Ataar'S Wound

Ataar'S Wound
Part 18 ~Di hibur~


__ADS_3

Ataar mengacak rambutnya furstasi, dia beranjak bangun dan mendorong Ara.


"Biar Celi yang obatin gue, lo gak bisa. Mana ada anak manja kaya lo bisa?" tanya Ataar.


"Aku memang manja, tapi aku tahu kok obatin luka kamu," ucap Ara meraih tangan Ataar. Namun, Ataar menepisnya kasar.


Ataar ingin menaikan tangannya, tetapi dia urutkan. Dia menatap Ara tajam.


"Kalau gue bilang, gak ya gak! Lo tuli?" tanya Ataar membentak. "Gue gak mau di obatin cewek kaya lo," ucap Ataar.


"Tap-"


"Pergi sialan. Gue gak butuh, lo di sini bisa buat kepala gue makin pusing. Mending lo pergi sana." Ataar mendorong badan Ara untuk keluar markas.


"Ayo obatin gue!" perintah Ataar menarik tangan Celi untuk duduk.


Celi pun mengambil kotak paperbang di sampingnya, di sana kekurangan kapas. Gadis itu menatap kantong plastik yang di pegang Ara.


"Ra, gue boleh minta kapasnya?" tanya Celi menunjuk kantong yang di bawa.


Tanpa banyak tanya, Ara memberikan kantong plastik itu.


"Kenapa lo masih ada di sini? Gue bilang sekarang lo pergi! Wajah lo buat gue muak."


"Ak-u, mau lihat kamu di obatin," jawab Ara. "Emang semenjijikan itu, yah?" tanya Ara, gadis itu terlihat ingin menangis, tetapi dia mencoba untuk menahannya.


"Iya lo menjijikan, gue gak suka lihat lo. Gue berharap lo pergi, dan tak menampakan wajah jijik lo di depan gue. Lihat sekarang, baru sebegitu lo udah nangis."


"Kamu bercandakan dengan ucapanmu? Aku udah kebal, Taar. Sampai kamu menghina lebih fatal lagi, gak bisa aku benci kamu," gumam Ara.


Gadis itu masih kukuh tak pergi dari sana, walaupun Ataar tak meresponnya. Bahkan sering menolak perhatiannya.


Celi pamit pulang, karena dia sudah di telfon. Tetapi Ara dia masih setia di sana.


"Ataar nanti jangan lupa makan. Sering istirahat, tadi darah rendah kamu kambuh. Makanya gini," ucap Ara tersenyum tipis. Dia menulis larangan dan yang bisa Ataar lakukan di kertas. Setelah itu dia memberikannya pada Gentara.

__ADS_1


"Kak, gue titip ya. Jagain Ataar buat Ara, di sana udah ada larangan dan perintah yang harus dia lakukan. Kalau gak nurut, jewer aja," bisik Ara tertawa kecil berusaha menutupi air matanya. Dia meraih tasnya dan keluar dari markas.


Ara melambaikan tangannya ke arah mereka dan tersenyum.


Gentara memberikan kertas itu pada Ataar, lalu mengejar Ara. Begitupun dengan kedua sahabatnya.


Ataar menatap kertas itu, dia menghela napas.


Ara berlari ke arah halte bus untuk menunggu kendaraan atau bus yang lewat. Dia ke pergi dengan keadaan sembunyi-sembunyi, takut dia ketahuan daddynya. Dia tak mempedulikan kalau di luar mungkin saja ada yang ingin mencelakainya, yang dia pikirkan hanya Ataar, hanya lelaki itu.


Gadis itu sangat panik saat Gentara menelfonnya bahwa Ataar habis berkelahi dan terluka, tanpa memikirkan keselamatannya. Dia langsung menuju markas yang di mana banyak laki-laki nakal.


Ara menghapus air matanya, dia membuka ponselnya lalu menatap fotonya dan Ataar.


"Ataar, Ara kangen Ataar yang dulu. Waktu kecil kita selalu main loh? Kok sekarang Ataar jahat banget? Ataar buat hati aku sakit banget. Kata-kata Ataar buat Ara sakit hati. Dulu Ataar sering datang ke rumah untuk mengajak Ara main boneka. Ara terus ngejek Ataar, 'laki-laki kok main boneka' Kalau di pikir-pikir, Ara pengen deh kita balik diusia lima tahun."


"Di mana ada Ataar yang cengeng sering nangis. Sering ngadu kalau Ataar jatuh atau terluka. Setelah kejadian itu kamu berubah, Ataar, kamu beda sama Ataar yang aku kenal dulu. Dulu kamu bilang, 'Ala, kalau kita udah besal, Ataal akan buat Ala bahagia. Ataal bakal lindungi Ala seperti kak El lakukan pada kak Cha. Ala tahu gak? Ataar akan jadi olang kelen' Hahaha, waktu itu aku gak percaya dengan ucapanmu, tapi kamu membuktikan kamu bisa jadi orang keren, tetapi kamu tidak berhasil membuat aku bahagia, kamu ingkar janji."


Lagi sedih-sedihnya, Ara terkejut di saat ada yang menyodorkannya sebuah coklat.


Ara menoleh dan buru-buru memghapus air matanya. "Kakak dengar, ya?" tanya Ara.


Gentara menaikan jari telunjuknya di dagu, lalu menggeleng. "Gue gak dengar, emang ada apa?" tanya Gentara menatap Ara.


Ara menggeleng, dengan ragu dia mengambil coklat di tangan Gentara.


"Maafin gue, ya? Karena gue, lo harus di giniin. Andai saja, gue gak nelfon lo, Ataar gak akan buat lo sakit."


"Gak kok, gue memang merasakan sakit, tapi yang di rasakan Ataar lebih sakit."


Gentara mengangguk."Kenapa di sini? Kalau nanti ada orang jahat gimana?" tanya Gentara. "Lo berani banget keluar tanpa pengawasan. Lo anak pengusaha tersukses, bisa saja ada yang ingin mencelekai lo?"


"Gue bakal lawan, dong."


"Emang bisa? Kalau mereka banyak? Terus badannya besar-besar?" tanya Niel yang baru saja datang dan membawa sebotol susu dan menarohnya di paha Ara.

__ADS_1


"Yaudah, aku nyerah aja," jawab Ara.


"Lah kok nyerah? Kalau ngejar Ataar gak bakal nyerah mau gimana pun."


"Kan itu beda, kak Gibran," ketus Ara.


"Jangan sedih lagi dong, kamu harus semangat ya buat Ataar suka kamu. Kami gak yakin, tapi mungkin saja Ataar akan luluh seiring waktu, tetapi kalau udah capek berhenti aja. Namun, jangan nyerah," saran Gibran.


"Makasih buat kalian, bisa menghibur aku." Ara nyengir, masih memakan coklatnya.


"Benar ya, cewek memang obat moodnya coklat," ucap Niel.


"Gak juga, gue suka semua makanan. Menurutku semuanya enak."


"Unik banget sih, kalau gue jadi Ataar. Udah gue karungin." Gemass Gibran.


Ara hanya tertawa. Humornya memang tipis sekali, dia cepat sekali di hibur.


"Tuan putri, gak mau pulang? Ini udah mau tengah malam."


"Jangan panggil tuan putri geli," tolak Ara.


"Tapi kami ingin, gimana?" tanya Gibran.


Ara hanya memayutkan bibirnya. "Terserah, ini juga lagi nunggu bus."


"Astaga Nona, jam segini jangan harap ada kuda... Eh maksudya bus."


"Terus gue pulang pake apa, kak? Tadikan gue naik taksi, tapi hp gue lobet buat mesan taksi."


"Biar kita antar."


Gentara memakai'kan, Ara helm dan mengangkatnya alah bocah naik ke atas motor. Ara hanya mengerutuk.


"Kalian mau culik, gue?" tanya Ara melipatkan tangannya di depan dada.

__ADS_1


Ataar yang melihatnya dari kejauhan, hanya tersenyum, sangat tipis. Siapa pun yang melihatnya, akan tak sadar senyuman itu.


__ADS_2