Ataar'S Wound

Ataar'S Wound
Part 21 ~Posesifnya~


__ADS_3

Ataar lansung merebahkan badannya ke ranjang. Dia tak habis pikir, bisa-bisanya dia menujukan sikap posesifnya.


"Gue gak mungkin suka dia, kan? Gue gak suka." Ataar mengacak rambutnya furstasi.


Pintunya terbuka, buru-buru Ataar bangun dan merapikan tas dan sepatu yang dia lempar sembarangan. Kalau tidak, siap-siap saja telingannya panas.


Ataar menyengir memandang kakaknya yang masuk ke dalam kamar.


"Kenapa?" tanya Fisha. Ataar pun hanya menggeleng keras.


"Kakak ngapain?" tanya Ataar balik bertanya.


Fisha menggeleng, dia menutup kembali pintu kamar itu. Membuat Ataar bernapas lega.


Lelaki itu pun kembali merebahkan badannya di kasurnya. Kamarnya bernuasa hitam dan putih. Serta ada barang-barang yang tersusun rapi. Mainan robot serta motor kecil tersusun di barisan rak. Sangat kesukaan Ataar.


"Uffftt, mungkin gue udah cinta sama dia? Membalas perasaannya? Apa dia masih nerima gue?" tanyanya pada diri sendiri. Beberapa hari ini, dia sangat bosan lantara, Ara tak pernah mengiriminya pesan.


Dia mengguling-gulingkan badannya kiri dan kanan. "Apa gue chat aja?" tanyanya. "Gak-gak, ogah gue," ucapnya.


Dengan idenya yang tiba-tiba ada, Ataar membuka twt di ponselnya. Dia mengirim sebuah postingan dirinya di sana, dengan kata-kata yang menonjolkan ke gadis yang membuat otaknya tak bisa bekerja dengan jernih.


Padahal dulunya, Ataar sangat jarang aktif di sosmed. Beberapa menit kemudian twtnya udah rame. Para fansnya pada komen, dan mengaku-ngaku kalau yang di maksud Ataar salah satu dari mereka.


"Dia udah lihat gak sih?" tanya Ataar, karena tidak ada notifkasi dari Ara. Dia beranjak bangun dan bolak-balik di ruangan itu.


Ponselnya berdering membuatnya langsung menatap layar ponselnya. Namun, dia murung kembali karena orang yang menelfon adalah temannya.


📱"Asslamualaikum, saya ingin mengintrogasi tentang postingan anda di twt. Benar ini dengan bapak Ataar? Atau ada yang mencuri ponselnya? Tolong di kembalikan segera, kalau anda ingin menjualnya, saya akan mengirimkan anda no rekening saya. Anda bisa tf hasil bagi duanya," cecar Gibran dengan formalnya.


"Anjir, Gib."


Ataar yang mendengar ocehan temannya memilih untuk memustuskan panggilan.


"Ara, lo sialan banget anj*ng," teriak Ataar melempar ponselnya. "Dia gak bisa dekat sama Kevin, Ara punya gue," gumam Ataar.


Keesokan paginya, Ataar berangkat pagi-pagi sekali. Niatnya ingin ke rumah Ara. Entah apa yang mendorongnya untuk datang ke rumah gadis itu.


Ataar melepaskan helmnya, saat hendak turun dari motor. Dia melihat Kevin yang memasuki aera rumah Ara.

__ADS_1


Dia mengepal tangannya, sudah dia peringati gadis itu bahwa dia tak bisa bersama dengan Kevin.


Dengan keadaan sedikit berpikir, dia ingin menyusul Kevin atau gak? Kalau dia menyusulnya, ketahuan dong gengsinya selama ini terlalu besar.


Hal hasil, Ataar hanya menguping di balik pagar, agar mendengar percakapan keduanya.


"Kev, gue gak mau sama lo lagi. Gue mau di antar paman Dino aja," ucap Ara.


"Gue udah ke sini jemput lo. Lo tega sama gue?" tanya Kevin.


Ara menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, bukannya menolak, tetapi dia teringat akan peringatan Ataar kemarin. Gimana ancaman yang di buat lelaki itu terjadi? Dia sangat tahu watak Ataar yang keras kepala, dan sering mengujutkan apa yang lelaki itu ucapkan.


"Lo pergi ajalah, gue mau di jemput cowok gue. Gue aduin lo sama om Vero, kalau anaknya sering bolos!" peringat Ara.


Kevin memicingkan matanya ke arah gadis itu. "Siapa cowok lo? Masih aja halu, gue peringati ya. Lo gak bakal berhasil dapatin Ataar," ucap Kevin membuat Ara Berkaca-kaca, hatinya tersentil dengan ucapan Kevin.


"Hua..." Tangisan itu pecah, tapi Kevin buru-buru membungkam mulut sepupunya itu.


"Diam!"


Plak!


"Sakit anjir, gue napas aja salah, naroh dendam lo? Gitu ya cewek pms?"


Ara menatap lelaki itu sinis, dia berjalan keluar dari pagar. Namun, sebelum benar-benar pergi, dia berbalik.


"Babay anak mami." Ara melambaikan tangannya keluar dari gerbang, karena hanya fokus meledek Kevin, dia tak sengaja menginjak kayu.


"Mommy," teriak Ara menutup matanya, dia buka perlahan. Dan kembali mengejapkan matanya.


"Ini aku udah pingsan? Bisa-bisanya saat pingsan aja bisa natap wajahnya. Bisa gak sih pingsan aja terus?" tanya Ara.


Kevin melotot melihat sepupunya sedikit lagi berciuman dengan musuhnya, yaitu Ataar.


"Woi," teriak Kevin sehingga Ara tersadar. Dia menghampiri mereka berdua.


Ara mencubit lengan Kevin sehingga lelaki itu meringis kesakitan.


"Sakit," aduhnya.

__ADS_1


"Sorry, tadi gue cuma mastiin gue mimpi atau gak," celetuk Ara. "Yaudah lah yok, ini setan-setan pagi memang menyebalkan," gumamnya. Dia menggandeng tangan Kevin membuat Ataar melotot melihatnya.


Lelaki melepaskan pegangan mereka, dia menarik Ara.


"Gue udah bilang, jangan dekat dia. Lo tuli?" tanya Ataar.


Ara menatap lelaki itu dengan dalam. "Kamu benaran Ataar?" tanya Ara malah balik bertanya.


"Ikut gue!" Bukan menjawab pertanyaan gadis itu, Ataar malah menariknya ke arah motornya.


Ara hanya diam membeku, berusaha menyadarkan dirinya. Ataar memakainya helm. Entah sejak kapan Ara sudah ada di atas motor Ataar.


Ataar menarik tangan Ara untuk memeluk pinggangnya. Dia pun melajukan motornya pergi dari sana. Ara masih tak percaya, sampai di sekolah dia bukan akan belajar, tapi akan masuk uks karena mendapatkan senam jantung mendadak.


Semua mata tertuju pada mereka, di saat memasuki gerbang sekolah. Ada yang ingin matanya loncat keluar, ada juga yang tak sadar saling tabrakan saking kagetnya melihat mereka berdua.


Ketiga teman Ataar yang ikut melihat itu ikutan kaget juga. Sangat tiba-tiba, ternyata bukan Ara aja yang merasakan senam jantung mendadak.


Ataar membuka helm yang di gunakan Ara dan mengangkat gadis itu turun dari motornya.


"Ataar?" tanya Ara.


"Apa?" tanya Ataar.


"Ini semua apa?" tanya Ara.


"Kenapa lo gak suka? Udah gue bilang, gue gak suka lihat lo dekat sama Kevin atau cowok lainnya. Lo hanya berhak ngejar gue!"


Ara terdiam. "Kevin sepupuku."


"Sepupu? Bukannya daddy dan mommy kamu anak tunggal?" tanya Ataar.


"Iya, tap-" Ucapan Ara memotong. "Sudahlah gak usah tahu, yang penting aku gak ada hubungan special dengan dia. Aku dia cuma sebatas sepupu, Ataar. Apa kamu cemburu?"


Kata 'Cemburu' langoing menyadarkan perbuatannya, dia jadi merasa malu. Bisa-bisanya dia tak bisa mengontrol amarahnya, ginikan jadinya.


Ataar berlari ke kelas dengan wajahnya di tutup hoodie, entahlah, ingin rasanya dia hilang dari bumi saja.


"Dia lucu, apa benar dia udah suka sama aku?" tanya Ara pada dirinya sendiri. "Mungkin aja, tidak ada yang tak pasti." Ara tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2