Ataar'S Wound

Ataar'S Wound
Part 12 ~Mencintai Gus~


__ADS_3

Ataar memakai jaketnya lalu turun ke ruang makan. Dia melihat papanya yang tertawa lepas dengan sang kakak. Ataar menghela napas lalu mendekati mereka.


Baru ingin duduk dia di tatap tajam oleh papanya, sehingga Ataar tak jadi dan hanya mengambil satu biji roti dan pamit untuk ke sekolah.


Dia mengendarai motornya di atas rata-rata sehingga dia tak melihat seorang gadis berpakaian sekolah sepertinya menyebrang jalan. Ataar berdecak dan merem mendadak motornya, ban belakangnya melayang ke belakang, untungnya dia masih mengseimbangkan.


"Sialan, lo bisa gak sih hati-hati? Bisa jalan pake mata?" tanya Ataar di saat tahu siapa gadis itu yang tak lain adalah Ara.


Ara membuka matanya lalu menatap Ataar. Ara mengatur napasnya, memandang Ataar dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bisa gak, jangan bentak-bentak aku? Lagian di sini salahmu. Kamu mengendarai motor begitu kencang, padahal sudah tahu di sini udah aera dekat sekolah pasti sudah banyak anak sekolah yang berjalan kaki. Terus aku jalan pake kaki bukan pake mata, gimana konsepnya aku jalan pake mat-"


"Diam lo, awas." Ataar mendorong Ara kesamping dengan kuat. Sehingga tasnya terlepas. Ara buru-buru mengambil tasnya yang jatuh lalu memeluknya, dia menatap Ataar yang melajukan motornya ke gerbang sekolah.


"Neng, gak papa?" tanya pengawalnya yang baru datang membawa barang yang di suruh beli Ara. "Kenapa neng Ara nangis? Apa ada sesuatu?"


Ara menggeleng. Dia mengambil paperbang yang di berikan pengawalnya, dia memperlihatkan senyumannya.


"Ara pergi ya, paman." Ara menyalami punggung tangan pengawalnya lalu sedikit berlari memasuki gerbang sekolah.


Dia memang gadis yang ramah, dan sopan. Tak memandang seseorang yang beda derajat olehnya. Daddy dan mommynya tak pernah mengejarkannya tentang kesombongan. Dia memang anak pengusaha yang terkenal dan sukses, tapi dia selalu berpenampilan sederhana. Banyak yang menyukainya. Bahkan dia tak ingin di kawal seseorang, tetapi karena musuh bisnis daddynya banyak akhirnya dia mengalah demi keselamatannya.


Sang pengawal tersenyum, puluhan tahun dia bekerja dengan Revandra yang merupakan daddy dari Ara, beliu sangatlah baik. Bukan hanya daddynya, semua keluarganya baik terutama istrinya, Gracel mommynya Ara.


Di gerbang sekolah Ara bertemu dengam Cindy, temannya.


"Itu apa, Ra?" tanya Cindy menunjuk paparbang kecil yang di bawa Ara.


"Ini ada hot pot, dan air mineral sama handuk kecil. Dan satu kotak p3k. Sebentar Ataar latihan basket."


Cindy memutar bola matanya malas, dia menggandeng lengan Ara menuju kelas.

__ADS_1


"Ra, gue nanya deh, apa istimewanya Ataar di mata lo sehingga lo suka banget sama dia? Menurutku dia cuma modal ganteng, cowok red flag kaya dia iw banget."


Ara tersenyum. "Kalau gue menyukainya karena sesuatu, itu bukan namanya cinta tapi kagum, tetapi gue menyukainya gak tau alasannya apa. Cinta tuh tak memandang seseorang, kalau benar-benar cinta mau seburuk apapun dia di mata orang lain, tapi di mata gue dia lelaki idaman gue."


"Dulu gue sering baca novel tentang gus tampan. Gue suka banget yang namanya gus, gue pengen punya kekasih gus. Dan salah satunya itu Ataar. Dia seorang gus tampan. Mungkin gus hanya gelar untuknya karena cucu kiay? Tapi menurut gue dia tetap gus, lagian gue bukan kagum kepadanya, kalau kagum gue udah bosan kagumin dia bertahun-tahun, tapi gue benar-benar cinta sama dia, meski dia bukan seorang gus."


"Sebelum gue dapatin seorang gus, gue akan merubah Ataar yang sedang di butakan oleh dunia hitam yang namanya brandalan. Bukan apa, gue takut dia kenapa-napa, dunia malam seperti itu atau di sebut geng motor sangat berbahaya untuknya. Pembullyan, balapan, pembuat onar. Itu bisa merusak masa depannya yang panjang. Kemungkinan gue susah untuk mengeluarkannya dari dunia hitam itu, tapi gue harus berusaha walaupun hati dan jiwa gue selalu di sakiti."


Cindy memeluk temannya dengan erat. "Lo tahu gak? Lo itu cewek yang hebat banget, effrotnya gak main-main. Gak banyak cowok yang bisa merasakan effrot seperti itu."


Ara tersenyum manis. "Effrot seperti itu hanya satu yang mendapatkannya, yaitu seorang Ataar."


"Semoga berhasil ya, gue gak bakal buat lo nyerah lagi. Gue bakal dukung apapun keputusan yang lo ambil, selama itu tepat dan sehat."


Ara mengangguk, tak terasa mereka sampai juga di kelas sebelum gurus masuk lebih dulu.


Jam istirahat, Ara dan Cindy ke aula latihan Ataar. Ataar latiham basket untuk melawan sekolah sebelah.


Gadis itu sangat murah senyum dan sopan kepada semua orang.


"Anjir, dia cantik dan good attitude," bisik murid laki-laki.


Ketiga teman Ataar yang memberi senyuman ke Ara, sang empuh pun membalas senyuman mereka, sedangkan Ataar hanya fokus ke ponselnya.


Ketiganya menghampiri Ara dan Cindy.


"Ara bawa apa itu?" tanya Gibran. "Bawa minum gak?" tanya Gibran.


Dia sengaja memanas-manasi Ataar yang sebenarnya mencuri pandang ke mereka.


Ara menatap Ataar lalu beralih ke Gibran.

__ADS_1


"Sebenarnya gue mau memberikannya ke Ataar, tapi kalau kakak yang mau kakak ambil minum ini. Nanti gue beli lagi di kantin."


"Tapi Ra, kantin padat," timpal Cindy.


"Gak papa, kak Gibran haus." Ara memberikan sebotol air ke arah Gibran.


"Gib," panggil Ataar sehingga Gibran menoleh, Ataar menyodorkannya sebuah air mineral. Gibran pun tak jadi mengambil punya Ara tapi mengambil punya Ataar.


Melihat itu, Ara kembali menyimpan sebotol air itu ke dalam paperbang. Dia enteng melihat Ataar dan yang lain latihan.


Banyak para ciwi-ciwi yang ingin melap keringat Ataar, tapi pada malu.


Usai pertandingan Ara berlari kecil ke arah Ataar, menyodorkannya sebuah paperbang.


Ataar menatap sekilas ke arah gadis itu. Dia tak sama sekali mengambil paperbang yang di berikan.


Ara menarik kembali paperbangnya, dia mengeluarkan handuk kecil dan menyodorkannya ke arah Ataar.


"Keringat kamu banyak, di lap gih," ucap Ara.


Ataar menatap handuk putih itu, lalu merongok sakunya mengeluarkan sapu tangannya.


Ara tersenyum kecut dan memberikan bekal serta hot potnya.


Melihat itu, Ataar menepis kesamping paperbang itu sehingga isi paperbang itu tertumpah di lantai. Untungnya di sana sudah mulai sepi.


Ara menatap nasi goreng yang terbuang sia-sia serta hot potnya. Dia berjongkok dan membersihkan butir butir nasi itu.


Cindy yang melihatnya berlari ke arah Ara, dia menatap Ataar tajam. Dia meremas kuku tangannya ingin sekali dia menampar wajah songong itu.


Ataar tanpa rasa bersalah pergi dari sana meninggalkan ketiga temannya bersama dengan Ara dan Cindy.

__ADS_1


__ADS_2