Ataar'S Wound

Ataar'S Wound
Part 25 ~Ataar'S Wound~


__ADS_3

Ataar meminta maaf kepada Ara. Ara pun tak susah di bujuk langsung memaafkan pacarnya, lagian Ataar juga ingin memperbaiki ponselnya yang dia rusak.


Saat ini, Ataar mengantar Ara ke gramedia untuk melihat-lihat novel. Ataar hanya mengekor di belakang kekasih yang sibuk memilih novel yang dia sukai.


Ara mendapatkan novel yang dia cari, tapi wajah sumringannya hilang disaat melihat harganya. Uang dia bawa tak cukup dengan yang di bawa, sebenarnya ada sih uangnya, tetapi uang itu untuk dia tabung.


Dengan berat hati, Ara menyimpan kembali buku tersebut dan kembali memilih buku yang murah saja.


Ataar mengerutkan keningnya, di saat Ara tak jadi megambil buku itu. Dia meraih buku tersebut dan melihat harganya, tanpa banyak pikir dia mengambilnya lalu kembali mengikut kekasihnya.


Sekitae 40 menit, Akhirnya Ara memutuskan untuk pulang. Dia tak jadi membeli buku, buku novel yang diberikan daddynya masih ada jadi gak perlu lebih dulu.


"Kenapa gak beli?" tanya Ataar, Ara menoleh lalu menggeleng saja.

__ADS_1


"Gak ada yang bagus, lagian kemarin aku baru ingat kalau daddy baru belikan aku buku novel yang baru open po barusan," jawabnya tersenyum. "Yaudah ayo kita keluar, aku lapar," jawabnya.


"Bentar." Ataar berlari ke kasir sambil membawa dua buku. Ara tak memperhatikan buku lelaki itu pegang, dia hanya menunggu, dia berpikir Ataar membeli buku yang disuka juga.


Beberapa saat, Ataar sudah membayar buku yang di beli. Ia kembali ke tempat Ara.


"Kamu beli buku, apa?" tanya Ara, dia tak berani mengenggam tangan Ataar lebih dulu, takut lelaki itu risih dan tak suka.


Ara tersentak dan menoleh ke samping, Ataar tersenyum tipis memberikan sesuaru ke tangan gadisnya.


"Buat lo, lo maukan buku ini? Tapi uang lo gak cukup, jadi gue beliin, gak usah protes itu memang kewajiban gue sebagai pacar lo," ucap Ataar memakaikan helm ke kepala Ara.


Gadis itu hanya diam membisu, dia tak pernah membayangkan kalau dia akan mendapatkan orang yang dia cintai dari dulu. Senyuman indah terbit di bibir Ara.

__ADS_1


"Makasih," ucap Ara, dan di balad deheman oleh Ataar.


Ataar mengangkatnya naik ke atas motor, karena gadis mungil tersebut tak akan menyampai. Sesudahnya barulah dia yang naik ke atas motor dan melajukannya pergi.


Setelah selesai makan malam di cafe, dan menuju konter untuk memperbaiki Ara, sebenarnya Ataar ingin membelikan ponsel baru untuk gadis itu. Namun, Ara menolaknya alasan ponselnya masing bagus untuk di perbaiki lagian di ponsel itu banyak yang penting.


Ataar jadi bangga mempunyai kekasih seperti yang Ara, irit dan sederhana. Padahal menurutnya ponselnya sudah tak layak digunakan layar yang pecah, tetapi Ara masih kekeh untuk memperbaikinya. Banyak kenangan di ponsel itu, kenangannya bersama dengan Ataar.


Usai dari konter, Ataar membawa Ara ke pantai. Beruntung malam ini malam minggu, suasana jadi rame dengan banyak seseorang yang membahas pasangam masing-masing.


"Jangan tinggalin gue ya, Ra," ucap Ataar melirik gadis itu sekilas. Entah mengapa dia jadi tak rela di tinggalkan oleh Ara.


"Aku tidak akan meninggalkanmu," jawab Ara tersenyum tipis. "Tapi gimana, jika kamu yang malah pergi meninggalkanku?"

__ADS_1


__ADS_2