Ataar'S Wound

Ataar'S Wound
Part 24 ~Ataar'S Wound~


__ADS_3

Tujuh hari jadian keduanya, Ataar dan Ara semakin dempet seperti tokek. Ataar jangan manja, tidak malu dengan setuasi kalau sudah bersama dengan Ara.


"Ara," panggil Ataar berlari dan memeluk Ara.


Ara melepaskan pelukannya, lalu beralih bergandengan tangan.


"Ara," panggil Ataar lagi, di saat mereka sudah sampai di depan kelas Ataar.


"Kenapa, sayang." Ara sedikit berjinjit lalu memegang kedua pipi kekasihnya. "Semangat belajarnya, ya. Gak boleh bolos! Kalau bolos lagi kamu ingat ini. Aku marah sama kamu," peringat Ara.


Ataar menghela napas, Ara melambaikan tangannya. Berlari ke arah kelasnya, Ataar menatap punggung kekasihnya yang mulai menghilang dari koridor kelas.


"Ciee bucin mulu, ketua kita nih," sindir Gibran merangkul bahu Ataar, Ataar pun refleks menyingkirkannya.


Sifatnya seketika berubah, yang tadinya bersikap manja. Kini mode singanya datang, tadi tuh mode kucing.


Ataar duduk di kursinya. Sudah tujuh hari berturut-turut, lelaki itu tak bolos. Bahkan tak balapan, entah mengapa dia sangat menurut dengan keputusan sang kekasih.


"Ataar, sebentar lo ke markas? Yang lain pada kangen kumpul sama lo," ucap Gentara duduk di samping Ataar.


"Gak! Hari ini gue mau nemanin Ara ke gramedia," balas Ataar.


"Udahlah, Gen. Mau gimana pun, kalau udah bucin-bucinnya, temanmah di lupakan," sindir Niel.


Plak!

__ADS_1


Ataar memukul kepala Niel menggunakan bukunya, tapi yang di katakan Niel ada benarnya.


"Hari jumat gue bakal ke markas sekalian ngajak Ara, katanya dia ingin ikut bagi-bagi sedekah," ucap Ataar.


Mereka bertiga. Akhirnya jam pelajaran di mulai, setelah jam istirahat. Para murid berlomba-lomba ke kantin, sedangkan Ataar menuju kelas Ara.


Di kelas 11 ipa, murid pada berteriak melihat Ataar tersenyum pada Ara.


Lelaki itu memperbaiki rambut kekasihnya, lalu mengenggam tangan Ara membawanya pergi dari sana.


"Mau makan apa?" tanya Ataar menyuruh gadisnya duduk, lalu beralih duduk di kursi sampingnya.


"Mau mie aja, kamu?" tanya Ara.


"Sayang, Ataar. Kamu mau makan apa?" tanya Ara mencubit pipi lelaki itu.


"Samain aja," jawabnya, ingin memanggil salah satu murid yang akan dia suruh. Namun, Ara mencegahnya.


"Kamu aja. Kan kita yang mau makan bukan dia, gak baik tahu nyuruh-nyuruh orang." Walaupun takut Ataar marah, karena dia cegah, Ara tetap memberanikan dirinya.


Ataar tanpa banyak bicara, berdiri dari sana. Lalu berjalan ke arah penjual kantin.


Ara tersenyum melihat Ataar, ia bernapas lega. Ternyata lelaki itu tak lagi marah.


"Gini amat punya cowok badboy dingin," gumamnya. Dia membuka ponselnya sambil menunggu Ataar datang membawa pesanan mereka.

__ADS_1


Begitu fokus dengan ponsel, Ara jadi tak sadar bahwa kekasihnya sudah datang.


Ataar memanggil Ara. Namun, gadis itu hanya berdehem masih fokus dengan ponselnya sedan mengetik sesuatu.


Brak!


Ataar melempar ponsel yang di pegang Ara, sehingga gadis itu terkejut setengah mati.


"Ataar," pekik Ara mengambil ponselnya yang sudah terbela dua.


Dia menatap kekasihnya dengan wajah yang agak berbeda.


"Kamu kenapa sih? Tiba-tiba buang ponsel aku begitu aja?" tanya Ara.


"Lo chatan sama siapa? Kenapa gak sampai gak dengar gue manggil nama lo?" tanya Ataar.


Ara menghela napas kasar. "Astaga, aku lagi balas pesan daddy, sayang. Aku minta izin ke dia kalau sebentar malam aku ingin jalan sama kamu, terus abang Xaviel mengchatku, mencari kabar. Belum sempat aku balas kamu lempar tiba-tiba," jelas Ara.


Ataar terdiam, seakan menyesal dengan apa yang dia perbuat barusan.


"Maaf, gue minta maaf," ucapnya.


Ara menghembuskan napas pasrah, dia menatap murid lain yang memperhatikan mereka berdua, Ataar pun menatap mereka semua dengan tatapan tajam membuat mereka langsung membuang pandangannya.


Keduanya kembali duduk di kursi, Ara menatap ponselnya yang sepertinya sudah tak bisa di gunakan.

__ADS_1


__ADS_2