
Saat jam istirahat, Ataar menuju kelas Ara menunggu gadis itu keluar dari kelasnya.
"Ataar? Ngapain di sini?" tanya Ara.
"Jemput lo, siapa lagi?" tanya Ataar menggandeng tangan Ara ke kantin. Orang yang melihatnya campur aduk. Ada yang iri ada juga bahagia kapal mereka berlayar.
Ataar menyuruh gadis itu duduk dengan enteng di kursi, dia pun menyuruh murid untuk memasankan dirinya dengan gadis itu makan.
"Dia kenapa? Aku gak mimpikan? Takutnya ini semua hanya mimpi, takut banget," batin Ara.
"Ayo makan cepat, keburu dingin," pinta Ataar di saat yang d$1ia pesan telah datang.
Ara pun perlahan memakan-makanannya. Dia juga sedikit melirik-lirik Ataar yang sibuk dengan ponselnya.
"Ataar kok kamu gak makan?" tanya Ara membuat lelaki itu menatapnya.
"Gak papa, lo makan aja cepat," ucap Ataar.
"Tap-"
Deg!
__ADS_1
Jantung Ara seakan berhenti berdetak di saat Ataar menaroh jari telunjuknya di bibir Ara.
"Udah diam dan makan, mau gue kasari?" tanya Ataar, Ara pun diam dan mulai memakan, makanannya dengan lahap, sudah tak berani protes.
Usai makan, Ataar mengaja gadis itu ke rooftop. Ara hanya diam dengam perlakuan yang di lakukan lelaki itu.
"Ataar kamu kenapa?" tanya Ara, yang tiba-tiba saja Ataar memeluknya secara tiba-tiba. Terdengar suara isakan, isakan yang Ara rindukan dari dulu.
Ara hanya diam, dia mengusap dengam lembut punggung lelaki itu, tetapi tak mencoba menghentikannya. Pasti ada alasan Ataar menangis.
"Udah, iya," ucap Ara tersenyum menghapus air mata lelaki itu.
Tidak ada yang akan menyangka kalau orang melihat seorang Ataar menangis. Baru Ara dan Fisha yang melihatnya menangis.
"Sakit Ara," aduh lelaki itu membuat Ara mengerutukan keningnya, dia memeriksa tubuh Ataar, dan mendapatkan memerah di lengannya.
"Ini gara-gara apa?" tanya Ara shock melihatnya luka iti sangat parah.
"Di pukul Papa," jawab Ataar dengan jujur. Ara semakin mengulurkan lengan hoodie yang di pakai.
"Kenapa om Altar memukulmu?" tanya Ara. "Aku kira kamu menangis, emaang hobi kamu dari dulu. Ara kembali memeluk Ataar.
__ADS_1
"Kita uks?" tanya Ara, Ataar menggeleng.
"Kaya gini aja."
"Aku kangen Ataar yang kaya gini, akhirnya Ataar aku kembali."
Ataar melepaskan pelukan Ara, dia memegang kedua pipi gadis depannya.
"Maafin gue, gue hanya tak ingin lo berteman denganku yang pembawa sial. Dari insiden itu itu, Papa bilang kalau gue gak pantas jadi teman lo, karena gue anak pembawa sial. Jadi demi kebaikan lo, gue pun menjauhi lo."
"Hey, kamu bukan pembawa sial. Justru di saat kamu gak ada, aku hanya ingin kamu ada di sisiku. Jangan mempercayai kalau kamu pembawa sial, kamu bukan anak pembawa sial."
"Tetapi, kamu selalu terluka kalau ada di dekatku," ucap Ataar.
Ara menghela napas kasar. Ternyata ini alasannya Ataar menjauhinya dari dulu.
"Ataar, itu takdir bukan karena kamu. Sekarang jangan pergi lagi, ya?" tanya Ara. "Iya?" tanya Ara lagi.
Ataar diam sesaat lalu mengangguk. "Ok baiklah, tapi kalau lo terluka lagi di saat bersamaku gimana?" tanya Ataar.
Ara menaroh jari telunjuknya di bibir Ataar. "Jangan di ulangin lagi pertanyaannya, maka jawabannya juga bakal tetap sama," jawab Ara.
__ADS_1
Mereka kembali berpelukan. Ada rasa bahagia yang di rasakan Ara, karena Ataar yang dia kenal sudah kembali, tapi ada juga rasa yang sesak mendengar kejujuran Ataar.