggalan. Banyak yang ingin bekerja sama dengan geng motor trizgel, tetapi Ataar tak menerimanya. Dia sangat tahu mana yang niat bekerja sama dengan mana yang ingin cuma meninggi.
Tak salah anggota trizgel memilih Ataar menjadi ketua, yang berpikir begitu dewasa. Ataar tuh duplikat papanya. Yang dewasa dalam memimpin.
Sesampainya mereka di markas, mereka saling tosan. Baru sedikit yang datang, mungkin yang lain masih sekolah.
"Babe, es tehnya empat," teriak Gibran.
Seseorang yang di sebut babe itu menaikan jempolnya dan membuatkan mereka es teh. Ataar membuat markas di samping warung kecil, dan sang babe tak masalah dengan hal itu. Lagi pula, anak geng motor itu sangat baik, walaupun terbilang nakal.
"Bos, ada event lomba balapan nih bos, bos atau yang lain gak ada yang niatan ikut?" tanya salah satu anggota.
__ADS_1
Ataar menoleh lalu menggeleng. "Hari ini gue gak bisa, gue ada urusan, kalau kalian mau. Ikutlah."
"Gak deh bos, bos kan senior. Kami mah takut kalah."
"Gibran lo gak niat ikut?" tanya Gentara.
Gibran menoleh. "Gue mau ikut," jawab Gibran.
"Semoga menang, kami bakal ikut untuk ngasih lo semangat."
Gibran menaikan jempolnya, lalu mengisap pipet agar tehnya masuk ke mulutnya.
"Lo mau kemana, Tar? Tumben gak mau ikut balapan."
"Gue mau ke ponpes opah gue."
"Owh njir, ternyata ketua kita cucu kiay, kah?" tanya Niel heboh.
"Otomatis, lo gus dong?"
"Gus hanya gelar semata, tapi gue gak pake," ucap Ataar.
Mereka beroh. "Lo di ajak ke sana untuk tobat, ya?" tanya Gentara.
"Gue ikut dong," ucap Niel.
"Terus yang nemenin Gibran balapan siapa?" tanya Gentara.
"Iya juga, padahal lumayan ketemu santriwati cantik di sana."
"Ngotak lah, gue kira mau ikut untuk mau tobat. Eh taunya mau cuci mata aja. Dosa, " celetuk Gibran.
"Aelah, bilang aja lo juga mau, kan?" tanya Gentara mengejek.
"Iya juga sih," jawab Gibran.
"Gue mau sama kak Fisha, dia cantik," ucap Niel sehingga mendapatkan tatapan tajam dari Ataar.
"Kan gak ada yang mungkin di dunia ini, Tar. Siapa tahu gue berjodoh sama kak Fisha. Nanti kita iparan."
Plak!
Gentara menampar bibir Niel. "Emang kak Fisha mau sama cowok modelan kaya lo? Kak Fisha tuh maunya sama yang alim, lo mah bukan alim, tapi nahusbilla."
"Mulut lo, sialan. Bikin gue sakit hati."
__ADS_1