Ataar'S Wound

Ataar'S Wound
Part 15 ~Risih~


__ADS_3

Hari begitu cerah dan sejuk, di tambah dengan senyuman yang di pancarkan di bibir gadis cantik.


Ara menyisir rambutnya dengan rapi, lalu meraih tasnya. Dia pun berjalan dengan gembira, keluar dari kamarnya.


"Pagi," sapa Ara menciun pipi kedua orang tuanya.


"Ayo makan cepat, nanti kamu lambat," perintah mommynya.


"Belajar yang benar, ya," ucap daddy Revandra mengacak dengan gemasss rambut putrinya.


"Daddy, jangan di berantakin!"


Daddy Revandra tersenyum, lalu merongok saku celananya. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan kartu. Kartunya dia berikan kepada sang istri dan uangnya untuk anaknya jajan selama seminggu.


"Uang yang daddy kasih senin lalu, belum habis," ucap Ara.


"Gak papa, sayang. Kamu simpan saja yang itu, ini kamu ambil."


Ara menatap mommynya, mommy Gracel mengangguk. Ara pun mengambil uang itu lalu memasukannya ke tasnya.


Saat selesai makan, Ara megambil dua bekal yang di siapkan mommynya. Satu untuknya dan satu untuk Ataar, yang punya Ataar, dia buat sendiri bukan mommynya.


Ara terus berbohong, kalau Ataar sangat menyukai bekal buatannya. Padahal nyatanya, satu kali pun tak pernah Ataar menyentuh makanan itu.


"Ara pergi, ya." Pamit gadis itu berlari keluar rumah dan menaiki mobil yang akan mengantarnya ke sekolah.


"Paman, Ara mau singgah di supermarket, ya," ucap Ara membuat supir pribadinya mengangguk.


Sesampainya di supermarket, Ara ingin membeli sendiri. Dia masuk membelikan cemilan yang Ataar suka, lelaki itu sangat suka cemilan yang bersangkutan keju. Ataar sangat suka keju, sama apa yang di sukai kakaknya. Ara mengatahuinya dari Fisha.


"Semoga kali ini berhasil," gumam Ara keluar dari supermarket di saat sudah membayar apa yang dia beli.


Di sekolah, dia bertemu dengan Cindy. Ara ingin ke kelas Ataar untuk menaroh bekal itu.


Ara menyimpannya di meja. Orang yang berada di dalam kelas itu tersenyum ke arah Ara, begitupun dengan Ara membalas senyumanan mereka.


"Kalian setuju gak sih, mereka berdua jadian aja? Gak ada yang aneh, mereka itu cocok."

__ADS_1


"Nah, ya. Baru kali ini gue dukung bebeb Ataar sama cewek itu. Mungkin dengan begitu bebeb Ataar agak berubah sedikit. Kelihatannya Ara itu orangnya positif vibes."


"Nah, gue juga setuju, tapi kasihannya Ataar susah banget di deketin dan di luluhkan. Padahal dia di kejar cewek spek Ara."


"Tapi kemarin, Ataar luluh sama cewek cupu kelas 11 angkatan ips."


"Namanya Rubykan? Gue merasa kayanya Ataar suka sama cewek cupu itu. Perlakuannya pun sangat lembut.


Ara saling hadapan oleh Ataar dan ketiga temannya yang ingin memasuki kelas.


Gadis itu melambaikan tangannya, dia menahan tangan Ataar.


"Buka block aku," ucap Ara peran. Ataar menepis tangan Ara yang menahannya dan berjalan memasuki kelas.


"Lo tenang aja, nanti gue bujuk," sahut ketiga teman Ataar, Ara pun hanya mengangguk dan berlari pergi dari sana.


"Gimana, Ra?" tanya Cindy, memberikan pop-ice ke temannya.


"Gak tahu, nanti aku tanya kak Gibran atau yang lain buat mastiin."


"Semoga, ya." Cindy merangkul bahu Ara masuk ke dalam kelas.


"Ah, itu pemberian Ara," teriak satu murid menjawabnya.


Plak!


Murid lain mengaplak kepala murid yang menjawab. "Lo gila? Tadikan udah Ara bilang jangan ada yang beri tahu."


"Gue keceplosan.


Ataar mengambil paperbang itu lalu mengeluarkan isinya, dia melihat keju. Pengen rasanya Ataar mengambilnya. Namun, dia terlalu gengsi. Dia menyimpan paperbang itu di laci meja. Dan menyuruh temannya duduk.


"Sana pada duduk," pinta Ataar.


Ketiga teman Ataar tersenyum, mungkin Ataar sudah luluh dengan perlakuan Ara? Kenapa gak dari dulu Ataar tak seperti ini?


"Munafik," gumam Gibran sangat pelan, dia duduk di kursi belakang Gentara.

__ADS_1


Saat jam istirahat, Ataar membawa paperbang keluar dari kelas. Gibran pun memotret momen lalu mengirimnnya ke arah.


Saat melihat Ara, Ataar membuang paperbang itu ke tong sampah yang ada di koridor kelas.


Ara yang tadinya bahagia mendengar kabar dari Gibran, langsung saja murung.


Sudah dia pikirkan, Ataar tak semuda itu menerima pemberiannya.


Ara berlari untuk mengambil paperbang itu, mengambilnya di tong sampah.


"Apa kamu gak bisa menerima ini, Ataar?" tanya Ara, hatinya begitu sakit dengan perilaku Ataar. Bisakah dia menghargainya sedikit. "Kalau kamu tak menghargaiku, itu tak masalah, tapi jangan buang apa yang ku berikan. Ini mubazir, bisa saja kamu bagi ke yang lain. Coba saja kamu hargai makanan!" tegas Ara. "Kamu gak tahu, masih banyak orang di luar sana yang membutuhkan makanan seperti ini, tapi gak bersyukurnya malah kamu membuangnya." Setelah mengatakan itu Ara pergi dari sana.


Ataar terdiam sejenak, dia berpikir. Perlakuannya benar-benar kerlaluan.


🐰🐰🐰🐰🐰🐰


Kepulangan sekolah. Ara melirik Ataar di parkiran, walaupun hatinya masih sakit, tapi itu semua masih kalah dengan rasa cintanya.


Ara menghampiri Ataar. "Tolong, buka block aku."


Ataar menepis tangan Ara.


"Ataar please,"mohon Ara memegang lengan Ataar.


"Lepas sialan!" bentak Ataar mendorong kebelakang badan gadis itu. "Lo bisa gak sih, gak usah ganggu gue? Gue risi bangsat, lo tahu risih? Lo mikir deh, gimana orang yang risih. Udah berapa kali gue bilang gue gak suka sama lo. Mau gimana pun perlakuan lo. Lo bukan tipe gue."


Ara terdiam, dadanya begitu sakit mendengar bentakan Ataar, baru kali ini dia di bentak.


"Apa kamu tahu? Aku juga tak ingin menyukaimu, aku lebih baik tak mengenal lelaki sepertimu di dunia ini, tapi itu gak bisa Ataar. Gak tahu, aku secinta itu sama kamu. Kamu tidak bisa membalas perasaanku, gak papa, tapi bisakah kamu menghargai aku? Kamu pikir di posisiku saat ini tidak tersiksa?" tanya Ara." Bodoh, aku tersiksa karenamu Ataar. Kalau bisa aku ingin membencimu, sangat membencimu, tetapi hatiku terlalu egois. Dia mengalahkan egoku yang ingin membencimu," teriak Ara dengan air mata yang terus jatuh.


Ara menghapus air matanya dengan kasar, dia pergi dari sana. Lagi dan lagi Ataar hanya mampu terdiam.


Entah mengapa, di saat dia menyadari ucapannya telah melukai gadis itu, hatinya juga ikut sakit.


Ataar menaiki motornya lalu melajukannya keluar dari gerbang. Di perjalanan dia melihat Ara membantu nenek yang ingin menyebrak.


"***, kamu habis nangis? Siapa yang buat orang sepertimu menangis?"

__ADS_1


Ara tersenyum. "Gak nek, saya tadi hanya ada masalah di depan, saya takut jadi saya nangis."


"Nenek gak yakin, pasti ada yang menyakitimu. Nenek, yakin seseorang itu akan menyesal telah menyia-nyiakan manusia berhati malaikat sepertimu," ucap nenek itu, sehingga Ataar membisu mendengarnya dari jarak dekat. Namun, mereka tak menyadarinya.


__ADS_2