
Ataar pulang ke rumahnya hanya untuk tidur dan di pukuli? Rumah yang seharusnya menjadi tempat kebahagiannya, malah menjadi neraka bagi Ataar. Andai saja umi dan kakaknya tak berada di sana, Ataar tak akan kembali ke rumah yang membuatnya menjerit kesakitan. Dia memang badboy yang di kenal kejam. Namun, dia lemah saat bersama papanya.
Lelaki itu merebahkan badannya di sofa, dia bolos sendiri, karena ketiga temannya memilih untuk mengikuti jam pelajaran. Bukan niat belajar, tapi membantu Gibran mencuri hati pujaannya. Ataar berada di markas, markas itu sangat sepi.
Ada notif masuk membuat Ataar memutar bola matanya, tapi dia masih membaca isi pesan spam dari Ara.
Ataar melempar ponselnya lalu memejamkan matanya. Namun, dia tiba-tiba bangun karena suara ribut. Mungkin temannya sudah pada datang.
"Bos," ucap mereka tos tangan bersama.
"Tumben bos."
"Mereka bertiga masih di sekolah, Gibran mau ngercep gebetannya," ucap Ataar. Sebenarnya gebetan Gibran, menyukainya dan tidak menyukai Gibran, tapi Ataar tak ingin sahabatnya salah paham, jadi dia biarkan saja.
"Udalah, gebetannya tak ada yang benar. Setiap cewek cantik di jadiin gebetan, tapi sialnya tak pernah ada yang berhasil."
"Woi, cerita orang dari belakang dosa." Gibran yang baru datang langsung memegang kerah jaket Ciki.
"Ampun, saya kecoplasan," ucap Ciki menaikan kedua tangannya.
"Iye, mental sindiran, gak sd."
"Sd apaan?" tanya Ataar.
"Wah anjir, bos kita gak modern banget. Masa sd gak tau?"
"Sd (Sekolah sadar)?"
"Bukan anjjing, lo ketinggalan. Sd (sadar diri)," protes Gibran.
Ataar mengangguk-angguk. Gentara menawarkannya satu batang rokok, tapi Ataar menggeleng. Dia memang nakal, tapi dia tak akan Lula dengan ucapan uminya. Rokok, bir atau sering di sebut minuman beralkohol itu makanan haram. Ataar tak boleh meminumnya ataupun menyentuhnya.
Yang lainnya meminum bir. Namun, Ataar hanya meminum soda.
"Bos ada tandingan balapan nih, gak niat ikut? Coba di buka akun ig, _Event_lomba balapan liar. Lumayan bos nominalnya tak main-main."
Ataar meraih ponselnya dan membukanya. Saat ini memang mereka lagi butuh dana untuk membantu babe warung.
"Gue mau ikut, tapi kalau gue menang. Gue izin makai uang ini untuk perbaikan markas, warung babe dan pengobatan anaknya," ucap Ataar. Mereka tak pikir panjang langsung mengangguk.
"Gak papa bos, itu lebih bagus. Kita udah sering foya-foya menggunakan hasil balap kita, tak pikir dengan markas ini dan babe yang menerima kita di sini dengan baik," ucap Niko.
__ADS_1
"Makasih ya. Gue bangga punya anggota kaya kalian, tak serakah dan rendah hati. Kita boleh di kenal nakal, tapi rendah hati harus good."
Mereka menaikan jempol masing-masing lalu tersenyum.
Malam tiba, Ataar sudah di arena balap bersama dengan anggota geng motornya dan juga motor tersayangnya, yang dia beli atas tabungannya sendiri tanpa ada campur tangan orang tuanya. Dia ikut bekerja di sebuah bengkel, walaupun gajinya tak seberapa, tapi kalau dah di kumpul jadi banyak.
"Nama?" tanya seseorang yang pemilik lomba ini.
"Ataar dari geng motor Trizgel," jawab Ataar dengan banggga. Semua anggotanya pun berteriak.
"Trizgel?" tanya juri berbisik.
"Bukannya geng motor yang sedang naik daun di berbagai geng motor, dia terpilih salah satu geng motor unggalan?"
"Mungkin."
Mereka sedang menunggu salah satu anak balap yang belum datang.
Ataar menatap sekitar seperti ada yang janggal. Namun, dia berusaha tenang dan fokus.
Saat semua sudah berkumpul, suara brungan motor menguasai arena balap itu.
Semua motor sport keren itu melaju dengan sangat kencang.
Ataar tertinggal paling belakang. Dia memperhatikan gerak gerik lawannya. Saat sudah ada kesempatan, dia melajukannya dengan kencang sehingga ketiga motor yang lainnya tertinggal di belakangnya.
Di saat mencapai finis, ban motornya tiba-tiba goyang-goyang. Semua anggotanya seketika panik.
Salah satu lawan balapnya tersenyum di balik Helm hitamnya.
krets!
Motor Ataar terjatuh dan terguling-guling bersama dengan Ataar, tapi dia dan motornya mencapai garis finis lebih dulu."
"Arkk," pekiknya, di saat tangannya kebakar, Karena kikisan motor dan aspal.
Ketiga temannya langsung berlari ke arah motor Ataar dan membawanya duduk.
"Sial, walaupun dia terluka dia tetap menang," gumam sang pelaku.
Gentara membuka helm Ataar. Di wajahnya tak ada luka sedikit pun, tapi tangannya terbakar.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit aja," ucap Niel.
Ataar menggeleng keras. "Gak usah," ucapnya menolak.
"Tapi ini parah, Taar!"
"Setiap hari gue mendapatkan lebih parah dari ini kok," balasnya membuat ketiga temannya terdiam mendengarnya.
Seseorang menyuruh Gentara menyingkir. Dia duduk di samping Ataar.
Ataar menatap nanar seseorang itu yang tak lain adalah Ara.
Ara merongok kantong plastik yang dia bawah. Dia mengeluarkan sebotol air putih dan menyiram luka Ataar menggunakan air itu.
"Sial," teriak Ataar merasa pedih, dia menatap tajam ke arah Ara. Namun, gadis itu tak peduli. Bahkan tangannya sudah bergetar melap tangan Ataar menggunakan ujung cardingannya.
Gadis itu meniup pelan luka itu, lalu memberikannya selep di bagian yang ke bakar.
Ataar menatap gadis itu dengan intens, kenapa malah gadia itu yang cemas dan tangan bergetar padahal dirinyalah yang terluka.
Usai mengobati luka Ataar, gadis itu menatap Ataar dengan ketiga temannya.
"Kalau begini jadinya siapa yang harus di salahkan? Sudah tahu ini bahaya, kenapa di lakukan? Untung saja cuma tanganmu yang terluka!" tegas Ara.
"Bisa gak demi kebaikan kamu, kamu berhenti balapan? Aku bukannya ingin ikut campur dengan hobimu, karena aku juga punya hobi, tapi hobimu berbahaya Ataar. Kamu bisa terluka kalau begini. Gimana kalau kehilangan kamu?" Napas Ara naik turun mengoceh. Ataar hanya diam
Lelaki itu berdiri. "Ara kehidupan lo sempurna, beda dengan gue. Lo di perlakukan sangat layak, tak seperti diriku. Lo enak berpikir ini berbahaya, tapi bagi gue ini seru. Tempat terbaik buat menyembuhkan luka, adalah ini! Lo gak usah ikut campur," tegas Ataar meninggikan nada bicaranya.
"Maaf... Aku cuma tak ingin kamu terluka."
"Balapan tak balapan, gue juga bakal terluka setiap hari!"
Ara tak tahu masalahnya, dia juga tak ingin bertanya yang bisa membuat lelaki itu murka.
"Lagian ngapain lo di sini? Gadis kok keluar malam-malam, mau jadi apa?" tanya Ataar.
Ara menunduk dan meremas ujung cardingannya.
Sebelum Ataar kembali berbicara, Gentara membawa Vieara pergi dari sana.
Ara menatap nanar ke arah Ataar, Ataar pun membuang muka. Sepertinya omongannya barusan membuat hati gadis itu tergores, tapi itu yang dia mau, Ataar ingin membuat gadis itu sakit telah menyukainya agar memutuskan untuk berhenti.
__ADS_1