Ataar'S Wound

Ataar'S Wound
Part 20 ~Ataar cemburu?~


__ADS_3

Ataar dan kedua temannya yang lain menoleh ke arah parkiran. Di sana ada Kevin yang tertawa bersama dengan Ara.


Ataar mengepal tangannya. Temannya yang melihat itu malah tersenyum.


Ara naik ke atas motor Kevin, Kevin pun memakai'kan gadis itu helm. Sebelum melajukan motornya, Kevin menyuruh Ara pegangan.


Di saat mereka sudah pergi dari halaman sekolah, Ataar meninju dinding yang berada di koridor kelas.


"Sialan, gadis anjing," umpat Ataar pergi mendualingi temannya.


Entah mengapa, dia panas melihat keduanya. Seakan ada api yang ada di dalam jiwanya. Ataar melonggarkan dasinya, melajukan motornya keluar dari sekolah dengan laju sedikit kencang.


"Gue kenapa gini? Bukannya bagus dia gak ngejar gue lagi? Sialan, argggg," teriak Ataar, sehingga pengendara lainnya menatap remaja itu.


Di saat lampu hijau, Ataar kembali melajukan motornya. Pikirannya masih terliput oleh Ara.


pftttt!


Ataar merem mendadak motornya, di saat hampir menabrak penjual kaki lima. Dia turun dari motornya, dan berjalan arah sang penjual. Dia membantunya mendorong kepinggir jalan.


"Maaf, pak. Saya akui saya ceroboh," ucap Ataar.


Pria paruh baya itu, tersenyum. Walaupun tadi dia sempat kaget, tapi melihat ketulusan meminta maaf Ataar membuatnya tenang.


"Gak papa, nak, tapi lain kali hati-hati kalau mengemudi. Kita sama-sama salah. Bapak juga tak melihatmu."


Ataar melepaskan tasnya, dia mengeluarkan uang beberapa lembar dan memberikannya pada pria tersebut.


"Atas perminta maafan saya, bapak terima yah. Gara-gara saya, pelanggan bapak yang ada di seberang sana jadi pergi."


Bapak itu menggeleng keras, dia memundurkan duit itu menggunakan tangannya.


"Gak usah nak, itu mungkin belum rejekinya bapak,"tolaknya.


Ataar menarik tangan bapak itu, menyimpan duit tersebut di talapak tangannya.


"Ini pengganti rejeki bapak. Tolong di terima ya, pak. Anggap rejeki. Rejeki gak baik di tolak," ucap Ataar.


Bapak itu terharu, akhirnya dia mengambil duit itu. Dia menciumnya. Dia tak jangka dia bertemu dengan anak muda sebaik lelaki di depannya.


"Makasih, nak. Bapak do'akan, kamu akan tetap bahagia. Apa yang kamu inginkan akan tercapai."


Ataar tersenyum. "Iya pak, makasih. Kalau begitu saya harus pergi," pamit Ataar.


Bapak itu mengangguk dengan sopan menunduk sedikit. Ataar pun melajukan motornya pergi dari sana.

__ADS_1


"Gue kehilangan jejak mereka lagi," umpat Ataar berbalik arah ke markasnya.


Sesampainya di sana, Ataar menyimpan dua kantong plastik yang berisi martabak untuk anggotanya. Hanya itu yang dia bawa.


"Gue pamit, gue ada urusan," ucap Ataar. Sehingga anggotanya mengangguk.


"Sebentar malam ke sinikan, Taar?" tanya Gentara.


"Gue gak tahu. Kayanya gue izin gak ngumpul sebentar malam," jawab Ataar.


Gentara menghela napas, lalu mengangguk. "Semangat." Gentara menepuk pundak sahabatnya dan kembali duduk di kurisnya.


Ataar menjalankan motornya pergi dari sana. Akan menuju kantor papanya. Altar menyuruhnya ke sana.


Sampainya di kantor sang papa, Ataar bertanya apa papanya tak ada jadwal meeting. Walaupun sebagai anak ceo di sana, bukannya harus sopan dulu? Lagian banyak yang gak tahu kalau dia anak dari ceo terkenal seperti papanya. Yang publik tahu, hanya Fisha, karena kakanya itu sering kali datang berbagai acara kantor.


"Baik saya telfon dulu."


Ataar mengangguk, dia menunggu. Setelah selesai, dan dia bisa masuk. Dia pun berjalan ke ruangan papanya.


Orang-orang pada menatapnya, baru kali ini mereka melihat Ataar, mungkin orang pada mengira kalau dirinya keponakan Altar.


Tok tok!


"Ataar masuk?" tanya Ataar, dia membuka pintu perlahan.


"Nilaimu turun?" tanya Altar, padahal Ataar belum menyatuhkan bokongnya dengan sofa.


"Kamu ingin jadi anak apa?" tanya Altar menatap tajam putranya. "Ujian semester tengahmu, saya ingin kamu peringkat pertama."


"Pah, gak semudah itu mendapatkan peringkat pertama," ucap Ataar, setelah mengucapkan itu dia menunduk.


"Contohin kakakmu, dia selalu mendapatkan nilai tertinggi. Apa kamu tak bisa sepertinya? Kamu emang gak guna, tahunya menyusai, kalau bukan karena istriku, fakualitasmu yang kamu nikmati, akan saya tarik. Gak tahu di untung, mau di taroh mana muka saya, kalau sampai orang-orang tahu, kalau saya mempunyai anak sebodoh dirimu!"


Dada Ataar sesak seketika, mendengar ucapan papanya.


"Gimana Ataar akan seperti kak Fisha? Kakak mendapatkan kehidupan layak, sedangkan Ataar apa? Bagaimana Ataar ingin belajar, kalau setiap pulang sekolah Papa selalu memukulku?"


Altar berdiri dan menarik ke arah baju Ataar. Tamparan keras mendarat di pipinya.


"Sudah berani melawan, ha?" tanya Altar.


Ataar memegang pipinya yang habis di tampar. "Pah, kenapa Papa sangat membenci, Ataar?" tanya Ataar.


"Karena kamu gak guna, anak pembawa sial. Saya tak ingin mempunyai anak sepertimu."

__ADS_1


Ataar menutup matanya, dia memukul dadanya sendiri mencoba tak menangis.


"Kalau Papa tak menginginkanku, kenapa Papa tak membunuhku saja? Aku tak minta di lahirkan di dunia ini, kalau Ataar di suruh memilih, Ataar lebih baik tidak lahir, tapi bukannya Papa yang membuatku ada di dunia ini?" tanya Ataar.


"Iya maka dari itu, saya menyesal telah membuatmu. Kalau bukan karena umimu, mungkin kau sudah mati dengan perlahan. Namun, saya tak ingin istriku terluka," jawab papanya.


Ataar tertawa piluh mendengar ucapan papanya barusan.


"Apa Papa gak takut, di suatu saat nanti umi tahu kelakuan Papa?"


Mendengar itu Altar memegang kerah seragam Ataar. "Jangan coba-coba kamu melakukan itu."


"Kenapa papa, tak mencoba menerimaku?"


"Menerimamu?" tanya Altar. "Mustahil, kalau kau ingin saya menerimamu. Maka pergilah jangan ganggu keluargaku, kau bukan dari kebahagiaku," ucap Altar.


🐰🐰🐰🐰🐰🐰


Ucapan papanya tadi membuatnya terluka. Papanya bukan hanya melukai fisiknya, tetapi jugamental dan batinnya.


Air matanya lolos jatuh menjatuhi kelopak matanya, untungnya di saat ini dia memakai helm.


Di perjalanan, dia melihat seseorang yang membuat dirinya memberhentikan motornya.


"Ara," teriak Ataar, sehingga sang empuh menoleh ke arahnya.


Ataar berlari ke arah gadis itu. Ara pun terdiam di saat lelaki itu sudah berada di depannya.


"Kenapa?" tanya Ara.


"Kenapa lo tadi pulang dengan Kevin?" tanya Ataar.


"Terus kenapa? Urusannya sama kamu? Kevin baik."


Ataar mencengkram dengan kuat lengan Ara. Terlihat jelas kemarahan di wajahnya.


"Apasih!" Ara menepis tangan Ataar.


Lelaki itu memegang kedua bahu Ara, menatap gadis itu lekat.


"Gue gak mau lo dekat sama dia, gue gak suka. Gue mau lo jauhin dia detik ini juga. Kalau tidak lihat saja apa yang akan terjadi," ancam Ataar. Dia melepaskan pegangannya.


Dia meninggalkan tempat itu, melajukan motornya pergi dari sana.


Ara tersenyum, dia gak nyangka Ataar semarah ini melihatnya bersama cowok lain.

__ADS_1


"Dia cemburu?"


__ADS_2